Diposkan pada embun

Selamat Hari Pahlawan 2015


Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2015!! Terima kasih para pahlawan negeriku yang sudah sekuat jiwa raga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tercinta. Semoga kita generasi penerus bisa mengisi kemerdekaan dengan banyak hal positif ya 🙂

Dalam post ini saya mau berbagi cerita yang cukup menarik untuk disimak, karena narasumbernya spesial. RM Soedijono. Siapa beliau? Wew, sangat spesial lho. Gimana engga, beliau merupakan sedikit dari pejuang kemerdekaan tanah air (ya, di jaman perjuangan 45 dulu) yang masih sehat walafiat dan bisa bercerita panjang lebar penuh semangat di usianya yang sudah menginjak 85 tahun.

Bagaimana kisah beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga tanah air ini merdeka 1945 lalu? Bagaimana mempertahankannya? Dan bagaimana pula wejangan beliau untuk kita sebagai generasi penerus?

Simak hasil wawancara eksklusif pada beliau yang saya lakukan sebagai penerima beasiswa LPDP, sebelum berangkat menuntut ilmu di Belanda di link berikut (maaf, masi nyari cara ni buat menampilkan PDF ke blog wordpress yang free.. huhu) :

PK-14 Kunjungan Pelaku Sejarah Kemerdekaan Indonesia

https://www.scribd.com/embeds/289241178/content?start_page=1&view_mode=scroll&show_recommendations=true
**

Bagaimana? Cukup inspiratifkah?

Sekali lagi selamat hari pahlawan 2015!

Semangat menjadi “pahlawan” untuk diri sendiri, untuk orang yang kita sayangi, untuk tanah air yang kita cintai.. dan jangan lupakan jasa beliau-beliau yang di masa lalu sudah berjuang melapangkan jalan kita untuk menjadi “pahlawan” di masa depan 🙂

Iklan
Diposkan pada embun

Aklimatisasi


Yak berawal dari beberapa link yang berseliweran di dunia maya tentang film Everest (rilis akhir September 2015 kemarin), saya jadi cukup banyak baca tentang pendakian Gunung Everest, sang gunung tertinggi di dunia (8848 meter, wew). Sangat menarik emang mengikuti perjalanan orang-orang yang antusias akan penaklukan. Bukan dan tentu saja bukan untuk kita men-copy paste langkah mereka di jalan yang kita tempuh. We have our own path. Tapi ada banyak hal prinsip baik yang bisa diambil pelajaran untuk menguatkan tekad kita. Ini salah satunya,

conquer everest

Sir Edmund Hillary, pendaki asal Selandia Baru, tercatat sebagai manusia pertama yang mencapai puncak Everest (di tahun 1953! bayangin taun segitu bantuan teknologi masih minim banget). Berhasil dalam percobaan pertama? Ngarep apaaa.. This is Everest! Tapi Sir Edmund bilang gini,

I will come again and conquer you because as a mountain you can’t grow. But as human, I can

Menarik, bukan?

Parahnya karena kebanyakan baca link tentang pendakian Everest, saya ga sengaja baca 1996 Everest Disaster yang ternyata jadi kisah yang diangkat dalam film “Everest”. Sedikit banyak ter-spoiler karena tau mana tokoh yang bakal mati dan mana yang survive, padahal belum nonton filmnya. Arghhh….

Aklimatisasi

Oh, kembali ke judul. Aklimatisasi. Apa itu? Proses penyesuaian diri individu terhadap kondisi lingkungan baru yang beda dengan “habitat” asalnya. Mirip dengan adaptasi? Emang hampir sama sih, tapi adaptasi lebih ke penyesuaian untuk kelangsungan hidup individu di habitat tertentu, prosesnya cenderung lebih panjang (CMIIW). Baca Selengkapnya

Diposkan pada embun, periodic diary

Whenever you say “better”


