Diposkan pada jalan-jalan

Solo Traveling 6 Hari: Italia, Vatican, San Marino


Experience unlocked: Solo traveling

Dua minggu yang lalu, atau tepatnya 19-24 Januari 2016, saya baru saja menjajal pengalaman baru: jalan-jalan sendirian. Hmm.. Lucu juga sebenarnya di umur 25 baru pernah sekali ini traveling tanpa teman, seringnya butuh tukang foto teman ngobrol atau kulineran atau kikuk bahasa atau tersesat, intinya seru-seruan bareng. Kerapkali traveling grup kecil (bareng 1-2 teman), atau sesekali rombongan 5-10 sohib (seperti dulu backpacker ke Lombok).

Nah, gimana nih kalo traveling sendiri.. Seru jugakah?

Kalo unlockednya ke tiga negara yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, ga ngerti bahasanya, ga kenal karakter orangnya.. Bukankah semua yang bakal ditemui adalah sesuatu nan baru dan seru? Hihi…

Semua experience unlockednya coba saya summary di sini, untuk kemudian ditulis sub-cerita di postingan berikutnya πŸ™‚

Day 1-2 : Roma – Vatican

Banyak jalan menuju Roma. Begitu peribahasa yang sering kita dengar sedari SD. Well, jalan saya ke Roma diantar oleh maskapai budget kesekian yang pernah saya coba (maklum mahasiswa, mampunya beli tiket budget), Vueling Airlines. Namanya maskapai murah meriah, pada prosesnya muncul sedikit waswas. Udah bayar tiket, eh invoice-nya baru datang beberapa hari kemudian setelah kontak lewat.. twitter! Walau proses awal acakadut, entah bagaimana si maskapai Spanyol itu bisa terbang smooth, tanpa delay, bahkan di perjalanan pendek dari Amsterdam ini sampai Roma terlalu cepat 30 menit dari jadwal! *menarik untuk di-review lebih lanjut nih maskapai-maskapai budget di Eropa *

Di Roma saya menginap di budget hostel sekamar berempat. Pengalaman baru sekamar dengan international traveler yang tentu tidak saling kenal sebelumnya. Komposisi roommatenya: Seorang Indonesia yang terdampar di Leiden, seorang Singapore, mahasiswa NTU yang sedang exchange di Madrid, dan satu lagi orang Chile yang sedang exchange di Barcelona. Kami asik mengobrol tentang agenda traveling masing-masing saat roommate terakhir datang. Botak dengan tatapan datar tak bersahabat dan badan besar kekar cem tukang tawur di film Green Street Hooligan. Tanpa dikomando, kami mengakhiri obrolan, menciut dalam selimut masing-masing, dan berharap esok pagi masih bisa menatap mentari. People really do judgment. Hahaha… *pengalaman di beragam akomodasi mulai dari nebeng temen, hostel, sampai hotel unyu juga nih diceritain *

Esoknya saya memulai jalan-jalan dari Vatican, negara terkecil di dunia yang dikelilingi tembok tinggi di dalam Roma. Dari St. Peter’s Square, tempat penganut Katolik Roma berkumpul untuk mendengarkan kutbah dari Paus (Pope), objek menarik lainnya menunggu di sepanjang perjalanan balik ke pusat kota. Jalan kaki ke Ponte St. Angelo, Piazza Navona, Pantheon, Fontana di Trevi sampai di Spanish Steps. *bisa dibaca di: Jalan Jalan Sehari di Roma*

Next, mengunjungi masjid terbesar di Eropa yang surprisingly berada di Roma. Sayang karena letaknya yang jauh di pinggiran, saya hanya sempat melihat kubahnya dari jauh, ga sempat sholat di sana. Huhu *cerita tentang pengalaman mengunjungi masjid-masjid di Eropa juga belum sempat ditulis nih*

DSCN3707

Terakhir sebelum lanjut ke kota berikutnya, ga boleh ketinggalan nih foto di depan salah satu keajaiban dunia, Colosseum. “Seven wonder RPUL version” keempat setelah Candi Borobudur, Ka’bah, dan Eiffel. Ahaha, maksa banget ya, keajaiban dunia-nya masi ngikut jaman baheula :p

Perjalanan pun lanjut ke kota kecil bernama Rimini, tempat transit sebelum esoknya ke San Marino.

