Diposkan pada belanda story, kampus, periodic diary

Zwarte Pad


Jalan kaki 5 km itu “ngga banget” di negara yang anginnya naudzubillah seperti Belanda. Berhubung keterpaksaan oleh kondisi apes (Baca: Sakura di Belanda), saya mesti mencari tau info jalan tembus terdekat biar ga terlalu ngos-ngosan jalan. Oya bagi yang langsung ngeh bahwa  Google Maps adalah solusi tersimpel untuk masalah kayak gini, sayang sekali hape saya unexpectedly lagi error. Fufufu…

Oke, kita review effortnya ya..

Effort 1 

Berhubung saya baru saja dari Cherry Blossom (Sakura) Festival, tanya jalan ya ke orang yang berkaitan dengan festival. Tujuan mereka udah pasti ke gerbang depan, dan siapa tau bisa nebeng. Hehe.. #ngarepbener

Sayang sekali, saya ga bisa nebeng tapi dapat petunjuk bagus kalau ga mesti ke gerbang depan untuk mendapati halte bus. Ada halte yang lebih dekat, kata beliau hanya 15 menit jalan. Tinggal ikuti papan petunjuk exit menuju “Camping”.

Lima menit jalan kaki, untuk pertama kali terlihatlah papan petunjuk menuju “Camping”. Jaraknya? 2.5 km. Uh oh. Laah.. katanya  15 menit doang?

At this moment saya baru nyadar betapa berbedanya jangkauan kaki saya dengan si meneer Belanda. Tapi langkah tetap mesti dilanjutkan.

Effort 2

Saat kaki mulai gempor (udah jalan hampir 2 km ni, kayaknya), bertemulah dengan sebuah persimpangan yang mana kalau tengok kiri keliatan ada jalan besar di sana. Wah, di sanakah halte busnya? Tapi kok kalau ngikut meneer ke arah “Camping” arahnya mesti lurus dan masih 1 km! Kalau ketemu persimpangan yang meragukan gini, teman-teman kira-kira pilih mana? Ngikut petunjuk 1 no matter what, atau instingtif belok kiri dengan harapan menemui halte bus di sana?

Kebetulan saat ragu tersebut, ada noni Belanda yang lewat dan langsung aja tanya. Ternyata beliau bukan orang situ (Amstelveen), tapi willing to help dengan Google Maps-nya. Someone with Google Maps! Yeay!

Dari petunjuk sang noni, belok kiri jadi pilihan. Kata beliau, begitu kita mendapati jalan besar, deket situ ada  halte Schinkeldijke, yang mana ada bus 199 menuju Schiphol Airport, tujuan saya sebelum balik lagi ke Leiden tercinta. Nice info.

Ga butuh waktu lama untuk mencapai jalan besar. Pun halte bus yang langsung keliatan. Akhirnya ga perlu jalan kaki lagi. Tapi sesampai di halte, ternyata nama haltenya…

ZWARTE PAD.

Ga ada bus 199 lewat sini. OH MY.

Effort 3

Jeng jeng, masa bisa salah ngasi info sih noni Belanda tadi. Hmm.. Di halte Zwarte Pad, rute busnya ga ada yang mengarah ke Schiphol. Apa yang salah di sini ga perlu banyak dipikirkan karena di halte seberang (Zwarte Pad, tapi menuju tujuan akhir sebaliknya) ada rombongan turis muka-muka Asia. Ada kemungkinan besar bahwa mereka menuju Schiphol (bandara utama Belanda) juga kan?

Well, setelah tanya ternyata tujuan mereka adalah centrum Amsterdam. Beda arah. Tapi mereka bilang (dan make sense) kalau saya mau ke Schiphol, kan dari pusat kota Amsterdam banyak pilihan transport.

Ada pilihan di sini: mau coba nyari halte Schinkeldijke info dari noni belanda tadi (siapa tau sebenarnya emang ga terlalu jauh dari Zwarte Pad), atau cari aman menuju pusat Amsterdam dulu (pasti ada transport, tapi lebih ribet mesti pindah-pindah bus/metro/kereta).

Berdasar insting, pilihan pertama lah yang saya pilih. Semoga halte berikutnya emang ga jauh, dan bener namanya Schinkeldijke. Semoga.

