Arsip Tag: belajar

Zwarte Pad

Jalan kaki 5 km itu “ngga banget” di negara yang anginnya naudzubillah seperti Belanda. Berhubung keterpaksaan oleh kondisi apes (Baca: Sakura di Belanda), saya mesti mencari tau info jalan tembus terdekat biar ga terlalu ngos-ngosan jalan. Oya bagi yang langsung ngeh bahwa  Google Maps adalah solusi tersimpel untuk masalah kayak gini, sayang sekali hape saya unexpectedly lagi error. Fufufu…

Oke, kita review effortnya ya..

Effort 1 

Berhubung saya baru saja dari Cherry Blossom (Sakura) Festival, tanya jalan ya ke orang yang berkaitan dengan festival. Tujuan mereka udah pasti ke gerbang depan, dan siapa tau bisa nebeng. Hehe.. #ngarepbener

Sayang sekali, saya ga bisa nebeng tapi dapat petunjuk bagus kalau ga mesti ke gerbang depan untuk mendapati halte bus. Ada halte yang lebih dekat, kata beliau hanya 15 menit jalan. Tinggal ikuti papan petunjuk exit menuju “Camping”.

Lima menit jalan kaki, untuk pertama kali terlihatlah papan petunjuk menuju “Camping”. Jaraknya? 2.5 km. Uh oh. Laah.. katanya  15 menit doang?

At this moment saya baru nyadar betapa berbedanya jangkauan kaki saya dengan si meneer Belanda. Tapi langkah tetap mesti dilanjutkan.

Effort 2

Saat kaki mulai gempor (udah jalan hampir 2 km ni, kayaknya), bertemulah dengan sebuah persimpangan yang mana kalau tengok kiri keliatan ada jalan besar di sana. Wah, di sanakah halte busnya? Tapi kok kalau ngikut meneer ke arah “Camping” arahnya mesti lurus dan masih 1 km! Kalau ketemu persimpangan yang meragukan gini, teman-teman kira-kira pilih mana? Ngikut petunjuk 1 no matter what, atau instingtif belok kiri dengan harapan menemui halte bus di sana?

Kebetulan saat ragu tersebut, ada noni Belanda yang lewat dan langsung aja tanya. Ternyata beliau bukan orang situ (Amstelveen), tapi willing to help dengan Google Maps-nya. Someone with Google Maps! Yeay!

Dari petunjuk sang noni, belok kiri jadi pilihan. Kata beliau, begitu kita mendapati jalan besar, deket situ ada  halte Schinkeldijke, yang mana ada bus 199 menuju Schiphol Airport, tujuan saya sebelum balik lagi ke Leiden tercinta. Nice info.

Ga butuh waktu lama untuk mencapai jalan besar. Pun halte bus yang langsung keliatan. Akhirnya ga perlu jalan kaki lagi. Tapi sesampai di halte, ternyata nama haltenya…

ZWARTE PAD.

Ga ada bus 199 lewat sini. OH MY.

Effort 3

Jeng jeng, masa bisa salah ngasi info sih noni Belanda tadi. Hmm.. Di halte Zwarte Pad, rute busnya ga ada yang mengarah ke Schiphol. Apa yang salah di sini ga perlu banyak dipikirkan karena di halte seberang (Zwarte Pad, tapi menuju tujuan akhir sebaliknya) ada rombongan turis muka-muka Asia. Ada kemungkinan besar bahwa mereka menuju Schiphol (bandara utama Belanda) juga kan?

Well, setelah tanya ternyata tujuan mereka adalah centrum Amsterdam. Beda arah. Tapi mereka bilang (dan make sense) kalau saya mau ke Schiphol, kan dari pusat kota Amsterdam banyak pilihan transport.

Ada pilihan di sini: mau coba nyari halte Schinkeldijke info dari noni belanda tadi (siapa tau sebenarnya emang ga terlalu jauh dari Zwarte Pad), atau cari aman menuju pusat Amsterdam dulu (pasti ada transport, tapi lebih ribet mesti pindah-pindah bus/metro/kereta).

Berdasar insting, pilihan pertama lah yang saya pilih. Semoga halte berikutnya emang ga jauh, dan bener namanya Schinkeldijke. Semoga.

