Arsip Bulanan: Februari 2016

Jalan-Jalan Sehari di Roma

Banyak jalan menuju Roma.

Banyak pula cara untuk menikmati keindahan ibukota Italia ini. Ada yang datang tersebab agama (buat teman-teman yang beragama Katolik, di sinilah pusatnya -Vatican), keajaiban dunia (gladiator arena, Colosseum), klub bola (antek-anteknya pakde Francesco Totti), movie mania (film pemenang Oscar 2000, Gladiator, bersetting di sini), novel penuh tanda tanya (maksudnya Angels & Demons, best seller novel-nya Dan Brown nan sarat twist), manga (turnamen Dressrosa di One Piece) dan beragam alasan lainnya. Well, pada dasarnya emang Roma kota yang teramat kaya akan sejarah, budaya dan cerita sebagaimana julukannya: La Citta Eterna (kota abadi) πŸ™‚

Nah, bagaimana dengan saya? Atas alasan apa datang ke Roma?

Ga ada alasan spesifik kok, pengen jalan-jalan aja.. (bohong banget!). Ahaha, simpulkan sendiri deh, yuk ikutan jalan-jalan seharian keliling Roma..

rute roma

Mengingat agendanya jalan-jalan, in fact saya emang beneran lebih banyak jalan kaki. Untungnya objek menarik di Roma lumayan reachable dengan jalan kaki (di penghujung agenda, tetep berasa sih gempornya.. hahaha). Pertama banget, mesti naik metro A dulu dari Termini (sebisa mungkin kalo di Roma cari akomodasi yang dekat dengan stasiun Termini, kawan, karena ini hub utama yang berada tepat di jantung kota) jurusan Battistini, turun di “Ottaviano S.Pietro – Musei Vaticani”. Setelahnya, serahkan pada kaki dan peta πŸ˜€

  1. St. Peter’s Square, Vatican

vatican 1

Dari metro Ottaviano, jalan dikit maka kita akan melihat tembok tinggi besar yang menjadi pembatas negara independen terkecil di dunia, Vatican. Pilih antara belok kanan untuk menuju Museum Vatican (16 euro tiket masuknya) atau lurus terus untuk ke St. Peter Square.

St. Peter Square, atau Piazza San Pietro dalam bahasa lokal, merupakan tempat umat Katolik berkumpul untuk mendengar khutbah dari Pope. Lapangan luas ini mencakup keberadaan St. Peter Basilica, obelisk di tengahtengah, dan colonnade, pilar-pilar megah di sisi kanan dan kiri piazza hasil karya seniman dan arsitek kenamaan abad 17, Gianlorenzo Bernini.

vatican 2

Nah kalau udah bicara Bernini, para fans Dan Brown novel pasti cukup ngeh karena hasil karyanya jadi clue intrik, kontroversi, misteri dan thriller intens di novel (dan film) “Angels and Demons”. Di antara empat altar of science, St.Peter’s SquareΒ  melambangkan salah satu elemen utama: AIR.

2. Castel Sant Angelo

castel sant angelo

Satu garis lurus dengan St. Peter’s Square, ada Castel Sant Angelo, disebut sebagai sarangnya Illuminati di novel barusan. Antara dua tempat itu, ada Il Passeto, jalan rahasia ke Vatican tempat kejar-kejaran Professor Langdon (protagonis utama di novel, diperankan Tom Hanks di film) dengan sang pembunuh makin breathtaking.

Di depan Castel, ada Ponte Sant Angelo (bridge of angels). Sayangnya waktu saya lewat baru direnovasi, tetep bisa dilewatin pejalan kaki tapi jadi kurang caem buat foto-foto πŸ˜€

3. Piazza Navona

Another square, kali ini point of interestnya air mancur Fountain of Four Rivers yang melambangkan empat sungai besar di masing-masing benua: Danube (Eropa), Gangga (Asia), Nil (Afrika) dan Rio della Plata (Amerika). Sebagai altar of science, elemen yang terwakili tentu saja, WATER.

piazza navona

4. Pantheon

Terakhir dari napak tilas Angels and Demons, Pantheon merupakan tempat awal yang salah diidentifikasi Professor Langdon sebagai wakil elemen EARTH. Tapi di sinilah ia bertemu dengan sang partner yang nantinya bakal bahu-membahu mengungkap misteriΒ  sampai akhir cerita.

pantheon

5. Fontana di Trevi

Yuhu.. beralih kita dari tema per-Dan Brown-an. Berikutnya adalah air mancur paling masyhur se Roma, atau bisa jadi se Italia. Fontana di Trevi..!

fontana di trevi 2

Kalau teman-teman pernah dengar cerita mitos jika melempar koin ke kolam maka suatu saat kita bakal kembali ke Roma lagi, nah di kolam air mancur inilah tempatnya. Beneran deh banyak banget yang percaya dan melakukan ritual lempar koin tersebut.

