Menikmati Kereta di Belanda 1 : Sepur

Di negeri Indonesia tercinta, sebagai negara yang sempat terjajah 350 tahun oleh Belanda, cukup wajar jika ada beberapa (atau banyak?) kata yang diserap dari bahasa Belanda. Lucunya, nyadar atau kagak, kata-kata serapan tersebut sering diadaptasi sesuai lidah lokal.. Ambil contoh kata ini deh…

“Atreet.. atreet..”

Kata andalan para kenek yang sering kita dengar di terminal. Dari kata apakah itu? Achteruit! Bahasa Belanda yang berarti “mundur/ke belakang”. Inget terminal jadi inget pantura, inget pantura jadi inget goyang oplosan (dari mana konklusi ini ya? ahaha). Oplosan pun berasal dari kata Belanda oplossen yang artinya “campuran”.

Well, dari kata-kata aseli Belanda itu, ada dua kata yang slenco karena lidah orang Jawa. Keduanya berkaitan dengan moda transportasi. Apa itu? Pertama, pit. Sepeda dalam bahasa Jawa yang diambil dari kata fiets. Cerita tentang sepeda sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya. Kalo yang kedua? Tak lain sesuai judul, sepur. Lidah jawa yang seenaknya mengucap kata belanda Spoor! Padahal.. artinya beda -_-

**

Moving on is easier said that done

Gagal move on. Itulah relationship antara saya dan sepur (cem ga ada relation yang lebih bagus aja, cah bagus). Semua terjadi jauh sebelum negara api menyerang. Di tanah kelahiran saya, di sebuah desa nan permai di pulau Jawa, “sepur” itu adalah kereta api. Itu diamini oleh semua orang Jawa lainnya loh, “sepur” itu ya.. kereta api.

Nah setibanya di sini, Belanda, spoor itu entah kenapa (udah jelas-jelas sih) mengacu pada jalur (track / platformnya), bukannya sang kereta. Misal kita mau pergi dari Leiden ke Den Haag, silakan menuju spoor 8 (jalur nomor delapan). Itu gampang dimengerti, tapi in my mind ga bisa diterima. Ga bisa gitu coy. Tetap saja itu artinya “naik kereta nomor delapan”. Pokoknya, sepur = kereta, titik. *jawa garis keras* ๐Ÿ˜€

Okey, kayaknya udah kepanjangan bahas relationship saya (enek kaaan..). Yuk, kita lihat satu per satu beragam sepur (kereta api) di Belanda ๐Ÿ˜‰ Baca Selengkapnya

Paris Trip : Arc de Triomphe sampai Louvre

All Good Stories Deserve Embellishment

Merasa familiar dengan quote di atas? Bagi yang suka nonton movie The Hobbit mestinya ngeh dengan kata bijak yang diucapkan mbah Gandalf the Grey saat Bilbo Baggins ‘protes’ tentang cerita beliau yang terkesan dimodif lebih baik dari aslinya.

Tapi memang, tiap cerita yang baik (yang mengandung hikmah dan inspirasi) memang pantas untuk di-embellish. Dibubuhi sedemikian rupa jadi makin cantik dan pantas diceritakan.

Pun demikian yang dilakukan Napoleon Bonaparte, jenderal perang terbesar Perancis (arguably salah satu yang terbaik di Eropa), pada ibukota negaranya, Paris. Dibangunlah sumbu historis yang terdiri dari bangunan-bangunan penting nan cantik, untuk merayakan kemenangannya.

Sumbu yang disebut Axe Historique untuk membentang lurus tak kurang dari 5 km, dan sampai saat ini masih saja membuat warga lokal maupun para pendatang terkagum-kagum. Bagaimana tidak, sumbu itu tersusun oleh La Defense (sentra bisnis Paris), Ar de Triomphe de L’Etoile (gapura kemenangan utama), Champs Elysses (salah satu jalan paling glamour di dunia), Obelisk Luxor (didatangkan langsung dari Mesir), Arc de Triomphe du Carrousel, sampai si beken Pyramide du Louvre.

Menyusuri Axe Historique merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan di Paris selain berkunjung ke Eiffel. Saya tak mau ketinggalan menyusuri tempat-tempat itu selama di Paris. Walaupun ga semua, tapi setidaknya udah liat mayoritas. Hehe.