Day 2-3 : Rimini – San Marino

Jarak Roma-Rimini dilibas dalam waktu singkat dengan kereta FrecciaRossa, kereta kelas tertinggi di sistem perkeretaapian Itali. Kok sombong naik kereta itu padahal di Indonesia aja naik Argo Bromo kaga pernah? Err.. Di Itali, tarif keretanya jauh lebih murah dibanding Belanda, plus ada paket supereconomy yang memungkinkan beli dengan harga supermiring (lebih murah dibanding naik Argo) untuk kereta high speed line nya. Jadi tetep ya, ada pertimbangan budget juga πŸ˜€

Sampai Rimini jam 9 malem, udah ga ada public transport yang jalan dong. Sang kota kecil nan sepi ini pun mempersilakan saya untuk kembali jalan kaki (beneran deh, kalau travel sendiri itu jadi jauuh lebih banyak jalan kakinya). Setelah jalan kaki sejauh 2 km menuju hostel (jauh ga tuh?), saya mendapati bahwa hostel yang saya pesan sudah full booked dengan nama saya tidak ada dalam listnya.

Whaaatt!!??

Hari sudah segelap itu, di kota kecil antah berantah Rimini (pada belum pernah dengar namanya kan?), mendapati error dalam booking tentu bukan kondisi yang mengenakkan. Duh. Gimana dong? *tunggu ceritanya di insiden hotel Rimini.. hihi*

Lepas dari problematika hari sebelumnya, saya fully fresh untuk naik-naik ke puncak gunung Titano, tempat negara mungil lain di dalam Italia (terkecil kelima di dunia), San Marino. Cuacanya sedang berkabut banget, tapi malah unik karena the three tower, tiga menara benteng pertahanan yang menjadi simbol San Marino jadi terlihat lebih mistis. Trekking asyik menyusuri anak tangga mulai dari tower pertama (Guaita) yang merupakan tower tertua, tower kedua (Cesta) sang tower tertinggi, sampai ke tower ketiga (Montrale) yang paling mini di antara ketiganya. *bahas lebih lengkap di sub-cerita ya πŸ™‚ *

DSCN3819

Day 4 : Venice

Kalau sampai Rimini jam 9 malam aja muncul masalah, gimana kalau sampai di Venice jam 10 malam dan masih harus untuk mencari-cari hostel? Mengingat jalan utama Venice adalah kanal, jalanan yang disusuri adalah gang-gang kecil. Gimana kalau tersesat, dipalak orang, digonggongin anjing?

Ahaha, that’s why we travel, right? The world is not as scary as we think it is. Setelah jalan santai diantara temaram lampu malam Venice nan syahdu, secara kebetulan saya ketemu yang punya hostel di warung kebab! Bahkan dapat tiga combo: kebabnya (yang entah kenapa punya rasa kaya kebab Indonesia.. nyaam), hostelnya (ketemu yang punya) plus tempat sholat (sang bapak ternyata muslim Bangladesh, namanya Zainal Abidin.. kok mirip nama tetangga ya.. hehe). Alhamdulillah.

Di hostel roommate saya orang Jepang, hore fellow Asian (berasa lebih ramah aja sih) dan hore lagi karena bisa ngobrol tentang Water Seven, epic setting di manga One Piece yang terinspirasi dari Venice, bareng si kompatriot Oda-sensei itu.

