Arsip Tag: cerita

Whenever you say “better”

Hari ini saya mendapat “tamparan” dari satu mata kuliah. Tugas pertama yang diberikan pak dosen minggu lalu diberikan feedbacknya secara detail dan menohok. Nilai pun sudah dibagikan dengan rataan yang cukup sadis. Nilai saya? Hmm.. nilai terburuk yang pernah saya terima selama di sini.. and no excuses, I deserve that wkwk…

Tapi alhamdulillah. Sangat appreciate kepada dosen yang gamblang memberikan feedback, terang-terangan mengomentari letak kesalahan. Serunya belajar emang di situ rasanya, antara rasa kecewa disadarkan “kita emang ga seahli itu” dengan rasa bahagia “kita tahu mana yang bisa diperbaiki” 😀

Salah satu hal paling berkesan yang saya dapat dari feedback tersebut adalah:

Whenever you want to say “better”. STOP YOURSELF. And try to make MORE CONCRETE what you mean

Hahaha, ga di kehidupan nyata, ga pas ngerjain tugas, saya (atau Anda jugakah?) seringkali punya tendensi untuk bilang “lebih baik”.

Mengajukan research question dengan keyakinan kalau jawaban dari riset itu akan memberi dampak yang lebih baik. Bilang punya metode riset yang lebih baik. Ada rasa ingin meyakinkan sang dosen bahwa pekerjaan kita worth it dengan pilihan kata itu: “Better”. Well, semua orang ingin punya dampak, ingin merasa berguna, tapi sering ga pas dalam menyampaikan..

Apakah itu kata yang bisa diterima? Kalau mau jujur, kata “better” itu sangat subjektif, lebih baik dari sudut pandang siapa? Asumtif. Perlu diakui, ada unsur sekedar convincing ke diri sendiri dan orang lain, menenangkan pikiran saja. Dan kalau mau lebih jujur lagi, yang bilang “better” biasanya juga ga yakin lebih baik dari sisi apa.

Benar kata pak dosen, kapanpun kita pengen bilang “better”, STOP. Tahan dulu dari nulis atau ngomong seperti itu. Bilang dengan lebih konkret, semisal performa sama tapi app size lebih kecil (berarti lebih efisien). Hal tersebut measurable, dan karenanya motivasi untuk riset jadi lebih tinggi. Ada patokan soalnya.

Saya jadi baper juga kebawa refleksi sudah berapa ribu atau berapa juta kali bergumam “saya akan menjadi pribadi yang lebih baik hari ini”, dan iya sih niat seperti itu never ever memberi pengaruh untuk berubah. Klise.

So, kita ingin jadi orang yang lebih baik? STOP THAT.

Bukan stop niatnya untuk berbenah, tapi ganti kalimatnya hehehe. Baik itu seperti apa? Apa parameternya? Selama kita baru bisa bilang “akan lebih baik”, kita belum benar-benar bergerak jadi lebih baik. *ahaha self reflection banget*

Bismillah semoga kita lebih konkret. Amiiin 🙂

Menikmati Kereta di Belanda 3 : Dagkaart

Lanjut lagi postingan tentang kereta di Belanda. Bagi kantong mahasiswa, harga kereta di Belanda itu bisa dibilang mahal (walaupun harus diakui cukup sebanding sih dengan tingkat kenyamanannya). Sekali jalan naik kereta Leiden-Den Haag yang berjarak tempuh 15 menit saja, 3,4 euro (sekitar 50ribu rupiah). Mahal kaan?

Emang sih kalau bagi yang menetap di sini bisa dapat korting 40% (paket Dal Vordeel) ataupun voucher gratis kala weekend (paket Weekendvrij). Kedua paket itu akan saya bahas di postingan tersendiri, untuk sementara diinfokan sekilas bahwa keduanya punya kelemahan masing-masing. Korting 40% kalau mau menjangkau jarak jauh, tetap bakal bikin kantong mahasiswa (cem saya) berkabung dukacita. Sedangkan paket weekend, rekening kita otomatis terpotong 29 euro per bulannya (bakal untung kalau tiap weekend jalan-jalan, tapi kalau weekendnya cuaca galau dan banyak tugas begimane?)