Hari ini saya mendapat “tamparan” dari satu mata kuliah. Tugas pertama yang diberikan pak dosen minggu lalu diberikan feedbacknya secara detail dan menohok. Nilai pun sudah dibagikan dengan rataan yang cukup sadis. Nilai saya? Hmm.. nilai terburuk yang pernah saya terima selama di sini.. and no excuses, I deserve that wkwk…

Tapi alhamdulillah. Sangat appreciate kepada dosen yang gamblang memberikan feedback, terang-terangan mengomentari letak kesalahan. Serunya belajar emang di situ rasanya, antara rasa kecewa disadarkan “kita emang ga seahli itu” dengan rasa bahagia “kita tahu mana yang bisa diperbaiki” 😀

Salah satu hal paling berkesan yang saya dapat dari feedback tersebut adalah:

Whenever you want to say “better”. STOP YOURSELF. And try to make MORE CONCRETE what you mean

Hahaha, ga di kehidupan nyata, ga pas ngerjain tugas, saya (atau Anda jugakah?) seringkali punya tendensi untuk bilang “lebih baik”.

Mengajukan research question dengan keyakinan kalau jawaban dari riset itu akan memberi dampak yang lebih baik. Bilang punya metode riset yang lebih baik. Ada rasa ingin meyakinkan sang dosen bahwa pekerjaan kita worth it dengan pilihan kata itu: “Better”. Well, semua orang ingin punya dampak, ingin merasa berguna, tapi sering ga pas dalam menyampaikan..

Apakah itu kata yang bisa diterima? Kalau mau jujur, kata “better” itu sangat subjektif, lebih baik dari sudut pandang siapa? Asumtif. Perlu diakui, ada unsur sekedar convincing ke diri sendiri dan orang lain, menenangkan pikiran saja. Dan kalau mau lebih jujur lagi, yang bilang “better” biasanya juga ga yakin lebih baik dari sisi apa.

Benar kata pak dosen, kapanpun kita pengen bilang “better”, STOP. Tahan dulu dari nulis atau ngomong seperti itu. Bilang dengan lebih konkret, semisal performa sama tapi app size lebih kecil (berarti lebih efisien). Hal tersebut measurable, dan karenanya motivasi untuk riset jadi lebih tinggi. Ada patokan soalnya.

Saya jadi baper juga kebawa refleksi sudah berapa ribu atau berapa juta kali bergumam “saya akan menjadi pribadi yang lebih baik hari ini”, dan iya sih niat seperti itu never ever memberi pengaruh untuk berubah. Klise.

So, kita ingin jadi orang yang lebih baik? STOP THAT.

Bukan stop niatnya untuk berbenah, tapi ganti kalimatnya hehehe. Baik itu seperti apa? Apa parameternya? Selama kita baru bisa bilang “akan lebih baik”, kita belum benar-benar bergerak jadi lebih baik. *ahaha self reflection banget*

Bismillah semoga kita lebih konkret. Amiiin 🙂

Diposkan pada embun

“Seninya Di Situ!”


Judul di atas merupakan kata-kata trademark teman SMA saya yang selalu ternginang dalam benak kala saya mencoba untuk menghasilkan sebuah karya yang berhubungan dengan seni. Sebenarnya frase judul tersebut adalah lelucon kami pas kurang bisa membuat hal identik dengan keindahan. Alih-alih menangkis pertanyaan “Ini karya apaan sih? Kok ga berasa ada unsur seninya?”, kami pun (lebih spesialnya, kawan saya lah yang akan memandu jawaban kompak, “Ya seninya di situ!”

Seni untuk tidak menghadirkan seni 😀

**

Oh wait, sebelum pembahasan jadi panjang lebar, definisi seni yang saya maksud di sini terbatas dalam “hal-hal yang indah untuk dinikmati” plus berhubungan dengan apa yang kita dapat di bangku sekolah (seni musik, seni tari, seni lukis, seni sastra, seni audio visual). Kalau ternyata definisi seni ternyata jauh lebih sakral dan bermakna, ya maaf di luar konteks tulisan ini untuk membahas itu.