Baru setengah perjalanan menuju next halte, bus yang ke arah centrum Amsterdam datang. Mengingat frekuensi bus di jam itu mulai jarang (30 menit sekali), kok sepertinya ini jadi lebih menarik.

Putar balik, kejaar busnyaaa…

…..

…..

Dan.. selamat.. karena busnya..

GA KEKEJAR.

Selamat berkeluh kesah di Zwarte Pad. Damn.

**

Kawan, pernah ga sih kalian menyusahkan diri sendiri karena pilihan yang berubah-ubah? Belum pernah, pernah, atau sering?

Kadang saat kondisi awal kita kurang tau tentang sesuatu, kita bertanya pada orang yang menurut kita expert. Beliau memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat kita yakini membantu dalam melangkah. Lalu di tengah jalan, kita lelah dan menemui persimpangan. Ada orang lain menunjukkan opsi lain yang terlihat lebih efektif karena ia menunjukkan dengan data yang terlihat valid. Saat sudah berbelok, ada lagi orang lain dengan pendapat yang make sense, walau sebenarnya kurang tepat jadi rujukan karena tujuan akhirnya beda. Sampai akhirnya, ngikut aja ke opportunity yang terlihat di depan mata.

Huff.

Beginilah, kalau mau ngeblog tapi campur dengan balada ngerjain tesis. Jelas paragraf geje barusan itu curhat tesis. Hahaha..

zwarte pad

Olah TKP: Yang dilingkari kuning adalah halte “Camping” (dilewati bus 199 arah Schiphol). Dilingkari biru adalah halte “Schinkeldijke” (dilewati bus 199 arah Schiphol, beneran next halte dari Zwarte Pad, noni belanda ngasi petunjuknya ternyata valid tapi ga di-zoom in jadi berasa rancu). Dan yang ditandai merah adalah halte Zwarte Pad, tempat saya termangu walau akhirnya sampai Schiphol juga sih dengan sekali oper.

Poin yang didapat dari kejadian Zwarte Pad dengan tesis:

  • Kalau tanya dengan expert atau first supervisor, di mana penjelasan beliau terlihat simple dan doable, expect for many more efforts! Kita jelas berangkat dari background ilmu yang lebih dangkal sehingga perlu effort lebih banyak, ga sesimpel itu.
  • Kalau ada teman diskusi lain yang bisa membantu (misal: akses jurnal via link khusus yang tidak terjangkau oleh kita), apresiasi bantuannya tapi perlu juga bagi kita untuk menggali lebih detail. Kalau terima mentah saja, dijamin data yang didapat malah bikin lebih pusing.
  • Setiap mahasiswa tesis punya background dan tujuan sendiri-sendiri, yang sangat mungkin beda jauh dengan kita. Saling bantu, tapi jangan banding-bandingkan progress. Fokus pada progress riset sendiri. Kalau merasa tertinggal jauh, ingat bahwa kita tak pernah tau detail usaha belajar masing-masing orang. Gampangnya, bisa jadi orang lain berangkat dari poin 50 (hasil experience bekerja), dan progres poin sekarang 80. Sedangkan kita baru di poin 60, tapi kita berangkat dari poin 10 (ilmu minim karena masih newbie). Secara progres umum tertinggal, tapi dari peningkatan poin, lebih banyak bukan? Well, sekali lagi fokus pada progress ilmu yang didapat, don’t compare 🙂
  • Semangaaat… Memang banyak bingung. Memang banyak lari kejar-kejaran dengan deadline. Kadang tertinggal juga. Banyak capek. Kadang benar-benar tak berprogress. Tapi semangat!!
  • Yang paling penting adalah punya tujuan. Jalan yang ditempuh bisa jadi berubah dari petunjuk awal, bisa jadi melalui jalan yang lebih jauh. Tapi fokus pada tujuan, berusaha maka kita akan sampai. Satu tambahan penting buat penyemangat, betapa melelahkannya jalan, jadi tak masalah kalau akhirnya berujung ke hatimu #laaah

Demikian curhatnya.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Diposkan pada kampus, periodic diary

