Arsip Kategori: teknologi

bidang yang akan menjadi spesialisasiku

Mr.Budgets, Aplikasi Pengelola Budget Keuangan

Waha.. lama juga ternyata saya tidak update blog 😦 Terdistraksi oleh banyaknya tugas kuliah di semester akhir ini (walau sebenarnya kurang bijak untuk dijadikan alasan sih). Tugas yang cukup menyita waktu itu salah satunya adalah tugas kelompok mata kuliah Pemrograman Perangkat Telekomunikasi Bergerak (PPTB), dalam hal saya dan kelompok membuat aplikasi Mr.Budgets…

Apa itu Mr.Budgets?

Bisa ditebak kan ya dari namanya.. Aplikasi ini berfungsi untuk mengatur budget keuangan user. Anak muda jaman sekarang mesti bisa donk me-manage budget,, era ini emang mengarahkan ke budaya konsumtif, tapi kita ga semestinya lah ya terbawa arus. Kontrol budget itu penting, apalagi di usia yang produktif untuk start-up business, masuk dunia kerja, sampai menyiapkan rumah tangga (auwah..). Baca Selengkapnya

Iklan

Maraknya Kasus Pencurian/Penyedotan Pulsa

Siang tadi, saya barusan mengikuti kuliah Regulasi Telekomunikasi. Di mata kuliah yang dibawakan dengan sangat menarik oleh dosen saya itu, kami membahas mengenai kasus paling aktual terkait telekomunikasi. Yah, sebagai civitas academica yang bergelut di bidang telekomunikasi, kami memang mesti diajarkan sense untuk mengikuti tren dan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Then, apa topik hangat yang bergulir tadi? Of course, yang sedang hangat-hangatnya dibahas,, tak lain tak bukan KASUS PENCURIAN/ PENYEDOTAN PULSA. Belakangan masyarakat memang sangat diresahkan dengan kasus ini. Dari yang kecewa tersedot Rp 2000/sms tapi cenderung pasrah aja karena nilai itu dirasa tak cukup besar untuk effort melapor ke pihak berwenang, sampai yang terang-terang memidanakan kasus ini (menuntut provider telekomunikasi) karena dianggap melakukan kebohongan publik, merugikan konsumen dan hal-hal yang bertentangan dengan UU ITE.

Hmm.. case yang menuntun saya –dari semula cuek– menjadi gencar browsing info terkait masalah ini. Dan setelah mengumpulkan berbagai sumber khususnya dari Liputan6, Detikinet, Teknojurnal dan Republika.. berikut sedikit yang bisa saya ambil dan rangkum:

Deskripsi Kasus

Inti dari kasus ini adalah Pengguna tanpa sadar masuk/register ke layanan konten yang menyedot pulsa secara signifikan, di mana sangat minim informasi untuk unregister (UNREG) sehingga pulsa terus menerus tersedot.

Umumnya kalau kita akan mengakses layanan konten tertentu (RBT, NSP atau konten lain) kita diperkenankan ketik REG (spasi), kita mendapat info/layanan tersebut, dan pulsa berkurang dengan nominal yang jelas. Tapi, entah apakah karena masyarakat mulai aware sehingga jumlah yang register dengan cara ini berkurang, penyedia konten atau content provider (CP) mulai menggunakan trik yang lebih jitu, dan pastinya menjengkelkan. Sejenak lupakan “SMS mama”, cek contoh kasus pencurian/penyedotan pulsa berikut:

  1. Anda dapat sms menang hadiah jutaan rupiah dan dipersilakan sms ke *XXX*X# (contoh: *123*2#). Waspadalah karena inilah bentuk baru registrasi layanan tanpa harus menggunakan REG (biasa disebut UMB). Nah, sebagai pengguna awam pasti kita akan mencobanya (karena sekilas nomor tersebut seperti nomor yang kita gunakan untuk mengecek sisa pulsa), namun jika kita menekan tombol tersebut maka secara langsung akan mengirimkan perintah untuk melakukan pendaftaran nomor kita ke layanan yang terpilih, kita teregistrasi ke layanan itu, dan well.. mulai tersedotlah pulsa kita.SMS dari 4 digit nomor (contoh: 9338) , tibatiba tersedot pulsanya 2000/sms hanya dengan membuka sms tersebut, tanpa membalasnya!
  2. SMS dari 4 digit nomor (contoh: 9338) , tiba-tiba tersedot pulsanya 2000/sms hanya dengan membuka SMS tersebut!! Biasanya sih kalau membalas SMS tersebut baru pulsa tersedot. Tapi case di Surabaya ini terbukti hanya dengan membuka SMS saja, pulsa sudah tersedot. Hmm….
  3. Pengguna layanan khusus semacam Ring Back Tone (RBT), ia akan diberi secara gratis selama beberapa hari dan jika masa gratisnya tersebut telah selesai maka pengguna akan dipotong pulsanya sejumlah harga RBT yang berlaku. Kasus ini sangat jarang terdeteksi karena kita baru akan tahu ketika orang lain akan bilang ke kita “Kamu pasang RBT lagu X ya?” dan kita akan kaget mendengar pertanyaan tersebut, karena kita merasa tidak suka dan tidak pernah berlangganan RBT. Kasus yang mirip adalah layanan tambahan Opera Mini. Pengacara David Tobing bahkan sampai memidanakan kasus ini karena merasa CP melakukan “negative option“, jika pelanggan tidak membalas konfirmasi maka dianggap sudah menyetujui.

Melihat contoh kasus di atas, cara-cara curangnya begitu ‘canggih’ dan sangat meresahkan, bukan??

Seperti diberitakan, YLKI (Yayasan Layanan Konsumen Indonesia) memastikan setiap bulan sekitar Rp 100 miliar pulsa milik konsumen tersedot para pencuri pulsa. Wew!! Jumlah kerugian yang sangat besar…

(under construction.. to be continued.. 🙂 )


Mengenal IPTV

Cerita KP berlanjut nih. Setelah dari tanggal 1-8 Juni saya menempati kantor Netre Jabar di Jalan Supratman, mulai hari Kamis 9 Juni saya bergabung dengan teman-teman di Telkom Lembong. Yeah. Pengalaman baru pun dimulai.

Dengan berpindah ke Lembong, ada beberapa keuntungan nih. Pertama, dapat ID Card Telkom, walaupun bertuliskan “PKL” tapi gapapa lah, jadi terlihat resmi. Secara kebetulan nomor kartunya 156 (hmm.. emang apa maksud nomor tersebut? Ada dweh..). Kemudian keuntungan kedua, masuknya jam 9. Hoho.. jadi masuknya lebih siang nih, kalau di Supratman kan saya sudah stand by semenjak jam 8.  Ketiga, ruangannya kalau di Lembong tuh di NGN (New Generation Networks) Competence Centre. Di ruang tersebut, Wifinya dapat diakses bebas dengan kecepatan luar biasa (jauh lebih cepat dari speedy, youtube-an tanpa buffering), dan bisa mengamati langsung teknologi canggih terbaru yang dimiliki Telkom cem softswitch, teleconference, sampai IPTV. Jadi di ruang sini saya bisa kerja sambil ngenet dan nonton TV (hoho.. asyik ga tuh). Nah, kali ini mari kita mengenal sedikit dulu mengenai IPTV.

Apa sih IPTV?

IPTV adalah layanan pay TV yang dideliver-kan dengan media IP (Internet Protocol). Jadi tau kan singkatan IPTV, tak lain tak bukan ya Internet Protocol Television. Dalam mengembangkan layanan True Broadband, TELKOM menggunakan Home Gateway yang dihubungkan melalui Speedy, dalam men-deliver layanan IPTV. Kabarnya nih, keberadaan IPTV bakal jadi saingan utama atau bahkan menggeser para pelakon bisnis TV berlangganan (TV kabel maupun satelit). Melalui teknologi berbasis internet ini, satu kabel bisa untuk layanan pengiriman data berbentuk suara maupun video. Terlebih lagi, teknologi itu memanfaatkan jaringan kebel telepon yang sudah banyak tersambung di rumah-rumah konsumen. So, operator ngga perlu lagi membuat jaringan baru yang memakan biaya besar.