Kota air nan menawan. Begitu saya tulis secuplik dalam postingan sebelumnya. Dimulai dari belanja buah di Rialto Market, mengunjungi square utama Piazza San Marco sampai bridge hunting. Apaan bridge hunting? Jadi to, ada empat jembatan besar yang membelah Grande Canal, kanal besar Venice. Keempatnya unik:Β  Ponte dell Accademica (terbuat dari kayu), Ponte Scalzi (batu), Ponte Calatrava (besi) dan Ponte Rialto (the main icon). Caem pokoknya kalo ambil foto bangunan dan kendaraan Venice (gondola, vaporetto) yang berlalu lalang di kanal dari situ *diceritain lebih lengkap di post selanjutnya ya*

DSC_3078

Day 5-6 : Milan

Childhood dream! Milan adalah kota impian saya sejak zaman bocah, mengingat saya sudah jadi Milanisti sejak umur 9 tahun. Siapa nyana, tepat 17 tahun kemudian saya bisa berkunjung ke San Siro, markas AC Milan. Uhh… Priceless moment bangeet.. *masi mencoba merangkai kata yang tepat bagaimana “impian bodoh” di masa kecil bisa menjadi pemicu semangat yang efektif *

DSCN4062

Kunjungan di Milan sendiri merupakan yang paling comfortable di antara semuanya. Akomodasi? Nebeng. Jalan-jalan dalam kota? Ada tour guide. San Siro museum? kebetulan ketemu guide dari Indonesia. Transport? Baru bagus-bagusnya, mengingat metro 6 yang driverless itu udah dibuka dan stasiun masi bersih habis Milan Expo. Ujung-ujungnya tinggal menikmati gelato sambil jalan di Piazza Duomo πŸ˜€

Well, senyaman-nyamannya di Milan, ada kejadian koplak juga karena error simplifikasi yang menyebabkan saya salah naik kereta. Saat harusnya menuju Lake Como, saya malah baru sadar salah kereta saat sudah di Bergamo (dari awal banget udah salah masuk kereta!). Bagaimana bisaaa? *nah, cerita konyol itu bisa dibaca di postingan Lake Como*

**

Demikian summary “experience unlocked: solo traveling” ke Italia selama 6 hari. Mesti dipotong jangan panjang-panjang biar ga nyangkut di draft mulu. Semoga subcerita bisa segera ketulis juga. Hehehe..

Happy Traveling! πŸ˜‰

Iklan
Diposkan pada jalan-jalan

Venezia : Kota Air nan Menawan


Buongiorno, Venezia!

“Buon Giorno” adalah ucapan “Good Morning” ala Italia. Apakah itu berarti orang yang menyapa berharap kita mendapat pagi yang indah, atau memang pagi akan selalu bagus apapun yang kita rasakan, atau ini adalah satu pagi untuk memulai something good?

Well, bisa jadi semuanya terangkum dalam satu frase, sebagaimana kata Bilbo Baggins di Lord of the Ring. Whatever, semangaad pagii teman-teman semua πŸ™‚

venice_morning_day

Minggu lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu kota impian dalam bucket list saya, Venice.. atau dalam bahasa lokal, Venezia. Kenapa kota ini begitu menarik untuk dikunjungi? Tak lain tak bukan karena superuniknya: City of Water aka The Floating City. Kota-kota di Belanda juga banyak kanal sebenarnya tapi sebagai support system aja, sementara kota satu ini.. kanal adalah jalan utamanya. Alih-alih motor, mobil atau bus, vaporetto (kapal) maupun gondola menjadi kendaraan primer.

Jalan-jalan menyusuri gang di Venezia sungguh nice experience karena setiap sudut kota menawarkan warna yang menawan. Coba tengok beberapa kanal yang saya lewatin berikut ini:

DSC_3094

DSC_3076

Cantik, bukan? πŸ™‚

Karena saya solo travelling ke Venezia ini, keliling kota saya lakukan cukup dengan berjalan kaki. Menyusuri gang-gang sempit, mencoba menikmati getting lost in Venice (walau ga pernah sampai tersesat amat, entah karena navigasi saya lumayan atau dasarnya banyak petunjuk menuju objek wisata utama.. hehe), sambil foto-foto tentunya.

Kenapa ga naik gondola, perahu khas Venezia nan masyhur itu?