REPOST: 100 Fakta Unik Mahasiswa ITB


Wah.. wah.. di Facebook baru ramai nian mengenai postingan “100 Fakta Unik Mahasiswa ITB”.. Nostalgik bangeet… jadi keinget ama keseruan-keseruan yang pernah saya alami selama menjalani kehidupan di kampus.. Apalagi setelah merasa dunia kerja yang demikian kompleks, rasa rindu akan kampus pun kian menjadi…

Oke deh mohon izin ya teman-teman buat mainstream, gatel juga ni pengen komentar cem yang udah ditulis di link ini dan ini.. Tulisan yang multi repost, biarin deh 😀

Inilah 100 Fakta Unik Mahasiswa ITB versi.. saya ga tau juga siapa yang duluan memulai.. hehe.. berikut komentar berdasar pengalaman saya 🙂

  1. Mahasiswa ITB itu merasa membuat laporan praktikum adalah hal yang lebih menyebalkan daripada ujian /*tergantung makulnya, ada yang saya lebih suka laporan praktikum sekalipun ribet, ada yg mendingan ujian */
  2. Mahasiswa ITB itu sebelum masuk kuliah, sms teman dulu. Kalo ada kuis, masuk, kalo gak ada, ya gak masuk /* yg jelas pernah sms */
  3. Mahasiswa ITB itu kalo gak mandi gak ketauan /* mau ketauan atau kagak, saya cuek aja :p */
  4. Mahasiswa ITB itu mandinya 2 hari sekali. Yang mandinya sehari 2 kalii, berarti gak gaul /* sehari sekali sih. Bandung duingin! */
  5. Mahasiswa ITB itu kalo mau UTS jadi agresif /* kadang agresif, kadang pasrah */
  6. Mahasiswa ITB itu tidak takut dengan orang gila bernama Dona yang berkeliaran di kampus /* iya, ga takut */
  7. Mahasiswa ITB itu sukanya cewe-cewe dari SITH ama SF /* ga liat jurusan, suka mah suka aja */
  8. Mahasiswi ITB itu sukanya cowo-cowo dari FTTM ama FTMD /* yg lebih meriah mah “cowok HME.. idola TPB..” */
  9. Mahasiswa ITB itu sukanya maen game online. Yang gak maen, berarti gak gaul /* saya lebih suka kalau kalimatnya diganti bukan game online, tapi : yang gak maen PES, berarti gak gaul. Hhe */
  10. Mahasiswa ITB itu paling suka arak-arakan pas wisudaan /* iya, emang seruu */
  11. Mahasiswa ITB itu ngerasa keren kalo pake jaket himpunan jurusan masing-masing /* maybe, tapi males, terlalu sumuk */
  12. Mahasiswa ITB itu kalo ulang tahun mesti diceburin ke intel /* pastinya.. sebelum akhirnya dilarang. masi inget banget temen K-15 yang selalu diceburin siapapun yg ulang taun, sama peristiwa teman Wika yg di”fitnah” ultah biar bisa diceburin ke kolam Indonesia Tenggelam */
  13. Baca Selengkapnya

Diposkan pada kampus

Tips Menyusun Anggaran Persiapan Wisuda ITB


Momen wisuda tentunya merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh semua yang pernah mengecap status mahasiswa/wi. Iya lah ya.. udah peras keringat bertahun-tahun di kampus, akhirnya tiba juga saatnya diberi gelar sarjana secara resmi..

Euforia? Oh, tentu..

Tapi ada baiknya kita sama-sama tidak berlebihan bersuka ria. Wisuda ga se-simple dan se-today is mine itu, kawan.. Bukan hanya masalah acara khidmat. Banyak yang harus disiapin loh.. Mari diberi penekanan lagi: BANYAK yang HARUS DISIAPIN loh… Dan persiapan itu memerlukan ANGGARAN yang TIDAK KECIL. Note that!

Beberapa minggu kemarin saya juga diribetkan oleh beragam persiapan menuju wisuda. Walau secara tidak resmi sudah S.T. pada tanggal 19 September 2012 (hari sidang tugas akhir) atau pas sebulan sebelum wisudaan, tetep aja berasa mepet banget buat persiapan.