Kalau saya? Ya samaa… Hahaha…

Engga ding, saya lempar koin juga. Tapi ke penjual gelato di sebelah. Gelato berbeda dengan ice cream biasa karena lebih soft dan lebih lama melelehnya. Rasanya? Jangan tanya. Gelato cafe Itali di Jakarta aja enak pol, apalagi di negeri asalnya. Uhh…

fontana di trevi 1

Menikmati gelato pistachio di depan Fontana di Trevi, sambil mikir gimana caranya ambil koin-koin euro di dalam kolam… buat beli gelato lagi. Ahaha. Ga peduli winter, everyday is a great day to eat gelato πŸ˜€

6. Spanish Steps

Tempat berikutnya dari agenda jalan-jalan Roma. Anak tangga yang diklaim sebagai “anak tangga terlebar di Eropa” bernama Spanish Steps. Di dekat kompleks ini (Via Condotti), terdapat banyak toko brand-brand mewah cem LV, Prada, Gucci, dan lainnya yang tentu saja ga terjangkau sama saya.

Again, kenapa sih point of interest-nya baru direnovasii.. Mestinya kan bisa terlihat lebih elegan. Tapi berhubung saya habis makan gelato, mood jadi oke, maka renovasi ini dimaafkeun lah ya πŸ˜€

spanish step

7. Colosseum

Objek wisata terakhir dari agenda Roma, udah ga jalan kaki lagi. Sudah gempor saudara-saudaraa…

Lho, katanya baru fresh lagi habis makan gelato?

Iya sih, tapi jarak Spanish Steps ke Colosseum nampaknya emang perlu bantuan metroΒ  huhu. Metro A dari Spagna ke arah Anagnina transit/turun di Termini, lalu oper ke Metro B ke arah Laurentina, dua stasiun berikutnya sudah “Colosseo”

colosseum 1

Sepertinya ga perlu banyak cerita tentang keajaiban dunia nan masyhur ini ya. Cuma satu saran penting ga penting, sebelum ke Roma download dulu soundtrack Gladiator, lalu pas jalan ke arah Colosseum dengerin itu lagu. Kerasa Roma banget!! πŸ™‚

It is not death that a man should fear, but he should fear never beginning to live

**

Ini jalan saya ke Roma. Bagaimana jalan kamu?

Happy traveling! πŸ˜‰

Solo Traveling 6 Hari: Italia, Vatican, San Marino

Experience unlocked: Solo traveling

Dua minggu yang lalu, atau tepatnya 19-24 Januari 2016, saya baru saja menjajal pengalaman baru: jalan-jalan sendirian. Hmm.. Lucu juga sebenarnya di umur 25 baru pernah sekali ini traveling tanpa teman, seringnya butuh tukang foto teman ngobrol atau kulineran atau kikuk bahasa atau tersesat, intinya seru-seruan bareng. Kerapkali traveling grup kecil (bareng 1-2 teman), atau sesekali rombongan 5-10 sohib (seperti dulu backpacker ke Lombok).

Nah, gimana nih kalo traveling sendiri.. Seru jugakah?

Kalo unlockednya ke tiga negara yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, ga ngerti bahasanya, ga kenal karakter orangnya.. Bukankah semua yang bakal ditemui adalah sesuatu nan baru dan seru? Hihi…

Semua experience unlockednya coba saya summary di sini, untuk kemudian ditulis sub-cerita di postingan berikutnya πŸ™‚