Gimana suasana di sana dan apa WoW effectnya? Yuk ikutan jalan-jalan ๐Ÿ™‚

Arc de Triomphe de L’Etoile

Biasa disebut “Arc de Triomphe” aja mengingat Arc yang satunya (Carrousel, yang deket Louvre) lebih kecil dan ramping, ga semegah Arc L’Etoile. Gapura kemenangan ini dibangun Napoleon untuk mengenang jasa para tentaranya. Ga heran banyak relief tentang perang-perang yang dihadapinya. Nama tempat terjadinya perang dan para pimpinan militer terukir pula di situ.

arc triomphe 1b

Saya mengunjungi Arc de Triomphe pas malam hari, saat sang gapura disoroti dengan lampu yang membuat makin gagah dan cakep klop lah sama saya. Simply karena ‘kesalahan teknis’ salah beli tiket metro yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Kebetulan pemberhentian metro dekat Arc de Triompheย  (stasiun metro Charles de Gaulle) se-line dengan penginapan saya, alhamdulillah jadi lancar deh jalan-jalan malamnya. Baca Selengkapnya

Paris Trip : Keliling Paris dengan Metro

Nasi sudah menjadi bubur. Karena bubur udah ga bisa jadi nasi lagi, yaudahlah tinggal ditaburin ayam, daun bawang dan bawang goreng. Nyam, nikmat tiada tara.

Duh, kenapa jadi bubur ayam (?)

Yuph, walau paragraf di atas terkesan menggambarkan diri saya yang kangen kuliner Indonesia, tapi intinya bukan itu. Tapi sebaris kiasan yang penuh hikmah (cieh, hikmah dari mananya). Maksudnya, sesuatu yang sudah telanjur terjadi dan ga bisa diulang lagi, yaudah ga usah disesali, tinggal cari cara untuk menikmati aja ๐Ÿ˜‰

**

Well, ceritanya dimulai dari sini :

Saya yang baru tiba di Paris via Eurolines, sok aksi nanya petugas metro dengan bahasa Prancis yang ala kadarnya (maklum, dulu les ga tamat, sekarang udah lupa pula -_-). Sepatah dua patah kata masih terucap untuk menghormati negara yang ga suka ngomong English ini, meski setelah itu tetep terpaksa bilang “Vous parlez Anglais?” (lah! podo bae). Setidaknya, tiket metro sudah di tangan. Tinggal naek metro menuju ke penginapan, lalu istirahat dengan pulas deh setelah pegel 8 jam perjalanan Amsterdam-Paris.

Nah, di sinilah nasi berubah menjadi bubur. Karena terlalu antusias (sok-sokan) ngomong Francais lagi, saya lupa kalau yang dibeli barusan itu tiket harian!

Apa yang salah dengan tiket harian?

Hmmm… Matahari sudah terbenam. Saat itu sudah hampir jam 18 (tinggal tersisa 6 jam tiketnya, itu juga kalau mau nekat jalan sampe jam 24). Habis perjalanan 8 jam yang tentu butuh istirahat. Plus sedang malam natal, which means banyak toko akan tutup lebih awal dari jadwal normal. Jelas, ide nan “brilian” untuk membeli tiket harian di saat butuhnya cuma tiket one-way (single use).

Opsi Tiket Metro Paris

Ada beragam pilihan untuk membeli tiket Metro Paris, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan jadwal jalan-jalan. Secara lebih detail, teman-teman bisa buka link metro berikut. Tapi kalau mau ringkas, saya coba runut untuk jadi pertimbangan mana yang cocok :

  • Single Use

Pas untuk traveller yang tiba di Paris saat malam tiba dan kurang bijak untuk melakukan perjalanan lain selain menuju penginapan. Atau untuk mencapai site kepulangan (bandara/stasiun/terminal) pagi hari dari tempat akomodasi.

