Posted in jalan-jalan

Solo Traveling 6 Hari: Italia, Vatican, San Marino


Experience unlocked: Solo traveling

Dua minggu yang lalu, atau tepatnya 19-24 Januari 2016, saya baru saja menjajal pengalaman baru: jalan-jalan sendirian. Hmm.. Lucu juga sebenarnya di umur 25 baru pernah sekali ini traveling tanpa teman, seringnya butuh tukang foto teman ngobrol atau kulineran atau kikuk bahasa atau tersesat, intinya seru-seruan bareng. Kerapkali traveling grup kecil (bareng 1-2 teman), atau sesekali rombongan 5-10 sohib (seperti dulu backpacker ke Lombok).

Nah, gimana nih kalo traveling sendiri.. Seru jugakah?

Kalo unlockednya ke tiga negara yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, ga ngerti bahasanya, ga kenal karakter orangnya.. Bukankah semua yang bakal ditemui adalah sesuatu nan baru dan seru? Hihi…

Semua experience unlockednya coba saya summary di sini, untuk kemudian ditulis sub-cerita di postingan berikutnya🙂

Day 1-2 : Roma – Vatican

Banyak jalan menuju Roma. Begitu peribahasa yang sering kita dengar sedari SD. Well, jalan saya ke Roma diantar oleh maskapai budget kesekian yang pernah saya coba (maklum mahasiswa, mampunya beli tiket budget), Vueling Airlines. Namanya maskapai murah meriah, pada prosesnya muncul sedikit waswas. Udah bayar tiket, eh invoice-nya baru datang beberapa hari kemudian setelah kontak lewat.. twitter! Walau proses awal acakadut, entah bagaimana si maskapai Spanyol itu bisa terbang smooth, tanpa delay, bahkan di perjalanan pendek dari Amsterdam ini sampai Roma terlalu cepat 30 menit dari jadwal! *menarik untuk di-review lebih lanjut nih maskapai-maskapai budget di Eropa *

Di Roma saya menginap di budget hostel sekamar berempat. Pengalaman baru sekamar dengan international traveler yang tentu tidak saling kenal sebelumnya. Komposisi roommatenya: Seorang Indonesia yang terdampar di Leiden, seorang Singapore, mahasiswa NTU yang sedang exchange di Madrid, dan satu lagi orang Chile yang sedang exchange di Barcelona. Kami asik mengobrol tentang agenda traveling masing-masing saat roommate terakhir datang. Botak dengan tatapan datar tak bersahabat dan badan besar kekar cem tukang tawur di film Green Street Hooligan. Tanpa dikomando, kami mengakhiri obrolan, menciut dalam selimut masing-masing, dan berharap esok pagi masih bisa menatap mentari. People really do judgment. Hahaha… *pengalaman di beragam akomodasi mulai dari nebeng temen, hostel, sampai hotel unyu juga nih diceritain *

Esoknya saya memulai jalan-jalan dari Vatican, negara terkecil di dunia yang dikelilingi tembok tinggi di dalam Roma. Dari St. Peter’s Square, tempat penganut Katolik Roma berkumpul untuk mendengarkan kutbah dari Paus (Pope), objek menarik lainnya menunggu di sepanjang perjalanan balik ke pusat kota. Jalan kaki ke Ponte St. Angelo, Piazza Navona, Pantheon, Fontana di Trevi sampai di Spanish Steps. *bisa dibaca di: Jalan Jalan Sehari di Roma*

Next, mengunjungi masjid terbesar di Eropa yang surprisingly berada di Roma. Sayang karena letaknya yang jauh di pinggiran, saya hanya sempat melihat kubahnya dari jauh, ga sempat sholat di sana. Huhu *cerita tentang pengalaman mengunjungi masjid-masjid di Eropa juga belum sempat ditulis nih*

DSCN3707

Terakhir sebelum lanjut ke kota berikutnya, ga boleh ketinggalan nih foto di depan salah satu keajaiban dunia, Colosseum. “Seven wonder RPUL version” keempat setelah Candi Borobudur, Ka’bah, dan Eiffel. Ahaha, maksa banget ya, keajaiban dunia-nya masi ngikut jaman baheula :p

Perjalanan pun lanjut ke kota kecil bernama Rimini, tempat transit sebelum esoknya ke San Marino.

Day 2-3 : Rimini – San Marino

Jarak Roma-Rimini dilibas dalam waktu singkat dengan kereta FrecciaRossa, kereta kelas tertinggi di sistem perkeretaapian Itali. Kok sombong naik kereta itu padahal di Indonesia aja naik Argo Bromo kaga pernah? Err.. Di Itali, tarif keretanya jauh lebih murah dibanding Belanda, plus ada paket supereconomy yang memungkinkan beli dengan harga supermiring (lebih murah dibanding naik Argo) untuk kereta high speed line nya. Jadi tetep ya, ada pertimbangan budget juga😀

Sampai Rimini jam 9 malem, udah ga ada public transport yang jalan dong. Sang kota kecil nan sepi ini pun mempersilakan saya untuk kembali jalan kaki (beneran deh, kalau travel sendiri itu jadi jauuh lebih banyak jalan kakinya). Setelah jalan kaki sejauh 2 km menuju hostel (jauh ga tuh?), saya mendapati bahwa hostel yang saya pesan sudah full booked dengan nama saya tidak ada dalam listnya.