Well, dua alasan utama:

  1. Mahal bingit. Perlu merogoh kocek lumayan dalam mengingat harganya yang bisa sampai 80 euro untuk 30 menit doang. Satu gondola maksimum 6 orang, dengan kata lain, harga akan minimal kalau patungan berenam. Lah kalau sendiri?
  2. Ada beberapa experience di dunia ini yang tidak elok nampaknya dinikmati as a single.. Wkwk… #baper #biarin

DSCN3904

DSCN3921

Oya, saya mengunjungi Venezia ini pas winter (musim dingin). Keuntungannya? Jumlah wisatawan ga padet, jadi kerasa lebih asik nyusurin gangnya. Harga akomodasi juga cenderung lebih murah. Plus, bau kanalnya ga menyengat sama sekali dan nyamuk memilih untuk tidak hidup, beda dengan musim panas. Kekurangannya? Selain udara dingin, langit gloomy. Mendung gitu kurang maksimal untuk ambil foto. Hehe. Pun jadwal restorasi Venice yang seringkali dilakukan di kala musim dingin tiba (make sense sih, biar pas banyak pengunjung udah tertata rapi lagi). Waktu saya di sana, Rialto Bridge dan Piazza San Marco sedang ada perbaikan. Cukup disayangkan.

Tapi Venezia tetaplah Venezia. Dari sunrise sampai sunset tiba, selalu menawan dan penuh warna.

DSCN3949

DSCN3951

DSCN3969

Alhamdulillah. Satu lagi bucket list yang tercoret.

Tunggu cerita lebih lengkapnya ya.. πŸ™‚

Diposkan pada Uncategorized

2016 Tahunnya Bersyukur


Halo teman-teman semua,

Tak terasa ya udah 2016 aja. Seperti biasa, waktu berlalu 365 hari panjangnya di 2015, dan banyak dari kita bisa dengan enteng bilang “wah ga kerasa yaa” (termasuk saya!). Dengan logika kayak gini, ga heran sih Rasulullah SAW bersabda selisih waktu antara beliau diutus (which is di abad 7) sampai kiamat (yg entah kapan, wallahu a’lam) itu jaraknya hanya seperti jarak 2 jari, dan itu make sense. Jarak dua jari jelas sangat pendek, tapi saya ngebayangin di akhirat kelak pasti ga ada yg protes dengan kalimat tadi. Lha wong mau diberi waktu pendek atau panjang, siklusnya tetep: Tahun baru-beraktivitas-akhir tahun-bilang ‘ga kerasa ya tau-tau udah akhir tahun aja’-Repeat. Ahaha..

Oya, awal-awal tahun biasanya pada bikin resolusi nih. Entah emang udah kebiasaan, entah karena ikut-ikutan, atau ya karena inget standar baku resolusi awal tahun, “mengejar wish list tahun lalu, meneruskan usaha dua tahun lalu, yang ditulis tiga tahun lalu, dan sebenarnya udah direncanakan empat tahun lalu”… Wkwk kok serba rekursif ya..

Antara penting ga penting sih ya bikin resolusi, tapi diliat positifnya aja setidaknya ada semangat untuk memperbaiki diri. Tiap orang punya checkpoint sendiri-sendiri dalam berusaha mewujudkan mimpi. Ada yang pas ultah, ada yang waktu naik kelas, ada yang di momen pergantian tahun, dan banyak lagi. Apapun, semoga teman-teman terus semangat dan tercapai targetnya. Amiin.

Saya sendiri mau ngapain ya di 2016? Mau ngapain hayo? Ahaha..

Saya ga bisa bilang ini adalah sebuah resolusi. Tapi yang jelas saya ingin kembali belajar hal basic di tahun ini, belajar bersyukur. Beberapa tahun belakang sudah berlalu dengan indah, tapi kok ada dark side yang susah banget diilangin: merencanakan, berusaha gigih, lalu lihat hasilnya dan tentuin mana yg sangat pantas disyukuri, mana yang cukup pantas disyukuri, dan mana yang tidak.

Whaaat?! Lancang banget ga sih.

