Arsip Tag: gua

Jalan Jalan Keluarga: Museum Kars Indonesia

Barangkali kita mesti iri pada air yang menetes di kawasan kars itu. Hah, air yang menetes apa? Tenang kawan, simpan tanyamu sejenak dan mari kita berjalan-jalan.

Sudah pernahkah teman-teman berkunjung ke Gua Gong, gua yang diklaim sebagai gua terindah se-Asia Tenggara? Atau menyusuri pegunungan seribu (Gunung Sewu) yang membentang dari sisi selatan Jogja (pantai Parangtritis) sampai kabupaten Pacitan, Jawa Timur? Bila yang tersebut barusan merupakan kawasan berbentuk kerucut, sudah bertemukah juga dengan kawasan tebing tinggi menjulang di Maros Pangkep, Sulawesi Selatan? Jika belum, sebelum teman-teman keliling dunia dan berdecak kagum pada Halong Bay (Vietnam), tebing avatar Tianzi (China) pun Montserrat (Spain), tengoklah dahulu keindahan alam di tanah air kita itu. Setidaknya cek dulu gambarnya di mbah gugel. Aduhai menawannya.

Semua yang tersebut tadi, baik yang di dalam maupun luar negeri, merupakan kawasan KARS. Aduh, apa lagi ituh, Kars? Hmm.. Konon sih (as wiki said) definisinya: bentuk permukaan bumi yang dicirikan oleh depresi tertutup (opo iki?), drainase permukaan, dan gua.

Kars terbentuk oleh pelarutan batuan. Salah satu proses yang elok yakni terbentuknya gua. Retakan di permukaan batu gamping, terbasuh oleh air (hujan, sungai, dsb). Air tersebut melarutkan zat kapur dari sang batu, membawa senyawa karbonat, lalu menetes jatuh ke relung di bawahnya. Dalam kurun waktu yang luamaa (si airnya gigih dan sabar), tetesan ini meluruhkan sisi atas membentuk stalaktit, sedangkan yang jatuh dan menggumpal di bawah jadi stalagmit. Stalaktit dan stalagmit inilah yang acap kita lihat di dalam gua cem Gua Gong. Pilar putih, mulus, merona, bercahaya, kokoh pula! Aih eloknyaa..

stalaktit

Maka barangkali begitulah gejolak cinta kita (wah, kata-kata seperti ini biasanya malesin, wkwk). Ada retakan di hati, lalu datang seseorang yang memberi kesejukan laiknya air, melarutkan hal-hal buruk, hingga menetes membentuk penyangga yang kokoh dan indah di relung hati kita yang terdalam. Aiih..

**

Okeh, mohon maaf atas pembukaan yang ngelantur. Oh, karena belum tertulis di postingan sebelumnya, saya juga mau ngucapin Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin. Mohon maaf jika ada salah baik yang disengaja (sotoy, garing) maupun yang tidak disengaja (salah kata, salah ketik) dalam blog sederhana ini. Semoga ke depan kita sama-sama bisa menuliskan hal-hal yang lebih baik lagi di ranah maya ini 🙂

Lebaran 2015 ini saya mudik ke kampung halaman, meninggalkan sejenak rutinitas di negeri kincir angin. Selain sungkem dan kulineran, tak afdol rasanya kalau belum jalan-jalan bersama keluarga. Pengennya sih ke pulau nusantara yang lumayan jauh, ke pulau Weh, Belitong, atau Komodo gituh. Tapi apa daya biaya tak cukup jadwal masih belum sinkron. Bahkan untuk yang agak jauh tapi masih di pulau Jawa cem Bromo-Semeru pun ga sempet. Tapi tahfafa, liburan keluarga itu bukan perkara tempat, melainkan kebersamaan yang utama. Tak bisa yang jauh, yang dekat pun tak masalah. Dan kali ini, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Museum Kars Indonesia. Baca Selengkapnya

Jalan-jalan Sulawesi Selatan #4 : Maros

3 September 2013

Kembali mengawali pagi dengan kesiapan untuk bekerja. Hari ini saya akan meninggalkan Makassar untuk bertolak ke Maros, lanjut bermalam di Watampone. Segala urusan dengan hotel dan klien di Makassar beres menjelang jam 11 dan saatnya bergegas ke Maroos..

Maros bisa dibilang first mate-nya Makassar.  Bandara Sultan Hasanuddin yang merupakan akses menuju Makassar berada di Kabupaten Maros (seperti case bandara CGK di Tangerang). Benteng Ujung Pandang yang saya ceritakan kemarin, struktur bangunannya diambil dari pegunungan karst di Maros. Pun di Maros terletak objek wisata unggulan Sulawesi Selatan, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (kebanyakan masih mengira TN Babul berada di wilayah Makassar).

Sebagaimana jalanan Jakarta-Tangerang yang disupport oleh jalan tol, perjalanan Makassar-Maros juga sudah disupport oleh jalan tol. Satu-satunya jalan tol yang ada di Kawasan Indonesia Timur. Pengelolanya bukan Jasa Marga lho (seperti hampir semua jalanan tol di Jawa), melainkan Bosowa Corp, satu di antara dua perusahaan paling mentereng di bumi Celebes (yuph, the other is Kalla Group :D). Melewati jalan tol yang lengang ga ada macetnya cem ibukotah, 30 menit cukup untuk sampai di lokasi kerjaan di tanah Maros. Mari bekerja dengan penuh semangat.. hap hap..

Taman Nasional Bantimurung

Kerjaan kelar, saatnya jalan-jalaan. Mana lagi tujuannya kalau bukan Taman Nasional Babul, Bantimurung Bulusaraung. Ekowisata dengan beragam keunikan, utamanya terangkum dalam 4 kata : air terjun, karst, gua dan kupu-kupu.

bantimurung 0

Aha. Sepi sekali gerbang masuk taman wisata alamnya. Waktu sudah menunjuk pukul 17 sih, hari Selasa pula. Waktu yang kurang cocok bagi turis lokal untuk berwisata. Tahfafa, malah jadi bisa santai menikmati sejuk suasana di dalamnya kan (ga bisa santai juga sih, maghrib segera menjelang. hehe). Oya harga tiket masuk TNBB Rp 20.000,-

Bantimurung. Dalam bahasa daerah sini, “Banti” berarti air, “Murung” berarti bergemuruh. Mengacu pada air terjun bertingkat nan indah  yang suaranya bergemuruh. Emang begitu masuk dari gerbang tiket, suara terjun sudah terdengar. Tinggal berjalan sedikit dan sampailah ke lokasi gemuruh itu.. Baca Selengkapnya