Fun Part

Seminggu yang lalu, Indonesia heboh dengan pertandingan catur yang digelar antara pecatur wanita terbaik tanah air, WGM Irene Sukandar melawan pak Dadang Subur (DewaKipas) yang viral karena alasan yang cukup kontroversial dan kurang etis. Walaupun stream di hari senin, jam sibuk-sibuknya kantor, tetap jutaan yang nonton live di Youtube Deddy Corbuzier.. saking viralnya.

Nah, yang ingin saya garisbawahi justru momen podcast om Deddy Corbuzier setelah itu. Ada satu kalimat nyletuk yang menarik perhatian saat Deddy penasaran bagaimana atlet catur membalance “game” dan “ilmu”. Dalam artian begini, pecatur pas masa kecil mulai main catur pasti rasanya menyenangkan, seperti “game”, menang kalah pun pasti bisa diambil asiknya. Lama-lama, untuk jadi atlet maka di-drill banyak sekali varian langkah-langkah dan memori pertandingan, sehingga ini udah di ranah “ilmu” yang seringkali stressful.

Hmmm.. iya juga ya…

Rasa seru seringnya cuma kita rasakan di awal. Selepasnya, dengan ratusan jam mendalami hal yang spesifik, tentu bukan seru lagi yang dirasakan, bahkan cenderung menjemukan.

Tapi ternyata, orang yang sukses seringkali punya mindset yang bagus dalam membalance antara rasa seru & rasa stress.

Magnus Carlsen, juara dunia catur dan mungkin pecatur terbaik sepanjang sejarah, masih terlihat happy bermain-main dengan varian gerakan yang selow sekalipun dia sangat bisa memilih gerakan paling akurat.

Roger Federer, juara tenis dan mungkin petenis terbaik sepanjang sejarah, bilang bahwa ia masih menikmati memukul-mukul bola tenis lawan dinding garasinya.

Kelihatan silly, tapi mungkin itulah kunci suksesnya ya.

Se-stress apapun latihan atau belajar mencari ilmu, kita mesti tetap menemukan fun part, hal menyenangkan yang membuat kita terus bertahan.

Karena dalam senyum dan antusiasme, terdapat rasa syukur dan keinginan untuk maju.

Bekasi, 28 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan kesembilan untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Pasir

Saat ini, dunia sedang trending satu kejadian heboh yang cukup mengguncang rantai perekonomian. Bukan covid ya, karena kalau yang ini sudah setahun lebih dan kita belum tau kapan hilangnya. Kejadian yang saya maksud adalah tersangkutnya kapal kargo Ever Given, salah satu kapal terbesar di dunia (1,5x besar kapal Titanic yang tersohor itu), di Terusan Suez.

Mengingat Terusan Suez merupakan kanal yang sangat penting untuk jalur kargo, dengan 10% lebih pengangkutan kargo melalui jalur tsb, maka diprediksi menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 126 Triliun rupiah sehari! Wow, jumlah kerugian harian yang sangat besar ya. Tempat kerja saya aja butuh hampir setahun untuk mencapai angka segitu.

Nah, yang menarik dari cerita kapal Ever Given ini adalah, bagaimana bisa kapal sebesar itu nyangkut. Apalagi di era modern seperti ini, dan di kanal yang sudah beroperasi seratus tahun lebih. Ternyata faktornya adalah badai pasir dan angin berkecepatan 50-70 km/jam yang datang tiba-tiba. Kecepatan tersebut sebenarnya bukan kategori “wow” karena banyak badai berkecapatan ratusan km/jam di penjuru dunia, tapi ternyata dengan kedatangannya yang tiba-tiba membuat navigasi kapal jadi buruk, walhasil kapal kargo seberat 220.000 ton (ya, seberat itu!) “sukses” melintang diagonal, menutup penuh lebar Terusan Suez.

See? Pasir dan angin yang datang tiba-tiba membuat kapal superbesar dan superberat bergeser dan membuat rantai perekonomian terguncang seketika.

