Piala Dunia: Klasemen Akhir Grup A-D

Grup A

Amerika Latin memulai dominasinya dengan menempatkan Uruguay sebagai juara grup A. Tercatat hanya kegugupan di laga pertama melawan Prancis yang menyebabkan Uruguay gagal menang. Menemani Uruguay, tim Sombrero Meksiko. Sedangkan Afsel menjadi tim tuan rumah pertama sepanjang sejarah yang tidak mampu lolos dari fase grup. Tapi dengan torehan 4 poin dan hanya kalah selisih gol dari Meksiko, kurasa itu sudah maksimal dan jadi kebanggaan tersendiri bagi rakyatnya. Juara dunia 1998, Prancis, pulang dengan kondisi hancur lebur dengan konflik internal, tidak pernah menang, dan hanya mencetak satu gol tak berkelas.

Uruguay  3 2 1 0 4/0 7

Meksiko   3 1 1 1 3/2  4

Afsel          3 1 1 1 3/5  4

Prancis     3 0 1 2 1/4  1

topskor grup: Forlan (Uruguay–2 gol)

Grup B

Kembali tim Amerika Latin yang jadi pemuncak grup. Argentina meraih poin sempurna dengan 3 kali kemenangan. Hanya satu kekurangan Tango, motor serangan utama tim (Lionel Messi) belum juga menemukan keberuntungan mencetak gol. Yang menemani Argentina adalah Korsel. Tim negeri gingseng memastikan lolos dengan hasil seri melawan Nigeria. Yunani dan Nigeria mesti masuk kotak.

Argentina 3 3 0 0 7/1  9

Korsel        3 1 1 1  5/6  4

Yunani      3 1 0 2 2/5  3

Nigeria      3 0 1 2 3/5  1

Topskor grup: Higuain (Argentina–3 gol), Lee Jung Soo (Korsel– 2 gol)

Grup C

Amerika Serikat secara dramatis memastikan diri lolos sekaligus jadi pemuncak klasemen berkat gol Landon Donovan di menit 91 saat melawan Aljazair. Inggris menemani setelah menang 1-0 atas Slovenia, tim yang telah bermain cukup baik dan hampir lolos grup. Aljazair sendiri mengakhiri kompetisi tanpa pernah mencetak gol.

AS              3 1 2 0 4/3 5

Inggris     3 1 2 0 2/1 5

Slovenia  3 1 1 1 3/3 4

Aljazair    3 0 1 2 0/2 1

Topskor grup: Donovan (AS–2 gol)

Grup D

Jerman akhirnya lolos dan jadi pemuncak klasemen dengan kemenangan 1-0 atas Ghana di laga terakhir. Ghana sendiri bersyukur masih bisa lolos karena Serbia malah takluk dari Australia. Ghana menjadi tim afrika pertama yang lolos, unggul selisih gol dari Aussie. Sementara Serbia menjadi juru kunci klasemen.

Jerman    3 2 0 1 5/1 6

Ghana       3 1 1 1  2/2 4

Australia 3 1 1 1 3/6 4

Serbia       3 1 0 2 2/3 3

Topskor grup: Gyan (Ghana– 2 gol)

Fase Knock Out

Uruguay vs Korsel …. (1) bakal digelar Sabtu 26 Juni pukul 21.00 WIB

AS vs Ghana …. (2) Ahad 27 Juni 01.30

Jerman vs Inggris … (3) Ahad 27 Juni 21.00

Argentina vs Meksiko … (4) Senin 28 Juni 01.30

Pemenang pertandingan (1) bakal melawan (2) hari Sabtu 3 Juli 2010

Pemenang pertandingan (3) bakal melawan (4) hari Sabtu 3 Juli 2010

Bagaimana jagoan Anda? Loloskah?

Cerita 3 Hari 3 Pemain Terbaik Dunia

Kembali menulis tentang Piala Dunia 2010. Yah, karena banyak hal unik yang bisa diceritakan dari situ. Toh, basic hobby saya adalah sepakbola dan adventure. Harap dimaklumi kalau tulisannya banyak tentang itu. Hehe..

