Arsip Penulis: musz

Tentang musz

Simple, Humble, Gentle

2016 Tahunnya Bersyukur

Halo teman-teman semua,

Tak terasa ya udah 2016 aja. Seperti biasa, waktu berlalu 365 hari panjangnya di 2015, dan banyak dari kita bisa dengan enteng bilang “wah ga kerasa yaa” (termasuk saya!). Dengan logika kayak gini, ga heran sih Rasulullah SAW bersabda selisih waktu antara beliau diutus (which is di abad 7) sampai kiamat (yg entah kapan, wallahu a’lam) itu jaraknya hanya seperti jarak 2 jari, dan itu make sense. Jarak dua jari jelas sangat pendek, tapi saya ngebayangin di akhirat kelak pasti ga ada yg protes dengan kalimat tadi. Lha wong mau diberi waktu pendek atau panjang, siklusnya tetep: Tahun baru-beraktivitas-akhir tahun-bilang ‘ga kerasa ya tau-tau udah akhir tahun aja’-Repeat. Ahaha..

Oya, awal-awal tahun biasanya pada bikin resolusi nih. Entah emang udah kebiasaan, entah karena ikut-ikutan, atau ya karena inget standar baku resolusi awal tahun, “mengejar wish list tahun lalu, meneruskan usaha dua tahun lalu, yang ditulis tiga tahun lalu, dan sebenarnya udah direncanakan empat tahun lalu”… Wkwk kok serba rekursif ya..

Antara penting ga penting sih ya bikin resolusi, tapi diliat positifnya aja setidaknya ada semangat untuk memperbaiki diri. Tiap orang punya checkpoint sendiri-sendiri dalam berusaha mewujudkan mimpi. Ada yang pas ultah, ada yang waktu naik kelas, ada yang di momen pergantian tahun, dan banyak lagi. Apapun, semoga teman-teman terus semangat dan tercapai targetnya. Amiin.

Saya sendiri mau ngapain ya di 2016? Mau ngapain hayo? Ahaha..

Saya ga bisa bilang ini adalah sebuah resolusi. Tapi yang jelas saya ingin kembali belajar hal basic di tahun ini, belajar bersyukur. Beberapa tahun belakang sudah berlalu dengan indah, tapi kok ada dark side yang susah banget diilangin: merencanakan, berusaha gigih, lalu lihat hasilnya dan tentuin mana yg sangat pantas disyukuri, mana yang cukup pantas disyukuri, dan mana yang tidak.

Whaaat?! Lancang banget ga sih.

Bukannya bersyukur itu harusnya berada di step paling pertama banget? Iya mestinya. Karenanya saya bilang tahun ini pengen hal tersebut ga berhenti di kata atau teori aja.

Tahun yang berlalu itu melelahkan, ya iya namanya usaha, dan kerasaย  semakin capek yang ga perlu karena lupa atau telat bersyukur. Secara garis besar PRnya dua: 1. nemuin cara efektif dan bisa jadi resep konstanย  memulai hari dalam keadaan bersyukur regardless yg terjadi di hari sebelumnya (bukan galau) dan 2. kalau emang lupa, gimana biar secepat mungkin ingat untuk bersyukur.

Berasa absurd ya? Ahaha..

Yang jelas, 2016 ini akan jadi tahun yang teramat indah. Akan banyak impian yang tercapai, karena insya Allah tahun ini saya lebih bersyukur dari tahun kemarin ๐Ÿ™‚

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

Bismillah 2016.

Puncak Klasemen

Minggu lalu, ada obrolan cukup menarik yang saya temui di grup keluarga kosan Bandung, Pancasila 9 (dinamain berdasar nama gang dan nomor rumah, tempat kami menjalani hari-hari luar biasa jaman S1 dulu). Obrolan apakah itu? Check this out aja ya.. ๐Ÿ™‚ย  *note: semua nama sengaja disamarkan*

A : Mas B, istrine sampun isi (istri sudah hamil)?

B : Masih belum, A.