Well, entah kenapa dari dulu saya tidak pernah berkarib dengan yang namanya SENI. Baik minat maupun bakat. Saat mencoba berkarya selalu aja ga semangat (ga tertarik sih), dan begitu hasilnya jadi.. wow…

kurang bagus ya? (aih, frase sopan)

jelek? (hmmm…)

jelek banget pasti ya? (buset, frontal)

Apa yaa.. kalau istilah saya sih, level karya seni saya itu “close to nothingness”. Hahahahaha…

Dan berikut saya ungkap aib fakta track record superabsurdnya saya dalam membuat hal yang konon berseni:

Seni Lukis/ Rupa/ Gambar

  • Semasa SD tiap jam kesenian dan commandnya “menggambar bebas” maka saya akan menggambar mainstream: dua gunung, tengahnya ada matahari, di atas ada awan dan burung berbentuk M, di samping ada pohon kelapa, dan di bawah ada rumah dan jalan melengkung (kurang mainstream apa coba?). Itu pun maksimal dapat nilai 7
  • Masih di ranah SD, kalau commandnya “menggambar bebas kecuali pemandangan/gunung” (damn, I hate this command!), saya bakal bingung selama 30 menit lalu mulai menggambar logo AC Milan! Ya, happened everytime. Kayaknya belum pernah logo AC Milan saya dapat nilai 😀
  • Saat SMA, saya kena remidi menggambar! Hello, menggambar aja remidi? Iya, ga usah surprised juga kali. Ane gitu. Karena pesimis gambar selanjutnya pasti ga jauh beda, desperately saya minta teman saya yang jago gambar untuk membantu, saya tinggal bubuhin nama (paraaah…)

Baca Selengkapnya

Diposkan pada embun, islami

Lupa Tombo


Ah, iyaaa… lantunan lirik yang mengalun dari laptop tetangga kos seketika menyadarkan. Eta pisan!

Saya sudah lupa kalau “tombo ati” itu ada.. Ada 5 perkaranya…

Yang pertama, Baca Quran dan maknanya

Yang kedua, Sholat malam dirikanlah

Yang ketiga, Berkumpullah dengan orang sholeh

Yang keempat, perbanyaklah berpuasa

Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah

Udah dari zaman Sunan Bonang, Emha, Opick dan sekarang udah 2014, masi lupa aja ya..

Image

Baca Quran kalau sempet aja, itu pun formalitas tanpa baca makna. Sholat lail tunai, habis Liga Champions usai. Jemet menjalani hari dipendem sendiri hampir ga pernah ikut kajian rohani. Puasa sehari, kulineran seminggu. Dzikir malam boro-boro. Duh!

Kata Mario Teguh hati bisa terobati dengan keikhlasan dan rasa syukur. Tapi hidup ga semudah kata Mario Teguh kan ya.

Lima hal di atas merupakan beberapa tuntunan untuk ikhlas, kelimanya sepenuhnya merupakan amalan yang berhikmat dari lubuk hati. Maka terekor dengan kalimat

Moga-moga, Gusti Allah mencukupi

Semoga Allah SWT memberi barokah. Karena barangkali kita (dan hanya hati masing-masing yang tahu) mengamalkan lima perkara obat hati tadi ala kadarnya.

Kita hidup di dunia yang sungguh tak mudah. Sayatan-sayatan kerasnya meninggalkan banyak luka (ciee). Perih. Eh, serius deh. Saya aja sampai berniat mencari tujuh bola dragon ball atau mengambil kantong ajaib doraemon, untuk membuat segalanya ringan #lah

Pun tiba waktu di mana goresan itu mengenai hati, saya akan sebisa mungkin mengamalkan “5 obat hati” yang sering sekali saya lupakan tersebut.