Cerita kali ini mengenai tiga hari yang unik dan mungkin ga bakal dilupakan oleh 3 pemain terbaik dunia terakhir, yakni Ricardo Kaka (pemain terbaik dunia 2007), Cristiano Ronaldo (2008) dan Lionel Messi (2009). Di Piala Dunia kali ini sepak terjang mereka terus menjadi sorotan karena nama besar dan status unggulan yang melekat di negara mereka. Selain itu, Piala Dunia merupakan ajang penilaian akbar untuk penentuan Pemain Terbaik Dunia 2010 yang akan diumumkan akhir tahun nanti. Mengingat ketiganya sama-sama gagal di Liga Champions tahun ini (mereka mendapat gelar Pemain Terbaiknya via permainan super di Liga Champions), jadi Piala Dunia jadi ajang untuk menampilkan permainan terhebat demi gelar individu paling prestisius bagi pemain sepakbola itu.

Setelah 2 matchday untuk masing2 negara berjalan, ada 3 kejadian yang dialami ketiga pemain tadi dalam 3 hari ini. Kejadian pertama terjadi pada Kaka, Senin 21 Juni 2010. Saat itu negaranya, Brazil, menghadapi Pantai Gading. Kaka yang sempat dicibir karena tampil kurang mengesankan pada laga perdana, bermain impresif dengan 2 assist berkelas untuk gol Luis Fabiano dan Elano. Sayangnya permainan apik Kaka ternoda karena diganjar kartu merah oleh wasit. Akting Kader Keita-lah yang menyebabkan itu, dan dalam replay terlihat jelas Keita menabrakkan diri ke Kaka yang diam. Kaka terpaksa meninggalkan lapangan dengan terheran-heran, mungkin inilah kartu merah pertama dalam karirnya. (Untuk melihat gol dan insiden itu, silakan klik http://www.matchhighlight.com/world-cup/brazil-vs-ivory-coast/).

Kejadian selanjutnya terjadi pada Cristiano Ronaldo. Berbeda dengan Kaka, kali ini Ronaldo dapat bagian yang ‘indah’. Ia memimpin rekan-rekannya membantai DPR Korea (di Indonesia lebih dikenal dengan Korea Utara) tujuh gol tanpa balas. Ya, 7-0!! Ronaldo menyumbangkan satu gol yang bisa dibilang cukup bejan (penuh keberuntungan). Bagaimanapun, ia jadi kapten Portugal dengan kemenangan terbesar di Piala Dunia. Sang legenda hidup sepakbola Portugal, Eusebio, yang menyaksikan langsung terlihat sangat sumringah. Well, Ronaldo bisa istirahat tenang dan tidur nyenyak Selasa ini. (liat pesta golnya di http://www.matchhighlight.com/world-cup/portugal-vs-korea-dpr/)

Selanjutnya bakal datang kejadian untuk Lionel Messi, Rabu 23 Juni 2010 besok. Apakah itu? Dari kabar yang ditulis detikcom, bersumber pada rekan akrab sang pelatih Diego Maradona, Messi bakal dapat hadiah ultah ke-23 dengan kepercayaan mengenakan ban kapten Argentina. (Sebelum lebih jauh, saya ingin bertanya.. kenapa banyak orang hebat lahir di bulan Juni ya? heu..). Bila kesempatan itu benar adanya, Messi bakal jadi pemain termuda yang pernah mengenakan ban kapten Argentina. Memecahkan rekor Roberto Perfurmo (23 tahun 8 bulan) pada Piala Dunia 1966. Yah, pertandingan Rabu dini hari nanti yang bakal menjawab apakah ‘hadiah’ itu terbukti.

Itulah kejadian unik 3 pemain terbaik dunia terakhir dalam 3 hari ini. Mari kita nantikan aksi-aksi mereka selanjutnya..

Kapankah Indonesia Tertular Brazil?

