Puasa Standar

Lahir dan besar di Indonesia, tentunya hampir seluruh Ramadhan saya dihabiskan di tanah air tercinta ini. Dalam kurun waktu hidup saya sampai umur 30 ini, praktis hanya dua kali puasa Ramadhan saya berada di luar zamrud khatulistiwa. Tepatnya saat S2 di Belanda tahun 2015-2016 yang lalu.

Dengan mayoritas waktu berada di Indonesia, tentunya saya sudah menganggap puasa dengan waktu Indonesia (baca: WIB) sebagai waktu puasa standar. Subuh ya sekitar jam 4, Maghrib menjelang jam 18. Sekitar 13,5 jam puasa defaultnya. Semua waktu sholat pun seperti sudah jadi waktu baku, dengan pergantian tahun ataupun domisili cuma berpengaruh sedikit saja.

Waktu puasa standar seperti di Indonesia, yang sangat stabil durasinya ini, hanya dialami di negara-negara yang berada di “tengah” lintang bumi, atau di zona khatulistiwa. Sedang di negara yang sedang mengalami musim panas, durasinya bisa sangat panjang, mencapai 20 jam (Norwegia, Islandia, dan negara-negara di pucuk utara – 2021 ini musim panas pas Ramadhan). Sebaliknya, di negara yang sedang musim dingin, durasinya sesingkat 11 jam (Selandia Baru, Afrika Selatan, dan negara-negara di pucuk selatan lainnya). Menarik ya dunia ini. Dan bolehkah pas Ramadhan ini kita traveling aja ke negara selatan yang puasanya sedang singkat? Ya boleh-boleh saja sih, asal punya uang (baca: muahal) dan bebas corona. Hehe..

Kalau memilih ke puasa yang lebih singkat terdengar menarik, bagaimana kalau puasa di musim panas (dengan durasi yang jauh lebih lama). Asik ga ya?

Pengalaman saya 2 tahun di negeri utara yang sedang musim panas saat Ramadhan, ternyata asik juga! Hmm.. bukan asik sih frase yang tepat. Tapi “unik dan menarik“, mengembalikan memori pas Ramadhan dulu membuat saya senyum-senyum sendiri.

Puasa 19 jam. Tak kurang dari 5,5 jam lebih lama dibanding kebiasaan. Di musim panas pula.

Oya, untuk perbandingan singkatnya, berikut waktu sholat di Bekasi hari ini (April 2021),

FajrSunriseDhuhrAsrMaghribIsha
04.3805.5411.5615.1417.5519.04

kita bandingkan dengan saat di Leiden Belanda (Juli 2015) lalu:

FajrSunriseDhuhrAsrMaghribIsha
03.1005.2413.4618.1022.0700.09

Kalau disuguhin tabel waktu sholat pas puasa, tentu yang jadi acuan pertama waktu Maghrib nya dong. Hehehe. Di Leiden kala itu, Maghribnya jam 22.07. Normalnya di Indonesia, tarawih berapa rekaat pun sudah selesai, kita sudah mapan di kasur. Jika di balik perspektifnya, jam 17.55 waktu buka di Indonesia, ternyata secara Belanda, Asar pun belum di jam segitu. Orang-orang sudah balik kerja ataupun dari kampus, semuanya sebelum Asar! Lucunya, spare 4 jam antara Asar dan Maghrib membuat kita mau “tidur sore” pun (yang saya jamin maksimal cuma bisa 2 jam), bangun-bangun masih jauh dari Maghrib.

Lanjut, acuan berikutnya untuk puasa, waktu Fajr. Jarak Isya dan Subuh di Indonesia sangatlah panjang dan ideal untuk tidur malam. Katakanlah 20.30 kelar tarawih, masih ada waktu 7 jam lebih untuk istirahat sebelum bangun sahur. Di Leiden? Boro-boro, ga ikut tarawih saja, pulang dari masjid pun sudah jam 00.30, tinggal 2,5 jam sebelum Imsak tiba. Kebanyakan mahasiswa muslim jadi stay ga tidur dulu sampai subuh karena waktu yang mepet ini. Fatal bro kalau ga sahur untuk puasa 19 jam. Hehe…

Dilihat dari jamnya, sepertinya timpaang gitu ya… dan terasa lebih mengenaskan. Ada beberapa yang menyarankan mengikuti jadwal imsakiyah Saudi saja, walau kok ya aneh kalau buka puasa pas suasananya belum Maghrib.

Tapi subhanallah. Ternyata Allah memang tidak pernah membebankan di luar kemampuan kita. Puasa 19 jam ketika dilalui, rasanya kayak 1 jam lebih lama saja dari “puasa standar” Indonesia.

Dan dari puasa yang lebih lama itu, saat buka puasa… rasanyaa…. slurrppp

Nikmat. Subhanallah.

Baik puasa dalam waktu standar maupun tidak standar, sebenarnya ujian dan kadar kebarokahannya tetap tergantung niat dan amalan kita. Semoga kita senantiasa jadi orang yang lebih baik. Amiin.

Bekasi, 15 April 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan keempatbelas untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.