Bukannya bersyukur itu harusnya berada di step paling pertama banget? Iya mestinya. Karenanya saya bilang tahun ini pengen hal tersebut ga berhenti di kata atau teori aja.

Tahun yang berlalu itu melelahkan, ya iya namanya usaha, dan kerasaΒ  semakin capek yang ga perlu karena lupa atau telat bersyukur. Secara garis besar PRnya dua: 1. nemuin cara efektif dan bisa jadi resep konstanΒ  memulai hari dalam keadaan bersyukur regardless yg terjadi di hari sebelumnya (bukan galau) dan 2. kalau emang lupa, gimana biar secepat mungkin ingat untuk bersyukur.

Berasa absurd ya? Ahaha..

Yang jelas, 2016 ini akan jadi tahun yang teramat indah. Akan banyak impian yang tercapai, karena insya Allah tahun ini saya lebih bersyukur dari tahun kemarin πŸ™‚

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

Bismillah 2016.

Diposkan pada periodic diary, Uncategorized

Puncak Klasemen


Minggu lalu, ada obrolan cukup menarik yang saya temui di grup keluarga kosan Bandung, Pancasila 9 (dinamain berdasar nama gang dan nomor rumah, tempat kami menjalani hari-hari luar biasa jaman S1 dulu). Obrolan apakah itu? Check this out aja ya.. πŸ™‚Β  *note: semua nama sengaja disamarkan*

A : Mas B, istrine sampun isi (istri sudah hamil)?

B : Masih belum, A.

C : Wah, D masih memimpin klasemen ya! (C dan D sama-sama sudah punya istri dan 1 anak, cuma anaknya mas D lahir duluan)

E : Weh, berarti kalau mau geser pemuncak klasemen, mesti cari istri yang minimal punya anak 2 dong ya? (si E ini belum nikah, tapi visioner)

C : Cerdas, E.

B : Bikin pondok pesantren atau yayasan anak yatim, E. Langsung banyak anakmu. #anakangkat πŸ˜€

C : Eh by the way, Si F mau promosi ke divisi utama Desember ini nih (beuh, mas F mau nikah = mau promosi ke divisi utama!)

B : Wah bulan ini dong, C.

C : Yup. Kalau si G udah nikah tapi istrinya langsung ditinggal jauh, berarti degradasi ke Serie B (waduh!)

H : Mending mas G cuma ninggal ke Kalimantan, mas I ninggal antar negara euy. Hahaha (well, mas I lanjut kuliah di Uni Emirates)

F : (sang calon mempelai) Tenaaang.. aku kayak Leicester kok. Promosi langsung menuju puncak klasemen. Sekarang masi playoff championship (persiapan sebelum masuk divisi utama)

J : Weh, si H ga punya hak urun rembug (diskusi), nikah aja belum. Bolehnya cuma nanya doang, wkwkwk…

F : Nah loh, H. Menengo (Diamlah)!

A : Si H belum pelantikan

I : Jangan-jangan dia gay (beuh)

C : Jangan gitu cah. Si H ini baru LDR. Dia di Jakarta, ceweknya di masa lalu. Hehe

B : Warbyasa, LDRnya si H menembus ruang dan waktu. Eh tapi yakin C, si H ini LDRnya sama cewe? Gimana kalo ternyata cowo?

***

Saya : (baru buka hape tiba2 notif whatsapp numpuk) Astagaa.. Ada sistem promosi degradasi.. pemuncak klasemen.. Ane masih di liga amatir berarti.. Hahaha..

blog1

Demikian.

 

Diposkan pada periodic diary

Alhamdulillah


Mini display di halte itu menampilkan “3 min”. Hmm.. tiga menit sebelum bus datang. Waktu yang sangat tanggung untuk masuk lagi ke dalam gedung perpus, demi sejumput perlindungan dari angin malam yang makin menggila. Kalau masuk ntar bisa ketinggalan bus, yang hampir selalu on time di sini. Bus berikutnya? beuh karena ini minggu malama, frekuensinya sangat jarang. Satu jam sekali. Karena perpus juga segera tutup dalam 10 menit, bisa-bisa nunggu hampir satu jam di halte bus. Engga deh.

