Diposkan pada periodic diary

Dua Puluh Enam


Alhamdulillah. Hari ini saya secara tidak langsung diingatkan bahwa sudah diberi kesempatan hidup di dunia selama dua puluh enam tahun lamanya.

Astaghfirullah. Begitu pun saya sadar bahwa hari ini berarti waktu hidup saya di dunia sudah berkurang lagi.

Akan selama apa saya ada di dunia? Hanya Allah Yang Maha Tahu. Tapi saya sangat bersyukur sudah menginjak umur dua puluh enam. Bukan waktu yang pendek, terlebih dengan segala lika-liku kehidupan ini ahaha..

Berkutat dengan tesis melulu, pucing pala berbi.. Tapi alhamdulillah selalu ada Allah, selalu ada orang tua, keluarga.. pun teman-teman yang di tengah kesibukannya masing-masing masih sempat mengucapkan selamat ulang tahun pada saya.. Terima kasih banyaaak..

Lalu apa rencana besar di umur 26 ntar? Hmm.. apa yaa.. Yang jelas saya mengamini banget ucapan ultah kawan-kawan sejurusan ET¬† ITB’08 berikut:

Selamat ulang taun Mas Mus!! Semoga segera rampung kuliahnya dan segera dipertemukan dengan wanita terbaik dan lsg segera melaksanakan Sunnah Rasul. Barakallah

Amiiiin3 ya robbal ‘alamiiin…

Hehehe…

Yah, saat bapak di sekitar umur 26 dulu beliau kan juga dipertemukan dengan Bunda, sudah dapat pekerjaan, dan berada di awal perjalanan untuk menjadi ayah terbaik di dunia. Jadi, kenapa saya tidak? Tentu saja dengan izin Allah..

Sedikit catatan kecil agak curhat, untuk pertama kalinya Bunda dan Bapak lupa sama sekali tentang hari ulang tahun saya. Tapi tak mengapa, toh bukan bocah lagi. Emang iya Feel weird karena kebiasaan mendengarkan ucapan selamat dan doa dari ortu di hari jadi itu udah berlangsung sekian lama. Malah diingatkan juga kalau mungkin orang tua pun sudah bertambah umur pula, sebagai anak yang udah makin dewasa harus bisa lebih care, sejauh apapun jarak dan kondisi memisahkan.

Bismillah semoga selalu bisa berbakti dan banyak kebarokahan di sisa usia.

26

WELCOME 26!! ūüôā

 

Leiden, 15 Juni 2016

AMH

Iklan
Diposkan pada periodic diary

Dua Movie yang Baru Ngehits


Rehat dari dunia pertesisan. Biasanya kalau lagi jemet dan pengen rehat, saya sukanya nonton movie. Alhamdulillah di Belanda inetnya kenceng buat download dan bisa norrent bebas. Tinggal tunggu versi HD muncul, unduh via torrent, tonton, dan hapus lagi biar ga menuh-menuhin harddisk. Bahkan streaming juga oke. Nggaya ya.. padahal di Indonesia, harddisk eksternal sampai penuh movie karena sungguh penuh perjuangan ngedapetinnya, baik dikarenakan kecepatan koneksi, bayar kuota ataupun mesti menemui teman yang punya reputasi sebagai bandar film. Haha.

Anyway, saya udah cukup lama nih ga nonton movie nih. Udah dua bulan lebih kayaknya, sampai lupa terakhir nonton film apa. Kayaknya Revenant, karena pengen tau gimana Leo di Caprio akhirnya dapat Oscar (akting doi oke, tapi storyline filmnya boring abis.. lebih tepatnya, not my cup of tea). Jadi movie yang baru hits apa nih?

Kalau melihat di linimasa socmed, sepertinya “Captain America: Civil War” dan “Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2” ya? Wih¬†diliat dari genrenya, dua-duanya supermenarik. Jelas both are my cup of tea (genre kesukaan saya). Karena dua film itu rilis di bioskop hampir bersamaan, banyak teman saya yang posting preferensinya pilih nonton yang mana duluan. Teman-teman pada nonton yang mana dulu ni?

Eh ini jadi inget juga kalau saya luamaaa sekali ga ke bioskop. Saya belum pernah nonton bioskop di Belanda (mahal! males, mending norrent). Waktu mudik summer kemarin saya juga ga ke bioskop. Jadi bisa dikatakan terakhir nonton tahun 2014, yang sudah lupa pula nonton apaan. So, di antara dua trending movie itu, seandainya saat ini juga saya mudik ke Indonesia, bakal pilih nonton mana duluan yaa?