Harga tiket sebesar โ‚ฌ1.70. Bisa jadi lebih murah jika beli 10 sekaligus (jatuhnya jadi โ‚ฌ1.37 per tiket, tapi kayaknya untuk opsi ini ga sampai butuh 10 sih)

  • Mobilis / Day Ticket

IMHO, Most recommended option for travellers.ย  Dengan tiket jenis ini, kita bisa naik metro sepuasnya sepanjang hari, termasuk untuk naik funiculaire (cable car) di Montmartre. Jadi bisa explore Paris dari pagi sampai malam, yeay ๐Ÿ™‚

Ada keuntungan lain khusus hari Sabtu dan Minggu, atau hari libur cem Maulid Nabi Hari Raya Imlek Hari Natal kemarin. Harga yang normalnya โ‚ฌ6.80 (weekday) turun jadi hanya โ‚ฌ3.75! Dengan korting segitu, keribetan kecil berupa tiap hari mesti beli tiket (ga ribet juga sih) ga berasa deh.. Hehe.. Baca Selengkapnya

Paris Trip : Eiffel dan Impian Itu

Tiada kata yang cukup untuk menggambarkan betapa indahnya hari itu, langit biru itu, angin sejuk itu, pemandangan kota itu, dan air mata bahagia yang menetes saat itu…

Jikalau sebaris kata lalu muncul, barisan itu adalah lafal “Alhamdulillahirrabbil ‘alamiin”.. Segala puji bagi Engkau, wahai Tuhan Semesta Alam..

**

Saya dan Menara Eiffel

Semua berawal dari RPUL. Di sini adakah yang tidak tahu apa itu RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap)? Kalau zaman saya SD dulu, itu buku keren banget (semoga anak SD zaman sekarang juga berpendapat sama) karena mencantumkan banyak informasi tentang Indonesia dan dunia secara ringkas. Mungkin buku pertama yang membawa saya “keliling dunia”. Nah, di lembar pertama begitu buka buku, ada 7 keajaiban dunia. Saat itu formasinya adalah : Taj Mahal, Ka’bah, Colosseum, Menara Eiffel, Menara Miring Pisa, Candi Borobudur dan Pyramid.

Maka boleh dimaklumi dong kalau acuan saya “keliling dunia” adalah 7 tempat keren tersebut. Saya, kala itu masih bocah, mulai bermimpi dan berdoa semoga suatu hari nanti pernah berkunjung ke sana. Candi Borobudur, sebagai sesama native Jawa Tengah, tentulah sudah saya kunjungi dari zaman bocah. Nah, yang enam lainnya ini yang cukup berat karena berada di negara yang berbeda, nun jauh dari Indonesia tercinta.

Kalau boleh ngurut berdasar preference, tempat yang akan saya tuju kedua (setelah Borobudur) adalah Ka’bah (mengingat saya seorang muslim, kiblatnya kan di sana) disusul oleh Eiffel. Kenapa Eiffel? Ga tau alasan spesifiknya kenapa. Bisa jadi karena saya overexcited ama sepakbola, sepakbola kiblatnya di Eropa, dan Eiffel itu ikonnya Eropa (“kiblat” pariwisata dunia bahkan).. Ahaha…

Seiring berjalannya waktu, impian dari RPUL ini kok berasa makin melekat di pikiran saya. Jujur saja, bukanlah menjadi pengusaha kaya dengan omzet miliaran atau menjadi presiden, tapi impian keliling dunia ini yang bisa menggerakkan saya.

Boleh jadi saya tidak akan tergerak jika ada orang yang mengingatkan “ayo belajar yang rajin, biar pintar, bisa jadi presiden.” Tapi saya yang sebenarnya kurang suka membaca dan belajar ini akan langsung tersentak jika kalimat ini terlintas di pikiran,

“Bagaimana kalau kemalasanmu membaca dan belajar membuatmu melewatkan kesempatan untuk ke Ka’bah? tidak pernah sekalipun melihat langsung Eiffel? dan sampai habis waktumu, semuanya hanya foto selewat dan tertutup bersama lembaran RPUL?” Oh nooo…

Eiffel dan Tapak-Tapak Impian

Ada yang bilang, total anak tangganya 1665. Ada juga yang bilang 1710 anak tangga untuk mencapai tinggi 115 meter. Tapi apa peduli saya dengan statistik. Kaki saya sudah melangkah dengan entengnya di setiap anak tangga menuju ke atas.