Di waktu yang amat nanggung itu saya menggerutu, ngapain sih busnya terjadwal bentar lagi dan most likely on time, telat dikit juga boleh kok, 5-10 menit gitu *ahaha, dikasih pelayanan bagus malah masih minta extend*. Atau tentang angin, kenapa sih kencangnya bukan maen, jauh melebihi kencangnya gejolak di hatiku (halah!). At that rate, tiap 5 menit kena angin bisa masuk angin nih. Kalau mesti nunggu di halte 50 menit (kalau ketinggalan bus), bakal 10x masuk angin tuh. Hahah.. Belum tentang badai assignment. Kapan kelaar ini.

Ah sudahlah. Ditinggal bergumam geje, busnya datang.

Saya bergegas masuk, keburu dingin. Bu sopir menyapa ramah “hello” sambil tersenyum. Muka saya keliatan banget orang asing ya kok ga disapa pake bahasa Belanda. Saya jawab dengan senyum “Goedenavond, mevrouw” (aish, sok-sokan pake Dutch!).

Bus mulai berjalan kembali menyusuri Oude Rijn, sungai kecil nan syahdu di Leiden. Temaram lampu jalanan menghadirkan cahaya nan indah untuk dinikmati. Hmm.. Cantiknya Leiden. Banyak hal sederhana di kota kecil ini yang memancarkan keindahan. Kanal, jembatan, taman, perpustakaan, keramahan, kesunyian, lampu jalanan… Everything is just

Alhamdulillah…

Aih, that’s it! Terucap juga kalimat itu.. Ah betapa minimnya saya mengucap itu, di saat banyak hal sederhana yang mesti disyukuri. Padahal semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak hal sederhana yang bisa membuat bahagia.

Dengan bersyukur, aal izz well…

Aih, jadi inget catchy phrase dari film superkeren berjudul 3 Idiots itu. Keinget jelas saat Rancho bilang

That day I understood that this heart scares easily. You have to trick it, however big the problem is. Tell your heart, β€˜aal izz well, aal izz well.’

Raju nimpalin, “Does that solve the problem?” dan dijawab mantap ama Rancho “NO, but you gain courage to face it“. Banyak hal yang membuat kita khawatir, tapi sebesar apapun masalah, kita bisa meyakinkan hati bahwa kita akan baik-baik saja. Aal izz well..

Dan rasa syukur adalah salah satu cara meyakinkan hati. Apapun masalah yang terjadi hari ini dan nanti, saya hanya ingin menutup hari dengan mengucap…

alhamdulillah

Semoga esok terbangun dalam rasa syukur yang lebih baik

**

Leiden, 15 November 2015

Diposkan pada embun

Selamat Hari Pahlawan 2015


Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2015!! Terima kasih para pahlawan negeriku yang sudah sekuat jiwa raga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tercinta. Semoga kita generasi penerus bisa mengisi kemerdekaan dengan banyak hal positif ya πŸ™‚

Dalam post ini saya mau berbagi cerita yang cukup menarik untuk disimak, karena narasumbernya spesial. RM Soedijono. Siapa beliau? Wew, sangat spesial lho. Gimana engga, beliau merupakan sedikit dari pejuang kemerdekaan tanah air (ya, di jaman perjuangan 45 dulu) yang masih sehat walafiat dan bisa bercerita panjang lebar penuh semangat di usianya yang sudah menginjak 85 tahun.

Bagaimana kisah beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga tanah air ini merdeka 1945 lalu? Bagaimana mempertahankannya? Dan bagaimana pula wejangan beliau untuk kita sebagai generasi penerus?

