Minggu ini ada banyak pelajaran hidup untuk saya yang muaranya ke satu hal, belajar Ikhlas.

Setelah hampir 6 bulan tidak ke kantor, kemarin saya sholat Jumat di masjid kantor lagi setelah sekian lama. Adanya pandemi Covid-19 membuat hidup kita sungguh berubah. Rutinitas ke kantor mesti diurungkan dulu karena social distancing, jadi kerja di rumah. Pun jamaah masjid yang biasa rapat-rapat, sekarang mesti direnggangkan dulu. Pandemi oh pandemi. Siapa yang menyangka tiba-tiba ada kondisi seperti ini di era kehidupan yang konon sudah modern.

Tentu saja pandemi pula yang dengan dahsyat mengajarkan kita untuk ikhlas. Untuk merenungkan kembali tentang hal-hal yang kita rasa kita miliki dan genggam erat, yang ternyata mudah saja saat Allah untuk memutarbalikkan. Karena pada dasarnya memang semua milik Allah. Kita merasa kehilangan karena kita pernah merasa memiliki. Tapi orang-orang yang ikhlas akan berjalan tenang karena sadar bahwa saat yang dimiliki hilang, pada dasarnya itu karena kembali ke Sang Maha Memiliki.

Satu renungan menggelitik saya dapatkan saat mendengar khutbah Jumat di masjid kantor. Sang khotib bercerita tentang seorang sahabat Nabi yang mau beramal baik bersedekah lumayan besar di kampung yang penuh orang miskin. Sudah alhamdulillah nemu orang “beruntung” untuk disedekahi, eh ternyata beberapa waktu kemudian didapati bahwa orang itu ternyata perampok. Waduh! Kemudian sang sahabat kembali niat bersedekah ke kampung miskin, dan apa yang didapatinya.. orang yang disedekahi ternyata seorang pembunuh! Ealahh…

Jadi apakah sahabat Nabi ini perlu menyesal sudah menginfaqkan hartanya, saat ternyata yang menerima bukanlah orang baik?

Ternyata jawabnya tidak. Sahabat tersebut merenung dan sungguh menjadi belajar ilmu ikhlas, bahwa apa yang diniatkan sudah atas nama Allah, maka saat ada kejadian yang menguji keikhlasan, beliau kembali ke niat awal: mengharap ridho Allah. Alih-alih mengumpat, beliau berdoa semoga.. semoga dari sedekahnya, datang hidayah Allah untuk perampok dan pembunuh tsb. Subhanallah. Sungguh indah bukan amalan orang yang ikhlas?

Dalam waktu yang hampir bersamaan di mana saya sedang sholat Jumat itu, ternyata secara kebetulan juga ada kejadian yang mengajarkan ilmu ikhlas. Dan ini tentang orang yang paling saya cintai di bumi ini.

Atas kehendak Allah, ada ujian dalam tubuh Ibu saya yang membuat kami sekeluarga harus belajar lagi akan ilmu ikhlas. Tentu semua tidak mudah, tetapi kan tidak ada ujian yang diturunkan Allah di luar batas kemampuan kita. Ini tertulis dalam Alquran. Karenanya, kita akan terus berupaya ikhtiar terbaik dan jika hati ini masih terus berkecamuk, mungkin hanya satu yang bisa menyelesaikannya. Ikhlas.

Oh ya, di dalam Alquran juga ada surat Al Ikhlas, surat sejuta umat untuk bacaan setelah Al-Fatihah karena suratnya beneran pendek (hehe..) tapi artinya teramat dalam. Walaupun namanya “Al Ikhlas”, di dalam surat tersebut ga ada frase “ikhlas” lhoo..

Arti suratnya seperti ini. “1. Katakakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. 2. Allah tempat meminta/bergantung segala sesuatu. 3. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, 4. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara Dia”

Jadi mungkin itu clue ikhlas sesungguhnya, tanpa harus dengan frase ikhlas. Karena ikhlas, bisa jadi bukan perkara lisan, melainkan tentang bagaimana kita menyadari bahwa semua kekuatan itu dari Allah, dan saat kita membersamai Allah, kita akan baik-baik saja.

Insya Allah.

Bekasi, 20 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan pertama untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

2 pemikiran pada “Ikhlas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s