Hmmm.. Ga perlu pikir panjang untuk pilih AADC2!! Obvious reason: Diandra Paramita Sastrowardoyo is the most beautiful actress of all time! Oke bukan itu sih, tapi dasarnya emang penasaran setelah 14 tahun (wew, really? 14 tahun itu suwiiii..), salah satu film terbaik Indonesia ini gimana kelanjutannya, makin bikin baper kaga (ngeliat trailernya udah baper sih.. hahaha). Tapi, sebagai fanboy Marvel superhero, ga mungkin saya melewatkan film yang di dalamnya ada tiga superhero favorit: Spiderman, Iron Man, dan Captain America. Ini movie pasti epic parah. Pasti. Pun seperti kecantikan Dian Sastro, adegan action di Captain America:Civil War ga akan bosan diliat. Khusus film action, emang lebih yahud nonton di bioskop. Jadi kalau ditanya pilih yang mana duluan, saya bakal bilang: nonton AADC2 dulu, setelah itu nonton CACW dua kali.

Ngaco. Berapa duit itu nonton 3x. Yah, namanya juga seandainya. Ahaha.

Terus waktu postingan ini ditulis, tiba-tiba ada whatsapp dari babe

aadc bunda babe

Whaaat.. Bunda dan babe nonton AADC2…!! Demi apah.

Unyu sih. Hihihi.

 

Diposkan pada belanda story, kampus, periodic diary

Zwarte Pad


Jalan kaki 5 km itu “ngga banget” di negara yang anginnya naudzubillah seperti Belanda. Berhubung keterpaksaan oleh kondisi apes (Baca: Sakura di Belanda), saya mesti mencari tau info jalan tembus terdekat biar ga terlalu ngos-ngosan jalan. Oya¬†bagi yang langsung ngeh bahwa¬†¬†Google Maps adalah solusi tersimpel untuk masalah kayak gini, sayang sekali hape saya unexpectedly lagi error. Fufufu…

Oke, kita review effortnya ya..

Effort 1 

Berhubung saya baru saja dari Cherry Blossom (Sakura) Festival, tanya jalan ya ke orang yang berkaitan dengan festival. Tujuan mereka udah pasti ke gerbang depan, dan siapa tau bisa nebeng. Hehe.. #ngarepbener

Sayang sekali, saya ga bisa nebeng tapi dapat petunjuk bagus kalau ga mesti ke gerbang depan untuk mendapati halte bus. Ada halte yang lebih dekat, kata beliau hanya 15 menit jalan. Tinggal ikuti papan petunjuk exit menuju “Camping”.

Lima menit jalan kaki, untuk pertama kali terlihatlah papan petunjuk menuju¬†“Camping”. Jaraknya? 2.5 km. Uh oh.¬†Laah.. katanya ¬†15 menit doang?

At this moment saya baru nyadar betapa berbedanya jangkauan kaki saya dengan si meneer Belanda. Tapi langkah tetap mesti dilanjutkan.

Effort 2

Saat kaki mulai gempor (udah jalan hampir 2 km ni, kayaknya), bertemulah dengan sebuah persimpangan yang mana kalau tengok kiri keliatan ada jalan besar di sana. Wah, di sanakah halte busnya? Tapi kok kalau ngikut meneer ke arah “Camping” arahnya mesti lurus dan masih 1 km! Kalau ketemu persimpangan yang meragukan gini, teman-teman kira-kira pilih mana? Ngikut petunjuk 1 no matter what, atau instingtif belok kiri dengan harapan menemui halte bus di sana?

Kebetulan saat ragu tersebut, ada noni Belanda yang lewat dan langsung aja tanya. Ternyata beliau bukan orang situ (Amstelveen), tapi willing to help dengan Google Maps-nya. Someone with Google Maps! Yeay!

Dari petunjuk sang noni, belok kiri jadi pilihan. Kata beliau, begitu kita mendapati jalan besar, deket situ ada  halte Schinkeldijke, yang mana ada bus 199 menuju Schiphol Airport, tujuan saya sebelum balik lagi ke Leiden tercinta. Nice info.

Ga butuh waktu lama untuk mencapai jalan besar. Pun halte bus yang langsung keliatan. Akhirnya ga perlu jalan kaki lagi. Tapi sesampai di halte, ternyata nama haltenya…

ZWARTE PAD.