Baru setengah perjalanan menuju next halte, bus yang ke arah centrum Amsterdam datang. Mengingat frekuensi bus di jam itu mulai jarang (30 menit sekali), kok sepertinya ini jadi lebih menarik.

Putar balik, kejaar busnyaaa…

…..

…..

Dan.. selamat.. karena busnya..

GA KEKEJAR.

Selamat berkeluh kesah di Zwarte Pad. Damn.

**

Kawan, pernah ga sih kalian menyusahkan diri sendiri karena pilihan yang berubah-ubah? Belum pernah, pernah, atau sering?

Kadang saat kondisi awal kita kurang tau tentang sesuatu, kita bertanya pada orang yang menurut kita expert. Beliau memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat kita yakini membantu dalam melangkah. Lalu di tengah jalan, kita lelah dan menemui persimpangan. Ada orang lain menunjukkan opsi lain yang terlihat lebih efektif karena ia menunjukkan dengan data yang terlihat valid. Saat sudah berbelok, ada lagi orang lain dengan pendapat yang make sense, walau sebenarnya kurang tepat jadi rujukan karena tujuan akhirnya beda. Sampai akhirnya, ngikut aja ke opportunity yang terlihat di depan mata.

Huff.

Beginilah, kalau mau ngeblog tapi campur dengan balada ngerjain tesis. Jelas paragraf geje barusan itu curhat tesis. Hahaha..

zwarte pad

Olah TKP: Yang dilingkari kuning adalah halte “Camping” (dilewati bus 199 arah Schiphol). Dilingkari biru adalah halte “Schinkeldijke” (dilewati bus 199 arah Schiphol, beneran next halte dari Zwarte Pad, noni belanda ngasi petunjuknya ternyata valid tapi ga di-zoom in jadi berasa rancu). Dan yang ditandai merah adalah halte Zwarte Pad, tempat saya termangu walau akhirnya sampai Schiphol juga sih dengan sekali oper.

Poin yang didapat dari kejadian Zwarte Pad dengan tesis:

  • Kalau tanya dengan expert atau first supervisor, di mana penjelasan beliau terlihat simple dan doable, expect for many more efforts! Kita jelas berangkat dari background ilmu yang lebih dangkal sehingga perlu effort lebih banyak, ga sesimpel itu.
  • Kalau ada teman diskusi lain yang bisa membantu (misal: akses jurnal via link khusus yang tidak terjangkau oleh kita), apresiasi bantuannya tapi perlu juga bagi kita untuk menggali lebih detail. Kalau terima mentah saja, dijamin data yang didapat malah bikin lebih pusing.
  • Setiap mahasiswa tesis punya background dan tujuan sendiri-sendiri, yang sangat mungkin beda jauh dengan kita. Saling bantu, tapi jangan banding-bandingkan progress. Fokus pada progress riset sendiri. Kalau merasa tertinggal jauh, ingat bahwa kita tak pernah tau detail usaha belajar masing-masing orang. Gampangnya, bisa jadi orang lain berangkat dari poin 50 (hasil experience bekerja), dan progres poin sekarang 80. Sedangkan kita baru di poin 60, tapi kita berangkat dari poin 10 (ilmu minim karena masih newbie). Secara progres umum tertinggal, tapi dari peningkatan poin, lebih banyak bukan? Well, sekali lagi fokus pada progress ilmu yang didapat, don’t compare 🙂
  • Semangaaat… Memang banyak bingung. Memang banyak lari kejar-kejaran dengan deadline. Kadang tertinggal juga. Banyak capek. Kadang benar-benar tak berprogress. Tapi semangat!!
  • Yang paling penting adalah punya tujuan. Jalan yang ditempuh bisa jadi berubah dari petunjuk awal, bisa jadi melalui jalan yang lebih jauh. Tapi fokus pada tujuan, berusaha maka kita akan sampai. Satu tambahan penting buat penyemangat, betapa melelahkannya jalan, jadi tak masalah kalau akhirnya berujung ke hatimu #laaah

Demikian curhatnya.