Whaaatt!!??

Hari sudah segelap itu, di kota kecil antah berantah Rimini (pada belum pernah dengar namanya kan?), mendapati error dalam booking tentu bukan kondisi yang mengenakkan. Duh. Gimana dong? *tunggu ceritanya di insiden hotel Rimini.. hihi*

Lepas dari problematika hari sebelumnya, saya fully fresh untuk naik-naik ke puncak gunung Titano, tempat negara mungil lain di dalam Italia (terkecil kelima di dunia), San Marino. Cuacanya sedang berkabut banget, tapi malah unik karena the three tower, tiga menara benteng pertahanan yang menjadi simbol San Marino jadi terlihat lebih mistis. Trekking asyik menyusuri anak tangga mulai dari tower pertama (Guaita) yang merupakan tower tertua, tower kedua (Cesta) sang tower tertinggi, sampai ke tower ketiga (Montrale) yang paling mini di antara ketiganya. *bahas lebih lengkap di sub-cerita ya🙂 *

DSCN3819

Day 4 : Venice

Kalau sampai Rimini jam 9 malam aja muncul masalah, gimana kalau sampai di Venice jam 10 malam dan masih harus untuk mencari-cari hostel? Mengingat jalan utama Venice adalah kanal, jalanan yang disusuri adalah gang-gang kecil. Gimana kalau tersesat, dipalak orang, digonggongin anjing?

Ahaha, that’s why we travel, right? The world is not as scary as we think it is. Setelah jalan santai diantara temaram lampu malam Venice nan syahdu, secara kebetulan saya ketemu yang punya hostel di warung kebab! Bahkan dapat tiga combo: kebabnya (yang entah kenapa punya rasa kaya kebab Indonesia.. nyaam), hostelnya (ketemu yang punya) plus tempat sholat (sang bapak ternyata muslim Bangladesh, namanya Zainal Abidin.. kok mirip nama tetangga ya.. hehe). Alhamdulillah.

Di hostel roommate saya orang Jepang, hore fellow Asian (berasa lebih ramah aja sih) dan hore lagi karena bisa ngobrol tentang Water Seven, epic setting di manga One Piece yang terinspirasi dari Venice, bareng si kompatriot Oda-sensei itu.

Kota air nan menawan. Begitu saya tulis secuplik dalam postingan sebelumnya. Dimulai dari belanja buah di Rialto Market, mengunjungi square utama Piazza San Marco sampai bridge hunting. Apaan bridge hunting? Jadi to, ada empat jembatan besar yang membelah Grande Canal, kanal besar Venice. Keempatnya unik:  Ponte dell Accademica (terbuat dari kayu), Ponte Scalzi (batu), Ponte Calatrava (besi) dan Ponte Rialto (the main icon). Caem pokoknya kalo ambil foto bangunan dan kendaraan Venice (gondola, vaporetto) yang berlalu lalang di kanal dari situ *diceritain lebih lengkap di post selanjutnya ya*

DSC_3078

Day 5-6 : Milan

Childhood dream! Milan adalah kota impian saya sejak zaman bocah, mengingat saya sudah jadi Milanisti sejak umur 9 tahun. Siapa nyana, tepat 17 tahun kemudian saya bisa berkunjung ke San Siro, markas AC Milan. Uhh… Priceless moment bangeet.. *masi mencoba merangkai kata yang tepat bagaimana “impian bodoh” di masa kecil bisa menjadi pemicu semangat yang efektif *

DSCN4062

Kunjungan di Milan sendiri merupakan yang paling comfortable di antara semuanya. Akomodasi? Nebeng. Jalan-jalan dalam kota? Ada tour guide. San Siro museum? kebetulan ketemu guide dari Indonesia. Transport? Baru bagus-bagusnya, mengingat metro 6 yang driverless itu udah dibuka dan stasiun masi bersih habis Milan Expo. Ujung-ujungnya tinggal menikmati gelato sambil jalan di Piazza Duomo😀

Well, senyaman-nyamannya di Milan, ada kejadian koplak juga karena error simplifikasi yang menyebabkan saya salah naik kereta. Saat harusnya menuju Lake Como, saya malah baru sadar salah kereta saat sudah di Bergamo (dari awal banget udah salah masuk kereta!). Bagaimana bisaaa? *nah, cerita konyol itu bisa dibaca di postingan Lake Como*

**

Demikian summary “experience unlocked: solo traveling” ke Italia selama 6 hari. Mesti dipotong jangan panjang-panjang biar ga nyangkut di draft mulu. Semoga subcerita bisa segera ketulis juga. Hehehe..

Happy Traveling!😉

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

2 thoughts on “Solo Traveling 6 Hari: Italia, Vatican, San Marino

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s