Tergantikan

Saat menjelang sekolah S2 dulu, saya mengikuti acara persiapan keberangkatan di mana kerap digaungkan mengenai Indonesia Emas 2045. Di tahun tersebut, Indonesia berada pada milestone seabad sejak kemerdekaan. Di tahun itu pula diproyeksikan bahwa Indonesia akan berada pada kondisi “bonus demografi”, di mana mayoritas penduduknya berada pada usia produktif. Dengan banyaknya usia produktif, diharapkan banyak karya yang bisa terbangun. Konon, di abad 20 kemarin saat Jepang dan Korea mengalami bonus demografi, mereka bisa menjadi negara maju dengan segudang produk handal.

Tentunya sebagai warga negara yang cinta tanah air, kita antusias mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk era tersebut. Tetapi kita juga mesti menyadari adanya paradoks, bahwa di era yang semakin modern, bisa jadi bonus demografi justru menjadi ancaman.

Apa itu ancamannya?

Berbeda dengan kondisi Jepang dulu, di mana kebutuhan manusia untuk industri memang sedang banyak-banyaknya, 25 tahun dari sekarang, justru trennya mengarah ke makin banyak manusia yang akan tergantikan oleh robot dan sensor.

Memang di Indonesia, artificial intelligence belum masif. Tapi sudah banyak hal di kehidupan sehari-hari kita yang tergantikan oleh hadirnya teknologi. E-money untuk tol, check-in machine di bandara, boomingnya online shopping, dan beragam tren lain yang mengindikasikan lapangan kerja justru akan semakin terlimitasi. Ya, kita bisa jadi, akan sangat tergantikan.

Jadi, kita mesti optimis atau pesimis terhadap paradoks Indonesia Emas ini?

Kalau menurut saya, yang paling penting kita sadari adalah, kita memang tergantikan.

Loh kok gitu? Ya, bagaimana tidak, pertama kita adalah makhluk bernyawa. Dan makhluk bernyawa itu cepat atau lambat pasti habis masanya. Steve Jobs, sang pendiri Apple yang disebut-sebut sebagai salah satu manusia paling inovatif dengan penemuan hebat pun, dengan lantang menyebut bahwa “penemuan” terhebat yang ada di dunia adalah.. konsep kematian. Wow.. bisa gitu ya?

Ya, menurut beliau, pasti mati dan pasti tergantikan, telah membantunya membuat pilihan-pilihan besar dalam hidup. Rasa takut gagal, rasa takut dikecewakan, khawatir dikhianati, bisa sirna saat mindset yang tertanam adalah kita bagaimanapun tergantikan. Yang bisa kita lakukan adalah membuat usaha terbaik dan pilihan yang baik sehingga penerus kita bisa maju.

Rasa tidak tergantikan justru bisa menghambat silaturahmi, keinginan bermitra, sharing ilmu, dan hal-hal baik lain. Jika mindset ini berlanjut lebih jauh, akan lebih parah lagi di mana justru harapan kita digantungkan pada hal yang melenceng, sedang harapan mestinya ditaruh lekat-lekat ke satu-satunya Yang Tidak Tergantikan, Allah SWT. Dan di Islam, sekalipun kita tergantikan dalam hal pekerjaan, ada yang tidak tergantikan dalam hal amalan: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya.

Jadi, sudahkah kita menyiapkan amalan tidak tergantikan untuk diri kita yang tergantikan ini?

Bekasi, 24 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan kelima untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Jam Tidur

Jaman kecil dulu, jam tidur saya bisa dibilang sangat teratur. Tidak pernah tidur lewat dari jam 22, dan uniknya selalu terbangun tepat 5 jam setelah terlelap. Perkara setelah terbangun itu kembali tidur lagi, ya lain cerita. Hehe. Yang jelas, ketika saya pengen nonton bola yang mulai kick-off nya jam 2 pagi, saya tinggal tidur jam 21. Bangun tepat, tanpa perlu alarm.

Walaupun punya ritme seteratur itu, tetap saja saya spare plan B biar tetep bisa nonton bola. Apa itu? Minta dibangunin orang tua untuk sholat lail. Jadi pengalaman saya belajar sholat lail memang bukan perkara akhirat, tapi duniawi demi nonton bola, hehehe…

Bangun dini hari itu katanya membuat pikiran lebih fresh dan bisa lebih banyak mencerna ilmu. Saya kurang setuju dengan premis ini, karena tiap orang punya dan perlu mengenali jam efektifnya masing-masing. Untuk saya jaman sekolah dulu, jam bada isya sampai jam 9 masih yang paling oke. Untuk orang lain, bisa beda tentunya. Bisa di pagi, siang, malam tergantung karakter masing-masing.