“Naik naik ke puncak Eiffel.. tinggi ga segitunya.. kali”

Yup! Di pagi hari nan cerah itu saya tidak sedang berada di alam mimpi. Tapi dalam realita menapaki anak tangga sebuah menara impian, La Tour Eiffel (Menara Eiffel)

naik tangga eiffel

Sejak awal saya memang sudah berniat ga akan naik lift untuk naik Eiffel. Biar ngirit? Ssst.. Frontal amat sih.. Itu salah satunya sih karena selisih harga yang hampir 10 euro (kalau umur kurang dari 26 : 4 euro doang untuk meniti tangga, kaga antri pula).. hehe.. Terlebih yang lewat tangga itu dikit (rempong mungkin ya, atau irit tenaga buat lovely place yang lain), jadi Eiffel berasa punya sendiri. Saya udah well prepared kok, karena ini Eiffel dan anak tangga itu mewakili tapak-tapak impian dalam menggapai mimpi (auwah.. udah ngaku klo ngirit, masih aja sok bijak) ๐Ÿ˜‰ Baca Selengkapnya

Travelling Murah dengan Eurolines (Amsterdam-Paris)

Bercerita lagii.. berhubung winter break telah tiba dan banyak cerita travelling yang belum sempat tertuliskan di blog! :v

Empat hari kemarin saya baru saja jalan-jalan menuju ke ibukota pariwisata dunia, Paris. Untuk beribu alasan mengapa sekali seumur hidup kita mesti pernah berkunjung ke Paris ga usah ditulis kan ya (kepanjangan, atau di lain tulisan saja.. hehe). Berhubung saya kuliah di sebuah kecamatan bernama Leiden (punten lovely Leiden, emang terlalu kecil untuk disebut ‘kota’ sih.. hihi) jadi mau tak mau harus ke kota dulu, Amsterdam atau Den Haag, sebelum memulai perjalanan ke Bandung van Prancis (kok dibalik jadi garing istilahnya ya, padahal Bandung gradenya naik dengan menyandang julukan Paris van Java :D)

Banyak cara menuju Paris, bisa dengan coach (bus untuk perjalanan jarak jauh antarnegara), kereta, atau pesawat. Link lengkap opsi transport Amsterdam-Paris bisa dibuka di link ini. Dalam tulisan ini, saya bakal review tentang salah satu opsi transport, Eurolines. Dengan opsi ini, kita bisa keliling Eropa dengan harga yang murah meriah cem cireng dan bala-bala (aduh, ga segitunya juga kali.. bikin analogi malah ketauan kangen jajanan tanah air).

Oke mari kita kupas satu per satu brand aliansi 29 co-operate coach company yang armadanya mencakup hampir seluruh Europe ini. Terlebih Amsterdam merupakan opsi paling populer untuk masuk Eropa (banyak pilihan penerbangan) dan Paris adalah opsi wisata paling masyhur di dunia, semoga catatan kecil sebuah perjalanan ini bisa membantu teman-teman ๐Ÿ™‚

Harga dan Booking

Naik Eurolines itu cocok buat traveller yang budget minded, biasanya sih mahasiswa atau backpacker yang kantongnya limited (salah satunya saya). Harganya terjangkau, apalagi kalau booking dari jauh hari (harga tiketnya fluktuatif). Apakah otomatis harganya lebih murah dari kereta dan pesawat? Belum tentu, mengingat tanggal booking, one way/PP, amal baik dan harga promo menentukan mahal atau murahnya moda transport yang bisa dipesan online. Tapi most likely, emang iya naek bus Eurolines lebih terjangkau. Normalnya, 35 euro untuk sekali jalan Amsterdam-Paris (70 euro pp). Kemarin saya dapat lumayan miring, 57 euro pp karena booking 2 minggu sebelum berangkat (kalau book sebulan sebelum bisa jadi lebih murah lagi, tapi mana sempet, banyak assignment kuliah :D).

Di balik murah dan simple nya online booking di Eurolines, bersiaplah untuk satu hal unexpected : sudah book dan bayar, tapi dialihkan ke jadwal lain dengan alasan jadwal yang kita book udah full!

Kok bisa? Yah entahlah, ada error di sistem onlinenya Eurolines sehingga calon penumpang masi bisa book walau sebenarnya kapasitas kursi udah penuh. ‘Hebat’nya, saya pernah baca review kejadian yang sama di taun 2011 dan 2012. Dengan kata lain, udah 3 taun dan kasus seperti ini belum solved. Menarik bukan? :v

Atas alasan di atas, group saya pun terpaksa berangkat dan pulang dalam 2 kloter. Alhamdulillahnya, kami dapat telpon pemberitahuan 4 hari sebelum berangkat jadi masih bisa prepare. Nah kalau kita miss info (misal kebiasaan males ngangkat telpon kalau nomer belum tersimpan di contacts), bisa-bisa berkeluh kesah komplain penuh drama di kantor Eurolines. Baca Selengkapnya