Kapal kargo lain jadi harus menunggu penuh ketidakpastian kapan kanal Suez bisa kembali dilewati. Opsi memutar pun sangat jauh, karena berarti harus mengelilingi penuh benua Afrika. Barang kargo banyak yang terdelay. Bahkan harga minyak dunia pun sampai naik karena pasokannya jadi susah.

Sepertinya begitulah ihwal manusia ya. Terlalu kecil dibanding alam dan kehendak Sang Pencipta. Peristiwa ini juga mengingatkan saya kenapa kita selalu bersyukur alhamdulillah selesai bersin.

Karena saat kena debu kecil atau sebab lainnya, kita bersin, pada dasarnya jantung juga berhenti sekejap. Untungnya cukup cepat sebelum ke fase fatal dan jantung kita operasional lagi. Alhamdulillah. Tentunya nikmat sehari-hari yang terkesan sepele ini jadi mesti disyukuri berkali-kali.

Bisa jadi, pasir dan angin kecil yang membuat kita bersin, ternyata menghentikan laju jantung kita. Seperti kapal Ever Given tersangkut di Terusan Suez. Naudzubillahi min dzalik.

Semoga kita terus diberi kesehatan dan menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur. Amiin.

Bekasi, 27 Maret 2021

Ditulis sebagai tulisan kedelapan untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Purpose

Beberapa waktu yang lalu, saya menyimak insta-story dari direktur muda nan cemerlang di tempat saya bekerja, dan menemukan hal yang sungguh menarik. Beliau saat itu sedang mengutip buku “The Power of Moments” karya Chip & Dan Heath.

Hal menariknya begini: mana yang lebih penting, purpose atau passion?

Saat saya sekolah dulu, yang banyak dijor-jorkan lebih ke passion. “Carilah passionmu!” lebih digaungkan dibanding “Temukan purpose-mu”. Karena memang mencari passion berarti mencari kesenangan kita, hal yang membuat kita secara emosional happy-happy. Apapun yang dijalani akan bisa dilalui jika hati baru bahagia. Premis ini bisa jadi betul, tapi untuk konteks di pekerjaan, ternyata buku “The Power of Moments” memaparkan hal lain. Apakah itu?

Tertarik dengan mana yang lebih membuat impact dalam performa kerja, purpose atau passion, seorang profesor melakukan riset. Hasil yang obvious (mudah diprediksi) yakni:

  • Orang yang punya high passion & high purpose, performa kerjanya sangat tinggi. Wajar, lha wong suka dengan kerjaannya dan punya tujuan spesifik pula
  • Orang yang punya low passion & low purpose, performa kerjanya rendah. Ini juga jelas, lha wong ga suka dengan kerjaan dan ga punya tujuan, ngarep apa? Hehe

Nah, yang menarik ini nih. Kalau hanya punya 1 (high passion aja, atau high purpose aja), mana yang unggul performa kerjanya?

Ternyata… menang purpose! Orang yang ga suka-suka amat dengan kerjaannya, tetapi punya tujuan spesifik punya performa kerja yang lumayan oke, bahkan hampir mendekati orang yang high passion & high purpose. Sebaliknya, orang yang suka dengan kerjaannya tapi ga punya tujuan, ya performanya segitu-gitu aja, bahkan cenderung mirip orang yang low passion & low purpose. Wew!

Mungkin orang yang suka terhadap hal tertentu, gampang putus asa saat moodnya baru jelek ya. Terlalu comfort dengan kondisi yang disuka. Pengennya lingkungan bisa menyesuaikan kesukaannya, baru dia jalan.

Di lain sisi, orang yang punya tujuan akan tetap mengupayakan, baik saat mood baik maupun buruk. Orang-orang ini akan bertahan walau badai menghadang, saat keadaan kurang menguntungkan.

Nah, alhamdulillahnya dari kecil saya melihat sosok yang bisa jadi role model untuk punya purpose. Sosok tersebut tak lain adalah.. Ibu saya.

Ibu saya selalu berjuang sekalipun berada di kondisi yang bukan disukainya, tetap bisa perform di saat lingkungan tidak sesuai kata hati beliau. Berat, tapi tetap maju karena punya purpose. Yang luar biasa, purposenya luar biasa untuk kemajuan lingkungannya. Ini yang masih coba saya pelajari, karena sejauh ini passion & purpose saya masih sangat individualis, passion nonton bola, purpose bisa nonton bola langsung di Eropa (yang alhamdulillah ini pun sudah membawa saya melangkah jauh..hehe..)