Dalam suasana Piala Dunia dan memprediksi bagaimana hasilnya, tak afdol kalau tidak membahas negara paling sukses di ajang ini yang identik dengan jogo bonito alias permainan indahnya, tak lain tak bukan, Brazil. Di era sepakbola modern, Brazil tak pernah lepas dari status unggulan utama. Pun untuk Piala Dunia tahun ini, sang pentachampion (lima kali juara) bersama Spanyol difavoritkan bertemu di partai akbar Final Piala Dunia 2010.

Brazil dari beberapa aspek memiliki kemiripan dengan tanah air Indonesia. Dari letak geografis, sama-sama berada di daerah khatulistiwa. Karena mendapat limpahan sinar matahari yang kurang lebih sama, warna kulit warga Brazil sama juga dengan Indonesia. Selain itu, dua negara berkembang ini memiliki potensi alam luar biasa dalam bentuk kesuburan tanah. Brazil terkenal sebagai eksportir utama produk-produk pertanian, sedangkan Indonesia seperti kata Koes Plus, ‘tongkat kayu dan batu jadi tanaman’ cukuplah kalimat itu menggambarkan betapa suburnya Nusantara.

Kembali ke aspek olahraga, kalau Brazil dominan di sepakbola, Indonesia punya keunggulan di badminton meski sekarang dominasi telah beralih ke China. Paling tidak, Indonesia sampai saat ini tercatat paling superior di Thomas Cup, Piala Dunia-nya badminton. Hmm.. bisakah Thomas Cup disebut Piala Dunia-nya badminton? Asumsiku sih bisa dianalogikan. Kalo Uber Cup ya setara Piala Dunia Wanita, World Badminton Championship seperti Piala Konfederasi dan All England itu Euro.

Nah pertanyaannya, dan ini yang jadi pokok tulisan ini, kenapa Indonesia tidak bisa konsisten seperti Brazil? Kalau Brazil disebut punya banyak bakat alam luar biasa di sepakbola, bukankah negara kita juga punya banyak di badminton, tapi kenapa progres regenerasi berjalan sangat lambat? Menarik bukan? Yuk, dibahas.

Brazil, seperti hampir semua negara di dunia, menjadikan sepakbola sebagai olahraga terfavorit. Di samping tebing, di pinggir pantai, di jalan aspal, di lapangan kampung anak-anak bermain sepakbola merupakan pemandangan wajar. Dari situlah, warga dari lingkungan kumuh bisa jadi superstar, sebagai contoh pemain sepakbola terbesar Pele, Il Phenomenon Ronaldo, dan si murah senyum Ronaldinho. J

Mereka memainkan sepakbola dengan peralatan seadanya. Toh bakat besar disertai usaha keras membuat mereka mampu ‘menggenggam dunia’ lewat olahraga ini. Bahkan, bakat besar dalam diri Deco yang berimigrasi ke Portugal, atau Eduardo da Silva (Kroasia), Marcos Senna (Spanyol), Alex dan Tulio Tanaka (Jepang) pun tak mengurangi kehebatan mereka. Brazil akan selalu tampil bagus dengan pemain tak terkenal macam Elano dan Ramires sekalipun.

Nah, dalam Piala Dunia kali ini, sang legenda hidup Pele mengeluarkan pernyataan (cukup kontroversial), bahwa tak seperti Piala Dunia sebelumnya yang penuh superstar, hanya ada satu superstar yakni Kaka di Piala Dunia kali ini. Anda setuju?