Tapi nih ya.. funnily enough.. jam fajar (katakanlah setengah jam sebelum subuh) menjadi “magic hour” buat saya. Saya hampir ga pernah baca-baca (buku pelajaran) pas dini hari karena emang fokus nonton bola. Nah pas kelar nonton bola dan nunggu subuh, apa yang saya baca biasanya keluar di ujian SD, bahkan sampai SMP. Seperti 80% apa yang saya bisa di ujian, “dapet wangsit”nya di jam fajar ini. Kenapa bisa begitu saya pun ga tahu. Mungkin bisa ditelusuri secara ilmiah, tapi saya sih menganggapnya pure hoki…

Kembali ke perkara jam tidur, di usia yang udah menginjak kepala tiga, apakah pola tidur juga masih sangat teratur? Hmmm… sebuah pertanyaan retoris kan, karena hampir semua yang seumuran saya akan menjawab “tentu… berantakan” Ahaha. Jaman smartphone, kerjaan lembur, konsumsi makanan yang tidak sehat, kurang olahraga, dah lah lengkap deh kondisinya memperburuk pola tidur.

Pas waktunya bangun, lemes kayak orang mau tidur.

Pas waktunya tidur, eh mata malah melotot depan layar layaknya ga mau tidur.

Tapi nih ya.. funnily enough.. ketika mudik, orang tua saya yang sudah berusia kepala lima, pola tidurnya masih terjaga teratur dan saya pun bisa terbawa mengikuti pola tidur “ideal” seperti mereka.

Dan dari situ saya ingin berterima kasih pada orang tua karena diingatkan lagi mengenai kebiasaan menarik satu ini: memulai hari lebih awal. Banyak hal yang nyaman dikerjakan di pagi hari. Selain itu, memulai sense of accomplishment dari awal hari membantu untuk terus semangat menjalani hari. Toh di kondisi pandemi WFH seperti ini, kalau ngantuk lebih memungkinkan bisa bobo siang. Hehehe…

Dari jam tidur orang tua saya pula saya menemukan satu hal menarik lagi bahwa tantangan utamanya ternyata bukan di perkara bangun atau lama jam tidurnya. Tapi, bagaimana biar tidur lebih awal. Karena kalau tidurnya lebih awal, kita akan punya spare untuk tidur lebih lama dan tidak menggerutu kalau bangun pagi harinya.

Begitukah?

Bekasi, 23 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan keempat untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Sederhana

Saya sungguh bersyukur terlahir dari keluarga yang sederhana. Rasanya sederhana itu merupakan salah satu pengalaman paling berharga di dunia.

Dengan sederhana, kita menjadi terpacu untuk berkembang. Tapi saat kondisi tak sesuai ekspektasi, dan itu manusiawi, maka kita tidak terlampau kecewa. Toh kita tetap merasa cukup. Ya, tidak lebih, tidak pula kurang.

Kadang kita suka merumitkan anugerah-anugerah yang sudah diberikan secara indah dan sederhana.

Kadang kita suka memburu sesuatu ataupun penerimaan orang lain, di saat sederhana pun cukup.

Tentu saja sederhana itu adalah pilihan hidup, dan bisa dilatih.

Ayah saya memilih saat beliau menjabat posisi penting, justru saatnya untuk menunda dulu beli barang yang mewah atau merenovasi rumah jadi megah. Ini bisa jadi karena pilihan atau karena dengan menjabat pun belum tentu uangnya cukup sih, hehe. Tapi tetap, toh dengan rumah yang sederhana pun cukup.

Beliau juga sudah keliling ke lumayan banyak negara dengan beragam mode transportasi, tapi saat harus naik bus umum atau sepeda butut pun tak masalah. Toh masih bisa mengantar ke tempat tujuan. Sesederhana itu. Karenanya saya juga jadi lumayan bisa menikmati sekalipun harus berdesakan di gerbong KRL ataupun naik metromini. Kembali, sederhana pun cukup.

Terlepas dari kesederhanaan ayah, mungkin Ibu saya lah yang lebih mengedepankan lagi bahwa hidup sederhana itu perlu. Beliau lah yang saat punya tabungan lebih, tidak pernah dibelikan barang mewah, cukup beli barang yang diperlukan, selebihnya untuk tabungan masa depan anaknya. Toh, hidup sekarang dan seterusnya secara sederhana pun cukup.

Ibu juga pernah mengajarkan, saat lupa bayar tempe seharga 500 perak saja, beliau mau untuk puter balik (padahal baru ingetnya saat sudah menempuh perjalanan beberapa km), dan membayar kekurangan bayar tersebut. Sepele? Tidak. Karena sederhana itu dibangun dengan menghargai hal sederhana, tanpa menggampangkan arti.

Jadi apakah cobaan hidup telah menjauhkan kita dari kesederhanaan?

Semoga tidak. Semoga kita terus berpikir positif, berpikir sederhana tidak merumitkan dan menghargai anugerah-anugerah yang sudah diberikan. Karena sederhana itu, cukup.

Seperti anak kecil yang bisa tertawa lepas untuk hal sederhana. Karena sederhana itu, cukup.

Bekasi, 22 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan ketiga untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

It’s Beautiful Day…

Cara kita memandang dan menyampaikan sesuatu, seringkali berdampak terhadap bagaimana penerimaan dalam diri kita maupun penerimaan orang lain. Tentunya kita berharap selalu bisa memandang sesuatu dari sisi positif, tapi hal tersebut tidaklah mudah. Terkadang, kita mesti disadarkan dulu oleh keadaan, nasehat orang lain, atau sekedar melihat video singkat nan inspirational.