Mengapa dikembangin IPTV?

Yah, ini karena kebutuhan layanan telekomunikasi customer  cenderung berubah dari hanya sekedar untuk berkomunikasi menjadi komunikasi dan hiburan (entertaintment), bahkan kini dan di masa yang akan datang komunikasi tidak hanya sekedar untuk berkomunikasi dan hiburan, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup (life style). Emang yang namanya telekomunikasi itu ga ada matinya ya! Nah, perubahan ini juga menuntut perkembangan kapasitas bandwidth baik up-stream maupun down-stream. Juga perubahan layanan dari penyedia jasa layanan telekomunikasi dari telecommunication provider menjadi integrated Service Provider.

Apa sih kelebihannya IPTV?

Kalau saya pribadi, untuk sementara kelebihannya ya bisa nonton TV di tempat kerja. Hehe.. Itu sangat umum yah. Oke, IPTV sebenarnya punya banyak kelebihan. Telkom aja investnya antara 50-100 Miliar, masak cuma untuk bikin layanan copo.

Then, Kita bisa liat kelebihannya dari fasilitas yang ditawarkan. Pertama, Video on Demand (VoD) Service. Layanan ini memberikan penyewaan konten video secara spesifik sesuai dengan pemesanan pelanggan. Kedua, Network Personal Video Recorder (NPVR). Layanan ini memungkinkan perekaman tayangan IPTV dan dapat di-schedule pada periode tertentu. Jadi kita bisa pause rewind dan bahkan record. Ga perlu khawatir kalau dini hari kelewatan menonton liukan Lionel Messi meluluhlantakkan tim lawan, ga sempat nonton Sule memimpin lawakan Opera Van Java, atau ketinggalan acara Kick Andy. Ga sabar nunggu highlight atau malah emang ga ada siaran replaynya, bisa langsung liat tuh. Apapun program acara favoritnya, bisa direkam dengan scheduling tertentu. Ketiga, Interactivity . Merupakan layanan yang memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan konten interaktif IPTV. Dengan tambahan perangkat untuk layanan IPTV yang namanya Set Top Box (STB), yang berfungsi seperti decoder TV parabola, maka tayangan TV dapat dinikmati dari jarak jauh. Bisa diakses secara mobile tanpa harus berada di dalam rumah.

Lalu kelemahannya?

Sebagai layanan baru, so pasti berbagai kelemahan muncul. Yang pertama, dan sebenarnya untuk teknologi baru bisa tertebak sih masalahnya itu-itu aja, yakni masalah harga. Groovia TV, nama untuk IPTVnya Telkom, punya tarif yang bisa dibilang sasarannya untuk kelas menengah ke atas. Menurut info yang saya baca, biaya langganan paling murah paketnya Rp695.000 per bulan untuk 1 Mbps, lalu Rp1.045.000 untuk 2 Mbps, dan Rp1.745.000 untuk 3 Mbps. Mahal ga tuh? Tapi katanya sih bagi pelanggan speedy 1 Mbps cukup menambah Rp50.000 sudah bisa mendapatkan pelayanan Groovia TV dan menikmati 40 channel TV Hiburan. hmm.. sebenarnya bisa dipahami juga kalau background pengembangan teknologi ini untuk lifestyle, jadi emang ada unsur eksklusif. But, kalau Telkom menargetkan jutaan pelanggan dalam tahun-tahun mendatang, harusnya tarifnya lebih flat yah..