Nah, berdasar pengalaman itu, saya pengen share nih ke sobat-sobat sealmamater Kampus Ganesha.. harapannya sih dengan teman-teman tau lebih awal, ntar ga begitu ribet selama persiapan momen besar Anda di SABUGA. Juga bisa nyiapin modal lebih awal (jualan kek.. atau lobby ortu, mumpung ada jatah terakhir sebagai mahasiswa.. hehe). Mamam tuh kalo sampe bangkrut di momen bahagia!! Hehe..

Apa saja yang mesti dianggarkan dan disiapkan serta bagaimana saja tips-tipsnya? Yuk mari dibaca.. 🙂 Baca Selengkapnya

Diposkan pada kampus, periodic diary

0, 1 dan 2


Dari kecil, saya punya ketertarikan yang tinggi pada angka. Walaupun ga jago, saya demen dengan pelajaran yang namanya matematika. Sewaktu sekolah dasar dan menengah, jika ada tumpukan LKS (Lembar Kerja Siswa) yang mesti dikerjakan, pertama kali yang saya ambil dan kerjakan sampai halaman terakhir jelas LKS ma… hoho..

Kayaknya jadi agak freak ya kalau kalimat tadi dilanjutkan. Okee.. sebenarnya saya ga ngerjain tu LKS. Saya malah buka komputer, ngegame yang simpel-simpel aja cem Go Figure! (di compy jadul, itu masuk game Entertainment Pack Four..haha), terus sampe sekarang pun masih demen maen game numerik cem Minesweeper. Kalau ga ada kompi ya kadang maen Sadako.. eh, maenan puzzle angka itu apa namanya??

Intinya.. saya demen utak-atik angka.

Nah, kadang di kala geje (kondisi ga jelas) saya sering mencari-cari hal-hal yang secara kebetulan kok angkanya berkaitan. Sok ber-anagram ria dengan angka. Salah satunya sesuai dengan judul: 0, 1, dan 2.

Apa saja keunikan yang muncul (tentunya terkait dengan diri saya) saat mengutak-atik angka tersebut? check this out!

  • 1-0-2. Seratus dua. Itulah nomer sekolah SD saya, tempat saya mulai resmi mengenal sekolah sebagai tempat belajar (TK cuma tempat bermain sih..). Di lingkungan SD nan bersahaja di pinggiran kota Solo itulah, saya mulai senang belajar (auwaaah..)
  • 012. Dua belas. Umur di mana saya pertama kali sadar kalau saya bisa punya rasa juga sama lawan jenis #eh. Oke, ini supergeje. Tinggalkan.
  • 10-2. Sepuluh dua. Kelas saat masuk SMA. Kelas full of memories, tempat saya bertemu salah satu sahabat terbaik saya. One of the best ever. Dan karenanya, saya mulai berani bermimpi dan merasa bisa mewujudkan mimpi tersebut 🙂
  • 2-0-2; 1. Dua ratus dua di tingkat 1. Itulah NIM saya sewaktu memulai perkuliahan di ITB, tepatnya 16508-202.
  • 0-1-2. Nol, satu, kemudian dua. Inilah tingkatan pagerank yang pernah dilewati oleh blog ini. Dari sama sekali ga terindeks mesin pencari, terus berjuang sampai punya pagerank 0. Lalu lanjut ke 1 dan sekarang 2. Not great, but not too bad..

Bentar.. bentar..

Adakah yang merasa bahwa angka-angka di atas terlalu dipaksakan?? Tunjuk tangan ya kalau itu tadi mekso

Wah! Banyak amat yang tunjuk tangan. Aampuun… hahaha…

Tapi kawan,, yang sebenarnya tercipta dari angka tersebut adalah susunan berikut

20 – 10 – 20 12

Istimewanya?

Bukan sesuatu hal yang superspesial. Tapi setidaknya itu bersejarah bagi saya. Karena di TANGGAL itu saya WISUDA…

Oke. Tak perlu bilang WOW.. ga ngarep gitu jugaaa. Karena semuanya kembali 0, 1 dan 2..

0– Titik Nol. Dari hari itulah real world atau dunia sebenarnya mulai terbentang di depan. Dunia superkeras yang menanti untuk ditaklukkan. Hidup, baru saja dimulai

1– Satu pribadi yang utuh. Sudah bukan kewajiban atau tanggungan orang tua lagi kalau sudah wisuda. Adalah pilihan diri sendiri apakah satu diri ini akan menjadi satu lagi tambahan beban negara, atau sebaliknya calon problem solver bangsa.

