Makna 100 Years.. Sebuah Ironi..

Dalam salah satu buku favorit saya, “7 Habits for Highly Effective Teens” karya Sean Covey, ada yang namanya langkah-langkah bayi. Yakni langkah-langkah kecil untuk membentuk suatu kebiasaan. Sebuah panduan yang sangat bagus untuk menjadi pribadi yang efektif. Oke, saya masih belum jadi pribadi efektif, masih terus berusaha ke arah sana,, tapi tak ada salahnya untuk share bukan? Biar kita sama-sama bisa jadi pribadi yang lebih baik.

Nah, yang ingin saya share kali ini adalah langkah bayi untuk Langkah 0-Paradigma dan Prinsip, step nomor delapan: “dengar lirik musik yang Anda senangi dan maknai terhadap prinsip-prinsip hidup”

Hmm.. dan apa musik yang paling saya senangi? Apa yah.. Hmm… Desir angin, gemerisik daun, gemericik air, nyanyian flora fauna yang berdzikir membentuk “simfoni alam” nan menyejukkan hati. Tapi lirik apa dong yang bisa saya share di situ kalau yang mendeskripsikan hanyalah hati?

Kalau sudah begitu, lirik yang bisa dikenali sama2 mungkin lirik yang sudah terkenal di dunia ini. Tak sedikit lagu yang liriknya sangat saya sukai, di antaranya “100 years” dari Five for Fighting, “Over the Rain”nya Flumpool (OST Bloody Monday) dan beberapa yang laen. Kali ini yang disebut pertama dulu ya.. Memaknai lirik 100 years… Sebuah lagu hits jadul tapi punya makna sangat dalam yang tak lekang oleh waktu, karena maknanya emang berhubungan dengan waktu itu sendiri sih..

Lagunya bisa didengar di sini atau didownload dari sini

Oke daripada berlama-lama yuk langsung ke penggalan liriknya:

I’m 15 for a moment   Caught in between 10 and 20
And I’m just dreaming   Counting the ways to where you are
Di sini, si someone (mewakili “manusia berumur 100 tahun” yang jadi tokoh utama di lirik lagu ini) sedang berusia 15 tahun (I’m 15 for a moment). Di umur segitu, yah sedang labil-labilnya lah ya.. makanya disebut “terperangkap antara umur 10 dan 20” (caught in between 10 and 20).. 10 untuk mewakili unsur kekanakan, 20 untuk usia dewasa. Intinya, masih mencari jati diri dah (I’m just dreaming, counting the ways to where you are)
I’m 22 for a moment  She feels better than ever
And we’re on fire   Making our way back from Mars
Si someone udah berusia 22 nih (I’m 22 for a moment). Nah, ini sedikit di atas umur saya saat per 2011 ini lah ya.. Udah mulai dewasa, mulai galau untuk cari pasangan hidup, diwakili dengan kata kias she (She feels better than ever). Si dia kok makin memukau aja ya (auwah..). Plus sedang semangat-semangatnya  merancang impian akan masa depan (We’re on fire, making our way back from Mars).
15 there’s still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live
** Nah, sudah masuk Reff untuk pertama kali,, dan karena ini inti pesannya.. jadi di loncat dulu.. kita bahas di akhir ya.. 😉 **
I’m 33 for a moment   Still the man, but you see I’m a they
A kid on the way   A family on my mind
Si someone udah masuk kepala 3 nih (I’m 33 for a moment). Masih seorang yang maskulin berjiwa matang dengan istilah man, tapi dengan tanggung jawab keluarga. Makanya disebut you see I’m a they. “They” kan kata untuk jamak tuh, maksudnya diliat sebagai seorang pemikul keluarga.. Sudah mulai mengurus anak (A kid on the way) dan pikiran mulai terfokus untuk kepentingan keluarga (A family on my mind).
I’m 45 for a moment    The sea is high
And I’m heading into a crisis   Chasing the years of my life
Then, si someone sudah berusia 45. Cobaan hidup mulai meninggi, terutama tingginya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan (the sea is high), mulai menghadapi yang namanya krisis (I’m heading into a crisis). Anak sudah beranjak dewasa, perlu biaya pendidikan dan uang saku yang tinggi. Sehingga setiap saat seperti dikejar waktu untuk menghadapi memuncaknya kebutuhan itu. Kalau dianalogikan, ya di sekitar umur seginilah orang tua saya sekarang.
Dan ketika saya mendengar lirik ini dengan sedikit mengubah sudut pandang dari sisi orang tua saya, wah.. tak terasa menitikkan air mata. Ibu dan Bapak memang sepertinya (atau mungkin normal untuk insan berusia kepala 4) sedang menghadapi kompleksitas masalah. Walaupun dari dulu saya tidak pernah meminta uang saku, tapi tetap saja orang tua akan selalu terpikir untuk memberi (tentu untuk memenuhi kebutuhan yang semakin besar). Pengen segera mandiri deh..
Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We’re moving on…
Nah, si someone udah melewati setengah usianya (Half time goes by). Tiba-tiba sudah jadi orang bijak (suddenly you’re wise) yang sudah mengecap banyak asam garam kehidupan. Usia mulai beranjak, penglihatan (baik secara definitif kemampuan mata atau secara konotatif terhadap kehidupan) udah sedikit kabur (another blink of an eye). 67, jelas itu sudah masa pensiun. Si someone merasa pelita hidupnya (anak, cucu, keluarga lah) udah mulai menghadapi kompleksitas mereka masing-masing sehingga terkadang merasa kesepian, mereka kok berasa sangat jauuuh (The sun is getting high). Tapi waktu masih terus berjalan (We’re moving on)..
I’m 99 for a moment  Dying for just another moment
And I’m just dreaming  Counting the ways to where you are
Si someone sudah 99 tahun. Artinya? yah, tinggal 1 tahun lagi sisa hidupnya. Tinggal menanti datangnya ajal (dying for just another moment). Dan di saat seperti inilah, ingin rasanya mengulang lagi apa yang sudah diberikan oleh waktu,, menghitung jalan untuk bisa muda lagi, bisa menikmati hidup lebih baik lagi. Sudah hampir 100 tahun, tapi rasanya itu tak cukup. Ingin dan ingin rasanya hidup lagi.
Sedih banget ya kalau dalam kondisi seperti ini? 😦
Dan, kita bahas Reff dari lirik lagu yang jadi pesan utama tentang prinsip pemanfaatan waktu…
15 there’s still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live
Saat kita sedang terperangkap antara sifat kekanakan dan kedewasaan (digambarkan dengan umur 15), sebenarnya di situlah waktu krusial. Waktu di mana kita bisa memahami, mencoba dan memaksimalkan apa sih yang jadi potensi kita (Time to buy and time to choose), waktunya untuk memilih jalan hidup yang kita mesti jalani dengan penuh tanggung jawab. Agar tidak menyesal di kemudian hari, terlebih di hari tua. Bahkan ketika kita diberi umur 100 tahun sekalipun, kita akan sadar bahwa nikmat umur dan waktu sangatlah berharga… berapapun umur dan waktu yang diberikan Allah SWT…
Kita tak tahu apakah umur kita 100 tahun, 63 tahun, 22 tahun atau bahkan hanya 15 tahun. Semuanya akan sama saja jika kita tidak memanfaatkan umur kita, yap bisa jadi kita akan “terjebak oleh kebutuhan” atau “terjebak oleh waktu” seperti deskripsi di atas, kala begitu maka di akhir-akhir kita bakal menyesal. Menyesal. Akan menjadi sebuah ironi tentunya.
Detik ini adalah waktu terbaik… Hari ini adalah hari terbaik untuk memanfaatkan waktu… Prinsip yang semestinya kita pegang..
Bismillah.. Semoga kita bisa jadi insan yang senantiasa menghargai dan memanfaatkan waktu 🙂

Taare Zameen Par (Seperti Bintang di Bumi)