Kelemahan kedua, baru Jakarta yang bisa menikmati layanan ini. Setau saya malah baru Jakarta Selatan, entah sekarang sudah berkembang di seluruh Jakarta atau belum. Emang perlu kecermatan marketing dan teknis sih untuk teknologi baru gini. Oya, Bandung juga sudah bisa menikmati. Nih, saya nonton di kantor Telkom.. hehe.. Tentu saja ga bisa digeneralisir untuk kota Bandung ya.

**

Begitulah report kecil saya mengenai IPTV. Ditulis dengan sumber artikel Kompas dan Antara, artikel dari Netre Jabar, dan juga sempat liat barangnya langsung. Semoga saja teknologi baru ini terus berkembang, dan ke depannya bisa memberi kemanfaatan berarti bagi Indonesia tercinta. Maju terus teknologi telekomunikasi Indonesia!

Serat Optik-2 (di Indonesia)

Setelah menulis sedikit tentang sejarah dan kegunaan serat optik di tulisan satu, di topik asyik serat optik berikutnya kita akan membahas mengenai serat optik di Indonesia. Bagaimanakah perkembangan serat optik di Indonesia! Ok, check this out!

Tersebutlah pada suatu masa, mahapatih kenamaan Gajah Mada menyatakan sumpah, “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Pulau Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.”

Sumpah itu masyhur. Namanya Sumpah Palapa. Dan tekad untuk menyatukan nusantara itu terus diusung sampai sekarang, di kala teknologi telah menjadi nama era ini. Satelit dan jaringan serat optik, yang bisa “menyatukan” nusantara diberi nama serupa, Palapa.

Oke, karena tulisan ini tentang serat optik, maka cukup kita bahas mengenai PALAPA RING, proyek pembangunan jaringan serat optik yang akan menjangkau sebanyak 33 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, sedangkan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer. Jika pembangunan wilayah timur yang sudah dimulai sejak 2009 selesai, tiap ibukota 440 kabupaten/kota akan terhubung via serat optik yang notabene jalur telekomunikasi paling efisien. Artinya, jika proyek ini tuntas, nusantara akan “bersatu”.

Rencana pemerintah, Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan. Tujuannya ini nih: membuat sambungan jarak jauh yang mudah & murah, penetrasi jaringan telpon dan internet, membangun infrastruktur fundamental jaringan komunikasi, dan mengatasi kesenjangan info antardaerah. Mantap kan?

Mau tau biaya pembangunan serat optik dengan total panjang  35280 km (di laut) dan 20737 km (di darat) ini? mencapai $ 1517 miliar atau setara dengan 13653 triliun Rupiah. Wow, jumlah yang sangat besar! Uniknya, dana sebesar itu tak masuk dalam APBN. Bukannya mempersilakan APBN dipakai untuk membangun gedung baru DPR yang ga jelas itu, tapi karena sudah kuatnya konsorsium operator telekomunikasi Indonesia sehingga bisa menyokong investasi ini.

Dengar-dengar nih ya, sekarang jaringan yang sudah terbangun mencapai 15000 km. Sudah sangat panjang, tapi masih kurang banyak dari target. Walaupun sudah melalui studi kelayakan untuk mencapai desain optimum dan perkiraan trafik telekomunikasi di masa depan, yang namanya hambatan pasti ada. Apalagi untuk proyek sebesar ini. Mulai dari hambatan alam seperti wilayah timur Indonesia yang sangat sangat luas dan kondisinya berupa ribuan kepulauan, sampai pada hambatan institusional macam keterbatasan vendor penyedia kapal (untuk masang serat optik bawah laut), mundurnya 1 anggota konsorsium sampai SK menteri dalam negeri yang menghentikan sementara proyek ini.

