Arsip Tag: Indonesia

Selamat Hari Pahlawan 2015

Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2015!! Terima kasih para pahlawan negeriku yang sudah sekuat jiwa raga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tercinta. Semoga kita generasi penerus bisa mengisi kemerdekaan dengan banyak hal positif ya 🙂

Dalam post ini saya mau berbagi cerita yang cukup menarik untuk disimak, karena narasumbernya spesial. RM Soedijono. Siapa beliau? Wew, sangat spesial lho. Gimana engga, beliau merupakan sedikit dari pejuang kemerdekaan tanah air (ya, di jaman perjuangan 45 dulu) yang masih sehat walafiat dan bisa bercerita panjang lebar penuh semangat di usianya yang sudah menginjak 85 tahun.

Bagaimana kisah beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan hingga tanah air ini merdeka 1945 lalu? Bagaimana mempertahankannya? Dan bagaimana pula wejangan beliau untuk kita sebagai generasi penerus?

Simak hasil wawancara eksklusif pada beliau yang saya lakukan sebagai penerima beasiswa LPDP, sebelum berangkat menuntut ilmu di Belanda di link berikut (maaf, masi nyari cara ni buat menampilkan PDF ke blog wordpress yang free.. huhu) :

PK-14 Kunjungan Pelaku Sejarah Kemerdekaan Indonesia

https://www.scribd.com/embeds/289241178/content?start_page=1&view_mode=scroll&show_recommendations=true
**

Bagaimana? Cukup inspiratifkah?

Sekali lagi selamat hari pahlawan 2015!

Semangat menjadi “pahlawan” untuk diri sendiri, untuk orang yang kita sayangi, untuk tanah air yang kita cintai.. dan jangan lupakan jasa beliau-beliau yang di masa lalu sudah berjuang melapangkan jalan kita untuk menjadi “pahlawan” di masa depan 🙂

Jalan Jalan Keluarga: Museum Kars Indonesia

Barangkali kita mesti iri pada air yang menetes di kawasan kars itu. Hah, air yang menetes apa? Tenang kawan, simpan tanyamu sejenak dan mari kita berjalan-jalan.

Sudah pernahkah teman-teman berkunjung ke Gua Gong, gua yang diklaim sebagai gua terindah se-Asia Tenggara? Atau menyusuri pegunungan seribu (Gunung Sewu) yang membentang dari sisi selatan Jogja (pantai Parangtritis) sampai kabupaten Pacitan, Jawa Timur? Bila yang tersebut barusan merupakan kawasan berbentuk kerucut, sudah bertemukah juga dengan kawasan tebing tinggi menjulang di Maros Pangkep, Sulawesi Selatan? Jika belum, sebelum teman-teman keliling dunia dan berdecak kagum pada Halong Bay (Vietnam), tebing avatar Tianzi (China) pun Montserrat (Spain), tengoklah dahulu keindahan alam di tanah air kita itu. Setidaknya cek dulu gambarnya di mbah gugel. Aduhai menawannya.

Semua yang tersebut tadi, baik yang di dalam maupun luar negeri, merupakan kawasan KARS. Aduh, apa lagi ituh, Kars? Hmm.. Konon sih (as wiki said) definisinya: bentuk permukaan bumi yang dicirikan oleh depresi tertutup (opo iki?), drainase permukaan, dan gua.

Kars terbentuk oleh pelarutan batuan. Salah satu proses yang elok yakni terbentuknya gua. Retakan di permukaan batu gamping, terbasuh oleh air (hujan, sungai, dsb). Air tersebut melarutkan zat kapur dari sang batu, membawa senyawa karbonat, lalu menetes jatuh ke relung di bawahnya. Dalam kurun waktu yang luamaa (si airnya gigih dan sabar), tetesan ini meluruhkan sisi atas membentuk stalaktit, sedangkan yang jatuh dan menggumpal di bawah jadi stalagmit. Stalaktit dan stalagmit inilah yang acap kita lihat di dalam gua cem Gua Gong. Pilar putih, mulus, merona, bercahaya, kokoh pula! Aih eloknyaa..

stalaktit

Maka barangkali begitulah gejolak cinta kita (wah, kata-kata seperti ini biasanya malesin, wkwk). Ada retakan di hati, lalu datang seseorang yang memberi kesejukan laiknya air, melarutkan hal-hal buruk, hingga menetes membentuk penyangga yang kokoh dan indah di relung hati kita yang terdalam. Aiih..