Weekend kemarin, rehat bentar buat nonton film2 jadul. Kali ini film India.. chayya chayya.. Hmm.. sebenarnya saya ga begitu suka film Bollywood, tapi karena ada “3 idiots” yang merupakan film terbaik yg pernah saya lihat itu,, jadi sedikit banyak tertarik. Dan cari film yang dibintangi si Rancho/Punsukh Wangdu (Aamir Khan). Pernah liat Ghajini, oke banget. Di situ Aamir masih jadi pemeran utama. Tapi terus ketemu film satu lagi, kok sekelas dia jadi aktor pendukung. Aneh juga… Oww,, ketemu jawabnya. Ternyata dia merangkap jadi produser dan sutradara. Dan mungkin saking selektifnya, film yang ia bintangi bagus-bagus banget. Tak terkecuali satu ini, “Taare Zameen Par”, yang bisa saya bilang “3 idiots” versi anak-anak…

**

Seperti Bintang di Bumi. Dari judulnya apa nih yang bisa ditangkap? Udah kebayang gimana ceritanya? Kayaknya belum ya.. Oke, saatnya bercerita, kenapa kok saya menyebutnya “3 idiots” versi anak2..

Once upon a time (biasanya cerita ada awalannya itu..hehe..)

Di sebuah sekolah, setingkat SD lah, ada anak lucu berwajah mirip Kipli/Ronaldinho, namanya Ishaan. Si Ishaan ini punya jalan pikir yang berbeda dengan teman2nya. Hmm.. sebelum melihat perbedaannya di bangku sekolah, di situ ditunjukin dulu bagaimana dia menangkap ikan cetul di peceren (selokan maksudnya), untuk kemudian dibawa dan dimasukkan di akurium kecil rumahnya. Then, di sekolah, nilainya kacau balau. Hampir semua pelajaran tidak mendapat nilai (0). Bahkan saat ulangan matematika (banyak soal), ia cuma sempat jawab 1 untuk pertanyaan no 1 (3×9 = ..), itu pun ia menjawabnya 3!!

Suatu kejanggalan di keluarga Ishaan karena kakaknya (dia 2 bersaudara) justru selalu menjadi bintang kelas. Semua pelajaran dapat nilai teratas, kecuali 1 (lupa pelajaran apa), itupun ia terbaik kedua. Dari kesehariannya emang kakaknya keliatan kalau bintang kelas. Ibunya tidak memperlakukan anaknya dengan berbeda, tapi si Ishaan emang terkesan bandel dan malas. Membuat ibunya khawatir, dan ayahnya marah besar.

Karena banyaknya komplain atas kebandelan dan “kebodohan” Ishaan, maka bapaknya memutuskan untuk mengirim Ishaan ke sekolah asrama, jauh dari rumah. Ishaan menolak, pokoknya ga mau. Ibunya juga berat hati. Tapi bapaknya kukuh dan Ishaan pun ‘terpaksa’ sekolah di asrama. Dan scene bagian ini mengharukan banget lah.. Bikin menitikkan air mata pokoknya… (Buktikan sendiri dengan menonton filmnya.. hoho)

Di sekolah baru itu, Ishaan masih saja dimarahi habis-habisan oleh guru-gurunya karena sering melamun tak memperhatikan pelajaran dan tak pernah bisa menjawab dengan tepat. Pada suatu hari, ada guru yang pergi dan digantikan sementara oleh pak guru Nikumbh (Aamir Khan). Di sinilah si “Rancho” mulai mendapati kejanggalan pada diri Ishaan, sepertinya muridnya itu tertekan sekali. Juga akan keanehannya dalam menjawab soal.

Akhirnya, ia menemukan bahwa jawaban Ishaan sebenarnya punya pola. Hanya saja salah menuliskan. ‘b’ justru tertulis ‘d’, ‘s’ jadi ‘z’, dll. Jadi ada kelainan yang disebut “dyslexia”, tidak bisa membedakan dengan baik bentuk, ukuran dengan tepat, jadi teramat kesulitan untuk membaca dan menulis. Sayangnya banyak orang, termasuk orang tuanya sendiri, yang tidak tahu dan mencapnya “idiot”.

