Saya sungguh bersyukur terlahir dari keluarga yang sederhana. Rasanya sederhana itu merupakan salah satu pengalaman paling berharga di dunia.

Dengan sederhana, kita menjadi terpacu untuk berkembang. Tapi saat kondisi tak sesuai ekspektasi, dan itu manusiawi, maka kita tidak terlampau kecewa. Toh kita tetap merasa cukup. Ya, tidak lebih, tidak pula kurang.

Kadang kita suka merumitkan anugerah-anugerah yang sudah diberikan secara indah dan sederhana.

Kadang kita suka memburu sesuatu ataupun penerimaan orang lain, di saat sederhana pun cukup.

Tentu saja sederhana itu adalah pilihan hidup, dan bisa dilatih.

Ayah saya memilih saat beliau menjabat posisi penting, justru saatnya untuk menunda dulu beli barang yang mewah atau merenovasi rumah jadi megah. Ini bisa jadi karena pilihan atau karena dengan menjabat pun belum tentu uangnya cukup sih, hehe. Tapi tetap, toh dengan rumah yang sederhana pun cukup.

Beliau juga sudah keliling ke lumayan banyak negara dengan beragam mode transportasi, tapi saat harus naik bus umum atau sepeda butut pun tak masalah. Toh masih bisa mengantar ke tempat tujuan. Sesederhana itu. Karenanya saya juga jadi lumayan bisa menikmati sekalipun harus berdesakan di gerbong KRL ataupun naik metromini. Kembali, sederhana pun cukup.

Terlepas dari kesederhanaan ayah, mungkin Ibu saya lah yang lebih mengedepankan lagi bahwa hidup sederhana itu perlu. Beliau lah yang saat punya tabungan lebih, tidak pernah dibelikan barang mewah, cukup beli barang yang diperlukan, selebihnya untuk tabungan masa depan anaknya. Toh, hidup sekarang dan seterusnya secara sederhana pun cukup.

Ibu juga pernah mengajarkan, saat lupa bayar tempe seharga 500 perak saja, beliau mau untuk puter balik (padahal baru ingetnya saat sudah menempuh perjalanan beberapa km), dan membayar kekurangan bayar tersebut. Sepele? Tidak. Karena sederhana itu dibangun dengan menghargai hal sederhana, tanpa menggampangkan arti.

Jadi apakah cobaan hidup telah menjauhkan kita dari kesederhanaan?

Semoga tidak. Semoga kita terus berpikir positif, berpikir sederhana tidak merumitkan dan menghargai anugerah-anugerah yang sudah diberikan. Karena sederhana itu, cukup.

Seperti anak kecil yang bisa tertawa lepas untuk hal sederhana. Karena sederhana itu, cukup.

Bekasi, 22 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan ketiga untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

2 pemikiran pada “Sederhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s