**

Okeh, mohon maaf atas pembukaan yang ngelantur. Oh, karena belum tertulis di postingan sebelumnya, saya juga mau ngucapin Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin. Mohon maaf jika ada salah baik yang disengaja (sotoy, garing) maupun yang tidak disengaja (salah kata, salah ketik) dalam blog sederhana ini. Semoga ke depan kita sama-sama bisa menuliskan hal-hal yang lebih baik lagi di ranah maya ini 🙂

Lebaran 2015 ini saya mudik ke kampung halaman, meninggalkan sejenak rutinitas di negeri kincir angin. Selain sungkem dan kulineran, tak afdol rasanya kalau belum jalan-jalan bersama keluarga. Pengennya sih ke pulau nusantara yang lumayan jauh, ke pulau Weh, Belitong, atau Komodo gituh. Tapi apa daya biaya tak cukup jadwal masih belum sinkron. Bahkan untuk yang agak jauh tapi masih di pulau Jawa cem Bromo-Semeru pun ga sempet. Tapi tahfafa, liburan keluarga itu bukan perkara tempat, melainkan kebersamaan yang utama. Tak bisa yang jauh, yang dekat pun tak masalah. Dan kali ini, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Museum Kars Indonesia. Baca Selengkapnya

Riau Trip #1 : Pekanbaru

Kembali bersama admin.

Waduh luama juga ya ga update blog. Cerita trip kemarin jadi tertahan (baru sampai di Jambi), perjalanan di Riau belum cerita sama sekali. Yawda sambil challenge accepted untuk ngeblog ria di kereta, saya bakal cuap-cuap tentang pengalaman saya menjelajahi Provinsi Riau.. Provinsi Melayu nan kaya minyak di pulau Sumatera.. Selamat membaca! 🙂

**

Saya melangkah keluar dari bandara Pekanbaru dalam keadaan lapar luar biasa. Maklum belum sarapan. Segera salah satu toko franchise roti yang cukup terkenal di tanah air saya datangi.

“Mbak, beli roti dua,”

“Wah maaf mas. Rotinya habis. Tunggu dulu ya” jawab mbaknya.

Saya pun menunggu di kursi dekat situ sampai akhirnya sang roti pun mulai tersedia. Saya pun mengulangi request yang sama sebelum akhirnya menyadari satu hal. Uang di dompet saya pun sekosong isi perut saya. Habis bis. Lupa ambil uang di ATM.

“Wah maaf mbak. Uangnya habis. Tunggu dulu ya” kelakar saya dengan wajah kecut.

Cih. ATM mana ATM. Saat jalan menuju ATM inilah saya bertemu kawan mitra bisnis (sok pencitraan banget sih :D) yang membuat saya mesti bergegas untuk bersamanya ke lokasi kerja. ATM yes, Roti no.

Dalam perjalanan keluar, saya kembali melihat ke arah bandara. Bandara Sultan Syarif Kasim II. Bandara yang cukup yahud secara interior, bersih, rapi, plus kesigapan petugasnya prima. Sip deh. Sejenak saya mengamati lagi tulisan “Sultan Syarif Kasim II”..

Hmm.. siapakah beliau? Kok namanya diabadikan jadi bandara di sini ya? Dan kenapa II, bukan yang ke I? Beliaunya masyhur dan emang banyak berjasa buat rakyat kan? bukan karena narsis cem eks walikota Bandung yang pengen namanya diabadikan jadi nama stadion kan? Baca Selengkapnya

