Sepertinya kita semua tahu akan sosok pelawak Sule (Entis Sutisna) dan pesulap Deddy Corbuzier ya. Bagaimana tidak, mereka berdua salah satu yang paling banyak muncul di TV, dan kalaupun sekarang sudah banyak yang beralih dari TV ke Youtube, tetep saja dua orang itu jadi beberapa yang paling tinggi exposure-nya alias sering tampil.

Berbicara tentang exposure mereka yang saya dapatkan di Youtube, ini kesamaan mereka:

  1. Sama-sama pernah sampai di titik paling top di bidangnya. Sule jadi pelawak nomor 1 Indonesia (pas booming bersama Opera Van Java, pun sekarang tentunya masih di jajaran top). Deddy Corbuzier jadi pesulap atau mentalis nomor wahid di tanah air (dan sampai sekarang pun masih yang paling terkenal walau sudah berhenti sulap..)
  2. Sama-sama mengalami kisah perjuangan hidup yang sulit sebelum mencapai kesuksesan. Sule yang anak tukang bakso yang amat sederhana, Deddy pun waktu kecil beli bakso 1 porsi untuk dibagi serumah. Saking sulit finansial. Bayaran awal mereka? <= 50ribu (kalau sekarang mah sekali episode angkanya bisa >= 50 juta ya)

Tapi bukan dua hal yang sudah banyak diketahui orang itu yang menggelitik pikiran saya. Ada hal menarik yang keluar dari mereka dan posisi saya sebagai orang tua baru jadi bisa relate. Apa itu? Tak lain pas di suatu momen mereka mereka tercenung senyum-senyum agak gimana gitu akan hal berikut:

Sepakat nih kalau kesusahan, rintangan yang dialami sepanjang hidup adalah yang membentuk jadi pribadi tangguh seperti sekarang. Note, rintangan membuat tangguh. Pertanyaannya, di saat sudah sukses finansialnya oke dan jadi seorang bapak, kenapa mereka alih-alih memposisikan anak dalam rintangan, malah menyingkirkan rintangan itu dari anak-anaknya?

Sule secara ga langsung mengakui bahwa memberi privilege (keuntungan khusus) buat anaknya, Rizky Febian. Walaupun sang anak sulung tahu dan mengikuti bapaknya dari jaman finansial susah sampai finansial mapan, Sule tetep ga mau Iky (panggilan akrab Rizky Febian) merasakan hal yang sama seperti bapaknya dulu. Karir artisnya pun mayan cepat karena sedikit banyak terbantu pamor sang bapak (note: jangan disalahartikan Iky numpang tenar aja ya, terlepas adanya privilege, saya pun mengakui suara Iky top kok).

Hal yang hampir mirip berlaku untuk Azka, anak Deddy Corbuzier. Belum jadi artis sih. Cuman secara lifestyle & privilege udah oke banget dan Deddy sendiri mengakui dia belum pernah menempatkan Azka seperti dirinya dulu yang harus hidup susah dan ke mana-mana berjejalan naik transportasi umum (bus) yang sumpek.

Hmm.. sampai di sini udah keliatan benang merahnya ya apa yang mau dibahas.

Orang sukses adalah orang yang terbukti tangguh. Orang tangguh adalah orang yang telah dan mampu menyingkirkan rintangan. Eh, orang yang sudah melewati rintangan jadi tangguh, eh tetep punya tendensi menyingkirkan rintangan untuk anaknya.

Cukup bapak/ibu saja yang mengalami, semua kerja keras ini dari awal memang sudah diniatkan agar anak bapak/ibu nanti punya hidup yang lebih baik. Sering dengar seperti itu? Kalau iya, berarti kita mesti bersyukur terlahir dari orang tua yang luar biasa.

Back to topic, jadi benar atau salah tuh menyingkirkan tantangan untuk anak?

Hmm.. tricky yaa.. saya sebagai orang tua baru pun tentunya belum punya kiat efektif terkait hal tersebut. Pasti besar tantangannya.

Secara natural, rasa sayang orang tua akan membuatnya menyingkirkan rintangan dan memberi privilege. Keuntungan yang didapat si anak ini bisa jadi pedang bermata dua: bisa jadi modal untuk jadi pribadi yang lebih baik (secara pendidikan, finansial dan harapannya manfaat ke orang banyak), tapi bisa juga jadi bermental tempe, tidak tangguh, dan susah menjalani kerasnya kehidupan.

Secara natural pula, orang tua selalu berharap anaknya jadi anak yang tangguh. Agak kontradiktif memang kalau pengen tangguh tapi rintangannya disingkirkan. Sejauh ini orang tua selalu berdalih bahwa ya cukup dimaknai saja dulu perjuangan orang tua, tidak perlu mengalami hal yang sama. Ini betul, tapi menyisakan PR karena tidak banyak anak yang bisa memaknai tanpa harus benar-benar mengalami.

Berbicara privilege sendiri, konon juga terpengaruh sama tantangan masing-masing generasi. Contohnya begini, dulu orang tua hidup susah ke mana-mana mesti naik bus. Saat punya anak, anaknya dibelikan sepeda bagus biar lebih fleksibel bepergian. Apakah ini privilege? Iya, dan sudah upgrade banyak dari jaman orang tuanya. Masalahnya, ketika sang anak dihadapkan pada lingkungan atau jaman yang standarnya adalah motor bagus atau bahkan mobil, tentu bisa kompleks yang dirasakan. Dari perspektif anak, fasilitas yang dia dapatkan merasa di bawah “standar lingkungan” atau “standar jaman”. Dari perspektif orang tua, antara berpendapat ini anak sudah dikasi fasilitas bagus kok masi ngelunjak, atau merasa bersalah karena tidak bisa memberi hal yang baik (menurut lingkungan) untuk anaknya.

Padahal sekedar memberi fasilitas, apapun bentuknya, itu sudah merupakan hal yang patut disyukuri.

Mungkin memang harus trial and error ya mem-balance antara menyingkirkan rintangan, memberi privilege dan membentuk anak yang tangguh dan pandai bersyukur. Mungkin juga kuncinya bukan di perlu tidaknya sebuah privilege, tapi bagaimana orang tua membersamai anak saat bersiap untuk tantangan dan saat rintangan itu datang.

Bismillah semoga kita semua jadi pribadi yang tangguh, pandai bersyukur dan bisa menularkan pada anak kita kelak.

Tak lupa, kembali appreciation post.. makasih Bunda dan Bapak yang sudah berusaha memberikan apapun untuk saya, yang niatnya pasti baik tapi sayanya yang terima suka labil, kadang menerima dengan baik dan kadang kurang baik.

Semoga dalam rintangan yang akan selalu ada, kita selalu bisa membersamai dalam kasih sayang. Amiin.

#MakasihBunda #MakasihBapak #SelaluBelajar #BersamaDalamRintangan

4 pemikiran pada “Menyingkirkan Rintangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s