C : Wah, D masih memimpin klasemen ya! (C dan D sama-sama sudah punya istri dan 1 anak, cuma anaknya mas D lahir duluan)

E : Weh, berarti kalau mau geser pemuncak klasemen, mesti cari istri yang minimal punya anak 2 dong ya? (si E ini belum nikah, tapi visioner)

C : Cerdas, E.

B : Bikin pondok pesantren atau yayasan anak yatim, E. Langsung banyak anakmu. #anakangkat ๐Ÿ˜€

C : Eh by the way, Si F mau promosi ke divisi utama Desember ini nih (beuh, mas F mau nikah = mau promosi ke divisi utama!)

B : Wah bulan ini dong, C.

C : Yup. Kalau si G udah nikah tapi istrinya langsung ditinggal jauh, berarti degradasi ke Serie B (waduh!)

H : Mending mas G cuma ninggal ke Kalimantan, mas I ninggal antar negara euy. Hahaha (well, mas I lanjut kuliah di Uni Emirates)

F : (sang calon mempelai) Tenaaang.. aku kayak Leicester kok. Promosi langsung menuju puncak klasemen. Sekarang masi playoff championship (persiapan sebelum masuk divisi utama)

J : Weh, si H ga punya hak urun rembug (diskusi), nikah aja belum. Bolehnya cuma nanya doang, wkwkwk…

F : Nah loh, H. Menengo (Diamlah)!

A : Si H belum pelantikan

I : Jangan-jangan dia gay (beuh)

C : Jangan gitu cah. Si H ini baru LDR. Dia di Jakarta, ceweknya di masa lalu. Hehe

B : Warbyasa, LDRnya si H menembus ruang dan waktu. Eh tapi yakin C, si H ini LDRnya sama cewe? Gimana kalo ternyata cowo?

***

Saya : (baru buka hape tiba2 notif whatsapp numpuk) Astagaa.. Ada sistem promosi degradasi.. pemuncak klasemen.. Ane masih di liga amatir berarti.. Hahaha..

blog1

Demikian.

 

Alhamdulillah

Mini display di halte itu menampilkan “3 min”. Hmm.. tiga menit sebelum bus datang. Waktu yang sangat tanggung untuk masuk lagi ke dalam gedung perpus, demi sejumput perlindungan dari angin malam yang makin menggila. Kalau masuk ntar bisa ketinggalan bus, yang hampir selalu on time di sini. Bus berikutnya? beuh karena ini minggu malama, frekuensinya sangat jarang. Satu jam sekali. Karena perpus juga segera tutup dalam 10 menit, bisa-bisa nunggu hampir satu jam di halte bus. Engga deh.

Di waktu yang amat nanggung itu saya menggerutu, ngapain sih busnya terjadwal bentar lagi dan most likely on time, telat dikit juga boleh kok, 5-10 menit gitu *ahaha, dikasih pelayanan bagus malah masih minta extend*. Atau tentang angin, kenapa sih kencangnya bukan maen, jauh melebihi kencangnya gejolak di hatiku (halah!). At that rate, tiap 5 menit kena angin bisa masuk angin nih. Kalau mesti nunggu di halte 50 menit (kalau ketinggalan bus), bakal 10x masuk angin tuh. Hahah.. Belum tentang badai assignment. Kapan kelaar ini.

Ah sudahlah. Ditinggal bergumam geje, busnya datang.

Saya bergegas masuk, keburu dingin. Bu sopir menyapa ramah “hello” sambil tersenyum. Muka saya keliatan banget orang asing ya kok ga disapa pake bahasa Belanda. Saya jawab dengan senyum “Goedenavond, mevrouw” (aish, sok-sokan pake Dutch!).