Ah, HATI…

Diposkan pada embun, periodic diary

Jalanan Jakarta dan Kehidupan


Sudah lebih dari satu tahun saya menjalani kehidupan di Ibukota Ibu pertiwi (ibunya ibu, nenek dong ya). Jakarta. Kota rasa provinsi yang sungguh padat luar biasa. Segala bentuk tumpah ruah aktivitas menumpuk di metropolitan dan metropolutan terbesar di Asia Tenggara ini.

Lebih dari 10 juta orang berjejalan. Dengan beragam kendaraan. Dari yang pilih jalan sampai pilih naik sedan. Dari dedengkot yang masih menjadikan bajaj sebagai andalan sampai antek perkeretaapian. Pun busway yang tak kunjung jadi idaman. Dijamin ga bakal nyaman begitu harus masuk ke jalanan.

Namanya juga perjuangan.

**

Saya ga pernah membayangkan sebelumnya kalau sepeda motor itu bisa terjebak dalam kemacetan. Selama menjalani masa sekolah di Solo, kata “macet” tidak pernah jadi perbincangan, karena jalan lebar dan trafik yang datar-datar saja. Masuk di Bandung, trafik lebih padat dengan jalanan yang relatif sempit, inipun tak begitu masalah bagi biker seperti saya, masih bisa zig zag. Karenanya saya pede membawa sepeda motor Karisma X biru -yang sudah menemani saya sejak masuk SMA- ke Jakarta. Walaupun Jakarta identik dengan macet, sepeda motor ga bakal kena laaah…. tinggal selap selip. Uhuy!

Sebuah asumsi awal yang brilian sekali tingkat kesalahannya..

Baru hari pertama mencoba kepadatan jalanan ibukota.. dan.. beuh!!

ilustrasi-kemacetan-di-jakarta

(foto diambil dari :uniqpost.com)

IKI OPOOO…. Baca Selengkapnya

Diposkan pada embun, islami

Persiapan Ramadhan: Bandung, Dari Masjid ke Masjid


Tak terasa sang waktu telah bergulir sedemikian cepat sehingga kurang dari seminggu lagi Ramadhan 1434 H akan hadir memeluk kita yaa. Sudah seberapa siapkah kita menyambut Ramadhan? Atau berasa kok masih monoton gitu-gitu aja? Pertanyaan retoris pertama lebih sering kita dengar, tapi retorika kedua lebih sering kita rasakan. Naudzubillahi min dzalik.

Empat hal yang menyingkap akhlaq; perjalanan, penjara, sakit, & pertengkaran

Mari sama-sama menghayati quote Arab yang sangat mengena di atas, kawan. Allah Yang Maha Penyayang senantiasa mengajarkan kepada kita mengenai hal yang baik dan buruk, berolehlah kita karunia megah bernama akal, kalaupun itu tak cukup Allah menghadirkan hamba-Nya yang mulia, yang teguh di bumi menyampaikan ayat-ayat-Nya hingga menyentuh hati dan pikiran kita.

Sayangnya hal itu tak sering kita sadari. Ego kita membawa kesombongan sehingga jarang untuk belajar dan diajar. Bukannya tidak tersentuh tapi memang memilih untuk berbanyak keluh sampai berpeluh. Tak sering kita sadari, kecuali saat kita dihadapkan 4 hal di atas: perjalanan, penjara, sakit, dan pertengkaran.

Kita jadi lebih banyak bermuhasabah diri saat ditimpa sakit. Rasanya ingin membakar setiap kesombongan diri semasa sehat, merasa paling gagah. Selepas kita terlibat debat dan pertengkaran, ngotot sembur sana sembur sini, sering juga lhoo kemudian sadar apa yang kita bilang dan kita lakukan itu penuh sia-sia. Pun bayangkan kita berada dalam penjara. Terasing, terkungkung, teraniaya, ruangan yang sempit. Semoga kita dijauhkan dari itu.