Nah, untuk saya sendiri, seringkali kembali ke video inspirational berikut untuk kembali berpikir dan menyampaikan sesuatu secara positif, monggo dibuka dan ditonton:

Sudah dibuka? Bagaimana, singkat tapi powerful bukan?

Video tersebut menceritakan bagaimana bapak tua yang nutanetra (buta) mengemis dengan menulis di kertas kardus “I’m blind, please help!” (saya buta, tolong bantu). Dari sekian banyak orang yang lewat, hanya sedikit yang menyisihkan uang koin untuk bapak tua tersebut. Sampai datang nona muda yang lewat, mengubah tulisan di kertas kardus sang bapak, dan surprisingly lambat laun banyak orang yang berdonasi. Bapak tua itu pun penasaran apa yang dilakukan sang nona muda, kenapa jadi banyak yang berempati padanya.

Sang nona muda pun menunjukkan apa yang dilakukannya, yakni mengubah kalimat awal dari sang bapak menjadi “It’s beautiful day and I can’t see it” (Hari ini adalah hari yang indah walaupun saya tak bisa melihatnya). Wow!

Ternyata apa yang kita lihat dan kita sampaikan, benar berpengaruh terhadap penerimaan orang lain. Di kalimat awal, sang bapak secara literal menyampaikan kondisinya. Dia buta maka dia minta orang lain mengasihaninya. Hasilnya? Sedikit yang berempati. Karena pada dasarnya tiap orang mempunyai struggle (kesusahan)-nya sendiri. Hanya karena kita susah, bukan berarti orang lain ga kalah susah. Hal ini yang membuat empati jadi tidak bertemu.

Sebaliknya, saat kita menyampaikan kondisi susah kita dengan positif, bahwa kita tetap bisa bersyukur dan menikmati hari ini walaupun ada kesusahan yang kita hadapi, maka orang lain pun tumbuh empatinya. Secara tidak langsung orang yang lewat teringat juga bahwa di balik kesusahan masing-masing, ada banyak hal yang bisa disyukuri. Banyak sekali hal, yang ternyata tidak semua orang seberuntung kita. Orang yang tidak beruntung itu saja bersyukur, kenapa kita tidak? Oleh karena itu, menjadi tergerak untuk support.

Nah, pelajaran yang ada dalam video inspirational tersebut, in some extent kadang saya renungkan juga saat menghadapi masalah yang pelik dan tak tahu lagi solusinya selain memohon kepada Sang Pemilik Segala Kekuatan, Allah SWT.

Betul bahwa Allah akan mendengarkan keluh kesah hambanya, apapun bentuknya. Tapi apakah jika saya hanya berkeluh kesah saja, tanpa sense bersyukur, Allah pun juga menjadi tidak empati pada kita?

Tidakkah sebaiknya memang kita memulai doa kita dalam syukur dan ikhtiar dulu?

Karena kembali lagi, banyak sekali hal yang perlu kita syukuri, yang ternyata baru kita sadari kemudian bahwa tidak semua orang seberuntung kita. Dan kita kembali dalam sujud yang penuh syukur walaupun kita ditimpa ujian.

Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan.

Karena in the end of the day, it’s beautiful day….

Hari ini adalah hari yang indah untuk disyukuri.

Bekasi, 21 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan kedua untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Ikhlas

Minggu ini ada banyak pelajaran hidup untuk saya yang muaranya ke satu hal, belajar Ikhlas.

Setelah hampir 6 bulan tidak ke kantor, kemarin saya sholat Jumat di masjid kantor lagi setelah sekian lama. Adanya pandemi Covid-19 membuat hidup kita sungguh berubah. Rutinitas ke kantor mesti diurungkan dulu karena social distancing, jadi kerja di rumah. Pun jamaah masjid yang biasa rapat-rapat, sekarang mesti direnggangkan dulu. Pandemi oh pandemi. Siapa yang menyangka tiba-tiba ada kondisi seperti ini di era kehidupan yang konon sudah modern.

Tentu saja pandemi pula yang dengan dahsyat mengajarkan kita untuk ikhlas. Untuk merenungkan kembali tentang hal-hal yang kita rasa kita miliki dan genggam erat, yang ternyata mudah saja saat Allah untuk memutarbalikkan. Karena pada dasarnya memang semua milik Allah. Kita merasa kehilangan karena kita pernah merasa memiliki. Tapi orang-orang yang ikhlas akan berjalan tenang karena sadar bahwa saat yang dimiliki hilang, pada dasarnya itu karena kembali ke Sang Maha Memiliki.

