Arsip Kategori: islami

tulisan surgawi, islami

Jejak Umroh: Pagi Eksotis Payung Nabawi

Pagi hari yang indah. Begitulah yang saya rasakan hari itu..

Berangkat dari hotel jam 3.30 dini hari, Raudhah ternyata tidak saya dapat kala itu. Alhamdulillahnya.. saya dapat ganti merasakan sholat di shof pertama Masjid Nabawi. Mendengarkan, mengikuti, dan mengamini sang imam dari jarak yang sangat dekat. subhanallah..

Selepas Subuh, saya menangguhkan diri untuk tetap di situ. Bertilawah melantunkan ayat ayat suci AlQur’an. Setidaknya sampai waktu dhuha datang. Sholat dhuha, baru deh pulang ke hotel untuk sarapan. Karena batal wudhu, saya keluar sebentar (toilet dan kamar mandi berada di bangunan yang terpisah dari masjid tentunya). Dan beginilah yang saya dapati saat keluar masjid…

nabawi sunrise

Matahari hari pagi yang mulai naik memancarkan aura merahnya nan indah…

payung nabawi

Payung Masjid Nabawi berteknologi tinggi itu mulai bergerak membuka diri… bersamaan dengan terbitnya mentari.. eksotis! Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Mesir, Madagascar dalam Balada Pemburu Raudhah

Bertamasya ke taman surga. Mengunjungi tempat penuh cahaya untuk jiwa. Tanpa perlu membawa tikar sendiri, sudah disediakan karpet hijau nan nyaman. Tanpa harus membawa bekal sendiri, ada yang secara berkala memberikan air zam zam dan kurma. Tanpa harus mengeluarkan tambahan biaya, kita dipersilakan bermunajat menyampaikan semua yang kita pinta.

Bertamasya ke taman surga. Aih, frase yang tanpa harus dideskripsikan juga semua orang akan sangat tertarik. Begitulah kiranya mengapa Raudhah selalu padat 24 jam nonstop. Penuh oleh pemburu yang telah masuk area maupun pemburu yang antri mendapat “tiket” masuk taman surga. Selalu dan akan selalu.

Nah, tersebutlah seorang pemuda yang hobi tamasya. Yang bermimpi mengunjungi tempat-tempat indah di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali taman surga ini tentunya. Mau berapa pun lautan manusia, dengan semangat empat lima, pasti bisa masuk lah yaa…

Percobaan pertama, dengan semangat menggebu-gebu, sang pemuda bergerak dari pintu Raja Fahd yang notabene shof paling belakang menuju shof sedepan mungkin. Belum sampai di arsitektur utama bangunan Utsmaniyyah tempat Raudhah berada, eh ada kain tebal pembatas. Mau nerobos? Ga mungkin bisa. Ada petugas (askar)nya. Mau coba dari samping, eh malah lebih ga bisa lagi (pembatas emang paling sering dibuka kalau lewat belakang, pembatas samping hampir tidak pernah dibuka). Dari sini sang pemburu belajar satu hal, limitation yang lebih besar dari perkiraan. Awalnya kirain hanya area 26 x 15 meter Raudhah saja yang diberi pembatas. Ternyata…  Hmm,, selalu aja ga nyadar kalau tiap besarnya keinginan kita, di depan bakal ada batasan-batasan yang harus diakali.

Well, oke deh.. hal paling dasar dalam mengatasi batasan: “datang lebih awal”

Pelajaran mengenai timing tsb membuat sang pemburu yang sebelumnya datang 30 menit sampai 1 jam sebelum adzan, ini datang 2-3 jam lebih awal. Lebih tepatnya, jeda antar sholat fardhu ga usah pulang ke hotel dulu.  Stay di masjid, ancang-ancang perburuan “tiket tamasya” lebih awal. Berhasilkah? Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Raudhah, Taman Surga

Di dalam luar biasa indahnya Masjid Nabawi, terdapat tempat yang memiliki keutamaan lebih. Tempat yang sangat mulia itu merupakan tempat Rasulullah SAW beribadah, memimpin sholat, menerima wahyu, teriring pula tentunya ibadah para sahabat nan sholeh. Nama lokasi itu, yuph, sesuai yang sudah sering kita dengar: Raudhah.