Bus mulai berjalan kembali menyusuri Oude Rijn, sungai kecil nan syahdu di Leiden. Temaram lampu jalanan menghadirkan cahaya nan indah untuk dinikmati. Hmm.. Cantiknya Leiden. Banyak hal sederhana di kota kecil ini yang memancarkan keindahan. Kanal, jembatan, taman, perpustakaan, keramahan, kesunyian, lampu jalanan… Everything is just

Alhamdulillah…

Aih, that’s it! Terucap juga kalimat itu.. Ah betapa minimnya saya mengucap itu, di saat banyak hal sederhana yang mesti disyukuri. Padahal semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak hal sederhana yang bisa membuat bahagia.

Dengan bersyukur, aal izz well…

Aih, jadi inget catchy phrase dari film superkeren berjudul 3 Idiots itu. Keinget jelas saat Rancho bilang

That day I understood that this heart scares easily. You have to trick it, however big the problem is. Tell your heart, โ€˜aal izz well, aal izz well.โ€™

Raju nimpalin, “Does that solve the problem?” dan dijawab mantap ama Rancho “NO, but you gain courage to face it“. Banyak hal yang membuat kita khawatir, tapi sebesar apapun masalah, kita bisa meyakinkan hati bahwa kita akan baik-baik saja. Aal izz well..

Dan rasa syukur adalah salah satu cara meyakinkan hati. Apapun masalah yang terjadi hari ini dan nanti, saya hanya ingin menutup hari dengan mengucap…

alhamdulillah

Semoga esok terbangun dalam rasa syukur yang lebih baik

**

Leiden, 15 November 2015

Selamat Hari Pahlawan 2015

Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2015!! Terima kasih para pahlawan negeriku yang sudah sekuat jiwa raga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tercinta. Semoga kita generasi penerus bisa mengisi kemerdekaan dengan banyak hal positif ya ๐Ÿ™‚

Dalam post ini saya mau berbagi cerita yang cukup menarik untuk disimak, karena narasumbernya spesial. RM Soedijono. Siapa beliau? Wew, sangat spesial lho. Gimana engga, beliau merupakan sedikit dari pejuang kemerdekaan tanah air (ya, di jaman perjuangan 45 dulu) yang masih sehat walafiat dan bisa bercerita panjang lebar penuh semangat di usianya yang sudah menginjak 85 tahun.

Bagaimana kisah beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga tanah air ini merdeka 1945 lalu? Bagaimana mempertahankannya? Dan bagaimana pula wejangan beliau untuk kita sebagai generasi penerus?

Simak hasil wawancara eksklusif pada beliau yang saya lakukan sebagai penerima beasiswa LPDP, sebelum berangkat menuntut ilmu di Belanda di link berikut (maaf, masi nyari cara ni buat menampilkan PDF ke blog wordpress yang free.. huhu) :

PK-14 Kunjungan Pelaku Sejarah Kemerdekaan Indonesia

https://www.scribd.com/embeds/289241178/content?start_page=1&view_mode=scroll&show_recommendations=true
**

Bagaimana? Cukup inspiratifkah?

Sekali lagi selamat hari pahlawan 2015!

Semangat menjadi “pahlawan” untuk diri sendiri, untuk orang yang kita sayangi, untuk tanah air yang kita cintai.. dan jangan lupakan jasa beliau-beliau yang di masa lalu sudah berjuang melapangkan jalan kita untuk menjadi “pahlawan” di masa depan ๐Ÿ™‚

Yang kutahu dari bapakku

Sudah tak berbilang berapa kali diriku bergumam “betapa keren” bapakku, atas pengalaman keliling beragam pulau di Indonesia dan dunia. Tapi pernah suatu hari aku bergumam, “betapa tidak keren”nya bapakku, karena dari puluhan perjalanan itu, bagaimana mungkin aku tidak pernah diajak. Sama sekali. Jangankan ikut di perjalanan beliau di padang gurun dan Piramid di Afrika, atau indahnya pegunungan Alpen di Eropa, sekedar menyeberang dari pulau Jawa ke eloknya Karimunjawa dan Bali pun aku tak pernah diajak. Hmmm….