Satu renungan menggelitik saya dapatkan saat mendengar khutbah Jumat di masjid kantor. Sang khotib bercerita tentang seorang sahabat Nabi yang mau beramal baik bersedekah lumayan besar di kampung yang penuh orang miskin. Sudah alhamdulillah nemu orang “beruntung” untuk disedekahi, eh ternyata beberapa waktu kemudian didapati bahwa orang itu ternyata perampok. Waduh! Kemudian sang sahabat kembali niat bersedekah ke kampung miskin, dan apa yang didapatinya.. orang yang disedekahi ternyata seorang pembunuh! Ealahh…

Jadi apakah sahabat Nabi ini perlu menyesal sudah menginfaqkan hartanya, saat ternyata yang menerima bukanlah orang baik?

Ternyata jawabnya tidak. Sahabat tersebut merenung dan sungguh menjadi belajar ilmu ikhlas, bahwa apa yang diniatkan sudah atas nama Allah, maka saat ada kejadian yang menguji keikhlasan, beliau kembali ke niat awal: mengharap ridho Allah. Alih-alih mengumpat, beliau berdoa semoga.. semoga dari sedekahnya, datang hidayah Allah untuk perampok dan pembunuh tsb. Subhanallah. Sungguh indah bukan amalan orang yang ikhlas?

Dalam waktu yang hampir bersamaan di mana saya sedang sholat Jumat itu, ternyata secara kebetulan juga ada kejadian yang mengajarkan ilmu ikhlas. Dan ini tentang orang yang paling saya cintai di bumi ini.

Atas kehendak Allah, ada ujian dalam tubuh Ibu saya yang membuat kami sekeluarga harus belajar lagi akan ilmu ikhlas. Tentu semua tidak mudah, tetapi kan tidak ada ujian yang diturunkan Allah di luar batas kemampuan kita. Ini tertulis dalam Alquran. Karenanya, kita akan terus berupaya ikhtiar terbaik dan jika hati ini masih terus berkecamuk, mungkin hanya satu yang bisa menyelesaikannya. Ikhlas.

Oh ya, di dalam Alquran juga ada surat Al Ikhlas, surat sejuta umat untuk bacaan setelah Al-Fatihah karena suratnya beneran pendek (hehe..) tapi artinya teramat dalam. Walaupun namanya “Al Ikhlas”, di dalam surat tersebut ga ada frase “ikhlas” lhoo..

Arti suratnya seperti ini. “1. Katakakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. 2. Allah tempat meminta/bergantung segala sesuatu. 3. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan, 4. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara Dia”

Jadi mungkin itu clue ikhlas sesungguhnya, tanpa harus dengan frase ikhlas. Karena ikhlas, bisa jadi bukan perkara lisan, melainkan tentang bagaimana kita menyadari bahwa semua kekuatan itu dari Allah, dan saat kita membersamai Allah, kita akan baik-baik saja.

Insya Allah.

Bekasi, 20 Maret 2021

Note: Ditulis sebagai tulisan pertama untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

Selamat karena Membaca

Jaman saya sekolah menengah di Solo dulu, Gramedia jadi salah satu tempat favorit untuk nongkrong para pelajar selain game center. Karena pelajar jaman dulu rajin baca buku? Sebenarnya engga juga ya, karena faktor tempat yang cozy, adem dan era informasinya masi banyak yang mengandalkan media cetak. Mau update berita bola, otomotif, baca komik atau bacaan entertainment lainnya masih minim di internet. Yang jelas Gramedia selalu rame pengunjung.

Tapi sekarang, saya kalau ke Gramedia bawaannya kayak di tempat asing, saking sepinya. Tampaknya era sudah berubah. Sudah banyak informasi tersedia secara online, dan minat baca buku secara fisik menurun drastis. Sayangnya, data menunjukkan berdasar survey pun, literasi (minat baca) Indonesia salah satu yang paling rendah di dunia!

Perubahan media baca fisik ke virtual tidak bisa menjadi alasan karena toh jumlah buku yang di-download secara online pun minim. Ironisnya, Indonesia selalu juara untuk urusan cerewet di media online.

Minim baca, banyak suara. Waduh.

Saya sendiri bisa dibilang bukan orang yang suka membaca.. wkwk.. entah kenapa cepet bosan (nah, muncul lagi ya alibi dari orang yang turut andil bikin literasi Indonesia nyungsep). Padahal setelah dipikir-pikir, banyak hal yang saya lihat dan alami sendiri: banyak orang terselamatkan karena membaca.

Contoh satu, dari teman kantor saya dulu. Orangnya cukup unik. Pas jaman kuliah dia ga pernah ikutan ujian kalau belum khatam (selesai) baca buku modul teknik yang supertebal itu. Jadi baru selesai baca setengah, ga dateng ujian. Dilepas, pasti ngulang. Tapi ternyata setelah masuk dunia kerja, pas ujian sertifikasi teknis dia hampir selalu dapat nilai sempurna. Ga cuma sekedar lulus, tapi nyaris sempurna (ga gampang lho). Ternyata orang yang bacaannya banyak, pas nembak (nebak jawaban) pun bisa lebih akurat. Ketika kesulitan, lebih bisa memilih mana opsi yang make sense.