Maraknya Kasus Pencurian/Penyedotan Pulsa

Siang tadi, saya barusan mengikuti kuliah Regulasi Telekomunikasi. Di mata kuliah yang dibawakan dengan sangat menarik oleh dosen saya itu, kami membahas mengenai kasus paling aktual terkait telekomunikasi. Yah, sebagai civitas academica yang bergelut di bidang telekomunikasi, kami memang mesti diajarkan sense untuk mengikuti tren dan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Then, apa topik hangat yang bergulir tadi? Of course, yang sedang hangat-hangatnya dibahas,, tak lain tak bukan KASUS PENCURIAN/ PENYEDOTAN PULSA. Belakangan masyarakat memang sangat diresahkan dengan kasus ini. Dari yang kecewa tersedot Rp 2000/sms tapi cenderung pasrah aja karena nilai itu dirasa tak cukup besar untuk effort melapor ke pihak berwenang, sampai yang terang-terang memidanakan kasus ini (menuntut provider telekomunikasi) karena dianggap melakukan kebohongan publik, merugikan konsumen dan hal-hal yang bertentangan dengan UU ITE.

Hmm.. case yang menuntun saya –dari semula cuek– menjadi gencar browsing info terkait masalah ini. Dan setelah mengumpulkan berbagai sumber khususnya dari Liputan6, Detikinet, Teknojurnal dan Republika.. berikut sedikit yang bisa saya ambil dan rangkum:

Deskripsi Kasus

Inti dari kasus ini adalah Pengguna tanpa sadar masuk/register ke layanan konten yang menyedot pulsa secara signifikan, di mana sangat minim informasi untuk unregister (UNREG) sehingga pulsa terus menerus tersedot.

Umumnya kalau kita akan mengakses layanan konten tertentu (RBT, NSP atau konten lain) kita diperkenankan ketik REG (spasi), kita mendapat info/layanan tersebut, dan pulsa berkurang dengan nominal yang jelas. Tapi, entah apakah karena masyarakat mulai aware sehingga jumlah yang register dengan cara ini berkurang, penyedia konten atau content provider (CP) mulai menggunakan trik yang lebih jitu, dan pastinya menjengkelkan. Sejenak lupakan “SMS mama”, cek contoh kasus pencurian/penyedotan pulsa berikut:

  1. Anda dapat sms menang hadiah jutaan rupiah dan dipersilakan sms ke *XXX*X# (contoh: *123*2#). Waspadalah karena inilah bentuk baru registrasi layanan tanpa harus menggunakan REG (biasa disebut UMB). Nah, sebagai pengguna awam pasti kita akan mencobanya (karena sekilas nomor tersebut seperti nomor yang kita gunakan untuk mengecek sisa pulsa), namun jika kita menekan tombol tersebut maka secara langsung akan mengirimkan perintah untuk melakukan pendaftaran nomor kita ke layanan yang terpilih, kita teregistrasi ke layanan itu, dan well.. mulai tersedotlah pulsa kita.SMS dari 4 digit nomor (contoh: 9338) , tibatiba tersedot pulsanya 2000/sms hanya dengan membuka sms tersebut, tanpa membalasnya!
  2. SMS dari 4 digit nomor (contoh: 9338) , tiba-tiba tersedot pulsanya 2000/sms hanya dengan membuka SMS tersebut!! Biasanya sih kalau membalas SMS tersebut baru pulsa tersedot. Tapi case di Surabaya ini terbukti hanya dengan membuka SMS saja, pulsa sudah tersedot. Hmm….
  3. Pengguna layanan khusus semacam Ring Back Tone (RBT), ia akan diberi secara gratis selama beberapa hari dan jika masa gratisnya tersebut telah selesai maka pengguna akan dipotong pulsanya sejumlah harga RBT yang berlaku. Kasus ini sangat jarang terdeteksi karena kita baru akan tahu ketika orang lain akan bilang ke kita “Kamu pasang RBT lagu X ya?” dan kita akan kaget mendengar pertanyaan tersebut, karena kita merasa tidak suka dan tidak pernah berlangganan RBT. Kasus yang mirip adalah layanan tambahan Opera Mini. Pengacara David Tobing bahkan sampai memidanakan kasus ini karena merasa CP melakukan “negative option“, jika pelanggan tidak membalas konfirmasi maka dianggap sudah menyetujui.

Melihat contoh kasus di atas, cara-cara curangnya begitu ‘canggih’ dan sangat meresahkan, bukan??