Di antara rumahku dan mimbarku terletak sebuah raudhah (taman) dari taman-taman surga. Mimbarku ada di atas telagaku (HR Abu Hurairah RA)

Wii.. taman.. telaga…TAMAN SURGA lagi…

berarti di bawahnya ada sungai yang mengalir dari susu dan madu ya? Enggak, itu keadaan di akhirat ntar..

berarti di dalamnya banyak bidadari bidadari cantik? Sstt.. kepikirannya bidadari mulu sih. Jomblo ya? #eh

Kawanku, taman surga di sini bukan berarti sesuai deskripsi surga dalam AlQuran yang dijanjikan Allah sebagai balasan kebaikan di akhirat nanti. Tapi merupakan taman yang mulia, di mana beribadah di dalamnya menghadirkan rasa khusyu mendalam, tiap doa yang dipanjatkan di dalamnya sangat mudah diijabahi. Sebagaimana taman yang selalu memberi rasa tenang dan rasa segar, ketenangan dan kesegaran yang didapat di Raudhah ini pada level yang membuat kita tak banyak menunda untuk berkata, “ya, ini taman surga” 🙂 Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Cahaya Jiwa di Masjid Nabawi

Gerimis hampir tak pernah datang di tanah Saudi. Tapi di siang itu, suasana gerimis terasa sungguh. Bukan dari langit, melainkan apa yang dirasa di hati. Deskripsi indah yang disampaikan Ustad Salim A Fillah, pembimbing umroh ini,  benar-benar menyentuh dan tanpa terasa air mata mengalir di pipi. Karena gambaran itu terkait pusat kota Madinah yang baru saja kami lihat di seberang, ya kami baru saja sampai di pusat kota Madinah kala itu. Jikalau tersebut pusat kota Madinah maka semua orang pasti paham, yang dimaksud tak lain tak bukan masjid di seberang itu, Masjid Nabawi.

Tersebutlah di hari Rasulullah baru tiba selepas hijrah dari Mekkah dengan bijak membiarkan sang unta kesayangan, Al Qashwa, untuk berjalan sekehendaknya. Tempat sang unta berhenti akan dibangunkan masjid. Akhirnya sang unta berhenti dan lokasi itulah tempat berdiri Masjid Nabawi ini. Tak lebih dari 50 x 50 meter masjid itu dibangun. Tapi sekarang, masjid yang indah dan luas telah berdiri sedemikian megah. Area sholat mencapai 135.000 m2, bukankah itu perluasan yang sangat besar?

Tersebutlah bahwa Rasulullah dan para sahabat, sholat di masjid Nabawi yang alasnya pasir, atapnya adalah langit (alias tidak beratap), kalaupun sebagian sempat beratap, itu dari daun kurma. Tiangnya dari batang kurma. Listrik boro-boro ada di zaman itu, sehingga tanpa penerangan di malam hari. Sekarang, jangan tanya soal interior masjid. Kilauan tiang penyangga dan lampu berhiaskan marmer dan emas di dalam masjid serta lampu besar di pelataran masjid yang tak kalah terang membuat masjid ini secara fisik sangat-sangat bercahaya. Bukankah itu peningkatan yang sangat besar?

Tersebutlah bahwa Rasulullah memimpin sholat dengan jamaah umat muslim yang masih dalam bilangan ratusan. Sekarang, jutaan orang dari seantero dunia berbondong-bondong sholat di masjid ini setiap harinya. Bukankah itu peningkatan yang sangat besar?