Contoh dua, yang saya alami sendiri. Dulu saya sempat belajar bahasa Prancis walau seuprit. Cuma sampai level yang paling dasar. Suatu saat, pas solo travelling saya terdampar di stasiun transit Bologna, Itali. Kacaunya, waktu untuk pindah platform sangat terbatas plus pengumuman dengan bahasa Itali yang saya jelas roaming (hampir ga bisa nangkep). Eh surprisingly, ada beberapa kata yang mirip antara bahasa Itali dan Prancis. Dan ketika saya menuju platform kereta berdasar insting lintas bahasa ini, ternyata tepat dan seketika saya masuk kereta, keretanya berangkat. Hampir ketinggalan kereta, tapi knowledge kecil yang saya baca ternyata menyelamatkan.

Poinnya adalah, cepat atau lambat, pengetahuan yang pernah kita baca bisa menyelamatkan di waktu yang tidak terduga.

Mungkin tak salah kalau Allah SWT menurunkan ayat pertama pun berbunyi “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan”

Nah jadi PR kita nih untuk lebih meningkatkan membaca, karena harus diakui sangat menantang untuk dibiasakan. Saya yang dari kecil sudah coba dibiasakan bunda dan bapak untuk baca, sampai sekarang pun masih perlu banyak berbenah. Hehe.

Mungkin mindsetnya perlu diubah, bukan membaca karena mau ujian, tugas kantor, atau alasan dari luar lainnya. Tapi lebih ke apa ilmu yang kita pelajari, sedikit demi sedikit, pada waktunya nanti akan menyelamatkan diri kita sendiri di saat yang tak terduga.

Yuk mari.

#MakasihBunda #MakasihBapak #SelaluBelajar #SemangatMembaca

Menyingkirkan Rintangan

Sepertinya kita semua tahu akan sosok pelawak Sule (Entis Sutisna) dan pesulap Deddy Corbuzier ya. Bagaimana tidak, mereka berdua salah satu yang paling banyak muncul di TV, dan kalaupun sekarang sudah banyak yang beralih dari TV ke Youtube, tetep saja dua orang itu jadi beberapa yang paling tinggi exposure-nya alias sering tampil.

Berbicara tentang exposure mereka yang saya dapatkan di Youtube, ini kesamaan mereka:

  1. Sama-sama pernah sampai di titik paling top di bidangnya. Sule jadi pelawak nomor 1 Indonesia (pas booming bersama Opera Van Java, pun sekarang tentunya masih di jajaran top). Deddy Corbuzier jadi pesulap atau mentalis nomor wahid di tanah air (dan sampai sekarang pun masih yang paling terkenal walau sudah berhenti sulap..)
  2. Sama-sama mengalami kisah perjuangan hidup yang sulit sebelum mencapai kesuksesan. Sule yang anak tukang bakso yang amat sederhana, Deddy pun waktu kecil beli bakso 1 porsi untuk dibagi serumah. Saking sulit finansial. Bayaran awal mereka? <= 50ribu (kalau sekarang mah sekali episode angkanya bisa >= 50 juta ya)

Tapi bukan dua hal yang sudah banyak diketahui orang itu yang menggelitik pikiran saya. Ada hal menarik yang keluar dari mereka dan posisi saya sebagai orang tua baru jadi bisa relate. Apa itu? Tak lain pas di suatu momen mereka mereka tercenung senyum-senyum agak gimana gitu akan hal berikut:

Sepakat nih kalau kesusahan, rintangan yang dialami sepanjang hidup adalah yang membentuk jadi pribadi tangguh seperti sekarang. Note, rintangan membuat tangguh. Pertanyaannya, di saat sudah sukses finansialnya oke dan jadi seorang bapak, kenapa mereka alih-alih memposisikan anak dalam rintangan, malah menyingkirkan rintangan itu dari anak-anaknya?

Sule secara ga langsung mengakui bahwa memberi privilege (keuntungan khusus) buat anaknya, Rizky Febian. Walaupun sang anak sulung tahu dan mengikuti bapaknya dari jaman finansial susah sampai finansial mapan, Sule tetep ga mau Iky (panggilan akrab Rizky Febian) merasakan hal yang sama seperti bapaknya dulu. Karir artisnya pun mayan cepat karena sedikit banyak terbantu pamor sang bapak (note: jangan disalahartikan Iky numpang tenar aja ya, terlepas adanya privilege, saya pun mengakui suara Iky top kok).

Hal yang hampir mirip berlaku untuk Azka, anak Deddy Corbuzier. Belum jadi artis sih. Cuman secara lifestyle & privilege udah oke banget dan Deddy sendiri mengakui dia belum pernah menempatkan Azka seperti dirinya dulu yang harus hidup susah dan ke mana-mana berjejalan naik transportasi umum (bus) yang sumpek.

Hmm.. sampai di sini udah keliatan benang merahnya ya apa yang mau dibahas.

Orang sukses adalah orang yang terbukti tangguh. Orang tangguh adalah orang yang telah dan mampu menyingkirkan rintangan. Eh, orang yang sudah melewati rintangan jadi tangguh, eh tetep punya tendensi menyingkirkan rintangan untuk anaknya.

