Jaman kecil dulu, jam tidur saya bisa dibilang sangat teratur. Tidak pernah tidur lewat dari jam 22, dan uniknya selalu terbangun tepat 5 jam setelah terlelap. Perkara setelah terbangun itu kembali tidur lagi, ya lain cerita. Hehe. Yang jelas, ketika saya pengen nonton bola yang mulai kick-off nya jam 2 pagi, saya tinggal tidur jam 21. Bangun tepat, tanpa perlu alarm.

Walaupun punya ritme seteratur itu, tetap saja saya spare plan B biar tetep bisa nonton bola. Apa itu? Minta dibangunin orang tua untuk sholat lail. Jadi pengalaman saya belajar sholat lail memang bukan perkara akhirat, tapi duniawi demi nonton bola, hehehe…

Bangun dini hari itu katanya membuat pikiran lebih fresh dan bisa lebih banyak mencerna ilmu. Saya kurang setuju dengan premis ini, karena tiap orang punya dan perlu mengenali jam efektifnya masing-masing. Untuk saya jaman sekolah dulu, jam bada isya sampai jam 9 masih yang paling oke. Untuk orang lain, bisa beda tentunya. Bisa di pagi, siang, malam tergantung karakter masing-masing.

Tapi nih ya.. funnily enough.. jam fajar (katakanlah setengah jam sebelum subuh) menjadi “magic hour” buat saya. Saya hampir ga pernah baca-baca (buku pelajaran) pas dini hari karena emang fokus nonton bola. Nah pas kelar nonton bola dan nunggu subuh, apa yang saya baca biasanya keluar di ujian SD, bahkan sampai SMP. Seperti 80% apa yang saya bisa di ujian, “dapet wangsit”nya di jam fajar ini. Kenapa bisa begitu saya pun ga tahu. Mungkin bisa ditelusuri secara ilmiah, tapi saya sih menganggapnya pure hoki…

Kembali ke perkara jam tidur, di usia yang udah menginjak kepala tiga, apakah pola tidur juga masih sangat teratur? Hmmm… sebuah pertanyaan retoris kan, karena hampir semua yang seumuran saya akan menjawab “tentu… berantakan” Ahaha. Jaman smartphone, kerjaan lembur, konsumsi makanan yang tidak sehat, kurang olahraga, dah lah lengkap deh kondisinya memperburuk pola tidur.

Pas waktunya bangun, lemes kayak orang mau tidur.

Pas waktunya tidur, eh mata malah melotot depan layar layaknya ga mau tidur.

Tapi nih ya.. funnily enough.. ketika mudik, orang tua saya yang sudah berusia kepala lima, pola tidurnya masih terjaga teratur dan saya pun bisa terbawa mengikuti pola tidur “ideal” seperti mereka.

Dan dari situ saya ingin berterima kasih pada orang tua karena diingatkan lagi mengenai kebiasaan menarik satu ini: memulai hari lebih awal. Banyak hal yang nyaman dikerjakan di pagi hari. Selain itu, memulai sense of accomplishment dari awal hari membantu untuk terus semangat menjalani hari. Toh di kondisi pandemi WFH seperti ini, kalau ngantuk lebih memungkinkan bisa bobo siang. Hehehe…

Dari jam tidur orang tua saya pula saya menemukan satu hal menarik lagi bahwa tantangan utamanya ternyata bukan di perkara bangun atau lama jam tidurnya. Tapi, bagaimana biar tidur lebih awal. Karena kalau tidurnya lebih awal, kita akan punya spare untuk tidur lebih lama dan tidak menggerutu kalau bangun pagi harinya.

Begitukah?

Bekasi, 23 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan keempat untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

2 pemikiran pada “Jam Tidur

  1. Apapun sebagai seorang Muslim bagaimana kita bisa memaksimalkan rangkaian ibadah wajib dan sunnah ya…ada tahajjud..malam terakhir..jam 3an…sholat wajar..menjelang shubuh…shubuh..dhuha…dhuhur..ashar..maghrib..awal waktu berjamaah..yg laki2 ke masjid…semoga istiqomah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s