Tapi aku pun ingat, gumaman itu hanya berlalu sekedar gumaman saja. Setiba bapak di rumah, protesku selalu tertahan. Aku tidak peduli oleh-oleh apa yang bapak bawa. Pun fakta bahwa aku tidak diajak. Dan walaupun aku bukan orang yang ekspresif dalam menyambut, satu hal yang pasti aku bahagia. Bapak sudah pulang. Alhamdulillah. Bahagia terkadang memang sesederhana itu.

**

Sekarang, saat aku duduk dalam perantauan di kota kecil bernama Leiden, aku bergumam lagi. Berpuluh perjalanan, tidak kurang dari 10 negara sudah dilalui masing-masing, olehku maupun bapakku, tapi bagaimana mungkin kami tidak pernah berada dalam pesawat yang sama. Hubungan bapak dan anak macam apa ini. Ahaha.

Tapi, kali ini aku bersyukur dan sangat-sangat bersyukur dulu tidak pernah diajak oleh bapak ke tempat-tempat superkeren yang bapak tuju.

Karena akhirnya aku tahu:

  • dalam perjalanan ke Mesir, itu perjalanan dinas. Bagaimana mungkin mengajak anggota keluarga yang lain, bukankah itu bakal merugikan anggaran dinas?
  • dalam perjalanan ke Austria, itu dari beasiswa. Daripada keluar biaya mahal untuk menyenangkan anak, bukankah lebih baik ditabung untuk pendidikan anak yang makin hari makin mahal?

Alhamdulillah, dari tabungan itu aku bisa lulus S1, yang hasilnya menuntun juga ke kesempatan S2 sekarang. Di Eropa! Tanpa harus pakai uang bapak. Alhamdulillah.

Yang kutahu dari bapakku, beliau selalu YAKIN bahwa aku bisa menggapai tempat-tempat yang pernah beliau tuju, jadi tidak perlu terburu-buru memanjakan.

Yang kutahu dari bapakku, beliau hanya perlu memastikan bahwa TELADAN dan DOAnya yang akan menjadi penguat bagiku.

Yang kutahu dari bapakku, beliau tak pernah alpa mengirim pesan dan doa. Nak, semoga selalu semangat dan sehat ya.

Walaupun hampir semua pesannya kujawab sangat sangat sangat plain, “Ya pak” atau “Amiin3” (hahaha.. ngasal pol). Tapi tetap saja pesan dan doa itu.. PRICELESS..

Semoga suatu saat kita pernah sepesawat dan itu aku yang ngajak ya pak.. Ahaha.. ๐Ÿ™‚

with babe

Terima kasih, Bapak!

**

Leiden, 29 Oktober 2015

Aklimatisasi

Yak berawal dari beberapa link yang berseliweran di dunia maya tentang film Everest (rilis akhir September 2015 kemarin), saya jadi cukup banyak baca tentang pendakian Gunung Everest, sang gunung tertinggi di dunia (8848 meter, wew). Sangat menarik emang mengikuti perjalanan orang-orang yang antusias akan penaklukan. Bukan dan tentu saja bukan untuk kita men-copy paste langkah mereka di jalan yang kita tempuh. We have our own path. Tapi ada banyak hal prinsip baik yang bisa diambil pelajaran untuk menguatkan tekad kita. Ini salah satunya,

conquer everest

Sir Edmund Hillary, pendaki asal Selandia Baru, tercatat sebagai manusia pertama yang mencapai puncak Everest (di tahun 1953! bayangin taun segitu bantuan teknologi masih minim banget). Berhasil dalam percobaan pertama? Ngarep apaaa.. This is Everest! Tapi Sir Edmund bilang gini,

I will come again and conquer you because as a mountain you can’t grow. But as human, I can

Menarik, bukan?

Parahnya karena kebanyakan baca link tentang pendakian Everest, saya ga sengaja baca 1996 Everest Disaster yang ternyata jadi kisah yang diangkat dalam film “Everest”. Sedikit banyak ter-spoiler karena tau mana tokoh yang bakal mati dan mana yang survive, padahal belum nonton filmnya. Arghhh….