Cukup bapak/ibu saja yang mengalami, semua kerja keras ini dari awal memang sudah diniatkan agar anak bapak/ibu nanti punya hidup yang lebih baik. Sering dengar seperti itu? Kalau iya, berarti kita mesti bersyukur terlahir dari orang tua yang luar biasa.

Back to topic, jadi benar atau salah tuh menyingkirkan tantangan untuk anak?

Hmm.. tricky yaa.. saya sebagai orang tua baru pun tentunya belum punya kiat efektif terkait hal tersebut. Pasti besar tantangannya.

Secara natural, rasa sayang orang tua akan membuatnya menyingkirkan rintangan dan memberi privilege. Keuntungan yang didapat si anak ini bisa jadi pedang bermata dua: bisa jadi modal untuk jadi pribadi yang lebih baik (secara pendidikan, finansial dan harapannya manfaat ke orang banyak), tapi bisa juga jadi bermental tempe, tidak tangguh, dan susah menjalani kerasnya kehidupan.

Secara natural pula, orang tua selalu berharap anaknya jadi anak yang tangguh. Agak kontradiktif memang kalau pengen tangguh tapi rintangannya disingkirkan. Sejauh ini orang tua selalu berdalih bahwa ya cukup dimaknai saja dulu perjuangan orang tua, tidak perlu mengalami hal yang sama. Ini betul, tapi menyisakan PR karena tidak banyak anak yang bisa memaknai tanpa harus benar-benar mengalami.

Berbicara privilege sendiri, konon juga terpengaruh sama tantangan masing-masing generasi. Contohnya begini, dulu orang tua hidup susah ke mana-mana mesti naik bus. Saat punya anak, anaknya dibelikan sepeda bagus biar lebih fleksibel bepergian. Apakah ini privilege? Iya, dan sudah upgrade banyak dari jaman orang tuanya. Masalahnya, ketika sang anak dihadapkan pada lingkungan atau jaman yang standarnya adalah motor bagus atau bahkan mobil, tentu bisa kompleks yang dirasakan. Dari perspektif anak, fasilitas yang dia dapatkan merasa di bawah “standar lingkungan” atau “standar jaman”. Dari perspektif orang tua, antara berpendapat ini anak sudah dikasi fasilitas bagus kok masi ngelunjak, atau merasa bersalah karena tidak bisa memberi hal yang baik (menurut lingkungan) untuk anaknya.

Padahal sekedar memberi fasilitas, apapun bentuknya, itu sudah merupakan hal yang patut disyukuri.

Mungkin memang harus trial and error ya mem-balance antara menyingkirkan rintangan, memberi privilege dan membentuk anak yang tangguh dan pandai bersyukur. Mungkin juga kuncinya bukan di perlu tidaknya sebuah privilege, tapi bagaimana orang tua membersamai anak saat bersiap untuk tantangan dan saat rintangan itu datang.

Bismillah semoga kita semua jadi pribadi yang tangguh, pandai bersyukur dan bisa menularkan pada anak kita kelak.

Tak lupa, kembali appreciation post.. makasih Bunda dan Bapak yang sudah berusaha memberikan apapun untuk saya, yang niatnya pasti baik tapi sayanya yang terima suka labil, kadang menerima dengan baik dan kadang kurang baik.

Semoga dalam rintangan yang akan selalu ada, kita selalu bisa membersamai dalam kasih sayang. Amiin.

#MakasihBunda #MakasihBapak #SelaluBelajar #BersamaDalamRintangan

Lintas Generasi

Semalam saya lumayan gabut dan memutuskan menikmati Youtube saja, scroll santai sesuai apa yang direkomendasikan Youtube di halaman muka. Ternyata kontennya band tenar generasi 90, Padi, yang sekarang kumpul lagi setelah sekian lama dan punya acara show sendiri berjudul Padi Sang Penghibur. Kuping saya yang lama ga dengar lagu-lagu Padi kembali bernostalgia pada lagu mereka. Lagu yang beken sekali jaman saya kecil dulu. Dan otomatis otak saya bilang:

“Nah ini baru keren! kenapa band-band jaman sekarang ga bikin lagu sekeren ini!”

Padi dan Dewa 19 yang kumpul lagi. Sheila on 7 yang langgeng. Mereka semua adalah beberapa legenda musik 90an yang lagunya keren sampai sekarang, dan secara ga sadar saya berekspektasi band sekarang lagunya mestinya setipe dengan mereka. Musik yang keren dan lirik yang indah puitis.

Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin ada yang salah dengan pendapat saya terkait musik dari generasi saya kecil (sebutlah generasi 90an) dengan generasi sekarang. Mungkin semua itu hanya urusan selera yang terbentuk sesuai era masing-masing. Kenapa begitu? Karena ambil contoh Noah (dulu generasi 90 mengenalnya Peterpan) yang beken di lintas generasi. Mereka menyesuaikan diri di era sekarang dengan musik yang lebih berani (dan tetep laris), eh ga nyangkut di telinga saya. Suara Ariel masih top tier, tapi kok di saya musiknya tetep jauh lebih enak Peterpan ya.. Dan seenak-enaknya Peterpan, bagi bapak saya tetep lebih enak Koes Plus. See, sama-sama musiknya lintas generasi loh..