Kaka, yang punya julukan ‘Pele Putih’ memang pemilik nomor 10 yang identik dengan pemain penting atau playmaker utama. Uniknya, meski Pele menyebut Kaka punya bakat besar yang tidak mesti muncul 50 tahun sekali, Kaka pada awal karirnya disebut pelatihnya tak punya bakat! Terlahir dari keluarga berada, skill Kaka tidak sebanding pemilik bakat alami pemain-pemain yang muncul dari pinggir jalan, pinggir pantai maupun kawasan kumuh. Stamina Kaka juga jadi sorotan. Toh, itu tak menyurutkan niatnya jadi pesepakbola besar. Berlatih keras dengan porsi jauh lebih banyak dibanding rekan-rekannya, stamina dan skill Kaka pun meningkat pesat. Seperti kita tahu sekarang, ia jadi salah satu pesepakbola paling oke. Pernyataan Pele tadi jadi bukti sahih. Kaka juga sudah dapat seluruh gelar yang mungkin untuk seorang pemain (juara liga, piala domestik, Liga Champions, Super Eropa, Piala Dunia Antarklub untuk level klub, Copa America, Piala Dunia, Piala Konfederasi untuk level timnas, serta Pemain Terbaik Dunia versi wartawan/Balon d’Or, versi kapten dan pelatih timnas/FIFA World Player of The Year, versi pemain profesional/PFA untuk level individu). Dan ia masih berhasrat menggandakannya! Apa yang bisa diambil? Antusiasme dan kerja keras. Selain dikaruniai pemain dengan bakat besar, Brazil juga punya pemain yang antusiasme tinggi dan mau bekerja keras demi meningkatkan kemampuan diri dan mengharumkan nama bangsa. Mereka tidak terpengaruh nama besar masa lalu, tapi memang mau berusaha untuk diri sendiri dan bangsa.

Meski punya banyak pemain dengan skill di atas rata-rata, Brazil tidak tak tersentuh kegagalan. Faktor terbesar kegagalan itu adalah overconfidence alias kepedean dengan kehebatan mereka. Kasus PD1998 dan PD2006 di mana mereka seakan di level yang jauh di atas, eh malah gagal juara. Ini yang tidak perlu dicontoh. Tapi saat Brazil dapat menjaga sikap dan kesolidannya, Piala Dunia pun tergenggam seperti pada PD1994 dan PD2002. Mungkin itu juga amat diperhatikan sang pelatih Dunga (yang juga kapten Brazil 1994), sehingga tidak memasukkan nama Ronaldinho yang bisa merusak sikap dan kesolidan tim dengan kebiasaannya mengajak berpesta.

Dari yang kata-kata yang di-bold, saya berharap Indonesia tercinta dapat menirunya. Dimulai dari badminton. Yah, karena olahraga itu yang punya kemungkinan terbesar untuk ‘menggenggam dunia’. Kalau sepakbola tanah air mah saya sependapat dengan mayoritas pecinta bola Indonesia, hanya akan mengalami kemunduran atau (maksimal) jalan di tempat selama PSSI masih dipegang Nurdin Halid. Maybe selanjutnya bisa berjaya juga. Tentu itu yang diharapkan.

Kejayaan olahraga Indonesia bisa muncul jika regenerasi berjalan dengan baik. Agar regenerasi baik harus ada rasa percaya yang tinggi kepada pemain muda, tidak perlu ragu dimainkan di turnamen akbar seperti Piala Thomas atau Uber untuk menimba pengalaman dan kematangan bertanding. So, nantinya Indonesia bisa tampil bagus siapapun yang maen. Sebaliknya, pemain muda harus punya antusiasme dan kerja keras yang tinggi. Last but not least, jaga sikap dan kesolidan. Mental pemain Indonesia sebenarnya sudah bagus hanya perlu lebih ditingkatkan.

Pertanyaannya, kapankah Indonesia tertular nilai-nilai yang dipegang Brazil dalam menggenggam kejayaannya?

Bukan untuk dijawab waktunya. Lebih baik bangsa Indonesia melakukan yang terbaik untuk diri kita dulu. Yang atlet memperbaiki mentalitas dan abilitas keatletannya. Yang bukan atlet memperbaiki diri sesuai bidangnya. Semangat, Indonesia!!

Piala Dunia, Siapa Jago Anda?