Day 1-2 : Roma – Vatican

Banyak jalan menuju Roma. Begitu peribahasa yang sering kita dengar sedari SD. Well, jalan saya ke Roma diantar oleh maskapai budget kesekian yang pernah saya coba (maklum mahasiswa, mampunya beli tiket budget), Vueling Airlines. Namanya maskapai murah meriah, pada prosesnya muncul sedikit waswas. Udah bayar tiket, eh invoice-nya baru datang beberapa hari kemudian setelah kontak lewat.. twitter! Walau proses awal acakadut, entah bagaimana si maskapai Spanyol itu bisa terbang smooth, tanpa delay, bahkan di perjalanan pendek dari Amsterdam ini sampai Roma terlalu cepat 30 menit dari jadwal! *menarik untuk di-review lebih lanjut nih maskapai-maskapai budget di Eropa *

Di Roma saya menginap di budget hostel sekamar berempat. Pengalaman baru sekamar dengan international traveler yang tentu tidak saling kenal sebelumnya. Komposisi roommatenya: Seorang Indonesia yang terdampar di Leiden, seorang Singapore, mahasiswa NTU yang sedang exchange di Madrid, dan satu lagi orang Chile yang sedang exchange di Barcelona. Kami asik mengobrol tentang agenda traveling masing-masing saat roommate terakhir datang. Botak dengan tatapan datar tak bersahabat dan badan besar kekar cem tukang tawur di film Green Street Hooligan. Tanpa dikomando, kami mengakhiri obrolan, menciut dalam selimut masing-masing, dan berharap esok pagi masih bisa menatap mentari. People really do judgment. Hahaha… *pengalaman di beragam akomodasi mulai dari nebeng temen, hostel, sampai hotel unyu juga nih diceritain *

Esoknya saya memulai jalan-jalan dari Vatican, negara terkecil di dunia yang dikelilingi tembok tinggi di dalam Roma. Dari St. Peter’s Square, tempat penganut Katolik Roma berkumpul untuk mendengarkan kutbah dari Paus (Pope), objek menarik lainnya menunggu di sepanjang perjalanan balik ke pusat kota. Jalan kaki ke Ponte St. Angelo, Piazza Navona, Pantheon, Fontana di Trevi sampai di Spanish Steps. *bisa dibaca di: Jalan Jalan Sehari di Roma*

Next, mengunjungi masjid terbesar di Eropa yang surprisingly berada di Roma. Sayang karena letaknya yang jauh di pinggiran, saya hanya sempat melihat kubahnya dari jauh, ga sempat sholat di sana. Huhu *cerita tentang pengalaman mengunjungi masjid-masjid di Eropa juga belum sempat ditulis nih*

DSCN3707

Terakhir sebelum lanjut ke kota berikutnya, ga boleh ketinggalan nih foto di depan salah satu keajaiban dunia, Colosseum. “Seven wonder RPUL version” keempat setelah Candi Borobudur, Ka’bah, dan Eiffel. Ahaha, maksa banget ya, keajaiban dunia-nya masi ngikut jaman baheula :p

Perjalanan pun lanjut ke kota kecil bernama Rimini, tempat transit sebelum esoknya ke San Marino.

Day 2-3 : Rimini – San Marino

Jarak Roma-Rimini dilibas dalam waktu singkat dengan kereta FrecciaRossa, kereta kelas tertinggi di sistem perkeretaapian Itali. Kok sombong naik kereta itu padahal di Indonesia aja naik Argo Bromo kaga pernah? Err.. Di Itali, tarif keretanya jauh lebih murah dibanding Belanda, plus ada paket supereconomy yang memungkinkan beli dengan harga supermiring (lebih murah dibanding naik Argo) untuk kereta high speed line nya. Jadi tetep ya, ada pertimbangan budget juga πŸ˜€

Sampai Rimini jam 9 malem, udah ga ada public transport yang jalan dong. Sang kota kecil nan sepi ini pun mempersilakan saya untuk kembali jalan kaki (beneran deh, kalau travel sendiri itu jadi jauuh lebih banyak jalan kakinya). Setelah jalan kaki sejauh 2 km menuju hostel (jauh ga tuh?), saya mendapati bahwa hostel yang saya pesan sudah full booked dengan nama saya tidak ada dalam listnya.

Whaaatt!!??

