Peta Digital

Dua minggu ini saya mesti menempuh perjalanan dinas ke dua kota yang berbeda. Seperti biasa ketika merencanakan perjalanan, saya selalu mengandalkan Google Maps, aplikasi peta digital paling populer yang tentunya kita semua sering pakai. Memang Google Maps ini sangat revolusioner ya, memberi kita informasi trafik secara real time sehingga bisa merencanakan perjalanan dan memperkirakan waktu tempuh dengan jauh lebih baik.

Menariknya, dari dua perjalanan itu saya kembali disadarkan bahwa teknologi ya tetap teknologi, sesuatu yang dibuat untuk memudahkan manusia. Selebihnya tetaplah intuisi kita yang utama.

Pertama, perjalanan dari Solo ke Semarang, melewati salah satu tol yang konon paling indah di Indonesia (karena kelokan di lembah dan view gunung Merapi dan Merbabunya, maybe). Isunya di sini adalah telah berlakunya tilang elektronik di Indonesia, termasuk tilang untuk kecepatan yang melebihi batas. Entah implementasinya bener sudah jalan atau belum, yang jelas fitur “speed camera alert” di Google Maps jadi sangat berguna. Dengan fitur tsb, ada notif agar kita awas saat melewati titik yang ada kamera CCTV kecepatan.

Masalahnya, fitur speed alert itu sangat bergantung input pengguna. Kalau total ada 5 CCTV kecepatan, sedangkan baru 2 titik yang diketahui pengguna, bisa jadi kita tetap kena di 3 titik. Problem lainnya, kita jadi mengontrol kecepatan di titik CCTV saja, selebihnya los dol.. ya iya kan, kita disiplin pas dilihatin aja? Ahaha.. Lucunya, dengan bantuan teknologi dan kedisiplinan pun, kita belum tentu bisa mengontrol kecepatan di bawah batas untuk case tol Solo-Semarang. Jalan tol, dengan jalur yang naik turun yang lumayan tajam plus minim kendaraan (ga kayak Jakarta atau Cipularang), selamat mencoba untuk mengontrol kecepatan di bawah batas.. 😀

Kedua, perjalanan dari Bekasi ke Bandung. Kali ini terkait info Google Maps kalau ada delay perjalanan karena pembangunan jalan. Estimasinya, delay 25 menit. Bagi saya yang berdomisili di Bekasi, saya punya 2 opsi: pertama lewat jalur bawah (jalur default) dengan ikhlas menerima terhambat 25 menit itu. Opsi kedua, melaju ke arah Jakarta dulu, putar balik di Jatiwaringin, lalu masuk tol lagi dan lewat tol layang. Jika dibandingkan dengan asumsi delaynya benar hanya 25 menit, maka opsi pertama lebih cepat.

Nah masalahnya, Google Maps mendapat input berdasar smartphone (jumlah trafik pengguna di tempat yang sama dan rata-rata kecepatan), tanpa mempertimbangkan ukuran kendaraan. Saat peta digital ini mengestimasi, banyaknya truk kontainer dan bus malam seolah terabaikan. Delay 25 menit kenyataannya bisa 45 menit atau lebih. Tentunya susah untuk selap selip di antara truk kontainer & bus malam Indonesia yang nyetirnya ngasal. Jadi, memang intuisi dan common knowledge tetap yang utama sekalipun sudah terbantu dengan teknologi. Itu yang tidak saya gunakan di perjalanan kedua ini dan dengan lancarnya terjebak dalam trafik lautan truk. Capek deeh 😀

Lain kali, kalau Google Maps bilang ada delay 25 menit atau lebih di jalanan Jakarta, Bandung dan sekitarnya, consider pilih rute lain. Sepertinya aplikasi global ini kurang tepat mengidentifikasi realita jalanan Indonesia yang sadis.

Dan apapun yang teknologi berikan, mengasah intuisi dan pengetahuan umum tetap nomor satu. Demikian.

Bandung, 7 April 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan keduabelas untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.