Piala Dunia 2010 sudah dimulai. Pesta akbar 4 tahunan yang kali ini digelar di Afrika Selatan menghadirkan euforia yang luar biasa. Sebagai tontonan dengan pemirsa puluhan miliar (total 26,29 miliar pasang mata saat Piala Dunia 2006 Germany), antusiasme karena ajang itu memang besar. Terlebih dengan publikasi di berbagai media yang sangat gencar. Tak salah jika Piala Dunia mendapat sebutan The Greatest Show on Earth.

Pertanyaan yang sering terdengar: Siapakah jagoan Anda?

Apakah negara paling adidaya di sepakbola, Brazil? Negeri Samba memang selalu jadi favorit banyak kalangan. Untuk Piala Dunia yang digelar di benua Afrika ini, Anda yang menjagokan Brazil bisa memegang “teori lintas benua”. Yakni fakta bahwa sampai saat ini hanya Brazil-lah yang pernah memenangi Piala Dunia saat digelar di negara yang bukan ‘tetangga benua’nya. Tercatat Brazil pernah juara di benua Amerika, Eropa, dan Asia. Tapi harus jadi catatan pula, Brazil datang dengan performa bintang utamanya, Kaka, yang sedang menurun drastis.

Apakah anda menjagokan Spanyol? Juara Eropa 2008 ini banyak dijagokan karena punya permainan yang paling memikat untuk saat ini. Bisa dibilang, Spanyol baru diisi oleh generasi emasnya. Matador baru saja menghapus ‘hanya jago kualifikasi’ di Euro 2008 kemarin. Tapi, Piala Dunia tentu lebih sulit dari Euro. Mental juara Spanyol masih perlu pembuktian.

Atau anda masih suka dengan juara bertahan Italia? Azzuri datang bersama pelatih genius yang membawanya juara dalam Piala Dunia kemarin, Marcelo Lippi. Mentalitas Italia sudah cukup teruji. Tapi skuad yang dibawa banyak yang sudah tua, kurang meyakinkan dan menghadapi masalah pelik saat Andrea Pirlo, sang otak permainan, cedera dan masih menunggu benar-benar fit.

Bagaimana dengan tim Panser Jerman? Jerman bakal tampil tanpa kaptennya, Michael Ballack. Akan tetapi pemain muda yang dibawa punya skill menjanjikan dan di bawah asuhan Joachim Loew, sepertinya keidentikan Panser dengan ‘lambat panas’ bakal terhapus. Mental turnamen Jerman oke kalau menurut catatan sejarah, tapi pengaruh ketidakberadaan Ballack patut dicermati.

Anda fans tim tango Argentina? Dengan komando sang legenda hidup Maradona dan pemain terbaik dunia Lionel Messi, agak mengejutkan jika Tango datang sebagai peringkat 4 kualifikasi zona Amerika Selatan. Itulah kelemahan utama tim, labil. Hujan kritik datang dari mana-mana. Tapi mengingat Brazil saat juara 2002 pun dihujani kritik karena hanya menduduki peringkat 4 kualifikasi (sama dengan Argentina saat ini) dan Italia saat juara 2006 juga (calciopoli), Argentina berpeluang membungkam kritik dengan menjadi kampiun dunia.

Lalu, anda yang menjagokan Belanda dan Inggris? Untuk tim oranye Belanda, inilah saatnya menunjukkan pada dunia mereka tidak sekedar bagus di awal tapi mlempem di akhir. Seperti Spanyol, skuad saat ini bisa dibilang generasi emas. Menarik ditunggu kiprah Oranje di fase knock out, mengingat di fase grup mereka hampir pasti lolos. Untuk timnas Inggris, skill oke ditambah kedisiplinan bawaan Fabio Capello mewajibkan tim ini untuk minimal sampai semifinal. Ada dua poin minus Inggris, yakni cedera beruntun dua kapten (Beckham, lalu Rio Ferdinand) dan ketiadaan kiper yang mumpuni dalam skuad.

Di luar tim yang secara historis hampir selalu masuk daftar unggulan utama di atas, negara manakah jago Anda?