2– Angka yang dibentuk oleh dua jari tangan ketika merayakan kemenangan (huruf V untuk victory). Yuph, ilmu dan karakter sudah didapat selama proses perkuliahan. Tentunya itu bekal untuk meraih kemenangan sejati: ridho Allah, kebahagiaan dunia dan akhirat.

Semuanya.. kembali tentang 0,1 dan 2

Diposkan pada kampus, periodic diary

Alhamdulillah Wisuda


Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

Sungguh setelah sekian lama tidak menulis dan kembali ingin berbagi, hanya kalimat di ataslah yang terngiang di kepala saya. Segala puji dan syukur kepada Rabb Semesta Alam atas karunia-Nya yang sungguh besar.

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

Setelah 4 tahun masa perjuangan di kampus ITB Ganesha, akhirnya sebuah gelar resmi tersemat di belakang nama saya. Gelar yang terlihat sederhana tapi sebenarnya punya tanggungan yang luar biasa besar. Karena itu, sebelum saya mulai menyibukkan diri untuk menanggung beban itu, izinkanlah postingan pertama selepas vakum ini dikarpetmerahkan untuk rasa syukur..

 

Alhamdulillah… saya wisuda!!

Diposkan pada kampus, periodic diary

Sepeda, Sabuga dan Sarjana


Suatu hari di kamar kosan. Sebuah tulisan kecil membuatku bergumam.

TARGET : Tugas Akhir Selesai dan Wisuda Sarjana di Waktu yang Tepat

Kalau teman-teman jadi saya, apa yang akan teman-teman lakukan untuk mencapai target tersebut?

Yawda kan ya.. mulailah ambil tu bahan-bahan Tugas Akhir (TA), segera kerjakan apa yang mesti dikerjakan, lakukan analisis dan selesaikan draft, siap-siap sidang daaan.. well done. Selesai. Jadi sarjana dan selamat menikmati prosesi wisuda!

Hmmm…. Simpel juga ya. Kok saya ga bisa begitu kemaren ya..

Hmmm… Gitu yah..

Hmmm…

Hey, kawan. Yang benar saja!!

Langkah-langkah di atas memang step-step menyelesaikan tugas akhir dan mencapai wisuda sarjana,, tapi kalau yang terbayang hanya langkah-langkah ideal seperti itu.. percayalah! (setidaknya ini berdasar pengalaman dari saya) percayalah! Bahkan kita takkan melewati kata pertama pada kalimat itu: “mulailah”

Kenapa begituh?

Oke, ini alasan pertama. Target “Tugas Akhir Selesai”. Mau bagaimana pun prosesnya entah berat atau gampang, berapa lama waktunya, berapa puluh kali harus bimbingan, berapa ratus kali melabil, berapa ribu kali istighfar.. hasilnya sama kok: tugas akhir itu akan selesai. Entah selesai dengan gilang gemilang, selesai karena dikasihani, selesai karena dosbing sudah bosan, selesai karena sudah melewati batas administrasi akademik (guess what..). Hoho. Semua orang sudah sepakat kok kalau tidak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk Tugas Akhir kan ya.. Nah..

Jadi, menuliskan target “Tugas Akhir Selesai” tidak akan memunculkan sense of urgency. Ga akan cukup untuk men-starter lagi tuh pengerjaan TA..

Lalu alasan kedua. Target “Wisuda Sarjana di Waktu yang Tepat”. Di waktu yang tepat itu kapan?? Setiap perguruan tinggi umumnya menyelenggarakan prosesi wisuda 3-4 kali dalam setahun. Kalau belum berhasil di salah satu periode wisuda, ya santai saja bisa mengejar untuk periode berikutnya. Toh kita bakal lulus di waktu yang tepat. Entah kalimat barusan merupakan suatu kalimat bijak atau bentuk menghibur diri. Tapi jelas ada bahaya di situ: kita jadi cenderung terbawa santai. Ya, santai. Masih ada hari esok. Masih ada banyak waktu luang.. Pada akhirnya, kembali lagi kita tidak akan memulai.

Sama juga kesimpulannya, menuliskan target “Wisuda Sarjana di Waktu yang Tepat” belum mampu menumbuhkan sense of urgency..