Terima kasih sudah membaca 🙂

Iklan

Whenever you say “better”

Hari ini saya mendapat “tamparan” dari satu mata kuliah. Tugas pertama yang diberikan pak dosen minggu lalu diberikan feedbacknya secara detail dan menohok. Nilai pun sudah dibagikan dengan rataan yang cukup sadis. Nilai saya? Hmm.. nilai terburuk yang pernah saya terima selama di sini.. and no excuses, I deserve that wkwk…

Tapi alhamdulillah. Sangat appreciate kepada dosen yang gamblang memberikan feedback, terang-terangan mengomentari letak kesalahan. Serunya belajar emang di situ rasanya, antara rasa kecewa disadarkan “kita emang ga seahli itu” dengan rasa bahagia “kita tahu mana yang bisa diperbaiki” 😀

Salah satu hal paling berkesan yang saya dapat dari feedback tersebut adalah:

Whenever you want to say “better”. STOP YOURSELF. And try to make MORE CONCRETE what you mean

Hahaha, ga di kehidupan nyata, ga pas ngerjain tugas, saya (atau Anda jugakah?) seringkali punya tendensi untuk bilang “lebih baik”.

Mengajukan research question dengan keyakinan kalau jawaban dari riset itu akan memberi dampak yang lebih baik. Bilang punya metode riset yang lebih baik. Ada rasa ingin meyakinkan sang dosen bahwa pekerjaan kita worth it dengan pilihan kata itu: “Better”. Well, semua orang ingin punya dampak, ingin merasa berguna, tapi sering ga pas dalam menyampaikan..

Apakah itu kata yang bisa diterima? Kalau mau jujur, kata “better” itu sangat subjektif, lebih baik dari sudut pandang siapa? Asumtif. Perlu diakui, ada unsur sekedar convincing ke diri sendiri dan orang lain, menenangkan pikiran saja. Dan kalau mau lebih jujur lagi, yang bilang “better” biasanya juga ga yakin lebih baik dari sisi apa.

Benar kata pak dosen, kapanpun kita pengen bilang “better”, STOP. Tahan dulu dari nulis atau ngomong seperti itu. Bilang dengan lebih konkret, semisal performa sama tapi app size lebih kecil (berarti lebih efisien). Hal tersebut measurable, dan karenanya motivasi untuk riset jadi lebih tinggi. Ada patokan soalnya.

Saya jadi baper juga kebawa refleksi sudah berapa ribu atau berapa juta kali bergumam “saya akan menjadi pribadi yang lebih baik hari ini”, dan iya sih niat seperti itu never ever memberi pengaruh untuk berubah. Klise.

So, kita ingin jadi orang yang lebih baik? STOP THAT.

Bukan stop niatnya untuk berbenah, tapi ganti kalimatnya hehehe. Baik itu seperti apa? Apa parameternya? Selama kita baru bisa bilang “akan lebih baik”, kita belum benar-benar bergerak jadi lebih baik. *ahaha self reflection banget*

Bismillah semoga kita lebih konkret. Amiiin 🙂

Bersengau Ria, “Se Presenter”

Selasa lalu, saya akhirnya mulai belajar Francais (bahasa Prancis). Yah, hitung-hitung sebagai pengisi liburan sekaligus penambah skill dan motivasi untuk bekal mengambil Master di Prancis ntar (amiin). Ikut kursus di UPT Bahasa ITB, dengan harga yang murah meriah, terjangkau untuk ukuran mahasiswa.

Kenapa les bahasa Prancis? Itulah yang pertama ditanyakan proffeseur saya waktu awal kursus ini. Oya, proffeseur jangan buru2 diartikan profesor ya. Itu artinya guru kok. Jadi kalau Anda ingin jadi pengajar, jadi pengajar bahasa Prancis aja, dipanggilnya udah “proffeseur” tuh.. keren kan… back to the topic. Saat peserta kursus yang berjumlah 14 menjawab, ternyata alasannya beragam. Ada yang tertarik aja (iseng), ingin belajar masak Prancis (wew!), ingin menikmati film-film Prancis yang bagus2, karena Bandung itu Paris van Java (hmm..), ada pula yang disebabkan temannya suka nulis status bahasa Prancis di jejaring sosial,. Unik-unik ya? Dan karena alasan saya masuk yang paling “serius” yakni persiapan mengambil master, jadi pak proffeseur mewanti-wanti untuk belajar sungguh-sungguh dari sekarang. Tentu, monsieur!