Tim-tim benua tuan rumah yang diwakili Afsel, Nigeria, Ghana, Kamerun, Pantai Gading dan Aljazair? Atau kekuatan baru dari benua Asia yang berwakilkan Jepang, Korsel, Korut dan ‘penyelusup’ Australia?

Manapun jagoan Anda, mari bersama kita nikmati suguhan akbar Piala Dunia 2010. The Greatest Show on Earth

Sepakbola Gila

Aku tidak pernah tidak mengakui sebagai seorang gibol (gila bola). Sejak pertama mengenal sepakbola di tahun 1998, aku punya ketertarikan yang begitu tinggi. Bukan karena menonton siaran langsung yang ditunggu jutaan orang di dunia, atau karena aku lahir tepat waktu putaran final Piala Dunia 1990 (apa hubungannya coba), melainkan karena aku memulainya dengan bermain riang gembira, berebut bola dan mencetak gol di sebuah lapangan kecil yang penuh kenangan.

Setelah semakin lama semakin tahu dunia bola, dan memilih AC Milan dan FC Barcelona sebagai tim jagoan, tentu saat bermain sepakbola pengen mencetak gol dengan sundulan ala Bierhoff, tendangan ala Shevchenko, gebrakan dahsyat Kaka, sampai liukan maut Lionel Messi. Dan sebenarnya ada beberapa momen yang (walau dalam lingkup amatir) hampir menyamai superstar-superstar bola tadi. Entah ini terlalu lebay, atau.. Sepakbola memang Gila. These are my best moments when playing football. Check it out!

1. Waktu SD

Momen tak terlupakan waktu SD adalah saat tim kelas 5 (klo ga salah) melawan SSB Adidas. Di pertandingan itu aku pertama kali bermain di lapangan Makamhaji yang legendaris itu (legendaris dari mana?), dan pertama kali memakai sepatu bola. Nah, best momen terjadi di menit-menit awal pertandingan di mana aku berlari kencang, melewati hadangan bek lawan dan melepaskan tendangan mendatar yang tak kuasa dibendung kiper lawan. Solo Run Goal ala Kaka!! Wow!! Tapi berbeda dengan Kaka, itu hanya bisa sekali kulakukan, hanya di pertandingan amatir, dan sehabis melakukannya aku tidak kuat berlari lagi. Untuk jalan pun capek banget (lemah!). Juga lecet di kaki kiri karena sepatu bola kekecilan (yang sampai saat ini masih ada bekasnya). Alhasil, sang ‘superstar 20 detik’ pun tak bisa menyelamatkan timnya dari kekalahan 1-2. Satu momen indah lain adalah saat mencetak gol dengan tendangan bebas melengkung kaki kiri. Dilakukan saat latihan SD di lapangan sekolah, dengan bola plastik tentunya (yah..). Hampir sama dengan yang dilakukan Lionel Messi ke gawang Dinamo Kiev di ECL musim ini. Bedanya? FIFA tak mencatat gol indahku ini (yaeyalah, di tingkat terendah dunia, amatir, latihan SD di Indonesia), sedangkan Messi di tingkat tertinggi (ECL). Dan karena aku sangat jarang menendang dengan kaki kiri, dapat disimpulkan itu 100% luck 0% skill, kebalikan dari Messi yang 100% skill. Hahaha

2. Waktu SMP

Waktu SMP kenangan sepakbola kurang berkesan. Aku dulu malah masuk ekskul basket bukan sepakbola. Dari sedikit kesan, gol yang kukenang adalah cannonball di Manahan. Tentu bukan di lapangan dalam stadion terbaik di Jateng itu, tapi di lapangan luar dekat parkiran, lapangan kecil. Tendangan geledek dari tengah lapangan (lapangannya kecil sih) yang alhamdulillah bisa membuat bek dan kipernya menyingkir. Bersaing lah dengan gol Steven Gerrard. Hehehe