Nikumbh mendatangi orang tua Nikumbh dan menjelaskan tentang ‘kelainan’ dalam diri Ishaan. Tapi bapaknya masih belum percaya. Ia juga berusaha meyakinkan kepala sekolah untuk memberi ujian lisan saja pada Ishaan, sambil menunggu ia mengajari Ishaan untuk membaca dan menulis dengan benar. Ilmu pengetahuan, entah itu tertulis atau lisan, tetaplah juga pengetahuan. Dan Ishaan berhak untuk dipahami.

Di sekolah juga diadakan momen lomba melukis, semua warga sekolah boleh ikut. Hadiahnya, lukisan sang pemenang akan dijadikan cover buku sekolah. Pak guru Nikumbh sebenarnya sangat mengharapkan momen ini dapat membuat semua orang terbuka matanya bahwa Ishaan “BISA”. Ia potensial, ia punya bakat. Tapi ditunggu si Ishaan tak kunjung datang. Ia sudah meninggalkan asrama sebelum orang2 bangun tidur.

Tak dinyana, Ishaan akhirnya datang. Ia pun mulai melukis (sebenarnya hobi dari kecilnya emang menggambar/melukis, tapi karena ia terlalu banyak dihina/dimarahi jadi ‘mutung’ dan juga meninggalkan hobi menggambarnya). Gambarnya.. wow..

Dan diumumkanlah sang pemenang…

Siapa? Yah, tebak saja sendiri.. Hoho..

**

Demikianlah. Seperti ‘3 idiots’, ada sistem pendidikan yang disindir di sini. Jangan kaku, jangan keburu merendahkan orang, terlebih anak kecil. Putarlah sedikit sudut pandang. Sebenarnya bukan hanya untuk sistem pendidikan sih, tapi juga cara pandang kita terhadap orang lain yang ‘berbeda’. Setiap orang sebenarnya punya potensi besar, setiap anak belajar dengan caranya masing-masing. Mereka seperti bintang di bumi.

Kick Andy Pepeng

Yuhu.. kembali ke Kick Andy.. Setelah dipastikan dari kickandy.com bahwa tapping show yang saya tonton di studio akan tayang hari Jumat 27 Agustus 2010 ini mulai jam 21.20 WIB (teman2 nonton ya.. siapa tahu saya keliatan.. hehe, narsis), so sudah tidak ada salahnya untuk bercerita mengenai konten acara itu.. “Pepeng di Mata Kartunis”..

Check this out 🙂

Ferrasta Soebardi atau akrab dengan panggilan Pepeng, terkenal lewat telekuis Jari-Jari tahun 1990-an dulu di salah satu stasiun televisi swasta. Pembawaannya saat di kuis menunjukkan bahwa beliau orang yang ceria, terutama saat mengucap kata “Jaree..Jaree” dengan penuh semangat. Semangat itu masih ada sampai saat ini dan memberi inspirasi bagi banyak orang.

Jakarta, 4 Agustus 2010. Studio Metro TV

Saya sudah duduk dengan nyaman di bangku baris ketiga dari depan. Menanti dengan antusias dimulainya tapping acara Kick Andy. Di panggung, tak seperti biasa, tidak ada sofa. Saya pun bertanya-tanya dalam hati keheranan, senior produser sudah memberi arahan-arahan, tapi kok sofa belum disiapkan. Jawabannya muncul beberapa saat kemudian karena narasumber yang datang ternyata berada di ranjang, beliau masih terbaring walau dalam raut mukanya terlihat penuh semangat. Hmm.. sepertinya pernah mengenal wajah beliau.

Persiapan beres. Termasuk sang narasumber yang menyatakan siap dengan penuh semangat walau sesekali beliau masih meringis kesakitan. Kemudian diperkenalkanlah beliau kepada pemirsa di studio. PEPENG!! Oh, yang itu…

Set Kick Andy saat itu memang “Tribute to Pepeng”. Pak Pepeng, saat ini menderita sakit multiple sclerosis. Hayo penyakit apa itu? Dibuka kembali buku biologinya.. Walau kayaknya ga ada di buku biologi SMA sih. Multiple sclerosis itu (menurut penjelasan Pak Pepeng lho ya, lha wong saya juga baru dengar saat itu) adalah gangguan pada sumsum tulang belakang. Koordinasi tubuh terpusat pada otak dan sumsum tulang belakang. Nah, ada bagian pada sumsum tulang belakang beliau yang sudah tidak bisa upgrade lagi (kondisi normal, kalau ada sel mati pasti bakal ada sel baru yang mengganti. Di kasus itu sudah benar-benar mati, tidak ada siklus penggantian lagi), jadi menyebabkan kelumpuhan. Toh, kelumpuhan itu tak membuat Pak Pepeng hilang semangat.