Sok punya target, punya step, tapi  tak pernah benar-benar memulai. Ironis..

Hmmm.. kembali saya bergumam. Jelas waktu terus berjalan. Dan jelas saat itu ada orang yang sedang menyia-nyiakannya.

Sepertinya saya kembali suntuk dalam mengerjakan TA. Annoying

Saya pun membuka-buka folder secara random. Mencari beberapa file hiburan di laptop yang mungkin dapat menghilangkan kesuntukan barang sejenak. Mungkin game, video clip atau movie..

Tapi yang saya temukan adalah foto itu. Ya, foto itu. Beruntungnya… foto itu…

Sebuah foto yang diambil selepas Lebaran 2012.

Pagi yang cerah. Bersepeda ria.

Sasana Budaya Ganesha *auditorium ITB, tempat penyambutan mahasiswa baru serta acara wisuda sarjana*

Saya, bapak, ibu. Dan kebahagiaan yang terpancar di wajah kedua orang paling kuhormati dan kusayangi di dunia.

**

Ibu..

Bapak..

Sabuga…

Sarjana…

Seketika semua itu berkelebat hebat di pikiran saya. Membuat niat awal untuk bersantai menjadi ter-disorientasi.

Tikus hitam (baca: mouse laptop) di genggaman saya elus sedemikian rupa sehingga memenuhi command zoom in. Maka senyum itu terlihat semakin jelas.

Senyum Ibu. Senyum Bapak. Dua hal yang tak ternilai di dunia ini.

Zoom in lagi. Sasana Budaya Ganesha. Tempat itu. Kenapa hari itu saya hanya bisa ke sana untuk bersantai? Oh tidak. Tempat itu bukan tempat untuk sekedar bersantai. Tempat itu adalah Logue Town, tempat awal dan akhir. Wisuda!

Bisa ke sana dengan santainya naek sepeda? Enak sekali.. Tempat itu bukan tempat untuk sekedar bersantai. Ya, saya sadar satu hal. Ke Sabuga berikutnya, simpul senyum orang tua saya bukan karena sedang santai, tapi sedang bangga. Kalaupun harus bekerja keras layaknya mengayuh sepeda melewati tanjakan Sabuga, itu akan kulakukan!

Sejenak saya merasa tertampar melihat foto itu.

Tapi setelahnya.. sense of urgency itu muncul.. datang dan terus bangkit secara eksponensial.

Harus KERJA KERAS layaknya mengayuh sepeda di tanjakan?

Harus menciptakan SENYUM ORANG TUA?

Harus sesegera mungkin meraih gelar SARJANA?

Mengapa tidak??

Saya, bapak, ibu. Dan kebahagiaan yang terpancar di wajah kedua orang paling kuhormati dan kusayangi di dunia.

**

Foto itupun terus menjadi penyemangat saya , pemerjelas target dan langkah-langkah, pendorong untuk terus berkerja keras jangan menyerah..

And finally… terima kasih banyak untuk support teman-teman juga..

Alhamdulillah..

Ibu.. Bapak.. 20 Oktober nanti kita kembali tersenyum di Sabuga 🙂

Diposkan pada embun, kampus, periodic diary

Tough.. or Maybe Tougher.. But..


Suhu tubuh akhirnya naik juga secara eksponensial.. Hmmm…

Here it comes..

Kawan, mohon maaf ya kalau lama ga update ni blog. Bahkan untuk sekedar mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Ya pokoknya maaf ya atas kesalahan saya kalau dalam menulis blog nan sederhana ini banyak kata yang kurang berkenan bagi Anda.. Tentu saja saya juga sudah memaafkan Anda yang berniat mohon maaf, yaiyalah secara Anda sebenarnya ga ada salah-salahnya.. Komen oke-oke semua.. terima kasih masih membaca blog sederhana ini 🙂

Kenapa sih blog ini lama ga update? Bagi kawan yang sudah subscribe, pasti sudah ngeh kalau saya sedang berurusan dengan sobat karib nan dahsyat.. Tak perlu panjang-panjang memanggilnya karena ia hanya dua huruf yang dicomot dari deret 26 alfabet. Tak lain tak bukan,, TA !!

And here it comes..