Hal itu ga terbatas sama musik juga. Bahkan berlaku hampir di semua bidang. Sepakbola misalnya, apapun kehebatan yang Messi tunjukkan di era sekarang, bagi generasi 80an tetap menaruhnya di bawah Maradona (padahal kalau diliat dari highlightnya, harusnya jago Messi lho.. menurut sayaa…). Ini mereka juga sama-sama punya kehebatan yang diakui lintas generasi, tapi masing-masing generasi akan keukeuh pada jagoan generasinya sendiri.

Tak terbatas di entertainment pula, kita lihat dari sisi edukatif. Pak Habibie, adalah orang Indonesia panutan utama di generasi saya. Bangun pesawat, cendekiawan, otak Jerman hati Mekkah, jadi hal yang keren untuk diraih. Generasi sekarang, mungkin Nadiem Makarim yang lebih dilihat karena keberhasilannya memberi pengaruh besar dengan Gojek. Kalau ibu saya yang seorang guru, mungkin sosok Ki Hajar Dewantara atau Ahmad Dahlan tetap yang jadi panutan besar. Poinnya? Level kebaikan yang besar dan lintas generasi pun akan diterima sesuai perspektif generasi masing-masing.

Nah, dari sinilah saya jadi refleksi diri. Terutama karena jadi orang tua baru. Jadi pegawai juga di tempat yang isu lintas generasinya cukup kencang. Setelah diamati, challenge utamanya memang karena merasa tahu dan parahnya bisa geser jadi merasa paling tahu, padahal perspektifnya terbentuk di generasi sendiri, tanpa mencoba memahami generasi yang lain. Dan yang bikin complicated.. ternyata itu natural! Seperti kasus di musik, sepakbola dan edukasi tadi, masalah selera itu terbentuk sesuai generasi.

Ke depan saya benar-benar belum tahu gimana komunikasi lintas generasi ini mesti dihadapi. Tantangan tentu makin besar. Bagaimana bersikap saat perspektif saya kelak akan berbeda dengan anak saya.

Tapi satu yang pasti, saya akhirnya sadar dan pengen mengapresiasi sebesar-besarnya pada orang tua saya. Karena walaupun tidak selalu jadi yang paling tahu, bahkan sering saya rasa ga mau tahu, yang ternyata memang siapapun susah untuk tahu.. mereka lah yang selalu ada dan do the best sesuai yang mereka tahu.

Tidak semua hal perlu tahu dulu.

Tidak semua hal akan kita tahu.

Karena mungkin yang tertinggal sampai lintas generasi hanyalah usaha-usaha yang sudah diupayakan sebaik mungkin walau dalam kesulitan dan ketidaktahuan.

Terima kasih bunda.. terima kasih bapak..

#MakasihBunda #MakasihBapak #SelaluBelajar #LintasGenerasi

16 Months Later…

Wew.. It’s been 16 months since the last time I updated this blog…

Butiran debu. Banyak sarang laba-laba. Basi. Elah, bisa-bisanya ya saya yang acapkali menuliskan “writing” sebagai salah satu hobi, malah ga pernah menulis lagi.

Life is getting tougher, ma broo.. Quarter life crisis.. Hayyah, banyak excuse padahal aslinya emang anak malas. Hehe..

Namun yawda lah ya, tiba waktunya untuk me-reset kembali. Bismillah.

Actually, selama 16 bulan “menghilang”, banyak sekali suka dan duka. Many things changed. Tapi alhamdulillah semuanya dalam tingkat di mana saya tidak bisa melakukan hal lain selain bersyukur.

I’m married!! 

Yes, sudah 6 bulan saya mengarungi hidup baru bersama the beautiful, special woman of my dream. My special one yang -duh, susah diungkapin dengan kata-kata, ga akan muat dalam satu postingan apalagi postingan setelah lama vakum -_-“” (dibikin serial aja kali ya untuk ngenalin Si Dia)

Oh, saya juga sudah paling ke Indonesia tercinta setelah berpetualang dua tahun di negeri Oranye. Sekarang udah gampang cari rendang, udah gampang cari gorengan, pokoknya makanan enak semua (pantes saya gemukan yah). Alhamdulillah

Sekian dulu ya. Bismillah semoga konkret ga wacana lagi untuk update blog. Saya Mushofi, salam kenal buat yang belum kenal, dan buat pembaca setia (kayak ada aja) I’m back!! 🙂

Niat ke Lake Como, Nyasar di Bergamo

Nyasar di tempat yang baru pertama kali dikunjungi adalah hal yang wajar. Berkesan bahkan. Hanya saja alasan di balik nyasarnya ini yang seringkali bikin kesel. Agenda yang udah direncanain bisa geser gara-gara tingkah konyol yang berujung pada ketersesatan. Di cerita ini, saya bakal cerita pengalaman unik nyasar di negeri orang. Lebih tepatnya waktu jalan-jalan di Italia. Gimana tuh nyasarnya?