Seperti diberitakan, YLKI (Yayasan Layanan Konsumen Indonesia) memastikan setiap bulan sekitar Rp 100 miliar pulsa milik konsumen tersedot para pencuri pulsa. Wew!! Jumlah kerugian yang sangat besar…

(under construction.. to be continued.. 🙂 )


Anekdot Bendera Negara

Minggu lalu, ada obrolan menarik yang saya ikuti nih.. tentang Bendera Negara dan realita yang terjadi di Indonesia tercinta ini. Malah obrolan ini bisa dibilang semacam anekdot. Lucu menggelitik. Haha

Karena dalam suasana kursus Francais, tentu tak salah jika yang dibahas pertama adalah bendera Prancis dulu. Ada apa dengan bendera negara yang terkenal dengan menara Eiffelnya itu?

Bleu-Blanc-Rouge (Biru Putih Merah)

Hmm.. mari kembali ke pelajaran PPKn dan Sejarah di SMP dan SMA. Saya yakin teman-teman cenderung tidak memperhatikan atau mungkin mulai mengantuk saat pelajaran tersebut, tapi paling ngga pernah dengar kan tentang arti warna bendera itu?

Yuph, ini artinya:

Biru- Liberte (Kebebasan)

Putih- Egalite (Kesamaan)

Merah- Fraternite (Persaudaraan)

Usut punya usut, perhatikanlah pula bendera Negara berikut

Serupa dengan Prancis bukan? Hanya di counterclockwise 90° dan jadilah bendera versi horizontal. Bendera manakah itu? Tak lain tak bukan, penjajah terlama negara kita, Belanda.

Mari putar kembali memori pelajaran sejarah tentang muasal bendera merah putih. Dalam suatu peristiwa di Kota Pahlawan , warna biru dari Belanda disobek dan jadilah bendera Indonesia, sang saka merah putih.

Ada yang aneh di sini? Tidak, sampai kita melihat dari sudut pandang bendera Prancis. Biru artinya? Kebebasan. Yak, mungkin sekedar kebetulan, hal itulah yang hilang dari bangsa kita. Tidak hanya selepas proklamasi kita kembali diserang penjajah, tapi sampai saat ini pun bangsa kita tak pernah bebas dari cengkeraman pengaruh asing. Dari pemerintahan sampai lifestyle kita didikte oleh bangsa asing. Ketahuilah bahwa bangsa kita belumlah layak menyandang kata bangsa yang “bebas”.

Baik sekarang kita beralih dulu dengan sudut pandang maknawi versi kita sendiri. Konon sederhananya, merah berarti berani dan putih berarti suci. Karena pemisahan secara horizontal tidak vertical, mengesankan ada sesuatu yang diprioritaskan terlebih dulu. Merah di atas putih. Realita yang berkenaan dengan itu?

Kebetulan lagi atau tidak, bangsa kita memang memprioritaskan keberanian dulu di banding kesucian (kebenaran). Tak perlu jauh-jauh sampai proses tawuran dalam pertandingan sepakbola. Kita liat dari sisi aparat penegak hukum saja, yah main tangkap dan hajar saja, benar atau salah, adil atau engga, itu urusan belakangan. Tampaknya mental “senggol bacok” mulai mengental di jiwa bangsa kita. Merespon secara over dan merendahkan kebenaran yang belum terungkap. Merah di atas putih.

Oke, itu diliat dari versi sendiri. Coba kita liat dari sudut pandang versi Prancis. Merah berarti persaudaraan dan putih berarti kesamaan. Kalau di Prancis pembagian warnanya vertical (tidak ada warna yang lebih di atas), berarti kebebasan-kesamaan-persaudaraan mereka junjung secara merata. Nah, kalau merah putih kita, mungkin bisa diartikan secara mentah sebagai “persaudaraan” di atas “kesamaan”. Realita uniknya?

Banyak petinggi bangsa ternyata mengaplikasikannya secara mentah-mentah! Persaudaraan di atas kesamaan = sudah pasti, Nepotisme. Yah, saudara dulu lah yang didahulukan, masalah sosial urusan belakang. Konon itulah yang terjadi di rezim yang berkuasa 30 tahun lebih di Negara kita, dan tanpa harus menyalahkan suatu pihak, toh budaya itu juga masih kerap terjadi sekarang.

