Jaman saya sekolah menengah di Solo dulu, Gramedia jadi salah satu tempat favorit untuk nongkrong para pelajar selain game center. Karena pelajar jaman dulu rajin baca buku? Sebenarnya engga juga ya, karena faktor tempat yang cozy, adem dan era informasinya masi banyak yang mengandalkan media cetak. Mau update berita bola, otomotif, baca komik atau bacaan entertainment lainnya masih minim di internet. Yang jelas Gramedia selalu rame pengunjung.

Tapi sekarang, saya kalau ke Gramedia bawaannya kayak di tempat asing, saking sepinya. Tampaknya era sudah berubah. Sudah banyak informasi tersedia secara online, dan minat baca buku secara fisik menurun drastis. Sayangnya, data menunjukkan berdasar survey pun, literasi (minat baca) Indonesia salah satu yang paling rendah di dunia!

Perubahan media baca fisik ke virtual tidak bisa menjadi alasan karena toh jumlah buku yang di-download secara online pun minim. Ironisnya, Indonesia selalu juara untuk urusan cerewet di media online.

Minim baca, banyak suara. Waduh.

Saya sendiri bisa dibilang bukan orang yang suka membaca.. wkwk.. entah kenapa cepet bosan (nah, muncul lagi ya alibi dari orang yang turut andil bikin literasi Indonesia nyungsep). Padahal setelah dipikir-pikir, banyak hal yang saya lihat dan alami sendiri: banyak orang terselamatkan karena membaca.

Contoh satu, dari teman kantor saya dulu. Orangnya cukup unik. Pas jaman kuliah dia ga pernah ikutan ujian kalau belum khatam (selesai) baca buku modul teknik yang supertebal itu. Jadi baru selesai baca setengah, ga dateng ujian. Dilepas, pasti ngulang. Tapi ternyata setelah masuk dunia kerja, pas ujian sertifikasi teknis dia hampir selalu dapat nilai sempurna. Ga cuma sekedar lulus, tapi nyaris sempurna (ga gampang lho). Ternyata orang yang bacaannya banyak, pas nembak (nebak jawaban) pun bisa lebih akurat. Ketika kesulitan, lebih bisa memilih mana opsi yang make sense.

Contoh dua, yang saya alami sendiri. Dulu saya sempat belajar bahasa Prancis walau seuprit. Cuma sampai level yang paling dasar. Suatu saat, pas solo travelling saya terdampar di stasiun transit Bologna, Itali. Kacaunya, waktu untuk pindah platform sangat terbatas plus pengumuman dengan bahasa Itali yang saya jelas roaming (hampir ga bisa nangkep). Eh surprisingly, ada beberapa kata yang mirip antara bahasa Itali dan Prancis. Dan ketika saya menuju platform kereta berdasar insting lintas bahasa ini, ternyata tepat dan seketika saya masuk kereta, keretanya berangkat. Hampir ketinggalan kereta, tapi knowledge kecil yang saya baca ternyata menyelamatkan.

Poinnya adalah, cepat atau lambat, pengetahuan yang pernah kita baca bisa menyelamatkan di waktu yang tidak terduga.

Mungkin tak salah kalau Allah SWT menurunkan ayat pertama pun berbunyi “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan”

Nah jadi PR kita nih untuk lebih meningkatkan membaca, karena harus diakui sangat menantang untuk dibiasakan. Saya yang dari kecil sudah coba dibiasakan bunda dan bapak untuk baca, sampai sekarang pun masih perlu banyak berbenah. Hehe.

Mungkin mindsetnya perlu diubah, bukan membaca karena mau ujian, tugas kantor, atau alasan dari luar lainnya. Tapi lebih ke apa ilmu yang kita pelajari, sedikit demi sedikit, pada waktunya nanti akan menyelamatkan diri kita sendiri di saat yang tak terduga.

Yuk mari.

#MakasihBunda #MakasihBapak #SelaluBelajar #SemangatMembaca

2 pemikiran pada “Selamat karena Membaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s