Simak hasil wawancara eksklusif pada beliau yang saya lakukan sebagai penerima beasiswa LPDP, sebelum berangkat menuntut ilmu di Belanda di link berikut (maaf, masi nyari cara ni buat menampilkan PDF ke blog wordpress yang free.. huhu) :

PK-14 Kunjungan Pelaku Sejarah Kemerdekaan Indonesia

https://www.scribd.com/embeds/289241178/content?start_page=1&view_mode=scroll&show_recommendations=true
**

Bagaimana? Cukup inspiratifkah?

Sekali lagi selamat hari pahlawan 2015!

Semangat menjadi “pahlawan” untuk diri sendiri, untuk orang yang kita sayangi, untuk tanah air yang kita cintai.. dan jangan lupakan jasa beliau-beliau yang di masa lalu sudah berjuang melapangkan jalan kita untuk menjadi “pahlawan” di masa depan πŸ™‚

Diposkan pada periodic diary

Yang kutahu dari bapakku


Sudah tak berbilang berapa kali diriku bergumam “betapa keren” bapakku, atas pengalaman keliling beragam pulau di Indonesia dan dunia. Tapi pernah suatu hari aku bergumam, “betapa tidak keren”nya bapakku, karena dari puluhan perjalanan itu, bagaimana mungkin aku tidak pernah diajak. Sama sekali. Jangankan ikut di perjalanan beliau di padang gurun dan Piramid di Afrika, atau indahnya pegunungan Alpen di Eropa, sekedar menyeberang dari pulau Jawa ke eloknya Karimunjawa dan Bali pun aku tak pernah diajak. Hmmm….

Tapi aku pun ingat, gumaman itu hanya berlalu sekedar gumaman saja. Setiba bapak di rumah, protesku selalu tertahan. Aku tidak peduli oleh-oleh apa yang bapak bawa. Pun fakta bahwa aku tidak diajak. Dan walaupun aku bukan orang yang ekspresif dalam menyambut, satu hal yang pasti aku bahagia. Bapak sudah pulang. Alhamdulillah. Bahagia terkadang memang sesederhana itu.

**

Sekarang, saat aku duduk dalam perantauan di kota kecil bernama Leiden, aku bergumam lagi. Berpuluh perjalanan, tidak kurang dari 10 negara sudah dilalui masing-masing, olehku maupun bapakku, tapi bagaimana mungkin kami tidak pernah berada dalam pesawat yang sama. Hubungan bapak dan anak macam apa ini. Ahaha.

Tapi, kali ini aku bersyukur dan sangat-sangat bersyukur dulu tidak pernah diajak oleh bapak ke tempat-tempat superkeren yang bapak tuju.

Karena akhirnya aku tahu:

  • dalam perjalanan ke Mesir, itu perjalanan dinas. Bagaimana mungkin mengajak anggota keluarga yang lain, bukankah itu bakal merugikan anggaran dinas?
  • dalam perjalanan ke Austria, itu dari beasiswa. Daripada keluar biaya mahal untuk menyenangkan anak, bukankah lebih baik ditabung untuk pendidikan anak yang makin hari makin mahal?

Alhamdulillah, dari tabungan itu aku bisa lulus S1, yang hasilnya menuntun juga ke kesempatan S2 sekarang. Di Eropa! Tanpa harus pakai uang bapak. Alhamdulillah.

Yang kutahu dari bapakku, beliau selalu YAKIN bahwa aku bisa menggapai tempat-tempat yang pernah beliau tuju, jadi tidak perlu terburu-buru memanjakan.

Yang kutahu dari bapakku, beliau hanya perlu memastikan bahwa TELADAN dan DOAnya yang akan menjadi penguat bagiku.

Yang kutahu dari bapakku, beliau tak pernah alpa mengirim pesan dan doa. Nak, semoga selalu semangat dan sehat ya.

Walaupun hampir semua pesannya kujawab sangat sangat sangat plain, “Ya pak” atau “Amiin3” (hahaha.. ngasal pol). Tapi tetap saja pesan dan doa itu.. PRICELESS..

Semoga suatu saat kita pernah sepesawat dan itu aku yang ngajak ya pak.. Ahaha.. πŸ™‚

with babe

Terima kasih, Bapak!

**

Leiden, 29 Oktober 2015