Perlahan purpose kita memang mesti dikoreksi bukan hanya untuk diri sendiri ya. Karena beda dengan passion yang sangat personal, purpose semestinya bisa dishare untuk tujuan bersama, tolong menolong dalam kebaikan.

Terima kasih Bunda!

Bekasi, 26 Maret 2021

Ditulis sebagai tulisan ketujuh untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Vaksin

Hari ini saya berkesempatan mengikuti vaksin covid-19 yang pertama. Prosesnya lumayan cepat dan tanpa efek samping yang berarti. Yang saya rasakan sih ada mengantuknya ya, walaupun ragu juga ini efek samping vaksin atau memang sayanya yang pengen tidur siang. Hehehe… Selain itu, ada rasa gerah. Tapi untuk yang ini sepertinya bukan demam efek vaksin, tapi udara Jakarta-Bekasi memang sedang panas-panasnya. Fyuuuh…

Tentu kita semua berdoa proses vaksinasi nasional akan berjalan lancar dan wabah covid-19 bisa segera hilang. Biidznillah. Amiin…

Berbicara tentang vaksin, konsepnya kita tahu bahwa ini adalah zat “penyakit” yang dilemahkan. Zat tersebut secara medis sudah teruji terkendali sehingga tubuh kita siap untuk melawan dan diharapkan nantinya bisa kebal. Mengenai efek sampingnya, ada beragam, tapi sejauh ini tidak fatal. Pun kita tidak semestinya panik jika mengalami gejala demam, mual, dsb. Insya Allah masih di koridor aman.

Dari proses vaksin yang saya jalani hari ini, saya juga merenung bahwa di keseharian, Allah SWT sebenarnya juga sering menguji kita seperti konsep vaksin. Bagaimana tidak, setiap ujian yang diberikan-Nya dijamin tidak di luar batas kemampuan kita. Sama seperti vaksin yang sudah diset tubuh kita mampu.

Nah, kitanya justru yang sering panik sendiri saat ada “gejala” kecil dari ujian Allah. Contoh gejala kecilnya yakni harta berkurang, sakit, pekerjaan stagnan, masalah dengan rekan, dsb. Padahal gejala tersebut sudah pasti dalam koridor kemampuan kita. Cukup dihadapi dengan ikhlas dan lapang dada.

Dan sama seperti vaksin pula, ujian hidup kita bertujuan untuk membuat kita lebih kuat, lebih kebal dan lebih siap saat ada masalah di depan. Biidznillah.

Bismillah kita bisa positive thinking untuk tiap ujian hidup atau “vaksin” yang diberikan Allah 🙂

Bekasi, 25 Maret 2021

Ditulis sebagai tulisan keenam untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Tergantikan

Saat menjelang sekolah S2 dulu, saya mengikuti acara persiapan keberangkatan di mana kerap digaungkan mengenai Indonesia Emas 2045. Di tahun tersebut, Indonesia berada pada milestone seabad sejak kemerdekaan. Di tahun itu pula diproyeksikan bahwa Indonesia akan berada pada kondisi “bonus demografi”, di mana mayoritas penduduknya berada pada usia produktif. Dengan banyaknya usia produktif, diharapkan banyak karya yang bisa terbangun. Konon, di abad 20 kemarin saat Jepang dan Korea mengalami bonus demografi, mereka bisa menjadi negara maju dengan segudang produk handal.

Tentunya sebagai warga negara yang cinta tanah air, kita antusias mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk era tersebut. Tetapi kita juga mesti menyadari adanya paradoks, bahwa di era yang semakin modern, bisa jadi bonus demografi justru menjadi ancaman.

Apa itu ancamannya?

Berbeda dengan kondisi Jepang dulu, di mana kebutuhan manusia untuk industri memang sedang banyak-banyaknya, 25 tahun dari sekarang, justru trennya mengarah ke makin banyak manusia yang akan tergantikan oleh robot dan sensor.