Nah, ada solusi keliling Belanda yang lumayan murah buat traveller yang tipenya kurang lebih seperti ini:

  • Mahasiswa gemar menabung kantong cekak, budget tipis
  • Frekuensi jalan-jalan bulanan ga sering-sering amat
  • Tetep pengen refresh keliling Belanda dengan harga terjangkau
  • Alokasi waktu travelling ga banyak, atau emang terpaksa jadi limited gara-gara tugas kuliah nan bejibun
  • Lebih menikmati jalan-jalan sendiri atau dalam kelompok kecil, dengan sobat-sobat terdekat sehingga males menginisiasi NS Groupticket

Nama solusinya tak lain sesuai di judul: Dagkaart (arti : Tiket Harian). Jadi, ini tiket yang bisa digunakan untuk naik kereta ke mana aja di Belanda, asal dalam hari yang sama. Dagkaart dijual di toko-toko tertentu dan dalam jangka waktu tertentu juga, jadi mesti update info. Tapi buat mahasiswa, update info cem gini mah basic instinct, cepat tanggap pokoknya. Berikut penyedia dagkaart berdasar tren bulanan : Baca Selengkapnya

Paris Trip : Keliling Paris dengan Metro

Nasi sudah menjadi bubur. Karena bubur udah ga bisa jadi nasi lagi, yaudahlah tinggal ditaburin ayam, daun bawang dan bawang goreng. Nyam, nikmat tiada tara.

Duh, kenapa jadi bubur ayam (?)

Yuph, walau paragraf di atas terkesan menggambarkan diri saya yang kangen kuliner Indonesia, tapi intinya bukan itu. Tapi sebaris kiasan yang penuh hikmah (cieh, hikmah dari mananya). Maksudnya, sesuatu yang sudah telanjur terjadi dan ga bisa diulang lagi, yaudah ga usah disesali, tinggal cari cara untuk menikmati aja 😉

**

Well, ceritanya dimulai dari sini :

Saya yang baru tiba di Paris via Eurolines, sok aksi nanya petugas metro dengan bahasa Prancis yang ala kadarnya (maklum, dulu les ga tamat, sekarang udah lupa pula -_-). Sepatah dua patah kata masih terucap untuk menghormati negara yang ga suka ngomong English ini, meski setelah itu tetep terpaksa bilang “Vous parlez Anglais?” (lah! podo bae). Setidaknya, tiket metro sudah di tangan. Tinggal naek metro menuju ke penginapan, lalu istirahat dengan pulas deh setelah pegel 8 jam perjalanan Amsterdam-Paris.

Nah, di sinilah nasi berubah menjadi bubur. Karena terlalu antusias (sok-sokan) ngomong Francais lagi, saya lupa kalau yang dibeli barusan itu tiket harian!

Apa yang salah dengan tiket harian?

Hmmm… Matahari sudah terbenam. Saat itu sudah hampir jam 18 (tinggal tersisa 6 jam tiketnya, itu juga kalau mau nekat jalan sampe jam 24). Habis perjalanan 8 jam yang tentu butuh istirahat. Plus sedang malam natal, which means banyak toko akan tutup lebih awal dari jadwal normal. Jelas, ide nan “brilian” untuk membeli tiket harian di saat butuhnya cuma tiket one-way (single use).

Opsi Tiket Metro Paris

Ada beragam pilihan untuk membeli tiket Metro Paris, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan jadwal jalan-jalan. Secara lebih detail, teman-teman bisa buka link metro berikut. Tapi kalau mau ringkas, saya coba runut untuk jadi pertimbangan mana yang cocok :

  • Single Use

Pas untuk traveller yang tiba di Paris saat malam tiba dan kurang bijak untuk melakukan perjalanan lain selain menuju penginapan. Atau untuk mencapai site kepulangan (bandara/stasiun/terminal) pagi hari dari tempat akomodasi.

Harga tiket sebesar €1.70. Bisa jadi lebih murah jika beli 10 sekaligus (jatuhnya jadi €1.37 per tiket, tapi kayaknya untuk opsi ini ga sampai butuh 10 sih)

  • Mobilis / Day Ticket

IMHO, Most recommended option for travellers.  Dengan tiket jenis ini, kita bisa naik metro sepuasnya sepanjang hari, termasuk untuk naik funiculaire (cable car) di Montmartre. Jadi bisa explore Paris dari pagi sampai malam, yeay 🙂

Ada keuntungan lain khusus hari Sabtu dan Minggu, atau hari libur cem Maulid Nabi Hari Raya Imlek Hari Natal kemarin. Harga yang normalnya €6.80 (weekday) turun jadi hanya €3.75! Dengan korting segitu, keribetan kecil berupa tiap hari mesti beli tiket (ga ribet juga sih) ga berasa deh.. Hehe.. Baca Selengkapnya

Saya dan Donor Darah

Jikalau disuruh menyebutkan hal paling “wacana doang” dalam hidup saya, salah satu yang akan saya sebut adalah “jadi pendonor darah rutin”. Yak, dari waktu pertama kali donor semasa SMA, saya selalu bersemangat untuk konsisten tiap 3 bulan sekali (sesuai anjuran PMI). Suatu saat harus achieve dapet penghargaan karena sudah 10, 25, 50, 75 atau 100x donor!