Aklimatisasi

Oh, kembali ke judul. Aklimatisasi. Apa itu? Proses penyesuaian diri individu terhadap kondisi lingkungan baru yang beda dengan “habitat” asalnya. Mirip dengan adaptasi? Emang hampir sama sih, tapi adaptasi lebih ke penyesuaian untuk kelangsungan hidup individu di habitat tertentu, prosesnya cenderung lebih panjang (CMIIW). Baca Selengkapnya

Whenever you say “better”

Hari ini saya mendapat “tamparan” dari satu mata kuliah. Tugas pertama yang diberikan pak dosen minggu lalu diberikan feedbacknya secara detail dan menohok. Nilai pun sudah dibagikan dengan rataan yang cukup sadis. Nilai saya? Hmm.. nilai terburuk yang pernah saya terima selama di sini.. and no excuses, I deserve that wkwk…

Tapi alhamdulillah. Sangat appreciate kepada dosen yang gamblang memberikan feedback, terang-terangan mengomentari letak kesalahan. Serunya belajar emang di situ rasanya, antara rasa kecewa disadarkan “kita emang ga seahli itu” dengan rasa bahagia “kita tahu mana yang bisa diperbaiki” ๐Ÿ˜€

Salah satu hal paling berkesan yang saya dapat dari feedback tersebut adalah:

Whenever you want to say “better”. STOP YOURSELF. And try to make MORE CONCRETE what you mean

Hahaha, ga di kehidupan nyata, ga pas ngerjain tugas, saya (atau Anda jugakah?) seringkali punya tendensi untuk bilang “lebih baik”.

Mengajukan research question dengan keyakinan kalau jawaban dari riset itu akan memberi dampak yang lebih baik. Bilang punya metode riset yang lebih baik. Ada rasa ingin meyakinkan sang dosen bahwa pekerjaan kita worth it dengan pilihan kata itu: “Better”. Well, semua orang ingin punya dampak, ingin merasa berguna, tapi sering ga pas dalam menyampaikan..

Apakah itu kata yang bisa diterima? Kalau mau jujur, kata “better” itu sangat subjektif, lebih baik dari sudut pandang siapa? Asumtif. Perlu diakui, ada unsur sekedar convincing ke diri sendiri dan orang lain, menenangkan pikiran saja. Dan kalau mau lebih jujur lagi, yang bilang “better” biasanya juga ga yakin lebih baik dari sisi apa.

Benar kata pak dosen, kapanpun kita pengen bilang “better”, STOP. Tahan dulu dari nulis atau ngomong seperti itu. Bilang dengan lebih konkret, semisal performa sama tapi app size lebih kecil (berarti lebih efisien). Hal tersebut measurable, dan karenanya motivasi untuk riset jadi lebih tinggi. Ada patokan soalnya.

Saya jadi baper juga kebawa refleksi sudah berapa ribu atau berapa juta kali bergumam “saya akan menjadi pribadi yang lebih baik hari ini”, dan iya sih niat seperti itu never ever memberi pengaruh untuk berubah. Klise.

So, kita ingin jadi orang yang lebih baik? STOP THAT.

Bukan stop niatnya untuk berbenah, tapi ganti kalimatnya hehehe. Baik itu seperti apa? Apa parameternya? Selama kita baru bisa bilang “akan lebih baik”, kita belum benar-benar bergerak jadi lebih baik. *ahaha self reflection banget*

Bismillah semoga kita lebih konkret. Amiiin ๐Ÿ™‚

Bangun

Minggu ini harus diakui lumayan melelahkan, baik bagi hati maupun pikiran. Assignment dan deadline di mana-mana. Mulai begadang-begadang unyu lagi buat ngerjain tugas. Di satu sisi ini bagus karena membuat diri ini tersibukkan. Tapi kok ya kalau tidur selepas midnight itu, susah bangun sholat lail. Jangankanย  sholat lail, subuhan aja lebih dekat ke waktu matahari terbit (shuruk) dibanding pas adzan (fajar). Zzz…

Karena hari ini weekend jadi lebih santai, walaupun ntar masih harus seharian ke luar kota, tapi malam sebelumnya bisa tidur lebih awal. Tepat jam 22.30 saya sudah tidur, yes! (ahaha.. jarang-jarang bisa tidur seawal itu). Dengan harapan, bisa bangun di sepertiga akhir malam.