Memang di Indonesia, artificial intelligence belum masif. Tapi sudah banyak hal di kehidupan sehari-hari kita yang tergantikan oleh hadirnya teknologi. E-money untuk tol, check-in machine di bandara, boomingnya online shopping, dan beragam tren lain yang mengindikasikan lapangan kerja justru akan semakin terlimitasi. Ya, kita bisa jadi, akan sangat tergantikan.

Jadi, kita mesti optimis atau pesimis terhadap paradoks Indonesia Emas ini?

Kalau menurut saya, yang paling penting kita sadari adalah, kita memang tergantikan.

Loh kok gitu? Ya, bagaimana tidak, pertama kita adalah makhluk bernyawa. Dan makhluk bernyawa itu cepat atau lambat pasti habis masanya. Steve Jobs, sang pendiri Apple yang disebut-sebut sebagai salah satu manusia paling inovatif dengan penemuan hebat pun, dengan lantang menyebut bahwa “penemuan” terhebat yang ada di dunia adalah.. konsep kematian. Wow.. bisa gitu ya?

Ya, menurut beliau, pasti mati dan pasti tergantikan, telah membantunya membuat pilihan-pilihan besar dalam hidup. Rasa takut gagal, rasa takut dikecewakan, khawatir dikhianati, bisa sirna saat mindset yang tertanam adalah kita bagaimanapun tergantikan. Yang bisa kita lakukan adalah membuat usaha terbaik dan pilihan yang baik sehingga penerus kita bisa maju.

Rasa tidak tergantikan justru bisa menghambat silaturahmi, keinginan bermitra, sharing ilmu, dan hal-hal baik lain. Jika mindset ini berlanjut lebih jauh, akan lebih parah lagi di mana justru harapan kita digantungkan pada hal yang melenceng, sedang harapan mestinya ditaruh lekat-lekat ke satu-satunya Yang Tidak Tergantikan, Allah SWT. Dan di Islam, sekalipun kita tergantikan dalam hal pekerjaan, ada yang tidak tergantikan dalam hal amalan: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya.

Jadi, sudahkah kita menyiapkan amalan tidak tergantikan untuk diri kita yang tergantikan ini?

Bekasi, 24 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan kelima untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Jam Tidur

Jaman kecil dulu, jam tidur saya bisa dibilang sangat teratur. Tidak pernah tidur lewat dari jam 22, dan uniknya selalu terbangun tepat 5 jam setelah terlelap. Perkara setelah terbangun itu kembali tidur lagi, ya lain cerita. Hehe. Yang jelas, ketika saya pengen nonton bola yang mulai kick-off nya jam 2 pagi, saya tinggal tidur jam 21. Bangun tepat, tanpa perlu alarm.

Walaupun punya ritme seteratur itu, tetap saja saya spare plan B biar tetep bisa nonton bola. Apa itu? Minta dibangunin orang tua untuk sholat lail. Jadi pengalaman saya belajar sholat lail memang bukan perkara akhirat, tapi duniawi demi nonton bola, hehehe…

Bangun dini hari itu katanya membuat pikiran lebih fresh dan bisa lebih banyak mencerna ilmu. Saya kurang setuju dengan premis ini, karena tiap orang punya dan perlu mengenali jam efektifnya masing-masing. Untuk saya jaman sekolah dulu, jam bada isya sampai jam 9 masih yang paling oke. Untuk orang lain, bisa beda tentunya. Bisa di pagi, siang, malam tergantung karakter masing-masing.

Tapi nih ya.. funnily enough.. jam fajar (katakanlah setengah jam sebelum subuh) menjadi “magic hour” buat saya. Saya hampir ga pernah baca-baca (buku pelajaran) pas dini hari karena emang fokus nonton bola. Nah pas kelar nonton bola dan nunggu subuh, apa yang saya baca biasanya keluar di ujian SD, bahkan sampai SMP. Seperti 80% apa yang saya bisa di ujian, “dapet wangsit”nya di jam fajar ini. Kenapa bisa begitu saya pun ga tahu. Mungkin bisa ditelusuri secara ilmiah, tapi saya sih menganggapnya pure hoki…

Kembali ke perkara jam tidur, di usia yang udah menginjak kepala tiga, apakah pola tidur juga masih sangat teratur? Hmmm… sebuah pertanyaan retoris kan, karena hampir semua yang seumuran saya akan menjawab “tentu… berantakan” Ahaha. Jaman smartphone, kerjaan lembur, konsumsi makanan yang tidak sehat, kurang olahraga, dah lah lengkap deh kondisinya memperburuk pola tidur.