Realita yang pas, bukan?

Nice but ironic? Or ironic but nice?

**

Take it easy, Kawan.. tapi jangan berhenti hanya dengan senyum-senyum sendiri dengan ‘anekdot’ bendera ini. Ok?

Serat Optik-2 (di Indonesia)

Setelah menulis sedikit tentang sejarah dan kegunaan serat optik di tulisan satu, di topik asyik serat optik berikutnya kita akan membahas mengenai serat optik di Indonesia. Bagaimanakah perkembangan serat optik di Indonesia! Ok, check this out!

Tersebutlah pada suatu masa, mahapatih kenamaan Gajah Mada menyatakan sumpah, “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Pulau Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.”

Sumpah itu masyhur. Namanya Sumpah Palapa. Dan tekad untuk menyatukan nusantara itu terus diusung sampai sekarang, di kala teknologi telah menjadi nama era ini. Satelit dan jaringan serat optik, yang bisa “menyatukan” nusantara diberi nama serupa, Palapa.

Oke, karena tulisan ini tentang serat optik, maka cukup kita bahas mengenai PALAPA RING, proyek pembangunan jaringan serat optik yang akan menjangkau sebanyak 33 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, sedangkan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer. Jika pembangunan wilayah timur yang sudah dimulai sejak 2009 selesai, tiap ibukota 440 kabupaten/kota akan terhubung via serat optik yang notabene jalur telekomunikasi paling efisien. Artinya, jika proyek ini tuntas, nusantara akan “bersatu”.

Rencana pemerintah, Palapa Ring merupakan jaringan serat optik pita lebar yang berbentuk cincin yang mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan. Tujuannya ini nih: membuat sambungan jarak jauh yang mudah & murah, penetrasi jaringan telpon dan internet, membangun infrastruktur fundamental jaringan komunikasi, dan mengatasi kesenjangan info antardaerah. Mantap kan?

Mau tau biaya pembangunan serat optik dengan total panjang  35280 km (di laut) dan 20737 km (di darat) ini? mencapai $ 1517 miliar atau setara dengan 13653 triliun Rupiah. Wow, jumlah yang sangat besar! Uniknya, dana sebesar itu tak masuk dalam APBN. Bukannya mempersilakan APBN dipakai untuk membangun gedung baru DPR yang ga jelas itu, tapi karena sudah kuatnya konsorsium operator telekomunikasi Indonesia sehingga bisa menyokong investasi ini.

Dengar-dengar nih ya, sekarang jaringan yang sudah terbangun mencapai 15000 km. Sudah sangat panjang, tapi masih kurang banyak dari target. Walaupun sudah melalui studi kelayakan untuk mencapai desain optimum dan perkiraan trafik telekomunikasi di masa depan, yang namanya hambatan pasti ada. Apalagi untuk proyek sebesar ini. Mulai dari hambatan alam seperti wilayah timur Indonesia yang sangat sangat luas dan kondisinya berupa ribuan kepulauan, sampai pada hambatan institusional macam keterbatasan vendor penyedia kapal (untuk masang serat optik bawah laut), mundurnya 1 anggota konsorsium sampai SK menteri dalam negeri yang menghentikan sementara proyek ini.

Apapun masalahnya, semoga saja cepat teratasi. Boleh kita berharap selesai tepat waktu target (2013) atau malah lebih cepat dari itu mengingat begitu banyaknya manfaat Palapa Ring ini. Berdoa semoga proyek ini lancar, dan sambil menunggu manfaatkan sebaik mungkin fasilitas komunikasi yang sudah ada saat ini (terlebih untuk kita yang kebetulan tinggal di Indonesia bagian barat. Banyak saudara kita di Indonesia timur yang bahkan masih menunggu jaringan telepon dan internet, pren!). Saya sendiri juga baru berusaha untuk mempelajari lebih dalam mengenai serat optik, sehingga kalau Palapa Ring jadi, dan menghadapi kemungkinan mengalami beberapa gangguan nantinya, saya bisa menjadi salah satu ahli yang bisa memberikan solusi. Amin.

Dan bersatulah nusantara! Dan berjuanglah untuk jadi nomor satu, Indonesia!

#danmasihterusbelajar