Nah, di awal dijelaskan bahwa bahasa Prancis (dan secara umum bahasa-bahasa negara Eropa) ada level-levelnya, dari A1, A2, B1, B2, dst. Tiap level biasanya dipelajari setara 100 jam, tapi di kursus ini karena lebih murah, ya mesti bisa dalam 72 jam. No problemo. Lalu untuk beasiswa ke Prancis, biasanya perguruan tinggi di sana mensyaratkan minimal di level B2 (ntar ada ujian DELF, semacam TOEFL untuk Francais). Kalau gagal menguasai sampai B2, bisa jadi beasiswa itu hangus. Waha.. Study hard.. Study hard…

Untuk menambah ketertarikan belajar, pak proffeseur mengatakan kalau Prancis sudah sedemikian dominan, bahkan di Indonesia. Air minum..Danone (Aqua). Energi..ada Total E&P. Tas..Sophie Martin. dan berbagai produk lain. Menguasai bahasa Prancis berarti punya kesempatan lebih di perusahaan ternama tersebut. Tapi sebenarnya yang paling penting dari belajar bahasa Prancis, kita bisa mengatakan pada orang2 Prancis “Betapa Indahnya Indonesia” dan “Betapa tidak selayaknya mereka menguasai SDA kita”. Haha.. bisa ngasi pelajaran nasionalisme juga nih, proffeseur..

Saatnya untuk mulai melafalkan Francais, dan itu artinya, saatnya bersengau-sengau ria.. 😀

Pelajaran hari pertama adalah “Se Presenter” (Introduce). Coba tebak gimana bacanya “Se Presenter”? bacanya “se presongte”.. jadi Francaise itu khasnya huruf terakhir (hampir untuk semua kata) tidak dibaca. terus selamat bersengau ria untuk en, an, on (sengau ‘ong’), dan untuk in, un (sengau ‘ang’). Orang Prancis sering baca Ikhfa’ Haqiqi mungkin ya.. nun sukun ketemu huruf tertentu jadi sengau-sengau gitu.. haha

yang pertama dilakukan waktu mulai kenalan? Oke, sapaan dulu. Yang biasa dipake adalah “Bonjour” (baca: bongyue). Ini semacam ‘good morning’, pokoknya dipakai selama matahari masih terlihat. Setelah matahari terbenam, jadi “Bonsoir” (baca: bongsoa). Semacam ‘good evening’ lah ya..

Lalu kalau ada yang tanya “Vous vous appelez comment” (baca: vou vouzappele kommong.. haha, ribet ga tuh), jawabnya Je M’appele Mushofi (baca: yeu mapel), berarti ‘my name is…’. Atau kalau udah kenal, tanya pake “Comment allez vous?” (baca: kommongtale vou), berarti ‘how are you?’. Bisa dijawab “Ca va” (baca: sa fa) untuk ‘fine’ atau “Ca ne va pas” (baca: sa ne fa pa) untuk ‘not fine’.

Perkenalan lanjut dengan “J’habite a  Bandung” (baca: zzabit a …) sebagai pengenal alamat ‘I live in..’. Lalu “Je suis etudiant” (baca: yeu sui etudiang) sebagai pengenal pekerjaan “I am student”. dan karena asing maka akan ditanya kewarganegaraan, jawabnya “Je suis Indonesien” (baca: yeu sui Angdonesiang).

Hmmm… bersengau-sengau ria.. ya gitu deh, tantangan belajar bahasa Prancis. Oya, di bahasa Prancis ada kata-kata untuk masculin (cowo) dan feminin (cewe). Kaya bahasa Arab gitu. Tapi pada dasarnya hanya berbeda pada cara pengucapannya (cara bersengaunya.. haha)

Terakhir yang saya ingat dari lesson1… ada kalimat Prancis asyik nih…

“Je t’aime”

apa ya artinya? hmm.. kalau urusan gini, pasti banyak yang tau artinya (pada galau sih :P). Yuph, disimpan dulu,, biar Eiffel Tower dan bunga Iris yang menyaksikannya nanti… aseek…

Sekarang, Usahakan lebih dulu. dan saatnya bersengau-sengau ria 🙂

Menghidupkan Hidup

Your successes and happiness are forgiven you only if you generously consent to share them. –Albert Camus

Kesuksesan dan kebahagiaan akan sangat berarti jika kau mau berbagi dengan orang lain. Yeah.