Ga ada bus 199 lewat sini. OH MY.

Effort 3

Jeng jeng, masa bisa salah ngasi info sih noni Belanda tadi. Hmm.. Di halte Zwarte Pad, rute busnya ga ada yang mengarah ke Schiphol. Apa yang salah di sini ga perlu banyak dipikirkan karena di halte seberang (Zwarte Pad, tapi menuju tujuan akhir sebaliknya) ada rombongan turis muka-muka Asia. Ada kemungkinan besar bahwa mereka menuju Schiphol (bandara utama Belanda) juga kan?

Well, setelah tanya ternyata tujuan mereka adalah centrum Amsterdam. Beda arah. Tapi mereka bilang (dan make sense) kalau saya mau ke Schiphol, kan dari pusat kota Amsterdam banyak pilihan transport.

Ada pilihan di sini: mau coba nyari halte Schinkeldijke info dari noni belanda tadi (siapa tau sebenarnya emang ga terlalu jauh dari Zwarte Pad), atau cari aman menuju pusat Amsterdam dulu (pasti ada transport, tapi lebih ribet mesti pindah-pindah bus/metro/kereta).

Berdasar insting, pilihan pertama lah yang saya pilih. Semoga halte berikutnya emang ga jauh, dan bener namanya Schinkeldijke. Semoga.

Baru setengah perjalanan menuju next halte, bus yang ke arah centrum Amsterdam datang. Mengingat frekuensi bus di jam itu mulai jarang (30 menit sekali), kok sepertinya ini jadi lebih menarik.

Putar balik, kejaar busnyaaa…

…..

…..

Dan.. selamat.. karena busnya..

GA KEKEJAR.

Selamat berkeluh kesah di Zwarte Pad. Damn.

**

Kawan, pernah ga sih kalian menyusahkan diri sendiri karena pilihan yang berubah-ubah? Belum pernah, pernah, atau sering?

Kadang saat kondisi awal kita kurang tau tentang sesuatu, kita bertanya pada orang yang menurut kita expert. Beliau memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat kita yakini membantu dalam melangkah. Lalu di tengah jalan, kita lelah dan menemui persimpangan. Ada orang lain menunjukkan opsi lain yang terlihat lebih efektif karena ia menunjukkan dengan data yang terlihat valid. Saat sudah berbelok, ada lagi orang lain dengan pendapat yang make sense, walau sebenarnya kurang tepat jadi rujukan karena tujuan akhirnya beda. Sampai akhirnya, ngikut aja ke opportunity yang terlihat di depan mata.

Huff.

Beginilah, kalau mau ngeblog tapi campur dengan balada ngerjain tesis. Jelas paragraf geje barusan itu curhat tesis. Hahaha..

zwarte pad

Olah TKP: Yang dilingkari kuning adalah halte “Camping” (dilewati bus 199 arah Schiphol). Dilingkari biru adalah halte “Schinkeldijke” (dilewati bus 199 arah Schiphol, beneran next halte dari Zwarte Pad, noni belanda ngasi petunjuknya ternyata valid tapi ga di-zoom in jadi berasa¬†rancu). Dan yang ditandai merah adalah halte Zwarte Pad, tempat saya termangu¬†walau akhirnya sampai Schiphol juga sih dengan sekali oper.

Poin yang didapat dari kejadian Zwarte Pad dengan tesis:

  • Kalau tanya dengan expert atau first supervisor, di mana penjelasan beliau terlihat simple dan doable, expect for many¬†more efforts!¬†Kita jelas berangkat dari¬†background ilmu yang lebih dangkal sehingga perlu effort lebih banyak, ga sesimpel itu.
  • Kalau ada teman diskusi lain yang bisa membantu (misal: akses jurnal via link khusus yang tidak terjangkau oleh kita), apresiasi bantuannya tapi perlu juga bagi kita untuk menggali lebih detail. Kalau terima mentah saja, dijamin data yang didapat malah bikin lebih pusing.
  • Setiap mahasiswa tesis¬†punya background dan tujuan sendiri-sendiri, yang sangat mungkin beda jauh dengan kita. Saling bantu, tapi jangan banding-bandingkan¬†progress. Fokus pada progress riset sendiri. Kalau merasa tertinggal jauh, ingat bahwa kita tak pernah tau detail usaha belajar masing-masing orang. Gampangnya, bisa jadi orang lain berangkat dari poin 50 (hasil experience bekerja), dan progres poin sekarang 80. Sedangkan kita baru di poin 60, tapi kita berangkat dari poin 10 (ilmu minim karena masih newbie). Secara progres umum tertinggal, tapi dari peningkatan poin, lebih banyak bukan? Well, sekali lagi fokus pada progress ilmu yang didapat, don’t compare ūüôā
  • Semangaaat… Memang banyak bingung. Memang banyak lari kejar-kejaran dengan deadline. Kadang tertinggal juga. Banyak¬†capek. Kadang benar-benar tak berprogress. Tapi semangat!!
  • Yang paling penting adalah punya tujuan. Jalan yang ditempuh bisa jadi berubah dari petunjuk awal, bisa jadi melalui jalan yang lebih jauh. Tapi fokus pada tujuan, berusaha maka kita akan sampai. Satu tambahan penting buat penyemangat, betapa melelahkannya jalan, jadi tak masalah kalau akhirnya berujung¬†ke hatimu #laaah