Setelah terlelap sekian lama, saya pun melek. Hmm.. pulas banget tidurnya. kayaknya udah jam 5 ini (subuh jam 6). Masih bisa sholat lail. Tapiiii….

Nempel di kasur. Dari melek ke bangun (bangkit dari kasur) itu benar-benar gede ya perjuangannya… Hahaha

Emang nih butuh inget lagi kalimat sakti ini,

Bangun pagi aja susah, gimana bangun keluarga

Uhh.. susahnya jadi orang yang mudah ter-challenge dengan kalimat nylekit tapi benar adanya itu. Kali ini berguna sih. Memaksakan diri untuk bangun walau mata cuma 5 watt gini (masih ngantuk). Lihat jam di dinding…

What! Masih setengah 2 dini hari?!

Kucek-kucek mata. Barangkali salah liat, perasaan udah tidur lama. Lihat lagi jam di dinding, arloji dan hape. Bener lah, valid jam 01.30.

Ya Allah.. Tadi berharap bisa bangun pagi, tapi ga sepagi ini juga kali… -_-

Astaghfirullah. Masih mesti bersyukur banget ini ya.. Masih diizinkan kebangun.

Okey, 2 tantangan sudah terselesaikan: 1. Melek sebelum subuh, 2. Bangkit dari kasur. Menuju tantangan ketiga: wudhu. Baca Selengkapnya

Lack of Blood

Ini kelanjutan dari cerita saya vs kolesterol yang saya tulis bulan lalu. Berhubung saya orangnya kelewat waswas terhadap hal-hal yang berpotensi membahayakan (baca: kolesterol), ga cuma pola hidup dan pola makan yang berusaha diubah, tapi juga beli alat untuk memonitor kesehatan.

Niatnya sih bikin Baymax (robot personal health companion superkeren di film Big Hero 6) tapi apa daya ilmu elektro masih cupu nian, uneducated di bidang medis pula. Yowis, realistis. Beli alat sederhana untuk mengecek gula darah – kolesterol – asam urat, tiga komponen yang mesti diperhatikan dan ditekan agar normal. Kalau sampai berlebih bisa membahayakan kesehatan soalnya, bisa menurun ke anak pula! Ga enak banget kan kalo mewariskan hal buruk pada anak (aduh visioner banget saya ya, istri aja belom punya, udah mikir anak ๐Ÿ˜€ )

Alat multifungsi tersebut saya beli di Pasar Pramuka, Jakarta. Konon harga alat-alat medis dan obat-obatan di sana lumayan miring, apalagi kalau dibanding harga di kota asal saya. Terbukti sih, masih cukup terjangkau oleh kantong seorang pengangguran seperti saya.

Nah, singkat cerita saya udah balik di Negeri Kincir dan setelah sekitar 3 minggu udah penasaran untuk cek kolesterol lagi (olahraga mulai rutin soalnya, jadi udah lumayan yakin kolesterol level ampas kemarin udah menurun). Yak, saatnya mencoba alat dan kita lihat hasilnya *excited*

Chip untuk cek kolesterol sudah terpasang di sang alat. Prosedur berikutnya adalah ambil daraaah.. Hohoho…

Bagi teman-teman yang pernah donor darah atau sekedar cek golongan darah, pasti udah ga asing dengan puncturer (lancing device). Itu loh, alat pelubang yang ditusukkan ke ujung jari kita biar keluar darah. Darahnya itu yang bakal jadi sampel tes. Dengan skala 1-5, besar lubang bisa diatur. Untuk kulit yang kasar dan minim sentuhan kehalusan cem saya, tentu butuh skala terbesar, 5. Hahaha..

Alcohol swab dioles ke jari biar steril (maklum jari suka kotor biasa buat ngemil #eh). Berikutnyaa.. cetek! Pelubang mulai difungsikan. Tapi. Kok.