Sekedar hidup, mudah. Tidak perlu bersusah payah mencari peluang ataupun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas dan manfaat diri kita, beres. Tapi kita manusia, makhluk spesial, khalifah di muka bumi, masa iya hanya mau sekedar hidup. Keharusannya: mengusahakan seoptimal mungkin untuk mempunyai hidup yang berarti. “Kejarlah sesuatu yang bermakna, dan gunakanlah setiap peluang yang ada secara lebih baik dari siapapun.”

Ada beberapa langkah agar hidup kita lebih hidup (cayoo!), dan inilah langkahnya:

langkah Pertama, Perbesar kemauan untuk belajar. Manusia mempunyai pikiran yang luar biasa, maka pikiran tersebut mestinya untuk belajar menciptakan kemajuan-kemajuan dalam hidup. Kita dapat belajar dari berbagai hal, diantaranya adalah belajar kepada pengalaman hidup, kegagalan, kejadian sehari-hari, orang lain dan sebagainya. Maka tingkatkan terus kemauan belajar.
langkah Kedua, untuk kehidupan lebih berarti, Lakukan sesuatu agar lebih dekat dengan impian yang diidamkan. Bekerja secara lebih keras, lebih aktif atau produktif. Langkah ini sangat efektif dalam meningkatkan kemungkinan mendapatkan uang, kekayaan atau segala sesuatu yang berharga bagi manusia. Satu hal yang patut dijadikan pedoman sejak awal: bahwas kerja keras itu bukan semata-mata mengejar 5 P, yakni power (kekuasaan), position (posisi), pleasure (kesenangan), prestige (kewibawaan) dan prosperity (kekayaan). Setiap usaha yang hanya berorientasi kepada lima hal tersebut memang menjamin kesuksesan atau bahkan hasil yang melimpah ruah, tetapi tidak menjamin sebuah akhir yang menyenangkan. So, bagaimana membuat akhir yang menyenangkan?

langkah Ketiga, berbuat kebaikan. “Kebaikan yang sesungguhnya adalah kemampuan merasakan penderitaan maupun kebahagiaan orang lain,” kata penulis Prancis Andrew Gide. Kerja keras yang diimbangi dengan niat berbuat kebaikan akan menghasilkan semangat yang tinggi untuk mendapatkan lebih. Melebihi dari apa yang dibutuhkan. Karena kita ingin dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain, so kita harus berusaha menciptakan dulu hal-hal indah untuk dibagi. Pada akhirnya kebaikan tersebut berpengaruh positif terhadap semangat hidup, motivasi, dan kemajuan sikap dan ekonomi.

Dengan belajar, bekerja keras dan berbuat kebaikan maka kita akan dapat menciptakan kehidupan yang jauh lebih berarti. Don’t make any regrets, friends! Live the life to the fullest! Yes, we can..

**

tulisan ini bersumber dari buku Make A Life, Not Merely A Living (Ciptakan Kehidupan, Bukan Sekedar Hidup)nya Andrew Ho, re-share dari Pak Djoko Arijanto di web netre Jabar Telkom, diedit sendiri seperlunya. 🙂

Belajar dari Dekan Termuda

Tidak banyak orang yang bisa menduduki posisi akademis strategis dalam waktu sangat singkat. Terlebih di perguruan tinggi negeri, dan perguruan tinggi tersebut merupakan salah satu dari trio best Indonesia. Itulah mengapa ketika seorang menjadi dekan, menjadi guru besar, dan mungkin merintis jadi rektor, dalam usia muda, patutlah apresiasi tinggi kita berikan. Dan kita bisa belajar dari seorang Dekan Termuda, yang akan saya ceritakan ini.

Yah, mengingat “belajar” pasti Sabtu malam (malam Minggu) merupakan waktu yang dianggap paling tidak cocok untuk melakukannya. Konon begitulah yang banyak diamini oleh orang-orang. Tak terkecuali saya, terlebih di weekend selepas UTS.  Sambil bersiap bersantap malam, posisi sudah di depan TV untuk menikmati hiburannya. Kali ini ditemani sahabat yang juga guru besar saya saat SMA, Arif Prasetiya. Tentu di sini dia pure sebagai teman ngobrol, bukan teman belajar. Haha..