Demikian curhatnya.

Terima kasih sudah membaca ūüôā

Diposkan pada periodic diary, Uncategorized

Puncak Klasemen


Minggu lalu, ada obrolan cukup menarik yang saya temui di grup keluarga kosan Bandung, Pancasila 9 (dinamain berdasar nama gang dan nomor rumah, tempat kami menjalani hari-hari luar biasa jaman S1 dulu). Obrolan apakah itu? Check this out aja ya.. ūüôā¬† *note: semua nama sengaja disamarkan*

A : Mas B, istrine sampun isi (istri sudah hamil)?

B : Masih belum, A.

C : Wah, D masih memimpin klasemen ya! (C dan D sama-sama sudah punya istri dan 1 anak, cuma anaknya mas D lahir duluan)

E : Weh, berarti kalau mau geser pemuncak klasemen, mesti cari istri yang minimal punya anak 2 dong ya? (si E ini belum nikah, tapi visioner)

C : Cerdas, E.

B : Bikin pondok pesantren atau yayasan anak yatim, E. Langsung banyak anakmu. #anakangkat ūüėÄ

C : Eh by the way, Si F mau promosi ke divisi utama Desember ini nih (beuh, mas F mau nikah = mau promosi ke divisi utama!)

B : Wah bulan ini dong, C.

C : Yup. Kalau si G udah nikah tapi istrinya langsung ditinggal jauh, berarti degradasi ke Serie B (waduh!)

H : Mending mas G cuma ninggal ke Kalimantan, mas I ninggal antar negara euy. Hahaha (well, mas I lanjut kuliah di Uni Emirates)

F : (sang calon mempelai) Tenaaang.. aku kayak Leicester kok. Promosi langsung menuju puncak klasemen. Sekarang masi playoff championship (persiapan sebelum masuk divisi utama)

J : Weh, si H ga punya hak urun rembug (diskusi), nikah aja belum. Bolehnya cuma nanya doang, wkwkwk…

F : Nah loh, H. Menengo (Diamlah)!

A : Si H belum pelantikan

I : Jangan-jangan dia gay (beuh)

C : Jangan gitu cah. Si H ini baru LDR. Dia di Jakarta, ceweknya di masa lalu. Hehe

B : Warbyasa, LDRnya si H menembus ruang dan waktu. Eh tapi yakin C, si H ini LDRnya sama cewe? Gimana kalo ternyata cowo?

***

Saya : (baru buka hape tiba2 notif whatsapp numpuk) Astagaa.. Ada sistem promosi degradasi.. pemuncak klasemen.. Ane masih di liga amatir berarti.. Hahaha..

blog1

Demikian.

 

Diposkan pada periodic diary

Alhamdulillah


Mini display di halte itu menampilkan “3 min”. Hmm.. tiga menit sebelum bus datang. Waktu yang sangat tanggung untuk masuk lagi ke dalam gedung perpus, demi sejumput perlindungan dari angin malam yang makin menggila. Kalau masuk ntar bisa ketinggalan bus, yang hampir selalu on time di sini. Bus berikutnya? beuh karena ini minggu malama, frekuensinya sangat jarang. Satu jam sekali. Karena perpus juga segera tutup dalam 10 menit, bisa-bisa nunggu hampir satu jam di halte bus. Engga deh.