Bila boleh memilih dari keempat penyingkap akhlak itu, bolehlah saya memilih melewati banyak perjalanan. Saya merasa tiap melalui perjalanan, baik perantauan yang menggelisahkan ataupun petualangan yang mengesankan, berasa lebih mengenal siapa diri kita sebenarnya. Selalu banyak hikmah, selalu banyak cerita. Selalu penuh tantangan, selalu penuh kenangan. Satu-satunya yang bisa dilalui tanpa banyak “derita”, bukankah begitu?

Maka di antara perjalanan yang paling indah bagi umat Muslim, tak lain adalah dari masjid ke masjid. Dari cahaya yang satu ke cahaya yang lainnya nan menyejukkan dan menenangkan. Beroleh ilmu yang bermakna, baik duniawi maupun surgawi.

Dan kawan.. sebagai persiapan kita bersama menyambut Ramadhan 1434 H ini, izinkan lagi saya menimba postingan-postingan saya 2 tahun lalu, saat menjalani perjalanan dari masjid ke masjid di Bandung, tarawih Ramadhan keliling. Kawanmu yang fakir ilmu ini sempat merasakan sholat di Masjid Besar seantero Bandung, mulai dari Salman, Darut Tauhid, Masjid Agung Bandung, Al Ukhuwwah, Masjid tertua (Mungsolkanas), dsb. Mendengarkan materi kajian yang oke punya, disampaikan khotib-khotib yang baik tuturnya lagi masyhur namanya. Ada cerita tentang masjidnya juga lhoo..

Yuph, inilah oleh-olehnya… tinggal klik ke link di bawah ini 🙂

format : Masjid (khotib), topik khutbah   

  1. Masjid Salman (Syarief Hidayat), khutbah Rasulullah menyambut Ramadhan
  2. Masjid Raya Cipaganti (khotib), QS Al Baqoroh 183
  3. Masjid Salman (Agung Harsoyo), 5 elemen kebahagiaan
  4. Al Ukhuwah Wastukencana (Mu’alim), Al Kautsar
  5. Masjid Salman (Syarif Basyir), QS Al Baqoroh 172
  6. Masjid Istiqomah (khotib), frase Rahmat Allah SWT
  7. Masjid Salman (Aam Amiruddin), 4 hal pokok mengenai hidup
  8. Masjid Salman (Hatta Radjasa), semangat Ramadhan utk percepatan pembangunan ekonomi
  9. Masjid Salman (Athian Ali), QS Al Hujurat 14-15
  10. Daarut Tauhid (khotib), usaha mencapai taqwa
  11. Masjid Agung Bandung (khotib), hakekat shaum
  12. Masjid Salman (Agung), 7 habits
  13. Masjid Al Ukhuwwah (khotib), ciri-ciri taqwa
  14. Masjid Salman (Abdulhakim Alim), 3 kesimpulan dan 3 tuntutan
  15. Masjid Pusdai (khotib), parameter kemuliaan manusia
  16. Masjid Al Irsyad Padalarang (khotib), bahasa cinta Allah
  17. Masjid Salman (Yazid Bindar), 4 bagian yg bisa dikejar terkait rezeki
  18. Masjid Mungsolkanas — masjid tertua di Bandung, no khutbah
  19. Masjid Salman (Akhmasj Rahman), perbaikan diri dan sentuhan ibadah
  20. Masjid Salman (Samsul Basaruddin), spektrum bathin dan pergolakan qalbu
  21. Masjid Salman (Samsul Basaruddin), spektrum bathin dan pergolakan qalbu
  22. Masjid Darud’Dawah (khotib), rel AlQuran dan Sunnah
  23. Masjid Darul Hikam (khotib), menyempurnakan shaum
  24. Masjid Salman (Asep Zaenal Ausop), nikmat terselip nan bermanfaat dalam shaum

*beberapa saya ga tau nama khotibnya..hehe..

Semoga sama-sama bisa mengambil hikmah dan pelajaran yaa.. Mari persiapkan Ramadhan sebaik mungkin.

Semoga saya bisa tarawih keliling di Jakarta untuk tahun ini dan banyak sharing lagi. Hehehe..

Bismillah 🙂