Channel TV yang kami tonton waktu itu adalah TVO*e, TV yang belakangan banyak yang sensi karena terlalu mendukung si NH (tau sendiri lah). Untung acaranya bukan dukungan terhadap NH, melainkan acara yang dipandu Alfito Deannova (orang news yang saya kagumi selain Andy F. Noya dan Azrul Ananda). Lupa judul acaranya, yang jelas mengenai tokoh-tokoh yang bisa dijadikan teladan. Dan tokoh yang jadi narasumber kali ini adalah Prof Firmanzah, Ph.D. , dekan termuda di Universitas Indonesia. Wow!

Pada wawancara santai bersetting FE UI tersebut, ada beberapa hal unik yang saya tangkap:

– Pak Firmanzah (biasa dipanggil Fiz) ini saat mau lulus kuliah, dibingungkan oleh pilihan ambil kuliah yang sesuai jurusannya, IPA (suka fisika matematika) atau ke IPS (manajemen). Akhirnya diputuskan “membelot” ke IPS saja, dan ternyata Pak Fiz memang menemukan jalan hidup terbaiknya di sana.

– Saat kuliah di UI, sang Ibu sebenarnya kurang setuju (prefer Pak Fiz kuliah di daerah asalnya, di Surabaya sana). Alhasil, kirimin uang pun diminimalkan biar ga kerasan. Toh, Pak Fiz nyatanya masih kerasan-kerasan juga dan survive.

– Waktu awal kerja ga siap dengan suasananya (hidup sangat teratur dan diatur-atur), beda dengan apa yang ia rasakan selama aktif di organisasi kemahasiswaan. So, ia memilih jadi asisten dosen saja sambil melanjutkan S2 di UI.

– Jalan sekolah di luar negeri dirintis justru bukan oleh usaha beliau sendiri, tapi dari ngikut teman. Temannya yang mendaftarkan dan mengurus, pak Fiz sebenarnya ragu tapi tetap ikut wawancara. Eh, malah diterima. Hmm.. entah mengapa saya sering mendengar kasus seperti ini. Apa ntar kalau cari kerja atau beasiswa nitip teman aja ya? haha..

– Pada studi lanjutnya di Prancis, S2 yang sudah beliau jalani ternyata ga cocok untuk ambil S3 di sana. Diharuskan mengambil S2 ulang yang sesuai. Padahal dari promotor waktu beasiswa di Prancis hanya 3 tahun. Mau kuliah S2 lagi Ok tetap dibayarin, tapi tetap harus lulus S3 pada 3 tahun itu. So, S2 dan S3 WAJIB selesai dalam 3 tahun. Puyeng ga tuh!

– Menghadapi kewajiban harus lulus S2 dan S3 hanya dalam 3 tahun saja, dan akhirnya berhasil, bukan berarti Pak Fiz adalah anak ajaib yang super jenius. Tapi, beliau benar-benar mengusahakan. Sampai harus menginap di perpus, bahkan sampai muntah-muntah di perpus menghadapi banyaknya tes dan tugas!!!

Ini bagian yang paling menggugah saya dari acara ini, USAHAKAN SUNGGUH-SUNGGUH dan BERKORBANLAH SEMAKSIMAL MUNGKIN UNTUK MENCAPAI HASIL.. Tidak ada keajaiban tanpa usaha!

– Selepas lulus S2 dan S3, dapat tawaran menggiurkan berkarir di Prancis. Tapi mendengar pengalaman dari para profesor yang berasal dari negara lain (Maroko, Mesir, dll) bahwa pada akhirnya apa yang diusahakan ntar bakal mentok, tidak ada yang diabdikan untuk negara. Beda kalau pulang dan bisa berkontribusi untuk negara. So, beliau sesaat itu langsung memutuskan untuk pulang saja dan berkarir di nusantara tercinta.

– Saat mau maju jadi dekan, pikir panjang juga mengingat usia yang sangat muda dan harus bersaing dengan para senior dengan reputasi tinggi. Tapi seperti beliau katakan, Singkirkan ketakutan diri, rasa sungkan, minder, pesimis untuk mencapai target. BISAA!! Poin ini juga yang jadi pembelajaran besar untuk saya yang masih sering sungkan dan minder. Memang harus berpikir positif dan mengusahakan untuk BISA. Think you can, yes you can!