Di waktu yang amat nanggung itu saya menggerutu, ngapain sih busnya terjadwal bentar lagi dan most likely on time, telat dikit juga boleh kok, 5-10 menit gitu *ahaha, dikasih pelayanan bagus malah masih minta extend*. Atau tentang angin, kenapa sih kencangnya bukan maen, jauh melebihi kencangnya gejolak di hatiku (halah!). At that rate, tiap 5 menit kena angin bisa masuk angin nih. Kalau mesti nunggu di halte 50 menit (kalau ketinggalan bus), bakal 10x masuk angin tuh. Hahah.. Belum tentang badai assignment. Kapan kelaar ini.

Ah sudahlah. Ditinggal bergumam geje, busnya datang.

Saya bergegas masuk, keburu dingin. Bu sopir menyapa ramah “hello” sambil tersenyum. Muka saya keliatan banget orang asing ya kok ga disapa pake bahasa Belanda. Saya jawab dengan senyum “Goedenavond, mevrouw” (aish, sok-sokan pake Dutch!).

Bus mulai berjalan kembali menyusuri Oude Rijn, sungai kecil nan syahdu di Leiden. Temaram lampu jalanan menghadirkan cahaya nan indah untuk dinikmati. Hmm.. Cantiknya Leiden. Banyak hal sederhana di kota kecil ini yang memancarkan keindahan. Kanal, jembatan, taman, perpustakaan, keramahan, kesunyian, lampu jalanan… Everything is just

Alhamdulillah…

Aih, that’s it! Terucap juga kalimat itu.. Ah betapa minimnya saya mengucap itu, di saat banyak hal sederhana yang mesti disyukuri. Padahal semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak hal sederhana yang bisa membuat bahagia.

Dengan bersyukur, aal izz well…

Aih, jadi inget catchy phrase dari film superkeren berjudul 3 Idiots itu. Keinget jelas saat Rancho bilang

That day I understood that this heart scares easily. You have to trick it, however big the problem is. Tell your heart, ‚Äėaal izz well, aal izz well.‚Äô

Raju nimpalin, “Does that solve the problem?” dan dijawab mantap ama Rancho “NO, but you gain courage to face it“. Banyak hal yang membuat kita khawatir, tapi sebesar apapun masalah, kita bisa meyakinkan hati bahwa kita akan baik-baik saja. Aal izz well..

Dan rasa syukur adalah salah satu cara meyakinkan hati. Apapun masalah yang terjadi hari ini dan nanti, saya hanya ingin menutup hari dengan mengucap…

alhamdulillah

Semoga esok terbangun dalam rasa syukur yang lebih baik

**

Leiden, 15 November 2015

Diposkan pada periodic diary

Yang kutahu dari bapakku


Sudah tak berbilang berapa kali diriku bergumam “betapa keren” bapakku, atas pengalaman keliling beragam pulau di Indonesia dan dunia. Tapi pernah suatu hari aku bergumam, “betapa tidak keren”nya bapakku, karena dari puluhan perjalanan itu, bagaimana mungkin aku tidak pernah diajak. Sama sekali. Jangankan ikut di perjalanan beliau di padang gurun dan Piramid di Afrika, atau indahnya pegunungan Alpen di Eropa, sekedar menyeberang dari pulau Jawa ke eloknya Karimunjawa dan Bali pun aku tak pernah diajak. Hmmm….

Tapi aku pun ingat, gumaman itu hanya berlalu sekedar gumaman saja. Setiba bapak di rumah, protesku selalu tertahan. Aku tidak peduli oleh-oleh apa yang bapak bawa. Pun fakta bahwa aku tidak diajak. Dan walaupun aku bukan orang yang ekspresif dalam menyambut, satu hal yang pasti aku bahagia. Bapak sudah pulang. Alhamdulillah. Bahagia terkadang memang sesederhana itu.

**

Sekarang, saat aku duduk dalam perantauan di kota kecil bernama Leiden, aku bergumam lagi. Berpuluh perjalanan, tidak kurang dari 10 negara sudah dilalui masing-masing, olehku maupun bapakku, tapi bagaimana mungkin kami tidak pernah berada dalam pesawat yang sama. Hubungan bapak dan anak macam apa ini. Ahaha.

Tapi, kali ini aku bersyukur dan sangat-sangat bersyukur dulu tidak pernah diajak oleh bapak ke tempat-tempat superkeren yang bapak tuju.