Pas waktunya bangun, lemes kayak orang mau tidur.

Pas waktunya tidur, eh mata malah melotot depan layar layaknya ga mau tidur.

Tapi nih ya.. funnily enough.. ketika mudik, orang tua saya yang sudah berusia kepala lima, pola tidurnya masih terjaga teratur dan saya pun bisa terbawa mengikuti pola tidur “ideal” seperti mereka.

Dan dari situ saya ingin berterima kasih pada orang tua karena diingatkan lagi mengenai kebiasaan menarik satu ini: memulai hari lebih awal. Banyak hal yang nyaman dikerjakan di pagi hari. Selain itu, memulai sense of accomplishment dari awal hari membantu untuk terus semangat menjalani hari. Toh di kondisi pandemi WFH seperti ini, kalau ngantuk lebih memungkinkan bisa bobo siang. Hehehe…

Dari jam tidur orang tua saya pula saya menemukan satu hal menarik lagi bahwa tantangan utamanya ternyata bukan di perkara bangun atau lama jam tidurnya. Tapi, bagaimana biar tidur lebih awal. Karena kalau tidurnya lebih awal, kita akan punya spare untuk tidur lebih lama dan tidak menggerutu kalau bangun pagi harinya.

Begitukah?

Bekasi, 23 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan keempat untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Sederhana

Saya sungguh bersyukur terlahir dari keluarga yang sederhana. Rasanya sederhana itu merupakan salah satu pengalaman paling berharga di dunia.

Dengan sederhana, kita menjadi terpacu untuk berkembang. Tapi saat kondisi tak sesuai ekspektasi, dan itu manusiawi, maka kita tidak terlampau kecewa. Toh kita tetap merasa cukup. Ya, tidak lebih, tidak pula kurang.

Kadang kita suka merumitkan anugerah-anugerah yang sudah diberikan secara indah dan sederhana.

Kadang kita suka memburu sesuatu ataupun penerimaan orang lain, di saat sederhana pun cukup.

Tentu saja sederhana itu adalah pilihan hidup, dan bisa dilatih.

Ayah saya memilih saat beliau menjabat posisi penting, justru saatnya untuk menunda dulu beli barang yang mewah atau merenovasi rumah jadi megah. Ini bisa jadi karena pilihan atau karena dengan menjabat pun belum tentu uangnya cukup sih, hehe. Tapi tetap, toh dengan rumah yang sederhana pun cukup.

Beliau juga sudah keliling ke lumayan banyak negara dengan beragam mode transportasi, tapi saat harus naik bus umum atau sepeda butut pun tak masalah. Toh masih bisa mengantar ke tempat tujuan. Sesederhana itu. Karenanya saya juga jadi lumayan bisa menikmati sekalipun harus berdesakan di gerbong KRL ataupun naik metromini. Kembali, sederhana pun cukup.

Terlepas dari kesederhanaan ayah, mungkin Ibu saya lah yang lebih mengedepankan lagi bahwa hidup sederhana itu perlu. Beliau lah yang saat punya tabungan lebih, tidak pernah dibelikan barang mewah, cukup beli barang yang diperlukan, selebihnya untuk tabungan masa depan anaknya. Toh, hidup sekarang dan seterusnya secara sederhana pun cukup.

Ibu juga pernah mengajarkan, saat lupa bayar tempe seharga 500 perak saja, beliau mau untuk puter balik (padahal baru ingetnya saat sudah menempuh perjalanan beberapa km), dan membayar kekurangan bayar tersebut. Sepele? Tidak. Karena sederhana itu dibangun dengan menghargai hal sederhana, tanpa menggampangkan arti.

Jadi apakah cobaan hidup telah menjauhkan kita dari kesederhanaan?