Weekend Sejenak ke Cirebon

Weekend minggu ini lumayan nice day. Setelah berbulan-bulan hanya berkutat di Jakarta dan sekitarnya, kemarin menyempatkan untuk jalan-jalan ke tempat yang jauhin dikit. Ke ujung timur Jawa Barat, kota yang masyhur disebut “kota udang“, mana tuh? yuph, manalagi kalau bukan ke Cirebooon

Sebagai perantau Jakartans yang kampung halamannya di Jawa Tengah, tentu sudah berulang kali saya ke Cirebon, tiap perjalanan mudik. Tapi ya itu, cuma nuwun sewu numpang lewat doang. Ga pernah lebih. Karenanya, sekali waktu disempatkan lah maen-maen bentar ๐Ÿ˜€

Perjalanan dari Jakarta ke Cirebon opsi jalur daratnya melimpah ruah tinggal pilih. Saya sih, as usual, prefer naek kereta. Selain lebih nyaman (dibanding bus), waktu tempuhnya juga relatif tepat. Kalau naek bus atau kendaraan pribadi? Wah begitu sampai Sumedang selamat menikmati jalanan Sumedang-Cirebon yang aduhai malesinnya (berkelak kelok, jalan rusak parah, banyak truk, banyak pengendara ngasal pula).. -_-

Seperti barusan saya bilang, opsi naek kereta itu melimpah ruah. Ada KA Cirebon Ekspress yang hampir saban 3 jam available, belum lagi KA lain dari segala jenis gerbong (eksekutif/bisnis/ekonomi) mengingat Cirebon posisi kotanya strategis pisan, jalur darat utama di lintas utara Jawa. Sepasang tiket Cirebon Ekspress lah yang saya beli, siap untuk mengantar ke kota tujuan. Oya, saya berangkat bertiga dengan sahabat AJTC (apa itu AJTC? ah, saya cerita di lain waktu aja. terlalu panjang untuk ditulis. hehe). Jam 9 pagi, saya sudah tiba di Gambir, satu jam berikutnya sang kereta yang suka disingkat Cireks (entah kenapa saya jadi langsung inget Cireng.. Cirebon Engpress aci goreng nan enyak itu) mulai melaju.

Tiga jam perjalanan, dan sampailah kitaa..

stasiun kejaksan cirebonStasiun Kejaksan Cirebon

Stasiun ini letaknya udah di tengah kota, mau ke mana-mana lumayan dekat. Tapi agenda utama saya bukanlah keliling kota. Melainkan, apa hayooo?

Baca Selengkapnya

Riau Trip #1 : Pekanbaru

Kembali bersama admin.

Waduh luama juga ya ga update blog. Cerita trip kemarin jadi tertahan (baru sampai di Jambi), perjalanan di Riau belum cerita sama sekali. Yawda sambil challenge accepted untuk ngeblog ria di kereta, saya bakal cuap-cuap tentang pengalaman saya menjelajahi Provinsi Riau.. Provinsi Melayu nan kaya minyak di pulau Sumatera.. Selamat membaca! ๐Ÿ™‚

**

Saya melangkah keluar dari bandara Pekanbaru dalam keadaan lapar luar biasa. Maklum belum sarapan. Segera salah satu toko franchise roti yang cukup terkenal di tanah air saya datangi.

โ€œMbak, beli roti dua,โ€

โ€œWah maaf mas. Rotinya habis. Tunggu dulu yaโ€ jawab mbaknya.

Saya pun menunggu di kursi dekat situ sampai akhirnya sang roti pun mulai tersedia. Saya pun mengulangi request yang sama sebelum akhirnya menyadari satu hal. Uang di dompet saya pun sekosong isi perut saya. Habis bis. Lupa ambil uang di ATM.

โ€œWah maaf mbak. Uangnya habis. Tunggu dulu yaโ€ kelakar saya dengan wajah kecut.

Cih. ATM mana ATM. Saat jalan menuju ATM inilah saya bertemu kawan mitra bisnis (sok pencitraan banget sih :D) yang membuat saya mesti bergegas untuk bersamanya ke lokasi kerja. ATM yes, Roti no.