Apapun masalahnya, semoga saja cepat teratasi. Boleh kita berharap selesai tepat waktu target (2013) atau malah lebih cepat dari itu mengingat begitu banyaknya manfaat Palapa Ring ini. Berdoa semoga proyek ini lancar, dan sambil menunggu manfaatkan sebaik mungkin fasilitas komunikasi yang sudah ada saat ini (terlebih untuk kita yang kebetulan tinggal di Indonesia bagian barat. Banyak saudara kita di Indonesia timur yang bahkan masih menunggu jaringan telepon dan internet, pren!). Saya sendiri juga baru berusaha untuk mempelajari lebih dalam mengenai serat optik, sehingga kalau Palapa Ring jadi, dan menghadapi kemungkinan mengalami beberapa gangguan nantinya, saya bisa menjadi salah satu ahli yang bisa memberikan solusi. Amin.

Dan bersatulah nusantara! Dan berjuanglah untuk jadi nomor satu, Indonesia!

#danmasihterusbelajar

Serat Optik-1

Pada semester keenam di kampus Ganesha ini, saya mendapat mata kuliah Sistem Komunikasi Optik. Materinya, apa lagi kalau bukan hal-hal terkait komunikasi menggunakan serat optik. Sekalipun saat kuliah saya tidak bisa langsung memahami, tapi bisa saya katakan mata kuliah ini asyik. Dan ada satu alasan kenapa saya harus expert di bidang ini (alasan apa itu, yah mungkin akan saya ceritakan kemudian). So, karena jalan menuju expert itu sedang dirintis, saya mencoba nulis-nulis dikit tentang serat optik tsb. Jangan keburu ganti laman karena menganggap ini topik yang berat ya.. ini topik yang asyik kok.. 🙂

***

Serat optik merupakan saluran transmisi (semacam kabel gitu lah) yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus, yang bisa menghantarkan sinyal cahaya. Sumber cahaya yang biasa digunakan yakni sinar laser atau LED. Seperti ini nih gambarnya..

Gimana sih sejarahnya dan kenapa harus gunakan tuh “rambut putih kemplink”?

Rintisan pembuatan serat optik diawali oleh Claude Chappe (1790-an) dengan telegraf semaphore optik. Seiring berjalannya waktu, karena udah pada capek dengan penemuan Chappe, si penemu kenamaan Alexander Graham Bell (1880) membuat sistem telepon optik (photopone). Namun entah karena nama photopone lebih aneh atau karena telepon lebih praktis, nih photopone ga sampe jadi barang industri. Lalu lima tahun setelah Belanda mengakui kedaulatan RI (1954), seorang warga negaranya yang kebetulan ilmuwan, Abraham van Heel, menemukan hal krusial yakni cladding kabel serat optik. Tahun 1961, ahli optik Amerika, Elias Sneitzel, mempublikasikan deskripsi teoritis dan serat dengan loss (rugi) 1 dB/meter. Namun, komunikasi ideal butuh paling tidak loss-nya hanya 10-20 dB/kilometer. Tiga tahun lamanya sebelum akhirnya Dr.Charles Kao membuat spesifikasi yang dibutuhkan untuk standar tersebut. Setelahnya,  perbaikan untuk minimalisasi loss dan memperpanjang jangkauan terus dilakukan. Dan sekarang, mantap sekali, tidak kurang dari 80% trafik data dan suara jarak jauh dihantarkan melalui serat optik. (sumber: lecture’s slides).

Nah, kegunaan serat optik amat banyak, walau ga sampai menghias angkasa (apasih!). Serat optik punya kemampuan dalam membawa banyak data, dapat memuat kapasitas informasi yang sangat besar dengan kecepatan transmisi luar biasa (mencapai Gigabit per detik), dan menghantarkannya itu ke jarak jauh tanpa pengulangan. Oke kan? Itu baru satu. Selanjutnya, biaya pemasangan dan pengoperasian yang rendah serta tingkat keamanan yang lebih tinggi. Perpaduan nan mantap kan? Pemakaian ruang untuk serat optik juga minimal karena ukuran yang kecil dan ringan. Sebagai perbandingan, 1/2 inch serat optik beratnya 176 lbs/km dapat membawa jumlah informasi setara dengan 3 inch kabel tembaga dengan berat 16000 lbs/km. Wow! Faktor imunitas juga menawan. Serat optik terhadap gangguan elektromagnetik dan gangguan gelombang radio. Sifatnya yang non-penghantar membuat tidak perlu pusing memikirkan resiko korslet atau percikan api. Selain itu, serat optik tidak akan berkarat. Dan berbagai manfaat lainnya, yang jelas.. very useful…