Bahwa Islam yang besar, yang luas, yang bercahaya, yang merupakan rahmat bagi semesta alam, mendapatkan titik balik menuju kejayaan diawali dari Masjid Nabawi ini. Masjid sederhana yang tiap harinya berkumandang adzan merdu Bilal bin Rabah, lantunan ayat Rasulullah memimpin sholat dan tentunya tilawah para sahabat. Di Masjid ini. Di masjid ini. Subhanallah

*menulis sambil membayangkan saat pertama banget saya melihat Nabawi langsung dengan mata kepala sendiri, air mata menetes kembali*

Kalau udah begini, saatnya mentadaburi AlQuran surat 110. surat apakah itu? Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Ketika Hawa Gurun Mendekap

Angin bertiup lembut mengelus wajah saya di bawah langit Madinah. Biasanya angin yang berhembus membawa kesejukan yang memanjakan, tapi di negeri berhawa gurun ini, anginnya justru bikin tambah panas. Rasanya normal jika mengharapkan hotel (yang ber-AC) dan masjid Nabawi  (yang lebih ber-AC lagi) itu ga berjarak, biar segeer ga terlingkupi hawa yang bahkan jauh lebih panas dari panas kemacetan dan polusi Jakarta. Karena sampai di Jeddah di pagi hari, lalu segera masuk bus ber-AC, hawa gurun sebenarnya baru saya nikmati di kota Al Madinah ini.

Tapi kali ini, saya justru lebih bahagia ada cukup jarak (sekitar 100 meter) antara hotel dan masjid. Karena setiap langkah kanan menambah pahala, tiap langkah kaki kiri menghapus dosa? Bukan bukan, bukan itu. Bukankah jauh atau dekat, pahala atau dosa, yang terpenting adalah ridho Allah? 😉

Lalu kenapa donk hawa gurun yang mendekap ini pantas dinikmati? Kenapa hayo?

Sederhana saja, saya ingin keliling dunia! Maka dari itu, saya harus siap dengan cuaca tipe apapun. Dimulai dari cuaca tropis nan hangat di tanah air tercinta, semoga ntar bisa menikmati cuaca 4 musim di Eropa, Asia Timur, dan Australia. Hawa dingin nan menusuk tulang khas negeri sebelah kutub cem Rusia. Pun hawa gurun nan panas khas Timur Tengah dan Afrika. Harus siap dengan semua itu. Nah, inilah “tantangan” pertama saya di luar cuaca tropis kita: hawa gurun.

Okee, hirup udara AC hotel sejenak lalu bersiap melangkah. 5 meter pertama masih terteduhi bagian bangunan hotel. Baru setelah itu sinar matahari mengelus bebas ke kepala, mengingat saya tidak memakai helm peci. Satu langkah lagi, hap. Baca Selengkapnya

Persiapan Ramadhan: Bandung, Dari Masjid ke Masjid

Tak terasa sang waktu telah bergulir sedemikian cepat sehingga kurang dari seminggu lagi Ramadhan 1434 H akan hadir memeluk kita yaa. Sudah seberapa siapkah kita menyambut Ramadhan? Atau berasa kok masih monoton gitu-gitu aja? Pertanyaan retoris pertama lebih sering kita dengar, tapi retorika kedua lebih sering kita rasakan. Naudzubillahi min dzalik.

Empat hal yang menyingkap akhlaq; perjalanan, penjara, sakit, & pertengkaran

Mari sama-sama menghayati quote Arab yang sangat mengena di atas, kawan. Allah Yang Maha Penyayang senantiasa mengajarkan kepada kita mengenai hal yang baik dan buruk, berolehlah kita karunia megah bernama akal, kalaupun itu tak cukup Allah menghadirkan hamba-Nya yang mulia, yang teguh di bumi menyampaikan ayat-ayat-Nya hingga menyentuh hati dan pikiran kita.

Sayangnya hal itu tak sering kita sadari. Ego kita membawa kesombongan sehingga jarang untuk belajar dan diajar. Bukannya tidak tersentuh tapi memang memilih untuk berbanyak keluh sampai berpeluh. Tak sering kita sadari, kecuali saat kita dihadapkan 4 hal di atas: perjalanan, penjara, sakit, dan pertengkaran.

Kita jadi lebih banyak bermuhasabah diri saat ditimpa sakit. Rasanya ingin membakar setiap kesombongan diri semasa sehat, merasa paling gagah. Selepas kita terlibat debat dan pertengkaran, ngotot sembur sana sembur sini, sering juga lhoo kemudian sadar apa yang kita bilang dan kita lakukan itu penuh sia-sia. Pun bayangkan kita berada dalam penjara. Terasing, terkungkung, teraniaya, ruangan yang sempit. Semoga kita dijauhkan dari itu.