Dalam perjalanan keluar, saya kembali melihat ke arah bandara. Bandara Sultan Syarif Kasim II. Bandara yang cukup yahud secara interior, bersih, rapi, plus kesigapan petugasnya prima. Sip deh. Sejenak saya mengamati lagi tulisan โ€œSultan Syarif Kasim IIโ€..

Hmm.. siapakah beliau? Kok namanya diabadikan jadi bandara di sini ya? Dan kenapa II, bukan yang ke I? Beliaunya masyhur dan emang banyak berjasa buat rakyat kan? bukan karena narsis cem eks walikota Bandung yang pengen namanya diabadikan jadi nama stadion kan? Baca Selengkapnya

Jambi Trip #2 : Kota Jambi dan Masjid Seribu Tiang

Jumat, 18 Oktober 2013

Hujan deras menyambut saat saya kembali memasuki kota Jambi. Perjalanan pulang dari Bangko relatif tersendat karena di hari Jumat truk pengangkut hasil bumi yang lewat lebih banyak (kejar setoran sebelum wiken kali yak.. hehe). Terlebih hari ini lumayan santai tidak dikejar waktu (pekerjaan), istirahat makan dan sholat jumat di Masjid Raya Sarolangun pun tidak tergesa-gesa.

Sebenarnya saya ingin berwisata dulu di tempat-tempat menarik Jambi. Setahu saya, ada Gunung Kerinci (gunung api tertinggi di Indonesia, walau saya ga tau apakah ada objek wisata di sana, minimal ngadem lah ya :D), ada juga Candi Muaro Jambi, salah satu kompleks percandian terluas di Indonesia. Tapi ternyata tempat kurang memungkinkan dijangkau dalam rentang waktu travelling sesingkat ini (terjadwal hanya 2 hari). Ujung timur dan ujung barat Jambi sih. Huff.. apa boleh buat, semoga masih sempat menikmati ibukota provinsi aja deh..

Kuliner Kota Jambi ??

Okeey, sekarang sudah tiba di kota Jambii.. saatnya untuk… *kuliner *kuliner *kuliner (begitulah yang murni ada di pikiran saya..semangat 45.. hehe)

Apa ya masakan khas Jambi? Enak ga yah? Pertanyaan seputar kuliner khas terus melekat di pikiran. Pak sopir yang orang asli kota Jambi membuat ekspektasi saya untuk dihantarkan ke masakan terbaik Jambi memuncak. Makan siang di Sarolangun (kembali masakan Padang) udah sengaja ga banyak-banyak, biar setiba di Jambi bisa puas icip-icip masakan khasnya..

“Ga ada mas. Di sini hampir semua adanya masakan Padang dan Palembang. Kalau disuruh ke tempat masakan khas, saya sendiri juga ga tahu..,” kata pak sopir. Aiiih…. Sayang seribu sayang, kuliner khas di Jambi ternyata cukup susah untuk didapati. Entah pak sopirnya yang kurang info (tapi masak iya lahir dan besar di sini tapi ga tau masakan khasnya), atau emang dasarnya di Jambi minim masakan khas (digugling pun, cukup susah mendapatkan yang khas dibanding daerah lain). Hmmm…

Akhirnya saya pun berkuliner di tempat yang cukup cozy di sini. Resto “Pondok Kelapo” dengan hidangan utama Pindang. Yaa.. bisa dibilang lumayan “Jambi” lah (mayoritas tentu lebih mengenal pindang itu khas Palembang, bedanya di Jambi kuahnya ga dikasi nanas, atau kebalik, atau ga tau deh). Yang penting selera makan tergugah begitu melihat Pindang Belido (pindang ikan belida) dan Pindang Udang tersaji di meja makan…

pindang

Pindang Belido dan Pindang Udang

Selamat makaan..

Baca Selengkapnya

Jambi Trip #1: Perjalanan Jambi – Bangko

Kamis, 17 Oktober 2013

Nuansa hijau nan menyegarkan terlihat dari kaca sesaat sebelum landing. Belum banyak lahan yang dibuka, masih penuh dengan kribo-kribo ijo rimbunnya hutan. Begitulah adanya provinsi yang bernama ibukota sama (hanya ada 3 di Indonesia) ini. Daerah hijau yang sebentar lagi akan saya pijakkan kaki untuk kali pertama di Pulau Sumatera. Lokasi itu adalah.. Jambi.