Karena akhirnya aku tahu:

  • dalam perjalanan ke Mesir, itu perjalanan dinas. Bagaimana mungkin mengajak anggota keluarga yang lain, bukankah itu bakal merugikan anggaran dinas?
  • dalam perjalanan ke Austria, itu dari beasiswa. Daripada keluar biaya mahal untuk menyenangkan anak, bukankah lebih baik ditabung untuk pendidikan anak yang makin hari makin mahal?

Alhamdulillah, dari tabungan itu aku bisa lulus S1, yang hasilnya menuntun juga ke kesempatan S2 sekarang. Di Eropa! Tanpa harus pakai uang bapak. Alhamdulillah.

Yang kutahu dari bapakku, beliau selalu YAKIN bahwa aku bisa menggapai tempat-tempat yang pernah beliau tuju, jadi tidak perlu terburu-buru memanjakan.

Yang kutahu dari bapakku, beliau hanya perlu memastikan bahwa TELADAN dan DOAnya yang akan menjadi penguat bagiku.

Yang kutahu dari bapakku, beliau tak pernah alpa mengirim pesan dan doa. Nak, semoga selalu semangat dan sehat ya.

Walaupun hampir semua pesannya kujawab sangat sangat sangat plain, “Ya pak” atau “Amiin3” (hahaha.. ngasal pol). Tapi tetap saja pesan dan doa itu.. PRICELESS..

Semoga suatu saat kita pernah sepesawat dan itu aku yang ngajak ya pak.. Ahaha.. ūüôā

with babe

Terima kasih, Bapak!

**

Leiden, 29 Oktober 2015

Diposkan pada embun, periodic diary

Whenever you say “better”


Hari ini saya mendapat “tamparan” dari satu mata kuliah. Tugas pertama yang diberikan pak dosen minggu lalu diberikan feedbacknya secara detail dan menohok. Nilai pun sudah dibagikan dengan rataan yang cukup sadis. Nilai saya? Hmm.. nilai terburuk yang pernah saya terima selama di sini.. and no excuses, I deserve that wkwk…

Tapi alhamdulillah. Sangat appreciate kepada dosen yang gamblang memberikan feedback, terang-terangan mengomentari letak kesalahan. Serunya belajar emang di situ rasanya, antara rasa kecewa disadarkan “kita emang ga seahli itu” dengan rasa bahagia “kita tahu mana yang bisa diperbaiki” ūüėÄ

Salah satu hal paling berkesan yang saya dapat dari feedback tersebut adalah:

Whenever you want to say “better”. STOP YOURSELF. And try to make MORE CONCRETE what you mean

Hahaha, ga di kehidupan nyata, ga pas ngerjain tugas, saya (atau Anda jugakah?) seringkali punya tendensi untuk bilang “lebih baik”.

Mengajukan research question dengan keyakinan kalau jawaban dari riset itu akan memberi dampak yang lebih baik. Bilang punya metode riset yang lebih baik. Ada rasa ingin meyakinkan sang dosen bahwa pekerjaan kita worth it dengan pilihan kata itu: “Better”. Well, semua orang ingin punya dampak, ingin merasa berguna, tapi sering ga pas dalam menyampaikan..

Apakah itu kata yang bisa diterima? Kalau mau jujur, kata “better” itu sangat subjektif, lebih baik dari sudut pandang siapa? Asumtif. Perlu diakui, ada unsur sekedar convincing ke diri sendiri dan orang lain, menenangkan pikiran saja. Dan kalau mau lebih jujur lagi, yang bilang “better” biasanya juga ga yakin lebih baik dari sisi apa.

Benar kata pak dosen, kapanpun kita pengen bilang “better”, STOP. Tahan dulu dari nulis atau ngomong seperti itu. Bilang dengan lebih konkret, semisal performa sama tapi app size lebih kecil (berarti lebih efisien). Hal tersebut measurable, dan karenanya motivasi untuk riset jadi lebih tinggi. Ada patokan soalnya.

Saya jadi baper juga kebawa refleksi sudah berapa ribu atau berapa juta kali bergumam “saya akan menjadi pribadi yang lebih baik hari ini”, dan iya sih niat seperti itu never ever memberi pengaruh untuk berubah. Klise.

So, kita ingin jadi orang yang lebih baik? STOP THAT.

Bukan stop niatnya untuk berbenah, tapi ganti kalimatnya hehehe. Baik itu seperti apa? Apa parameternya? Selama kita baru bisa bilang “akan lebih baik”, kita belum benar-benar bergerak jadi lebih baik. *ahaha self reflection banget*

Bismillah semoga kita lebih konkret. Amiiin ūüôā