Posted in periodic diary

Alhamdulillah


Mini display di halte itu menampilkan “3 min”. Hmm.. tiga menit sebelum bus datang. Waktu yang sangat tanggung untuk masuk lagi ke dalam gedung perpus, demi sejumput perlindungan dari angin malam yang makin menggila. Kalau masuk ntar bisa ketinggalan bus, yang hampir selalu on time di sini. Bus berikutnya? beuh karena ini minggu malama, frekuensinya sangat jarang. Satu jam sekali. Karena perpus juga segera tutup dalam 10 menit, bisa-bisa nunggu hampir satu jam di halte bus. Engga deh.

Di waktu yang amat nanggung itu saya menggerutu, ngapain sih busnya terjadwal bentar lagi dan most likely on time, telat dikit juga boleh kok, 5-10 menit gitu *ahaha, dikasih pelayanan bagus malah masih minta extend*. Atau tentang angin, kenapa sih kencangnya bukan maen, jauh melebihi kencangnya gejolak di hatiku (halah!). At that rate, tiap 5 menit kena angin bisa masuk angin nih. Kalau mesti nunggu di halte 50 menit (kalau ketinggalan bus), bakal 10x masuk angin tuh. Hahah.. Belum tentang badai assignment. Kapan kelaar ini.

Ah sudahlah. Ditinggal bergumam geje, busnya datang.

Saya bergegas masuk, keburu dingin. Bu sopir menyapa ramah “hello” sambil tersenyum. Muka saya keliatan banget orang asing ya kok ga disapa pake bahasa Belanda. Saya jawab dengan senyum “Goedenavond, mevrouw” (aish, sok-sokan pake Dutch!).

Bus mulai berjalan kembali menyusuri Oude Rijn, sungai kecil nan syahdu di Leiden. Temaram lampu jalanan menghadirkan cahaya nan indah untuk dinikmati. Hmm.. Cantiknya Leiden. Banyak hal sederhana di kota kecil ini yang memancarkan keindahan. Kanal, jembatan, taman, perpustakaan, keramahan, kesunyian, lampu jalanan… Everything is just

Alhamdulillah…

Aih, that’s it! Terucap juga kalimat itu.. Ah betapa minimnya saya mengucap itu, di saat banyak hal sederhana yang mesti disyukuri. Padahal semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak hal sederhana yang bisa membuat bahagia.

Dengan bersyukur, aal izz well…

Aih, jadi inget catchy phrase dari film superkeren berjudul 3 Idiots itu. Keinget jelas saat Rancho bilang

That day I understood that this heart scares easily. You have to trick it, however big the problem is. Tell your heart, ‘aal izz well, aal izz well.’

Raju nimpalin, “Does that solve the problem?” dan dijawab mantap ama Rancho “NO, but you gain courage to face it“. Banyak hal yang membuat kita khawatir, tapi sebesar apapun masalah, kita bisa meyakinkan hati bahwa kita akan baik-baik saja. Aal izz well..

Dan rasa syukur adalah salah satu cara meyakinkan hati. Apapun masalah yang terjadi hari ini dan nanti, saya hanya ingin menutup hari dengan mengucap…

alhamdulillah

Semoga esok terbangun dalam rasa syukur yang lebih baik

**

Leiden, 15 November 2015

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

One thought on “Alhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s