Bandara Sultan Thaha Syaifuddin

Bumi Swarnadwipa! Semangat saya meletup tiap kali mengunjungi tempat baru. Kali ini di pesisir timur pulau terbesar keenam di dunia yang dahulu dikenal Swarnadwipa (tanah emas), Sumatera. Yang tak terkira sebelumnya, saya memulai “petualangan pendek” di tanah Sumatera justru di provinsi Jambi. Tentu saya akan dimaklumi jika kunjungan pertama saya adalah ke Medan (kota terbesar di Sumatera, ketiga di tanah air), Padang, Palembang, Pekanbaru ataupun Lampung. Tapi ini di Jambi bro.. Provinsi yang sudah puluhan tahun menghuni buku RPUL tapi masih saja potensi alam dan sumber dayanya tak pernah terdengar secara mencolok.

Ada apa aja ya di sini? Apa aja yang menarik ya? Pertanyaan yang hanya akan mendapat jawaban setelah bangunan itu..

bandara DJB 1Bandara Sultan Thaha Syaifuddin (DJB)

“Selamat datang di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin”, kalimat sambutan yang menjadi tulisan pertama yang saya baca di tanah Sumatera. Bandara akses utama provinsi Jambi itu diambil dari nama terakhir Sultan Jambi. Memang Jambi merupakan daerah kerajaan/kesultanan, walau tak setenar tetangganya, Sriwijaya (Palembang). Mulai dari zaman Kerajaan Dharmasraya (Melayu Budha) sampai Kesultanan Jambi (Melayu Islam), sebelum sang sultan terakhir “menyerahkan” kekuasaan pada kedaulatan tanah air Indonesia, ikut berjuang melawan Belanda dan gugur sebagai pahlawan nasional. Pantes lah ya dikasi penghormatan jadi nama bandara daerah ๐Ÿ™‚

Hutan, Kelapa Sawit dan Karet

Keluar dari bandara DJB (kode bandara Jambi), saya harus langsung perjalanan panjang yang katanya bisa memakan waktu sampai 7 jam. Beuh. Tak lain karena emang ada pekerjaan dinas di kota Bangko. Hah mana itu? Aha, saya juga baru pertama denger tuh. Shikat miring,, langsung hajar aja lah.. Mari menikmati jalanan provinsi Jambi ๐Ÿ˜€

Menyusuri jalan antar kabupaten, kita bakal berjumpa pada 5 hal utama. Yang pertama, hutan. Pemandangan hijau yang terlihat di pesawat ternyata berlaku untuk seluruh provinsi. Masih banyak sekali hutan, belum banyak lahan yang terbuka. Pantaslah jika plat nomer kendaraan provinsi ini, BH, sering diklaim tersebab Banyak Hutan. Padahal awalnya saya sempat mau protes pada provinsi ini, mau-maunya saat bagi-bagi plat nomer kebagian yang rada saru (if you know what I mean). Hehe. Ngasal. Ternyata karena sesuai kondisi Banyak Hutan toh… Baca Selengkapnya

Travelling 10 hari, 8 kota, 5 provinsi, 2 pulau

Saya merebahkan diri dalam senyum. Kasur hotel terasa lebih nyaman dari sebelumnya, entah saya yang terlampau capek, atau karena hati yang sedang berbinar cerah. Sepuluh hari sudah saya menjalani “petualangan pendek” di satu negara nan luar biasa elok (Indonesia), di dua pulau terpadatnya (Jawa dan Sumatera), melibatkan 5 provinsi yang untuk bermalam di 8 kotanya (entah berapa puluh kota yang terlibat kalau tanpa melibatkan unsur “bermalam” karena hampir semua perjalanan saya tempuh via jalur darat ๐Ÿ˜€ )

travel-quotes-1

Sebagaimana telah umum, travelling is good. Segala bentuk perjalanan itu bagus. Penuh makna, penuh vitamin buat mata dan hati. Tak terkecuali perjalanan 10 hari yang sangat melelahkan menyenangkan ini. Berikut the summary

Senin, 14 Oktober 2013 (Solo)

Mudik! Kalau biasanya mudik dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri, kalau ini pas menjelang Idul Adha. Dengan adanya cuti bersama Idul Adha, terbentuklah “libur panjang” selama empat hari dari Sabtu-Selasa, sempet deh pulang dari Jakarta ke Solo.