Nah, begitulah tadi yang saya dapat dari hasil “belajar” dari dekan termuda. Lah, malam minggu kok malah belajar? ga tau nih, apa karena nonton TVnya bareng si guru besar.. haha.. whatever…

#danmasihterusbelajar

Puspa Iptek

Hmmm… Apa kabar teman2 blogger/reader? Baek kan?

wah,saya lama ga update blog ini.. ^_^

Sekarang mau rutin nulis lagi, dimulai dari cerita ini dulu: cerita beberapa minggu lalu jalan2 ke PUSPA IPTEK Padalarang. Apakah itu Puspa Iptek? Just enjoy this writing.. hehe…

Puspa Iptek tu kependekan dari Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Nah, dari namanya, sudah jelas apa yang ada di dalamnya adalah yang ilmiah2 atau yang eksak2. Waduh, jadi keinget matematika, fisika, kimia donk? Denger aja dah pusing. Eits, tunggu dulu. Di pusat peragaan ini, bidang eksak yang disebut barusan jadi bisa dipelajari dengan mudah dan (ini nih yang penting) mengasyikkan!!

Waktu kita belajar eksakta tapi ga kebayang konsep2 atau rumus2 yang ada itu buat apa, kan jadi bingung tu.. Lebih dari bingung malah: bingung, bosan dan malas (walah, walaupun itu cukup normal tapi jangan sampai ya..). Well, di satu saat, mempelajari eksakta sangatlah menyenangkan. Tapi kalau pas ribet ga bisa2 ngerjain soal, bete juga ga tuh. Kebanyakan ngerjain integral yang penuh “cacing” jadi cacingan, kebanyakan belajar reaksi kimia jadi mual-mual sendiri, dan paling parah kalau ada yang ngaku otaknya berpindah dari kepala ke dengkul karena kebanyakan belajar gravitasi. Hahaha… Nah, itu dia, untuk belajar eksakta, peragaan praktis dari konsep2 yang ada sangat dibutuhkan. Selain jadi lebih kebayang dan insya Allah lebih paham dengan teorinya, juga bisa mengubah mindset bahwa eksakta itu bisa dijadikan “maenan”, bukannya “kutukan”.

Gambar di atas merupakan tampak samping dan tampak atas dari Puspa Iptek. Cukup megah, plus berada dekat gerbang perumahan elite Kota Baru Parahyangan (Padalarang). Untuk menuju ke sana dari Bandung bisa lewat jalan tol atau kalau bawa sepeda motor ya sekalian touring lewat Cimahi dan 1jam saja sudah sampai. Oya, liat deh atap bangunannya. Miring ke atas ga jelas gitu kan? Nah, itu tu sebenarnya bukan ga jelas (asal gaya), tapi itu sebagai jarum jam matahari. Ntar dari bayangan “jarum besar” itu akan jatuh ke area biru (lihat gambar kanan) dan dari sana bisa kita baca jam berapa. Unik kan? dan yang menambah unik, ternyata ini adalah the Biggest Sundial alias Jam Matahari terbesar di Indonesia. Wow!

Untuk masuk ke Puspa Iptek, kita harus merogoh kocek Rp 10.000,00/orang. Mahalkah? Yah, klo saya sendiri sih mencoba menganggap itu sebagai harga yang normal karena objek wisata di Bandung dan sekitarnya memang rata-rata bertarif segitu.Dan karena sudah beli tiket, mari masuk ke dalam pusat peragaan nan megah ini…

Setelah melewati gerbang, patung Einstein yang ikon fisika itu menyambut. Walaupun Einstein memang seorang jenius eksakta, tapi saya sebenarnya tidak setuju jika beliaulah yang ‘menyambut’ di pintu depan. Harusnya Pak Habibie lah, ikon jenius eksakta Indonesia. Kenapa harus orang asing sih? well, entahlah. Daripada ribet mikirin, lebih baik foto2 di samping eyang Einstein sambil berdoa semoga suatu saat bisa seperti dia, jadi ikon eksakta. Haha..

Terus masuklah saya di ruang utama Puspa Iptek. Berbagai “mainan” sudah menyambut untuk dicoba. Banyak banget alat peraga, saya coba satu-satu dengan asyiknya. Setelah dicoba sesuai instruksi, terus baca kaitan dengan teorinya. Wah, bagus2. Jadi, lebih tahu aplikasinya sekarang. Kesannya eksakta sudah ga ribet lagi. Bisa untuk asyik-asyikan gini. Pokoknya banyak sekali aplikasi eksak yang menarik untuk dicoba. Salah satunya “kepala gantung” ini, di mana berefek menghilangnya badan saya:

Puspa Iptek pun rencana ke depannya akan selalu mengembangkan diri. Termasuk menambah alat peraga, mengadakan lomba cipta alat peraga, disamping mengadakan event-event berwawasan iptek. Hmm.. ditunggu deh. Dan semoga semakin banyak yang tertarik untuk ke sana, dan pulang2 dari sana jadi semangat belajar iptek.