3. Waktu SMA

Satu gol yang kukenang adalah satu-satunya gol yang kucetak di Smansa Cup. Bertempat di lapangan lupa namanya (di pinggir jalan AdiSucipto pokoknya, selain Paulan). Momen cornerkick dituntaskan dengan tendangan kaki kanan yang menembus gawang lawan. Sebuah gol ala Filippo Inzaghi (haha, ketahuan jeleknya). Walaupun torehan gol jauh banget dari para topskor SmansaCup seperti sahabatku Ichal dan eks ketua Wika mas Gondre, tapi tak apalah, yang penting pernah mencetak gol. Sebenarnya ada satu momen tendangan melengkung kaki kanan yang kulakukan dengan sepatu gresnya Eki, tapi entah bagaimana kiper lawan bisa menepisnya. Timku pun tersingkir karena hanya bisa bermain imbang di laga itu.

4. Waktu Kuliah

Belum pernah maen bola lapangan gede euy. Era futsal soalnya. Di timnas Telkom, torehan golku (futsal) di pertandingan resmi baru satu (waktu Telkom menang 10-0 atas Metalurgi). Yah, kapan-kapan harus maen bola lapangan gede lagi. Dan menciptakan momen terbaik dengan gol ala Messi atau Kaka. Hoho..

Sepakbola memang gila

Schumi, Titisan Schumi atau Schumi Kecil?

Kali ini pingin nulis kolom sport, tepatnya sebagai penggemar balap mobil paling akbar sejagad, Formula 1 (F1). Musim 2010 ini sangat menarik untuk dibahas karena melibatkan 4 pembalap yang pernah juara dunia ditambah beberapa pembalap muda nan potensial. Dari 4 pembalap juara dunia, nama Michael Schumacher atau biasa dipanggil Schumi, tentu paling disorot.

Ia legenda hidup F1 dengan segala rekor (juara dunia, juara GP, pole position, fastest lap terbanyak) yang baru saja comeback tahun ini. Mungkin gatal juga ia beberapa tahun tidak turun langsung di arena F1. Kehadirannya selain membuat persaingan makin panas, juga membuat semangat semua pembalap meningkat. Siapa tak mau mengalahkan legenda hidup.

Juara dunia berikutnya adalah Fernando Alonso. Juara dunia tahun 2005 dan 2006 ini baru bergabung tim paling populer di F1, Ferrari. Dialah satu-satunya pembalap saat ini yang pernah juara dunia dengan mengalahkan Schumi. Uniknya antara kedua pembalap (Alonso dan Schumi) punya banyak kemiripan. Alonso meraih juara dunia dua kali bersama Renault (dulunya Benetton, tempat Schumi juara dunia dua kali pula). Saat itu Alonso dipandu oleh Flavio Briatore (Schumi juga!). Dua orang ini juga sama-sama punya hobi sepakbola sebagai olahraga kedua (setelah F1 tentunya). Dan musim ini semakin konkret kemiripan Alonso sehingga bisa jadi ia memang titisan Schumi dengan mengikuti langkah yang pernah diambil Schumi, bergabung dengan Scuderia Ferrari.

Dua juara dunia yang lain bahu-membahu dalam satu tim, McLaren, untuk musim ini, yakni Lewis Hamilton (juara 2008) dan Jenson Button (juara 2009). Lewis Hamilton dengan bakat besar ditambah pengalaman panjangnya dengan McLaren siap untuk merebut gelar juara dunia keduanya. Sedangkan Jenson Button yang musim lalu diuntungkan dengan sisi teknis Brawn GP menarik ditunggu kiprahnya, yang sempat melempem di akhir musim lalu dan untungnya tidak sempat digusur Sebastian Vettel.

Ya, Sebastien Vettel. Dia belum menjadi juara dunia. Tapi sebagai seorang anak muda yang baru sebentar masuk F1, ia punya bakat dan skill yang luar biasa. Karena berasal dari Jerman seperti Schumi, tak salah jika ia disebut Schumi Kecil. Talentanya sudah nyaris berbuah hasil tahun lalu, tapi sayang ia masih tertinggal sedikit saja dari Button. Musim ini, dengan sasis menawan Red Bull rancangan desainer F1 kondang Adrian Newey, Vettel menjadi pembalap non-juara dunia yang paling berpeluang meraih gelar prestisius di akhir musim.