Semoga tidak. Semoga kita terus berpikir positif, berpikir sederhana tidak merumitkan dan menghargai anugerah-anugerah yang sudah diberikan. Karena sederhana itu, cukup.

Seperti anak kecil yang bisa tertawa lepas untuk hal sederhana. Karena sederhana itu, cukup.

Bekasi, 22 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan ketiga untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

It’s Beautiful Day…

Cara kita memandang dan menyampaikan sesuatu, seringkali berdampak terhadap bagaimana penerimaan dalam diri kita maupun penerimaan orang lain. Tentunya kita berharap selalu bisa memandang sesuatu dari sisi positif, tapi hal tersebut tidaklah mudah. Terkadang, kita mesti disadarkan dulu oleh keadaan, nasehat orang lain, atau sekedar melihat video singkat nan inspirational.

Nah, untuk saya sendiri, seringkali kembali ke video inspirational berikut untuk kembali berpikir dan menyampaikan sesuatu secara positif, monggo dibuka dan ditonton:

Sudah dibuka? Bagaimana, singkat tapi powerful bukan?

Video tersebut menceritakan bagaimana bapak tua yang nutanetra (buta) mengemis dengan menulis di kertas kardus “I’m blind, please help!” (saya buta, tolong bantu). Dari sekian banyak orang yang lewat, hanya sedikit yang menyisihkan uang koin untuk bapak tua tersebut. Sampai datang nona muda yang lewat, mengubah tulisan di kertas kardus sang bapak, dan surprisingly lambat laun banyak orang yang berdonasi. Bapak tua itu pun penasaran apa yang dilakukan sang nona muda, kenapa jadi banyak yang berempati padanya.

Sang nona muda pun menunjukkan apa yang dilakukannya, yakni mengubah kalimat awal dari sang bapak menjadi “It’s beautiful day and I can’t see it” (Hari ini adalah hari yang indah walaupun saya tak bisa melihatnya). Wow!

Ternyata apa yang kita lihat dan kita sampaikan, benar berpengaruh terhadap penerimaan orang lain. Di kalimat awal, sang bapak secara literal menyampaikan kondisinya. Dia buta maka dia minta orang lain mengasihaninya. Hasilnya? Sedikit yang berempati. Karena pada dasarnya tiap orang mempunyai struggle (kesusahan)-nya sendiri. Hanya karena kita susah, bukan berarti orang lain ga kalah susah. Hal ini yang membuat empati jadi tidak bertemu.

Sebaliknya, saat kita menyampaikan kondisi susah kita dengan positif, bahwa kita tetap bisa bersyukur dan menikmati hari ini walaupun ada kesusahan yang kita hadapi, maka orang lain pun tumbuh empatinya. Secara tidak langsung orang yang lewat teringat juga bahwa di balik kesusahan masing-masing, ada banyak hal yang bisa disyukuri. Banyak sekali hal, yang ternyata tidak semua orang seberuntung kita. Orang yang tidak beruntung itu saja bersyukur, kenapa kita tidak? Oleh karena itu, menjadi tergerak untuk support.

Nah, pelajaran yang ada dalam video inspirational tersebut, in some extent kadang saya renungkan juga saat menghadapi masalah yang pelik dan tak tahu lagi solusinya selain memohon kepada Sang Pemilik Segala Kekuatan, Allah SWT.

Betul bahwa Allah akan mendengarkan keluh kesah hambanya, apapun bentuknya. Tapi apakah jika saya hanya berkeluh kesah saja, tanpa sense bersyukur, Allah pun juga menjadi tidak empati pada kita?

Tidakkah sebaiknya memang kita memulai doa kita dalam syukur dan ikhtiar dulu?

Karena kembali lagi, banyak sekali hal yang perlu kita syukuri, yang ternyata baru kita sadari kemudian bahwa tidak semua orang seberuntung kita. Dan kita kembali dalam sujud yang penuh syukur walaupun kita ditimpa ujian.

Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan.

Karena in the end of the day, it’s beautiful day….

Hari ini adalah hari yang indah untuk disyukuri.

Bekasi, 21 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan kedua untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Ikhlas

Minggu ini ada banyak pelajaran hidup untuk saya yang muaranya ke satu hal, belajar Ikhlas.