Bikin Google dengan Nama Sendiri

Yuhu.. bermain-main dengan internet lagi,, Maen apa sekarang?

Hmm.. gimana kalo otak-atik Google… Sebagai search engine nomor satu di dunia, Google pasti jadi situs yang paling sering Anda buka. Tampilannya yang minimalis membuat Anda cukup nyaman dalam searching kan? Tak ada iklan pop up, musuh nomor satu yang bikin pengguna internet bete. Tapi senyaman-nyamannya googling, mungkin Anda bosan juga dengan tampilannya. Hmm.. kalau ingin ada “sedikit perubahan” pada Google Anda atau mungkin sekedar iseng saja.. Try this funny trick!

–Mengganti tulisan Google dengan nama Anda–

Langkah pertama, masuk dulu situs ini: http://funnylogo.info/create.asp. Nah, di kotak isian yang tersedia, tulis saja nama Anda. Tulis pilih style search engine yang Anda sukai (mau Google, Yahoo, etc). Kalau sudah tinggal klik Create My Search Engine. Jadi deh..

Sekarang alamat yang ada di address bar simpan saja baik-baik, dan kalau perlu jadikan default alamat di browser kesayangan Anda. Seperti ini (http://funnylogo.info/engines/Google/Red/Moeshofi.aspx) :

15 Hal untuk Dihindari Pemilik Web

Anda memiliki website (web), Kawan? Atau Anda sedang merintis sebuah web? Hmm.. kalau ya,, ada 15 hal yang perlu diperhatikan dan sebisa mungkin dihindari nih. Terlebih jika web tersebut merupakan web komersil (e-commerce), yang mana hal-hal kecil bisa membuat kehilangan trafik, kehilangan respon dan imbasnya tentu merambat ke pengurangan drastis profit web.

Well then, inilah urutan 15 hal yang paling dibenci pengguna Internet seperti dikutip eMarkete :

1. Iklan Pop-up (34,9%)
2. Kewajiban registrasi atau login untuk melihat situs webnya (16,7%)
3. Keharusan menginstal peranti lunak tambahan untuk melihat situs web (15.7%)
4. Kelambatan munculnya halaman web (9,1%)
5. Link mati, tak bisa diakses (4,7%)
6. Navigasi yang membingungkan (4,1%)
7. Informasi yang tidak diperbarui (3,1%)
8. Tak ada informasi kontak, hanya formulir web (2,6%)
9. Musik yang otomatis berbunyi (2,0%)
10. Browser tak bisa diklik “back” (1,7%)
11. Fasiltas search yang tidak efektif (1,6%)
12. Flash atau animasi yang berlebihan (1,5%)
13. Teks bergerak (0,9%)
14. Membuka window baru untuk link (0,9%)
15. Tampilan yang jelek (0,3%)

sumber: http://www.virtual.co.id

Menurut saya sendiri sih, iklan Pop Up memang sangat menganggu. Untungnya kebanyakan bisa ditanggulangi dengan add ons AdBlock. Tapi tetap saja kalau tiap masuk laman web, iklan Pop Up dulu yang menyambut.. yah, bete juga. Nah, poin 2-4 menurut saya malah jadi 3 besar hal yang paling menyebalkan dan harus dihindari para kreator web.

Bagaimana menurut teman-teman?

*Oya, 15 hal di atas sebenarnya bisa berlaku juga untuk evaluasi blog, yang notabene website juga. So, mari membuat blog kita lebih baik… 🙂