Bila boleh memilih dari keempat penyingkap akhlak itu, bolehlah saya memilih melewati banyak perjalanan. Saya merasa tiap melalui perjalanan, baik perantauan yang menggelisahkan ataupun petualangan yang mengesankan, berasa lebih mengenal siapa diri kita sebenarnya. Selalu banyak hikmah, selalu banyak cerita. Selalu penuh tantangan, selalu penuh kenangan. Satu-satunya yang bisa dilalui tanpa banyak “derita”, bukankah begitu?

Maka di antara perjalanan yang paling indah bagi umat Muslim, tak lain adalah dari masjid ke masjid. Dari cahaya yang satu ke cahaya yang lainnya nan menyejukkan dan menenangkan. Beroleh ilmu yang bermakna, baik duniawi maupun surgawi.

Dan kawan.. sebagai persiapan kita bersama menyambut Ramadhan 1434 H ini, izinkan lagi saya menimba postingan-postingan saya 2 tahun lalu, saat menjalani perjalanan dari masjid ke masjid di Bandung, tarawih Ramadhan keliling. Kawanmu yang fakir ilmu ini sempat merasakan sholat di Masjid Besar seantero Bandung, mulai dari Salman, Darut Tauhid, Masjid Agung Bandung, Al Ukhuwwah, Masjid tertua (Mungsolkanas), dsb. Mendengarkan materi kajian yang oke punya, disampaikan khotib-khotib yang baik tuturnya lagi masyhur namanya. Ada cerita tentang masjidnya juga lhoo..

Yuph, inilah oleh-olehnya… tinggal klik ke link di bawah ini 🙂

format : Masjid (khotib), topik khutbah   

  1. Masjid Salman (Syarief Hidayat), khutbah Rasulullah menyambut Ramadhan
  2. Masjid Raya Cipaganti (khotib), QS Al Baqoroh 183
  3. Masjid Salman (Agung Harsoyo), 5 elemen kebahagiaan
  4. Al Ukhuwah Wastukencana (Mu’alim), Al Kautsar
  5. Masjid Salman (Syarif Basyir), QS Al Baqoroh 172
  6. Masjid Istiqomah (khotib), frase Rahmat Allah SWT
  7. Masjid Salman (Aam Amiruddin), 4 hal pokok mengenai hidup
  8. Masjid Salman (Hatta Radjasa), semangat Ramadhan utk percepatan pembangunan ekonomi
  9. Masjid Salman (Athian Ali), QS Al Hujurat 14-15
  10. Daarut Tauhid (khotib), usaha mencapai taqwa
  11. Masjid Agung Bandung (khotib), hakekat shaum
  12. Masjid Salman (Agung), 7 habits
  13. Masjid Al Ukhuwwah (khotib), ciri-ciri taqwa
  14. Masjid Salman (Abdulhakim Alim), 3 kesimpulan dan 3 tuntutan
  15. Masjid Pusdai (khotib), parameter kemuliaan manusia
  16. Masjid Al Irsyad Padalarang (khotib), bahasa cinta Allah
  17. Masjid Salman (Yazid Bindar), 4 bagian yg bisa dikejar terkait rezeki
  18. Masjid Mungsolkanas — masjid tertua di Bandung, no khutbah
  19. Masjid Salman (Akhmasj Rahman), perbaikan diri dan sentuhan ibadah
  20. Masjid Salman (Samsul Basaruddin), spektrum bathin dan pergolakan qalbu
  21. Masjid Salman (Samsul Basaruddin), spektrum bathin dan pergolakan qalbu
  22. Masjid Darud’Dawah (khotib), rel AlQuran dan Sunnah
  23. Masjid Darul Hikam (khotib), menyempurnakan shaum
  24. Masjid Salman (Asep Zaenal Ausop), nikmat terselip nan bermanfaat dalam shaum

*beberapa saya ga tau nama khotibnya..hehe..