Tapi niat tinggal niat belaka. Tiga bulan berikutnya selalu saja lupa. Mulai dari alasan-alasan lemah seperti : ada kegiatan donor tapi lupa bawa kartu PMI jadi sayang ntar ga ketulis sebagai donor dong, ada kegiatan donor tapi lupa belum sarapan takut lemes, lupa kalau di sekolah/kampus ada kegiatan donor darah. Sampai ke level “lupa kalau pernah niat jadi pendonor rutin”. Hehehe

Padahal udah jelas donor darah  itu banyak manfaatnya ya. Bisa membantu saudara kita yang sedang sakit dan memang membutuhkan donor darah. Apalagi emang sebisa mungkin PMI ga kehabisan stok, darah itu urgen banget soalnya ya. Itu buat sosial. Buat pribadi, malah lebih banyak lagi manfaatnya. Bisa ngecek kesehatan, ini alasan utama saya donor. Kan kalau donor pasti dicek tensi, hemoglobin, darah bebas dari penyakit cem hepatitis atau AIDS (kalau sampai kita terindikasi punya, pasti dihubungin ama PMI). Secara ga langsung kita bisa cek kesehatan “gratis” kan ;). Lalu katanya sih juga baik buat kesehatan jantung dan refresh sel darah merah.
images

gambar diambil dari : bingkaibanua.blogspot.com

Nah udah tau hal-hal tersebut, eh tetep aja lebih sering niat saya “wacana doang”. Ini nih kartu donor saya : Baca Selengkapnya

Cerita Lebaran

Waha.. lama kali tidak update postingan di blog.. Selepas menulis tentang pengalaman selama 1432 H kemarin, tulisan malah mandeg bersamaan dengan mudik di Solo. Emang sih di rumah ada koneksi internet, tapi ingin memaksimalkan waktu liburan dan saat-saat perbaikan gizi. Hehe..

Nah, di bulan Syawal yang merupakan momen Lebaran ini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya mudik dari tempat rantau (Bandung) ke my home sweet home di Solo, lalu lanjut mudik di “tanah leluhur”, Klaten dan Gunungkidul. Mudik tentunya merupakan momen migrasi periodik besar-besaran penduduk Indonesia yang selalu dinanti. Masing-masing punya cerita unik tersendiri yang (kebanyaka) menyenangkan.. bukan begitu?

Yuph, masih dalam suasana saling memaafkan, sekali lagi mohon maaf lahir dan batin. Dan izinkanlah saya sekedar bercerita, semoga ada hal menarik yang bisa memberi nilai positif.

Cerita lebaran… ini ceritaku, mana ceritamu? Hoho… #Korbaniklan

KP-First Day

Liburan semester enam di sini identik dengan Kerja Praktek (KP). Begitu pula dengan saya yang berkesempatan untuk KP di Telkom Bandung. Awalnya sih mau di Telkomsel Jakarta, tapi karena beberapa kendala teknis, maka tidak jadi dan akhirnya di dekat-dekat saja, Telkom Supratman Bandung. Lumayan, malah ga usah cari kos lagi (hanya 10 menit dari kos) dan jatah speedy kosan tetap terjaga. Hehe..

Hari pertama KP Rabu, 1 Juni 2011. Ga tau kenapa dipilih tanggal yang nyempil gitu (FYI, tanggal 2-5 langsung libur lagi). Mungkin karena saya apply untuk bulan Juni-Juli tanpa menyantumkan tanggal (asal 2 bulan utuh saja), eh diapprove Telkom apa adanya, tanggal 1 Juni-31 Juli. Nice yah.. haha

Hari pertama, first impression harus bagus donk.. Saya mengusahakan dengan berpakaian serapi mungkin. Kemeja, celana bahan, sepatu, wah sudah benar-benar sepeti pegawai resmi. Karena saya sudah tau tempat dan ruang KPnya, no problemo untuk datang tepat waktu (jam 8 pas saya sampai di Telkom Supratman). Oya, Telkom Supratman ini merupakan bagian Netre (Network Regional) Jawa Barat. Saya single fighter di bagian STS (Switching Technical Support). Ga milih yang Telkom Pusat Japati, karena selain cerita KP gabut, pingin belajar trafik secara lebih spesifik. Yuph, di sini saya bakal belajar trafik spesifik di regional Jabar saja, dibimbing langsung oleh Pak Agus Fikri, yang notabene manager switching Jawa Barat.