Sudah lima pembalap dibahas. Masih ada tiga lagi yang dijagokan pula meramaikan persaingan menjadi juara dunia. Ada Felipe Massa, pembalap Ferrari yang baru saja sembuh dari cedera. Dengan pengalaman dan aerodinamika handal Ferrari, tak ada yang tak mungkin untuk seorang Massa. Musim 2008 ia menjadi pemenang GP terbanyak, sayang sistem poin mengharuskannya mempersilakan Hamilton menjadi juara dunia. Lalu ada Nico Rosberg, pembalap muda Jerman yang menemani Schumi di MercedesGP. Dengan potensi luar biasa, dan bantuan masukan dari pembalap besar macam Schumi, putra eks juara dunia Keke Rosberg ini siap bersaing. Nama terakhir yang melengkapi delapan kandidat utama juara dunia tahun ini adalah Mark Webber, tentunya dengan alasan yang hampir sama dengan Vettel, sasis mobil Red Bull.

Dari delapan pembalap kandidat tersebut, jika kukerucutkan menurut opiniku sendiri, juara dunia hanya akan diperebutkan tiga kandidat: Schumi, Titisan Schumi, dan Schumi Kecil. Mengapa?

Schumi dengan segala catatan legendarisnya masih sangat kompetitif. Usia memang uzur, tapi pengalaman yang akan bicara. Poin plus lagi adalah kerjasamanya dengan team principal cerdas Ross Brawn yang telah mengantarkannya juara dunia tujuh kali (2 di Benetton, 5 di Ferrari). Sebagai penggemar F1 yang mulai demen di era kejayaan Schumi dan Ferrari, tak ada keraguan bagiku untuk seorang Michael Schumacher. Andai ia membalap bersama Ferrari lagi, 100% akan kudukung. Tapi kenyataan berkata lain. Schumi memilih Mercedes dan pilihan utamaku untuk juara dunia tahun ini jatuh ke Fernando Alonso. Memang aku seorang FerrariHolic, tapi bukan itu alasan utamanya. Ferrari yang mengembangkan F10 (mobil balap mereka tahun ini) lebih dini karena gagal total sejak pertengahan musim lalu, telah membuktikan di berbagai latihan kecepatan dan reliability F10. Tidak salah lagi, dipadukan dengan skill mumpuni sang Titisan Schumi, Ferrari akan berjaya tahun ini. Bagaimana dengan Schumi Kecil? Vettel adalah jaminan persaingan bakal seru sampai akhir musim. Kuprediksi ambisi besarnya membuat ia bakal meraih pole position paling banyak tahun ini, tapi saat lomba faktor teknis dan mental juga akan bicara. Untuk faktor teknis, Vettel tidak lebih unggul dibanding Alonso dan untuk faktor mental Vettel kalah dari Schumi. Inilah yang akan membuat Vettel harus menunda juara dunianya untuk tahun ini.

Kenapa dengan kelima kandidat yang lain? Ambisi besar McLaren mengusung dua juara dunia bisa dibilang mengulang blunder yang pernah mereka lakukan di tahun 2007. Dua juara dunia secara konsep memang luar biasa, tapi dilihat dari pengalaman di lapangan, ambisi masing-masing bakal menjadi hambatan dan kedua pembalap bakal sama-sama tenggelam. Untuk Massa, aku punya respek besar, tapi pembalap ini biasanya kalah poin dengan rekan setim (hanya di tahun 2008 ia punya poin lebih banyak dibanding rekan setim), karena itulah aku tak menjagokannya. Sedangkan untuk Webber dan Rosberg, potensi mereka perlu diasah lagi untuk ikut bersaing di perebutan juara dunia, bisa dibilang dua orang ini baru berpotensi naik podium di beberapa seri, bukan sebagai juara GP.

Apa yang akan terjadi nantinya? Siapakah juara dunia F1 2010? Lihat saja nanti..