Semoga sama-sama bisa mengambil hikmah dan pelajaran yaa.. Mari persiapkan Ramadhan sebaik mungkin.

Semoga saya bisa tarawih keliling di Jakarta untuk tahun ini dan banyak sharing lagi. Hehehe..

Bismillah 🙂

Jejak Umroh: Welcome to Al Madinah

Perjalanan panjang 450 kilometer di jalan yang mulus lagi lapang segera berakhir. Dari titik kami berada, sudah terlihat dengan jelas papan petunjuk jalan bertuliskan “Al Madinatul Munawwaroh”. Yuph, sebentar lagi kami akan memasuki the city of lights tersebut.

Kemarin udah kita bahas bersama kan asal kata kota Jeddah, sekarang yuk bahas bentar mengenai gimana nama kota ini berasal. FYI, Madinah itu artinya “kota”, jadi sebenarnya cukup rekursif menggelitik jikalau kita berucap, “saya akan pergi ke kota Madinah” karena itu sama saja dengan bilang “saya akan pergi ke kota kota”. Ahaha.. weird? So, untuk membedakan dengan kata bahasa Arab “madinah” (kota), di tanah Saudi ini Madinah selalu disebut dengan Al Madinah. Dalam bahasa Inggris, bisa lah disebut the city, awalan ‘Al’ menunjukkan pengkhususan, dan yuph the city yang dimaksud ya kota yang baru kami masuki ini, Madinah..

Ni kota awalnya bernama Yasrib, salah satu kota tertua di dunia yang didirikan generasi keturunan kelima dari Nabi Nuh AS (yang dipimpin seorang bernama Yasrib). Kota ini berkembang dengan baik sampai akhirnya terjadi pertumpahan darah di internal mereka. Kabilah Aus dan Kabilah Khazraj, atas tipu daya Yahudi, berperang secara sporadik selama 6 dekade. Saat menyadari bahwa konflik internal itu merugikan dan konyol, mereka merasa butuh seseorang yang bisa mengharmoniskan kota mereka. Pucuk dicinta ulam tiba, karena seseorang yang sangat lembut hatinya dan mulia sikapnya sedang menghadapi banyak rintangan di Mekkah. Mereka pun bersedia dibai’at atas dasar kepercayaan pada lelaki mulia tersebut, tak lain Rasulullah Muhammad SAW.

Kawan, Terlepas dari kerekursifan unik tadi, ada hikmah yang indah lhoo dari pemberian nama Madinah. Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Safari di Tanah Saudi

Pagi hari yang tenang. Bus yang saya tumpangi mulai meninggalkan Kota Nenek. Sebelum masuk kembali ke dalam bus, sempat saya rasakan hangatnya sinar mentari yang tersenyum di atas Laut Merah.

Ya, hangat. Tidak superterik sebagaimana bayangan kekhawatiran saya tentang tanah Saudi ini. Bagaimana tidak, ini tanah yang dinamai Arab, artinya “gurun yang kosong”. Tanah yang saking keringnya, ga ada sungai (beuh.. padahal di sini sungai airnya sampai bersisa, para penduduk kalang kabut tiap hujan turun sebentar saja), apalagi danau alami (yakali, emang Jakarta atau Bandung, produsen “waduk-waduk” baru tiap hujan deras datang). Tanah yang walau benderanya hijau, tapi jumlah pohonnya sangat minim. Ga ada ijo-ijonya. Sepanjang jalan adalah coklat pasir dan bebatuan, ngarep apa menemui pepohonan layaknya di negara yang konon zamrud katulistiwa.

DSC_0674

Deskripsi yang cukup membuat saya kurang puas kalau panasnya cuma sehangat kota Solo. Mana ini matahari megah yang teriknya ‘menyedot’ sumber-sumber air di tanah ini. Selayang pandang ke langit biru saat sang mentari membungkamku,

“Halah si cemen.. bersyukur dulu sana. beraninya naek bus ber-AC. Coba kalau mau naek yang ga ber-AC, atau kalau berani sono naek unta barang seratus dua ratus meter..” Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Jeddah, Dalam Pelukan Nenek

Nenek. Oma. Simbah. Eyang Putri.