Itulah tadi cerita dari Puspa Iptek. Sebelum pulang dari sana, boleh donk foto2 lagi,, kali ini bareng teman2…

Salam.

Sudah Saatnya Belajar SEO

Sudah saatnya belajar SEO? Wah, sebagai blogger, harusnya itu sudah dilakukan dari dulu…

Iya sih, harusnya… tapi bijimana lagi (wah, masih pake tapi-tapian)…

Pada awalnya saya ingin menulis blog sebagai curahan apa yang ada dalam hati dan pikiran saja, klo ada yang membaca dan merespon alhamdulillah, sekedar membaca oke, tidak dibaca juga gapapa. Lah, terus apa gunanya menulis di media global (baca: internet) klo tidak untuk dibaca? Wah, iya juga ya.. Paradigma pun berubah. Jadi gini: dibaca dan direspon alhamdulillah dan terima kasih banyak (pada perespon), sekedar dibaca boleh (dan klo sekedar baca, silakan baca banyak judul/post sekalian ya, jangan hanya satu.. hehe), dan kalau tidak dibaca, diusahakan agar mereka (yang belum membaca) ‘terjerat’ untuk membaca (weleh, terjerat…bahasanya.. gile…)

Berbicara mengenai jerat-menjerat agar para pengguna internet membaca postingan blog kita, hal yang populer adalah mengenai SEO (Search Engine Optimizer). Yuph, sekarang sudah tak ada yang membantah kalo keberadaan mesin pencari (search engine) sangat vital dalam dunia maya (internet). Jelas saja karena semua orang tidak hafal semua situs yang ada di dunia ini, plus untuk kemudahan mencari situs dengan konten sesuai yang diharapkan. Mbah Gugel (google.com) sebagai situs mesin pencari numero uno bahkan sampai ‘dianugerahi’ istilah tersendiri, yakni googling (tanpa dijelaskan pun sudah pada tahu apa maksud dari googling)..Saat orang-orang mencari konten dengan googling (atau dengan mesin pencari yang lain), di situlah kita bisa memposisikan postingan di urutan atas daftar pencarian. Tentu saja jika berada pada urutan atas, makin besar kemungkinan untuk dibaca.. So, blog hits bakal meningkat…

Lalu bagaimana cara optimisasi mesin pencari (SEO)? Nah, itulah saya juga belum menguasai… Belum belajar juga… Padahal keuntungan bisa SEO tu banyak banget,, postingan kita dibaca banyak orang– klo gitu kan selain blog hits nambah, juga membuka kemungkinan untuk menginspirasi banyak orang (kalo tulisan kita bagus, klo jelek ya semoga menghibur banyak orang), nah klo banyak orang mendapat manfaat/kebaikan dari kita, kan bisa nambah pahala tuh.. asyik kan bisa SEO…

Selain manfaat di atas, sebenarnya bisa muncul kepuasan tersendiri lho kalo postingan kita bisa terbidik di urutan teratas daftar pencarian. Ada satu pengalaman yang menyenangkan nih. Jadi saya pernah posting dengan judul Kapasitas Stadion Liga Inggris, saat saya lihat blog stats eh tulisan itulah yang paling banyak dibaca (sering >50 hits per hari). Saya jadi penasaran kan kenapa banyak banget yang baca tulisan itu. Padahal banyak juga tulisan bagus saya yang lain (auwah) tapi tak pernah dibaca sebanyak tulisan itu. Lalu saya iseng googling dengan kata kunci ‘kapasitas stadion inggris’, dan wow…ada di urutan pertama daftar pencarian, mengalahkan Wikipedia! Bukan bermaksud sombong lho teman2.. hanya share saja klo ada di urutan pertama daftar pencarian itu asyik… apalagi klo bisa SEO, semua tulisan optimal di urutan pertama daftar.. tambah asyik kan…

Makanya, yuk belajar SEO bareng2.. Sudah saatnya belajar SEO….