Kegiatan di Solo.. ya sebagaimana anak yang berbakti (cieeh), jadi tukang ojek untuk Ibunda tercinta. Selain itu bersih-bersih rumah, maklum baru direnovasi, banyak debu. Rumah pun sementara hanya 1/3 bagian yang bisa dipakai. Tapi mau dalam bentuk gimana, rumah tetap aja istana terindah. Buktinya, saya mau dengan sepenuh hati menjaga keindahannya (bersih-bersih), ga seperti di hotel bintang lima, dikit-dikit telpon cleaning service. Hehe..

Terus terang kegiatan bersih-bersih rumah pernah terasa sangat menjemukan bagi saya. Banget. Tapi setelah beragam perjalanan, bertahun di tanah rantau, saya bisa merasakan bahwa kembali ke rumah (dan segala rupa kegiatan di dalamnya) itu selalu refreshing.

Bener deh kata Jason Mraz dalam “93 Million Miles” nya

Just know, that wherever you go, you can always come home

Kumandang takbir Idul Adha sayup-sayup masih terdengar saat saya mengistirahatkan tubuh di malam indah itu. Home sweet home.

Selasa, 15 Oktober 2013 (Uncertain)

Matahari sedang berkemas ke peraduannya kala kereta ekonomi Gaya Baru Malam Selatan mulai bergerak meninggalkan stasiun Jebres. Ular besi jurusan Surabaya-Jakarta ini bakal membawa saya kembali ke kerasnya ibukota selepas 2,5 hari rehat di rumah.

Sejenak saya teringat kejadian pagi harinya. Tepatnya saat acara penyembelihan hewan qurban di kampung saya. Lima ekor sapi siap untuk dimutilasi disembelih oleh warga sendiri, tanpa bantuan tukang jagal profesional. Begitulah ‘tradisi’ di kampung saya.ย Namanya juga amatir, tentu prosesnya agak lama. Tapi ga papa.. yah itung-itung olahraga (menekel sapi.. hehe) sambil menikmati suasana gotong royong.

Nah, di tahun ini, ada kejadian yang tidak biasa. Proses penyembelihan kurang lancar. Satu sapi lepas brooo! Warga pun pontang panting berusaha menangkap si sapi yang berlari liar (namanya makhluk, takut mati juga kan). Si sapi ga semudah itu tertangkap. Beliaunya bergerak kencang menuju ujung perumahan, sejauh mungkin dari kepungan warga. Dan klotaak.. Sebuah spion lepas karena tandukan si sapi galau. Naasnya, itu spion mobil ayah saya yang memang terparkir di ujung gang. Spion elektrik. Wew. Sapiiii…. -___-

Well, hari ini suasana Idul Adha. Suasana ikhlas dan berbagi. Jadi kami sekeluarga hanya tersenyum melihat pecahan spion. “Ga papa pak, pajak qurban” ujar saya ๐Ÿ™‚

Kereta GBM Selatan terus melaju. Malam ini saya bermalam di dalam kereta ekonomi, so entahlah dianggap bermalam di kota apa. Yang penting sampai Jakarta, esok pagi harus berangkat kerja.

Rabu, 16 Oktober 2013 (Jakarta)

Sampai di stasiun Pasar Senen Jakarta jam 02.30 dini hari, setengah jam berikutnya sudah sampai di kosan diantar oleh sopir kopaja P20. Masih ada cukup waktu untuk rebahan. Hari ini ke kantor untuk menyiapkan barang yang bakal dibawa ke pulau seberang. Sembilan perangkat dikirim via ekspedisi, empat perangkat hand carry.

Karena harus bawa-bawa perangkat ini, saya ga bisa PP kosan-kantor dengan sepeda motor seperti biasa. ‘Terpaksa’ berangkat dengan busway, pulang dengan taksi. Walhasil, sampai di kosan lagi cukup malam karena macetnya ibukota. Waktu untuk tidur harus segera dimanfaatkan, esok harus bangun dini hari agar perjalanan ke bandara aman, ga kena macet.

Kamis, 17 Oktober 2013 (Bangko)

Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau Sumatera. Dan daerah pertama yang saya kunjungi itu adalah provinsi berplat nomer BH, Jambi. Ada pekerjaan di kota Bangko, masih 4-5 jam perjalanan dari kota Jambi. Baca Selengkapnya