Jadi kawan, mulai minggu ini perjuangan ‘merawat’ TA bakal mencapai puncak-puncaknya. Minggu ini adalah minggu terakhir menuju pengumpulan draft dan paper. Hectic ga sih. Sebenarnya saya bisa saja memilih bersantai.. toh kalau lulus Desember dan wisuda April, masih ada juga kawannya.. masih bisa nyuci nilai juga.. masih bisa mempersiap diri sebelum hadapi kerja..

Tapi,, beneran deh sebenarnya saya udah jenuh mengurus 2 huruf itu. Banyak hal yang terbengkalai, termasuk blog kesayangan Anda ini  kan.. (auwah.. Ge-eR). Tak perlu dijelaskan lah kalau saya jauh lebih suka berbagi di blog ini daripada berkutat ngedraft dan bikin paper tentang TA. Bijimana lagi, kewajiban tetaplah kewajiban. Udah dari sononya, kalau ga segera dikerjain ya ga bakal lulus diri saya ini. So, sebisa mungkin ya harus dikejar minggu ini.. untuk menyelamatkan waktu, blog, dan banyak lagi.. Ya kan ya?

And here it comes..

Tuh. Keringat saya mulai menetes. Rasa panik dan lelah agaknya mulai pengen mengeksiskan diri.

Makanya saya pengen bilang ke orang-orang terdekat.. Keluarga, sahabat, dan tentu saja Anda..

Pertama, MAAF. Karena naturally udah bikin khawatir (yang engga khawatir juga ga papa sih, sah-sah aja..). Khawatir kondisi kesehatan, kondisi progress TA, kondisi psikologis dan yang paling ngasal khawatir TA saya bakal selesai apa engga.. Haha.. Tenang, dengan izin Allah SWT ini akan segera selesai kq..

Kedua, TRIMS. Karena udah mensupport saya dengan segala cara, apapun itu.. terlebih tetap membuka blog ini, membuat trafiknya cukup stabil walau baru jarang update. Seneng deh ada kalian (haha..bocah..).  Insya Allah, seselesainya TA saya akan menghujani blog ini dengan tulisan-tulisan yang semoga bermanfaat..

Minggu puncak. Tough.. or maybe tougher..

Tentu bakal banyak tantangan berat. Boleh donk ya kalau saya minta dimaklumi saat dikit-dikit ngeluh, dikit-dikit gusar. But.. sebisa mungkin saya ga akan ngeluh selama berjuang ini. Pagi tadi saya baca tulisan sahabat lama saya yang sangat menggugah, tentang ayat-ayat untuk jangan mengeluh. Kemudian ada sahabat baru saya.. yang membuat saya benar-benar malu untuk mengeluh.. 🙂

Hmm.. saya teringat lagi dengan pesan Mbah Kakung saat Lebaran kemarin. Alih-alih menghujani saya dengan annoying questions for final year undergraduate student,, Mbah Kakung justru berpesan bagus banget, dan sangat mudah untuk diingat: Jadikan SHOLAT dan SABAR sebagai penolong bagimu..

Subhanallah..

***

Finally, saatnya saya bilang pada tubuh saya sendiri..

Hey, my extremely healthy body..  Terima kasih untuk tetap sehat selama 22 tahun ini (hanya batuk, pilek, pusing, demam, diare yang masuk daftar ‘sakit kronis’mu). Tapi kali ini level kesehatanmu harus ditingkatkan lagi ya..

Boleh deh kapan saja kamu merengek.. dengan menaikkan suhu, dengan menggetarkan paru-paru.. tapi plis bentar aja terus langsung sembuh ya..

Nih, takjanjiin seminimal-minimalnya 30 rekaat SHOLAT tiap harinya (17 rekaat fardhu, 11 rekaat lail, 2 rekaat dhuha) untuk menolongmu.. menyeimbangkanmu tetap tegak.. Aku juga bakal SABAR kok mengatur jadwal dan menu makan..

So.. Please.. Kalau kita tak jadi lebih kuat, mungkin saja kita bakal kehilangan lebih banyak waktu untuk membahagiakan orang-orang yang kita sayangi. Ya kan? Jadi, bismillah ya..

**

Pokoknya, mohon doanya ya kawan-kawan.. 😀

#kurangikeluhperbanyaksyukur

#semangatTA

#keepbeingawesome