Ga keluar darah sama sekali ya. Hmmm…..

Oke mungkin jari telunjuk habis buat tahiyat akhir, masih suci (teori dari mana ini). Kita coba jari berikutnya, jari tengah. Cetek!

Nihil. Tiada darah menetes.

Baiklah, korban berikutnya. Jari manis, semoga semanis namanya. Mau nurut. Cetek! Baca Selengkapnya

Get Busy Living Or…

Yah jadi kemarin saya baru chat dengan sobat saya yang ujung-ujungnya mengarah ke sosok Morgan Freeman. Bagi yang demen nonton movie, aktor yang satu ini udah punya level tersendiri: legend. Hal paling legendary tentu suara beliau yang sungguh exceptional karismatiknya. Kalau saja tes TOEFL atau IELTS, beliau yang membacakan soal listening, mungkin saya bakal lebih mampu menjawab. Crystal clear sih. Dan nilai IELTS saya pun bisa lebih dari batas tuntas *hahah.. pembenaran*

Karena faktor suara tadi, eyang “Nelson Mandela” (begitu saya sering menyebutnya.. mirip sih) sering disuruh membawakan narasi. Semua line yang dibacakan olehnya punya arti yang dalam dan berkesan. Se7en, Bruce Almighty, Dark Night Trilogy, Now You See Me, dan tentunya film dengan rating IMDB tertinggi sepanjang masa, The Shawshank Redemption.

Dari pembahasan mengenai movie terbaru, Morgan Freeman, akhirnya mengarah ke Shawshank (disingkat jadi satu kata aja ya..) deh. Salah satu film paling berkesan yang pernah saya tonton. Apakah saya setuju kalau film ini jadi yang paling tertinggi di IMDB yang notabene salah satu web pemberi rating terbesar di dunia? Most likely, yes. Saya bakal memberi rating 10 dari 10 untuk film tersebut.. ahaha…

Pertanyaan berikutnya tentu mengarah ke “Apa sih yang spesial dari Shawshank?”

Aihh.. Baiknya tonton sendiri deeeh biar lebih berkesan :v

Tapi okelah salah satu poin yang sangat berkesan, yang membuat para penontonnya bakal sukarela memberi rating tinggi, adalah quote ini:

shawshank-redemption-quotes

Andy Dufresne, sang tokoh utama dalam cerita, dijerat hukuman penjara seumur hidup atas pembunuhan terhadap istrinya sendiri. In fact, dia tidak pernah melakukannya. Walau kondisi saat itu, unfortunately, menyudutkan Andy seolah-olah emang dialah pelakunya. Tragis.

Dalam sekejap Andy kehilangan istri, pekerjaan, nama, dan tentunya sisa waktu hidup yang mesti dihabiskan dalam kelamnya balik jeruji. Shock? Lebih dari sekedar shocking sih ini.

Tapi apa yang dilakukan Andy dalam penjara Shawshank inilah yang sangat menyentuh #warbyasa #khanmaen (haha.. sok kekinian). Alih-alih membiarkan dirinya jatuh dalam kekelaman dan penyesalan, dia terus berikhtiar tak kenal lelah.

Dengan cara…

Sampai akhirnya….

*ah, kalau itu diceritakan, mega spoiler namanya. hehe.. tonton gih ๐Ÿ˜‰ *

**

Sebagaimana Andy, dalam hidup kita mungkin bakal menemui persimpangan atau ujian yang membuat kita ultimate galau, stres, shocked. Tapi di satu titik paling desperate, di situlah kita akan kembali pada dua pilihan sederhana:

Get busy livin’ OR get busy dyin’

Perkara memilih tersebut mutlak pada diri kita sendiri. Ga peduli orang lain atau kondisi gimanapun. Does it hurt? Does it matter? Whatever…

Kita selalu punya pilihan untuk mulai menyibukkan diri pada kebaikan hidup kita. Mari ๐Ÿ™‚