Setelah hampir 6 bulan tidak ke kantor, kemarin saya sholat Jumat di masjid kantor lagi setelah sekian lama. Adanya pandemi Covid-19 membuat hidup kita sungguh berubah. Rutinitas ke kantor mesti diurungkan dulu karena social distancing, jadi kerja di rumah. Pun jamaah masjid yang biasa rapat-rapat, sekarang mesti direnggangkan dulu. Pandemi oh pandemi. Siapa yang menyangka tiba-tiba ada kondisi seperti ini di era kehidupan yang konon sudah modern.

Tentu saja pandemi pula yang dengan dahsyat mengajarkan kita untuk ikhlas. Untuk merenungkan kembali tentang hal-hal yang kita rasa kita miliki dan genggam erat, yang ternyata mudah saja saat Allah untuk memutarbalikkan. Karena pada dasarnya memang semua milik Allah. Kita merasa kehilangan karena kita pernah merasa memiliki. Tapi orang-orang yang ikhlas akan berjalan tenang karena sadar bahwa saat yang dimiliki hilang, pada dasarnya itu karena kembali ke Sang Maha Memiliki.

Satu renungan menggelitik saya dapatkan saat mendengar khutbah Jumat di masjid kantor. Sang khotib bercerita tentang seorang sahabat Nabi yang mau beramal baik bersedekah lumayan besar di kampung yang penuh orang miskin. Sudah alhamdulillah nemu orang “beruntung” untuk disedekahi, eh ternyata beberapa waktu kemudian didapati bahwa orang itu ternyata perampok. Waduh! Kemudian sang sahabat kembali niat bersedekah ke kampung miskin, dan apa yang didapatinya.. orang yang disedekahi ternyata seorang pembunuh! Ealahh…

Jadi apakah sahabat Nabi ini perlu menyesal sudah menginfaqkan hartanya, saat ternyata yang menerima bukanlah orang baik?

Ternyata jawabnya tidak. Sahabat tersebut merenung dan sungguh menjadi belajar ilmu ikhlas, bahwa apa yang diniatkan sudah atas nama Allah, maka saat ada kejadian yang menguji keikhlasan, beliau kembali ke niat awal: mengharap ridho Allah. Alih-alih mengumpat, beliau berdoa semoga.. semoga dari sedekahnya, datang hidayah Allah untuk perampok dan pembunuh tsb. Subhanallah. Sungguh indah bukan amalan orang yang ikhlas?

Dalam waktu yang hampir bersamaan di mana saya sedang sholat Jumat itu, ternyata secara kebetulan juga ada kejadian yang mengajarkan ilmu ikhlas. Dan ini tentang orang yang paling saya cintai di bumi ini.

Atas kehendak Allah, ada ujian dalam tubuh Ibu saya yang membuat kami sekeluarga harus belajar lagi akan ilmu ikhlas. Tentu semua tidak mudah, tetapi kan tidak ada ujian yang diturunkan Allah di luar batas kemampuan kita. Ini tertulis dalam Alquran. Karenanya, kita akan terus berupaya ikhtiar terbaik dan jika hati ini masih terus berkecamuk, mungkin hanya satu yang bisa menyelesaikannya. Ikhlas.

Oh ya, di dalam Alquran juga ada surat Al Ikhlas, surat sejuta umat untuk bacaan setelah Al-Fatihah karena suratnya beneran pendek (hehe..) tapi artinya teramat dalam. Walaupun namanya “Al Ikhlas”, di dalam surat tersebut ga ada frase “ikhlas” lhoo..

Arti suratnya seperti ini. “1. Katakakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. 2. Allah tempat meminta/bergantung segala sesuatu. 3. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, 4. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara Dia”

Jadi mungkin itu clue ikhlas sesungguhnya, tanpa harus dengan frase ikhlas. Karena ikhlas, bisa jadi bukan perkara lisan, melainkan tentang bagaimana kita menyadari bahwa semua kekuatan itu dari Allah, dan saat kita membersamai Allah, kita akan baik-baik saja.

Insya Allah.

Bekasi, 20 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan pertama untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.