Begitulah beberapa versi panggilan untuk Ibunya orang tua kita. Ada apakah dengan nenek? Hmm.. Jangan lanjutkan membaca dulu. Stop sejenak. Dan mari sama-sama membiarkan nama tersebut terdengar dan mulai merasuki pikiran. Sudah? Apa yang terpikir?

Saya menebaknya dengan cukup yakin bahwa hanya akan ada 2 hal melankoli yang akan muncul: memori masa kecil kita nan indah, serta kesedihan karena nenek sudah sedemikian tua (atau mungkin, telah tiada). Bicara masa kecil nih ye, ingat-ingat deh, siapa “pahlawan kebanggaan” kita? Cukup dimaklumi jika jawabannya adalah Satria Baja Hitam, Ultraman, atau Songoku (terutama bagi generasi 90an seperti saya). Tapi usut punya usut, pahlawan paling konkret.. paling konkret.. di masa kecil kita adalah.. ya, jika kita mengalami masa kecil yang mainstream.. benar sekali, nenek.

Merasa uang saku buat ga cukup buat beli Cheetos dan mainan karena salary cap dari ortu? Minta nenek!

Ngambek karena dimarahi ortu? Dihibur nenek! (dan ssstt.. malah ortu kita yang ditegur.. hihi)

Laper habis pulang sekolah? Dimasakin nenek! (lezaat.. pengalaman masak puluhan tahun sih..)

Begitulah balada nenek dengan segala kemurahan hatinya. Sang pahlawan masa kecil kita. Terkadang, rindu itu datang. Teringin masa lalu itu terulang. Ketentraman dalam pelukan nenek.

**

DSC_0661

Jeddah, 22 Mei 2013

Pemeriksaan imigrasi baru saja saya lalui ketika jam bandara menunjuk jam 03.40 waktu setempat. Masih sangat pagi. Begitulah enaknya perjalanan panjang yang “memotong waktu”, berasa lebih cepat. Jam 8 malam baru take off dari Jakarta, jam 3-an sudah landing di sini, di tempat yang berjarak sekurangnya perlu waktu tempuh 9 jam. Hemat 2 jam bukan?

Karena terbilang masih dini hari, suasana bandara cukup lengang. Antrian pemeriksaan paspor tidak panjang, sehingga paspor saya pun segera dapat stempel baru. Sayangnya, lolos dengan cepat bukan berarti dapat melengang dengan cepat juga. Karena tidak sampai 1 jam kemudian, paspor saya… disita dan ditahan. Baca Selengkapnya

Khutbah Ramadhan Salman: Beribadah untuk Rahmat Allah

Kembali ke kesejukan Salman.. Subhanallah.. Sungguh saya tak bisa bayangkan bagaimana jadinya menghadapi pressure test TA dan Ramadhan tanpa adanya masjid kampus yang satu ini. Aura cahaya nan menentramkan membuat hati yang gundah gulana menjadi balanced lagi..

Malam tarawih 11 Ramadhan 1433 H kemarin, kebetulan sekali khotib tarawihnya ustadz Aam Amiruddin. Pembina Yayasan Percikan Iman yang juga banyak mengisi acara dakwah di TV swasta ini selalu menyajikan materi dan penyampaian yang sangat menarik. Betah lah kalo beliau membawakan khutbah. Mantap! (oya, saya sempat menulis juga khutbah beliau di Salman Ramadhan tahun lalu, cek di sini)

**

Khutbah tarawih kali ini dibuka dengan bunyi hadits berikut:

Rasulullah SAW pernah berkata, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”  Jawab Rasulullah SAW, “Amal sholeh saya pun tidak cukup”.

Dalam bahasa Arab, kata tidak yang dipakai di hadits ini adalah “lan” bukan “lam”. Apa bedanya “lan” dan “lam”? Seperti dikemukakan pak Aam.. “lam” itu berarti tidak akan tapi sifatnya sementara. Sedangkan “lan” artinya tidak akan untuk selamanya. Dengan kata lain hadits itu memaparkan bahwa Amal sholeh kita TIDAK AKAN PERNAH membuat kita masuk surga..