Hari sudah segelap itu, di kota kecil antah berantah Rimini (pada belum pernah dengar namanya kan?), mendapati error dalam booking tentu bukan kondisi yang mengenakkan. Duh. Gimana dong? *tunggu ceritanya di insiden hotel Rimini.. hihi*

Lepas dari problematika hari sebelumnya, saya fully fresh untuk naik-naik ke puncak gunung Titano, tempat negara mungil lain di dalam Italia (terkecil kelima di dunia), San Marino. Cuacanya sedang berkabut banget, tapi malah unik karena the three tower, tiga menara benteng pertahanan yang menjadi simbol San Marino jadi terlihat lebih mistis. Trekking asyik menyusuri anak tangga mulai dari tower pertama (Guaita) yang merupakan tower tertua, tower kedua (Cesta) sang tower tertinggi, sampai ke tower ketiga (Montrale) yang paling mini di antara ketiganya. *bahas lebih lengkap di sub-cerita ya πŸ™‚ *

DSCN3819

Day 4 : Venice

Kalau sampai Rimini jam 9 malam aja muncul masalah, gimana kalau sampai di Venice jam 10 malam dan masih harus untuk mencari-cari hostel? Mengingat jalan utama Venice adalah kanal, jalanan yang disusuri adalah gang-gang kecil. Gimana kalau tersesat, dipalak orang, digonggongin anjing?

Ahaha, that’s why we travel, right? The world is not as scary as we think it is. Setelah jalan santai diantara temaram lampu malam Venice nan syahdu, secara kebetulan saya ketemu yang punya hostel di warung kebab! Bahkan dapat tiga combo: kebabnya (yang entah kenapa punya rasa kaya kebab Indonesia.. nyaam), hostelnya (ketemu yang punya) plus tempat sholat (sang bapak ternyata muslim Bangladesh, namanya Zainal Abidin.. kok mirip nama tetangga ya.. hehe). Alhamdulillah.

Di hostel roommate saya orang Jepang, hore fellow Asian (berasa lebih ramah aja sih) dan hore lagi karena bisa ngobrol tentang Water Seven, epic setting di manga One Piece yang terinspirasi dari Venice, bareng si kompatriot Oda-sensei itu.

Kota air nan menawan. Begitu saya tulis secuplik dalam postingan sebelumnya. Dimulai dari belanja buah di Rialto Market, mengunjungi square utama Piazza San Marco sampai bridge hunting. Apaan bridge hunting? Jadi to, ada empat jembatan besar yang membelah Grande Canal, kanal besar Venice. Keempatnya unik:Β  Ponte dell Accademica (terbuat dari kayu), Ponte Scalzi (batu), Ponte Calatrava (besi) dan Ponte Rialto (the main icon). Caem pokoknya kalo ambil foto bangunan dan kendaraan Venice (gondola, vaporetto) yang berlalu lalang di kanal dari situ *diceritain lebih lengkap di post selanjutnya ya*

DSC_3078

Day 5-6 : Milan

Childhood dream! Milan adalah kota impian saya sejak zaman bocah, mengingat saya sudah jadi Milanisti sejak umur 9 tahun. Siapa nyana, tepat 17 tahun kemudian saya bisa berkunjung ke San Siro, markas AC Milan. Uhh… Priceless moment bangeet.. *masi mencoba merangkai kata yang tepat bagaimana “impian bodoh” di masa kecil bisa menjadi pemicu semangat yang efektif *

DSCN4062

Kunjungan di Milan sendiri merupakan yang paling comfortable di antara semuanya. Akomodasi? Nebeng. Jalan-jalan dalam kota? Ada tour guide. San Siro museum? kebetulan ketemu guide dari Indonesia. Transport? Baru bagus-bagusnya, mengingat metro 6 yang driverless itu udah dibuka dan stasiun masi bersih habis Milan Expo. Ujung-ujungnya tinggal menikmati gelato sambil jalan di Piazza Duomo πŸ˜€

Well, senyaman-nyamannya di Milan, ada kejadian koplak juga karena error simplifikasi yang menyebabkan saya salah naik kereta. Saat harusnya menuju Lake Como, saya malah baru sadar salah kereta saat sudah di Bergamo (dari awal banget udah salah masuk kereta!). Bagaimana bisaaa? *nah, cerita konyol itu bisa dibaca di postingan Lake Como*

**

Demikian summary “experience unlocked: solo traveling” ke Italia selama 6 hari. Mesti dipotong jangan panjang-panjang biar ga nyangkut di draft mulu. Semoga subcerita bisa segera ketulis juga. Hehehe..

Happy Traveling! πŸ˜‰