Semalam saya lumayan gabut dan memutuskan menikmati Youtube saja, scroll santai sesuai apa yang direkomendasikan Youtube di halaman muka. Ternyata kontennya band tenar generasi 90, Padi, yang sekarang kumpul lagi setelah sekian lama dan punya acara show sendiri berjudul Padi Sang Penghibur. Kuping saya yang lama ga dengar lagu-lagu Padi kembali bernostalgia pada lagu mereka. Lagu yang beken sekali jaman saya kecil dulu. Dan otomatis otak saya bilang:

“Nah ini baru keren! kenapa band-band jaman sekarang ga bikin lagu sekeren ini!”

Padi dan Dewa 19 yang kumpul lagi. Sheila on 7 yang langgeng. Mereka semua adalah beberapa legenda musik 90an yang lagunya keren sampai sekarang, dan secara ga sadar saya berekspektasi band sekarang lagunya mestinya setipe dengan mereka. Musik yang keren dan lirik yang indah puitis.

Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin ada yang salah dengan pendapat saya terkait musik dari generasi saya kecil (sebutlah generasi 90an) dengan generasi sekarang. Mungkin semua itu hanya urusan selera yang terbentuk sesuai era masing-masing. Kenapa begitu? Karena ambil contoh Noah (dulu generasi 90 mengenalnya Peterpan) yang beken di lintas generasi. Mereka menyesuaikan diri di era sekarang dengan musik yang lebih berani (dan tetep laris), eh ga nyangkut di telinga saya. Suara Ariel masih top tier, tapi kok di saya musiknya tetep jauh lebih enak Peterpan ya.. Dan seenak-enaknya Peterpan, bagi bapak saya tetep lebih enak Koes Plus. See, sama-sama musiknya lintas generasi loh..

Hal itu ga terbatas sama musik juga. Bahkan berlaku hampir di semua bidang. Sepakbola misalnya, apapun kehebatan yang Messi tunjukkan di era sekarang, bagi generasi 80an tetap menaruhnya di bawah Maradona (padahal kalau diliat dari highlightnya, harusnya jago Messi lho.. menurut sayaa…). Ini mereka juga sama-sama punya kehebatan yang diakui lintas generasi, tapi masing-masing generasi akan keukeuh pada jagoan generasinya sendiri.

Tak terbatas di entertainment pula, kita lihat dari sisi edukatif. Pak Habibie, adalah orang Indonesia panutan utama di generasi saya. Bangun pesawat, cendekiawan, otak Jerman hati Mekkah, jadi hal yang keren untuk diraih. Generasi sekarang, mungkin Nadiem Makarim yang lebih dilihat karena keberhasilannya memberi pengaruh besar dengan Gojek. Kalau ibu saya yang seorang guru, mungkin sosok Ki Hajar Dewantara atau Ahmad Dahlan tetap yang jadi panutan besar. Poinnya? Level kebaikan yang besar dan lintas generasi pun akan diterima sesuai perspektif generasi masing-masing.

Nah, dari sinilah saya jadi refleksi diri. Terutama karena jadi orang tua baru. Jadi pegawai juga di tempat yang isu lintas generasinya cukup kencang. Setelah diamati, challenge utamanya memang karena merasa tahu dan parahnya bisa geser jadi merasa paling tahu, padahal perspektifnya terbentuk di generasi sendiri, tanpa mencoba memahami generasi yang lain. Dan yang bikin complicated.. ternyata itu natural! Seperti kasus di musik, sepakbola dan edukasi tadi, masalah selera itu terbentuk sesuai generasi.

Ke depan saya benar-benar belum tahu gimana komunikasi lintas generasi ini mesti dihadapi. Tantangan tentu makin besar. Bagaimana bersikap saat perspektif saya kelak akan berbeda dengan anak saya.

Tapi satu yang pasti, saya akhirnya sadar dan pengen mengapresiasi sebesar-besarnya pada orang tua saya. Karena walaupun tidak selalu jadi yang paling tahu, bahkan sering saya rasa ga mau tahu, yang ternyata memang siapapun susah untuk tahu.. mereka lah yang selalu ada dan do the best sesuai yang mereka tahu.

Tidak semua hal perlu tahu dulu.

Tidak semua hal akan kita tahu.

Karena mungkin yang tertinggal sampai lintas generasi hanyalah usaha-usaha yang sudah diupayakan sebaik mungkin walau dalam kesulitan dan ketidaktahuan.

Terima kasih bunda.. terima kasih bapak..

#MakasihBunda #MakasihBapak #SelaluBelajar #LintasGenerasi

Satu pemikiran pada “Lintas Generasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s