Agenda pertama: kenalan dan merumuskan tujuan KP dulu bersama pembimbing. Oya, Pak Agus Fikri ini manager yang ramah banget. Langsung berasa nyaman, apalagi ruang kantornya emang nyaman sih. Saya dipersilakan mendaftar di web Telkom sebagai peserta KP, dan mempelajari apa yang ada di web netre-jabar.telkom.co.id. Setelah itu langsung deh bicara target. Sebenarnya saya lebih suka kalau hari pertama ya kenalan dan kegiatan informal dulu. Tapi okay lah..namanya juga kerja di tempat orang, ga bisa menentukan sekehendak hati sendiri. Toh, KP saya jadi cukup jelas untuk hari itu. Dan apakah target yang ditetapkan untuk saya? jreng jreng…

Pertama, mengamankan TRAFFICABILITY pada angka 98,5%. Jadi tingkat kesuksesan pelayanan trafik harus minimal di angka itu waktu akhir bulan. Busyet, sekarang saja trafficability masih di angka 98,3%.. Tugas saya berarti menaikkan yah, bukan menjaga.. Tahfafa, namanya juga tantangan. Trus kedua, mengawal MIGRASI TDM ke NGN. Weleh, apa tuh? Pake istilah “mengawal” pula.. Saya juga belum begitu paham sih untuk tugas kedua ini, yang jelas teknologi di Telkom kan sudah mau di-upgrade dari TDM (Time Divison Multiplexing) jadi NGN (New Generation Networks) yang berbasis internet itu. Bagaimana implementasinya, ya ntar dipelajari bersama pembimbing KP.

Sudah jelas targetan yang kudu dicapai, saatnya untuk kerja! Kerja di bagian trafik ini, saya seperti Praktikum Rektraf (teman-teman ET’08 pasti tak asing lagi) tapi dengan jangka waktu yang lebih panjang. Pengolahan data cukup dengan excel seperti biasa, tapi ini datanya banyak banget. Saya harus mencari tahu satu per satu singkatannya dulu apa, terus angka-angka yang tertampil maksudnya gimana, faktor yang mempengaruhi trafficability yang mana saja, dsb. Lebih ribet deh, tapi Pak Agus Fikri terus memberi wejangan agar santai dan dinikmati saja pekerjaannya. Ntar juga tercapai kok targetannya. Amin. Sip, I will enjoy it, Pak.

Jam istirahat siang pun tiba. Saatnya untuk sholat Dhuhur dulu. Masjidnya nyaman. Then, makan siang. Saya sempat mengira bakal tidak mendapat jatah makan siang dari kantor, dan berencana untuk izin pulang dulu saja cari makan siang di luar. Tapi ternyata, di dalam ruang, Pak Agus Fikri memberikan jatah makan siang. Asyik! Nasi ayam goreng taliwang plus ice cream mengobati rasa lapar karena pagi hari cuma sarapan setangkep roti. Selanjutnya saya tetap izin pulang sih, ambil laptop. Begitulah enaknya, jadwal di sini cukup fleksibel. Saya pun diperbolehkan pulang sampai jam 14.. bisa istirahat bentar di kosan…

Saatnya bekerja kembali. Tapi jam setelah makan siang ini jadi agak gabut. Soalnya, pak Agus Fikri dan bapak2 yang dikenalin di awal sebagai rekan kerja saya 2 bulan ini (pak Syamsul, pak Irawan, pak Agus, pak Bernard) baru keluar ruangan. Saya mengutak-atik data excel sendiri ga begitu jelas. Untunglah selepas Ashar, pak Syamsul datang dan saya pun bisa bertanya dan sedikit demi sedikit memahami data trafik tersebut. Oya, dalam mencapai targetan saya bisa mempelajari berbagai tools, utamanya terbagi jadi 2 yakni management office tools dan network management tools. Untuk management office, ada SiPete, Monslip, ITMS, InfraCnR, CDS, dll. Khusus hari ini (dan mungkin selanjutnya) pake SiPete dulu. Ntar bakal mempelajari management office tools yang lain atau engga, data trafiknya bakal (cenderung) sama sih. Untuk network management, ntar bisa belajar AT&T, EWSD dan softswitch.

Well, agenda hari pertama sampai jam 17.00. Harusnya jam 5 sore tepat itu sudah bisa cabut, tapi karena pembimbing saya seorang manager yang workaholic, jadi harus menunggu dulu untuk pamit pulang. Hmm.. tapi lama juga ya.. 30 menit kemudian (jam 17.30) baru saya bisa pamit pulang. Wuih, berasa full banget ya hari pertama ini, sampai jam 17.30! Walau agak gabut sih.. hehe… Yang jelas, hari pertama ini cukup menyenangkan. Semoga begitu untuk hari-hari berikutnya sampai selesai KP dan tuntas semua targetan. Saatnya menikmati liburan dulu selama 4 hari sebelum kerja lagi..

Pidato Inspiratif Steve Jobs (3)

[lanjutan dari bagian 2]

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

 

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

 

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

 

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

 

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.Stay Hungry. Stay Foolish.