**

Milano Centrale, 14.00 waktu setempat

Touchdown juga di stasiun utama kota Milan, selepas puas dari stadion San Siro, markas besar klub bola kebanggaan saya, AC Milan. Saking asyiknya menjelajahi stadion impian yang perjuangan ke sananya butuh seperempat abad usaha itu (wkwk lebaaay.. cem begitu lahir ceprot udah jadi Milanisti aja), saya sampai lupa kalau melewatkan jam makan siang dan jadwal ke Lake Como.

Jalan-jalan sendiri bikin jadwal jelas lebih fleksibel sih, tapi kondisi winter (matahari sebelum jam 5 sore udah tenggelam) membuat saya harusnya cukup strict dengan agenda. Biasaa banci foto hasil jepretan kamera bakal menurun drastis kalau udah temaram ga ada matahari. Lake Como sendiri saya agendakan karena tempting dengan taglinenya sebagai danau terindah di Italia, tempat refreshingnya pesohor cem George Clooney, Madonna, Ronaldinho dan Richard Branson, serta penampakannya di google yang seperti ini (gambar dicomot dari findyouritaly.com):

lake como

Menarik sekali bukan?

Liat sejenak jadwal keberangkatan kereta ke Lake Como. Di board terpampang: 14.10.

Beuh 10 menit lagi. Di saat bersamaan kriuk kriuk, perut meronta minta diisi karena dari pagi belum makan. Duh gimana nii.. Kalau makan dulu dan mesti nunggu jadwal kereta selanjutnya, bisa-bisa sampai Lake Como udah gelap ntar. Tapi kalau engga makan dulu, laper. Hmmmm..

Menit 1-2. Berkutat dengan hmmm

Menit 3-6. Ah lama! Impulsif langsung beli tiket dari vending machine. Saking buru-burunya bahkan tanpa mengubah bahasa dari Itali ke Inggris. Emang bisa? Yah, balada orang kepepet tiba-tiba jadi bisaa.. wkwk..

Menit 7-8. Lari menuju gerbang masuk peron, cek tiket sama petugas gerbang

Menit 9. Eh! keretanya di peron mana tadi? Liat di tiket. Aih, kereta regional ga ada tulisan peron. Inget tadi di board jam 14.10, ga pake lama langsung lari ke nomer peron yang terjadwal 14.10. Kalau bentuk keretanya bukan streamline khas kereta cepat antarkota, berarti udah bener.

Menit 10. Masuk kereta tepat sebelum jalan! Yeay! Hahaha *tawa penuh kemenangan*

Jukijakijukijakijuk.. Kereta berangkat…

**

Di dalam sebuah kereta regional. 14.45 waktu setempat

Tiga menit lagi sebelum sampai di Como San Giovanni, stasiun tujuan untuk ke Lake Como. Tapi ada yang aneh di sini. Hmm.. kok dari tadi belum ada tanda-tanda ada danau ya? Waduk Gajahmungkur di Wonogiri aja dari jauh udah keliatan, masa ini danau terbesar ketiga di Itali ga keliatan dari jauh?

Refleks segera aktifkan GPS untuk cek lokasi. Belum sempat berpikir lebih jauh, kereta sudah mulai menurunkan lajunya. GPS udah berhasil mendeteksi lokasi, papan stasiun sudah terlihat, dan jam menunjuk on time 14.48 saat saya menyadari bahwa posisi saya saat itu ternyata di..

BERGAMO!

For those who wonder:

milano bergamo

Jadi hampir satu jam lamanya saya sudah berada di kereta yang salah! Salah arah ga kira-kira. Warbyasa -__-

**

Bergamo, 15.00

bergamo

Apa yang teman-teman lakukan kalau sedang seorang diri nyasar di tempat antah berantah?

Common sense pertama adalah jangan panik. Stay cool. Yang kedua, ya udah sih ditinggal makan aja, ga usah dipikirin. Lha wong emang lapaar. Ingatlah kata orang bijak: Kalau lapar, makan! Perut dibiarin kosong jadi nyasar kaan.. hehe. Ketiga, rada bunglon. Sok cool sama orang sekitar (jangan keliatan seperti orang bingung dan panik, diincer pencopet ntar), tapi berlagak naif kalau sama petugas (misal tadi sampai dicek kondektur kereta, bilang aja waah salah kereta ya pak, baru tau, mohon maklum dong saya turis *pasang muka melas biar ga didenda*). Wkwk..

Setelah perut terisi, fisik sudah pulang. Saatnya untuk pulang lagi ke Milan. Di sinilah sisi impulsif saya kembali mengusik. Ga kapok udah nyasar, belum sampai Milan saya impulsif lagi turun dari kereta di stasiun Monza. Masi kepikiran Lake Comooo..  Hmm tanpa tahu sebelumnya ada engga kereta dari stasiun ini ke Lake Como dari Monza 😀

**

Lake Como, 17.10

lake como

DSCN4097

Ternyata kalau udah punya tujuan, saya akan tetap ke sana. Walau harus dengan nyasar dulu. Hehe. Salaaam dari Lake Como dalam temaram 🙂