Inti informasi dari narasumber seperti ini: Melalui jejaring sosial, Pak Pepeng membuka komunikasi. Suatu saat, beliau meminta wajahnya digambar dalam bentuk 15 kartun. Tak dinyana, reaksi rekannya sangat luar biasa. Digalang dalam wadah Pakarti (Paguyuban Kartunis Indonesia), wajah beliau digambar dalam 500 bentuk, dan sekarang malah sudah 750, dan rencananya bakal diajukan menjadi rekor MURI. Yang mengagumkan, banyak di antara para kartunis yang belum pernah bertemu sekalipun dengan beliau (Pak Pepeng). Paling hanya mengenal sebagai sosok selebriti. Mayoritas mereka juga tahunya Pak Pepeng sehat walafiat, dan baru tahu kalau Pak Pepeng terkena multiple schlerosis di studio saat itu!

Well, inilah inspirasi yang luar biasa untuk Indonesia. Dari sisi pak Pepeng, beliau bisa menunjukkan semangatnya sampai mayoritas mengira beliau sehat walafiat. Dari sisi para kartunis, mereka menunjukkan nilai luhur Indonesia saat mereka mau membantu bahu-membahu bahkan dengan seseorang yang belum pernah mereka temui. Mereka punya alasan masing-masing mengenai motivasi mereka ikut membuat kartun Pepeng, tapi tetap bisa bekerjasama.

Pada akhirnya, ending yang sangat-sangat happy untuk acara Kick Andy kali ini. Dua rekor MURI diberikan di studio langsung oleh ketua umum MURI, Jaya Suprana. Pak Jaya sendiri sebenarnya datang sebagai apa ya.. Narasumber iya, mengingat beliau ternyata juga kartunis. Pewawancara iya, mengingat beliau yang membuka acara dan mengajukan beberapa pertanyaan pada Pak Pepeng. Jadi pendamping host utama (co host), Andy F Noya, lah. Dan ia sering banget meng-‘kick’ bung Andy (coba ntar lihat deh, kocak banget) Hmm..entahlah. Yang jelas, 2 rekor MURI itu adalah KICK ANDY sebagai ACARA PALING MENJUNJUNG TINGGI KEMANUSIAAN dan PEPENG sebagai TOKOH YANG DIKARIKATURKAN 750 OLEH 250 KARIKATURIS. Mantap.

Ada lagi sebenarnya dua inspirator yang datang pada malam itu. Yang pertama adalah pak Berry Natalegawa, kakak dari Menteri Luar Negeri kita Marty Natalegawa. Beliau berjalan kaki dari London (Inggris) sampai Edinburg (Skotlandia) sejauh sekitar 700 km, selama 14 hari untuk mengumpulkan dana UNICEF (badan PBB untuk anak-anak). Pengumpulan dana yang seluruh hasilnya akan disumbangkan ke UNICEF diharapkan dapat membantu kehidupan dan peningkatan kesejahteraan anak-anak di seluruh dunia. Perjalanan ini juga diharapkan dapat menggugah hati masyarakat Inggris serta masyarakat Indonesia yang tinggal di Inggris untuk menyumbang. Narasumber yang kedua, aduh lupa namanya (parah!). Inspirasi beliau mirip dengan Pak Berry, dengan travelling sambil mengumpulkan dana amal. Bedanya beliau naik sepeda motor di Indonesia bagian timur.

Hmm.. banyak sekali inspirasi dari acara Kick Andy

OK, ayo terinspirasi (mengambil hikmah), ayo menjadi lebih baik, dan ayo kita ganti menginspirasi

Semangat..!!!