Menarik bukan?

Lalu buat apa donk ya kita memenuhi perintah agama untuk berbuat baik? Berarti salah nih kalau beramal sholeh? Bakal sia-sia juga kan?

Eits, tunggu dulu. Mari kita simak lanjutan hadits di atas

Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

See? Hanya Rahmat dan kebaikan Allah SWT saja lah yang bisa membuat kita masuk surga.Amal sholeh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Misal nih misal, surga dan neraka itu ternyata tidak ada, orang yang beribadah hanya karena mengharap hadiah surga atau terhindar dari neraka pasti akan berhenti beribadah. Misal juga nih misal, bidadari surga itu juga tak ada, pada males-malesan juga donk ibadahnya. Beda halnya kalo niat kita semata karena mengharap ridho Allah.. Mau apapun nantinya yang diberikan oleh Allah SWT, kita akan terus beribadah. Syukur dan terima kasih karena kita memang cinta kepada-Nya..

Jadi, ga boleh nih ibadah untuk mengharap surga? Boleh koq..

Jadi, ga boleh nih ibadah untuk menghindari neraka? Boleh juga..

Jadi, ga boleh nih ibadah untuk mendapatkan banyak rezeki dunia? Ini juga boleh..

Tapi, itu tadi sangat basic. Paradigma tersebut mesti diupgrade jadi expert.. yang tak lain tak bukan niatnya mesti tulus mengharap ridho Allah. BERIBADAH KARENA MENGHARAP RAHMAT ALLAH. Apalagi di bulan Ramadhan ini, bulan menuju ketaqwaan. Yang punya target ibadah sunnah, shodaqoh, khatam mengaji, dll mari kita mulai sama-sama niatkan untuk diridhoi Allah SWT, bukan sekedar kejar setoran.

Nah, gimana sih agar kita bisa mendapatkan Rahmat Allah?

1. Jangan Lelah Melakukan yang Terbaik

Seringkali dalam menjalani hidup, kita merasa sudah mengerahkan segenap kemampuan tapi tetap saja hasil tak sesuai yang kita harapkan. Tapi itu bukan alasan untuk mundur beribadah. Wilayah/zona kita adalah Ikhtiar (memaksimalkan usaha), sedangkan Hasil itu sepenuhnya adalah Wilayah milik Allah SWT.  Kita acap terlambat menyadari saja kalau nikmat yang diberikan Allah sudah sedemikian banyak. Pokoknya, jangan lelah melakukan semua pekerjaan sebaik mungkin! 🙂

2. Bingkai Hidup dengan Kekuatan Doa

Dalam QS Al-Mulk ayat 1 tertulis bahwa melimpahnya keberkahan dari sisi Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kita percaya bahwa kita hanya seorang hamba yang tiada punya daya dan kekuatan selain dari-Nya.. Kita percaya bahwa Allah Maha Kuasa, Maha Pemurah, Maha Pemberi.. karena itu sudah semestinya setiap waktu dalam hidup dibingkai dengan doa-doa pada-Nya

3. Yakini bahwa Hidup hanya Sementara

Dunia ini fana. Apalagi umur kita. Sangat terbatas. Umur biologis memang sudah ditentukan Allah SWT, tapi ada umur yang lebih penting, umur yang harus kita perjuangkan. Tak lain adalah umur amal sholeh. Kita bisa saja berumur biologis 70 tahun, tapi umur amal sholeh hanya 6 bulan (baru taubat di usia 69,5 tahun). Tentu kita akan meninggalkan dunia dalam keadaan rugi. Semestinya lah kita berusaha seawal mungkin konsisten beramal sholeh, membuat prestasi sehingga meninggalkan dunia dengan cerita bagus berupa amal-amal terbaik..

**

demikian khutbah malam ini. Khotib kembali berpesan untuk mengubah paradigma beribadah kita, paradigma beramal kita.. semuanya mesti semata diniatkan untuk mengharap ridho Allah.. mendapatkan rahmat Allah.. Amiin..

Bismillahirrahmanirrahiim..