REPOST: 100 Fakta Unik Mahasiswa ITB

Wah.. wah.. di Facebook baru ramai nian mengenai postingan “100 Fakta Unik Mahasiswa ITB”.. Nostalgik bangeet… jadi keinget ama keseruan-keseruan yang pernah saya alami selama menjalani kehidupan di kampus.. Apalagi setelah merasa dunia kerja yang demikian kompleks, rasa rindu akan kampus pun kian menjadi…

Oke deh mohon izin ya teman-teman buat mainstream, gatel juga ni pengen komentar cem yang udah ditulis di link ini dan ini.. Tulisan yang multi repost, biarin deh 😀

Inilah 100 Fakta Unik Mahasiswa ITB versi.. saya ga tau juga siapa yang duluan memulai.. hehe.. berikut komentar berdasar pengalaman saya 🙂

  1. Mahasiswa ITB itu merasa membuat laporan praktikum adalah hal yang lebih menyebalkan daripada ujian /*tergantung makulnya, ada yang saya lebih suka laporan praktikum sekalipun ribet, ada yg mendingan ujian */
  2. Mahasiswa ITB itu sebelum masuk kuliah, sms teman dulu. Kalo ada kuis, masuk, kalo gak ada, ya gak masuk /* yg jelas pernah sms */
  3. Mahasiswa ITB itu kalo gak mandi gak ketauan /* mau ketauan atau kagak, saya cuek aja :p */
  4. Mahasiswa ITB itu mandinya 2 hari sekali. Yang mandinya sehari 2 kalii, berarti gak gaul /* sehari sekali sih. Bandung duingin! */
  5. Mahasiswa ITB itu kalo mau UTS jadi agresif /* kadang agresif, kadang pasrah */
  6. Mahasiswa ITB itu tidak takut dengan orang gila bernama Dona yang berkeliaran di kampus /* iya, ga takut */
  7. Mahasiswa ITB itu sukanya cewe-cewe dari SITH ama SF /* ga liat jurusan, suka mah suka aja */
  8. Mahasiswi ITB itu sukanya cowo-cowo dari FTTM ama FTMD /* yg lebih meriah mah “cowok HME.. idola TPB..” */
  9. Mahasiswa ITB itu sukanya maen game online. Yang gak maen, berarti gak gaul /* saya lebih suka kalau kalimatnya diganti bukan game online, tapi : yang gak maen PES, berarti gak gaul. Hhe */
  10. Mahasiswa ITB itu paling suka arak-arakan pas wisudaan /* iya, emang seruu */
  11. Mahasiswa ITB itu ngerasa keren kalo pake jaket himpunan jurusan masing-masing /* maybe, tapi males, terlalu sumuk */
  12. Mahasiswa ITB itu kalo ulang tahun mesti diceburin ke intel /* pastinya.. sebelum akhirnya dilarang. masi inget banget temen K-15 yang selalu diceburin siapapun yg ulang taun, sama peristiwa teman Wika yg di”fitnah” ultah biar bisa diceburin ke kolam Indonesia Tenggelam */
  13. Baca Selengkapnya

Alhamdulillah Wisuda

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

Sungguh setelah sekian lama tidak menulis dan kembali ingin berbagi, hanya kalimat di ataslah yang terngiang di kepala saya. Segala puji dan syukur kepada Rabb Semesta Alam atas karunia-Nya yang sungguh besar.

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…

Setelah 4 tahun masa perjuangan di kampus ITB Ganesha, akhirnya sebuah gelar resmi tersemat di belakang nama saya. Gelar yang terlihat sederhana tapi sebenarnya punya tanggungan yang luar biasa besar. Karena itu, sebelum saya mulai menyibukkan diri untuk menanggung beban itu, izinkanlah postingan pertama selepas vakum ini dikarpetmerahkan untuk rasa syukur..

 

Alhamdulillah… saya wisuda!!

Keluarga Widya Kelana

Sebagai anak rantau dari Solo di kota Bandung, saya punya “keluarga besar” di sini. Namanya Widya Kelana. Biasa disingkat dengan Wika. Paguyuban ini sudah dirintis sejak lama dan terus eksis dengan semangat paguyuban kekeluargaan.

Kalo ditelusuri dari nama, Widya=Ilmu/belajar, Kelana=berkelana/merantau. Yuph, berkelana untuk mencari ilmu. Filosofi yang bagus kan? Tapi entah kenapa baru ditelusuri saat kepengurusan tahun ini, mengenai sejarah dan pembentukan paguyuban Wika. Konon, sudah sejak 1976 lho.. wow.. tapi itu juga baru konon, saat kopi darat yang akan diadakan sebentar lagi di kota Bandung ini mungkin akan ditemui jawaban pastinya. Sekarang, seperti tercantum di jaket identitas, Widya Kelana dimaknai sebagai “Paguyuban Alumni SMA Solo di ITB”.

Banyak sekali kegiatan dan kemanfaatan dari paguyuban Widya Kelana. Baik sebagai keluarga bagi internal anggotanya, juga bagi adik-adik SMA yang ingin tahu banyak informasi mengenai universitas (khususnya ITB). Apa saja itu?

Hmm.. kalau diceritakan bakal panjang banget ntar. Nah, biar ga kecampur dengan materi blog ini, tapi saya masih bisa menyampaikan inspirasi dari Widyakelana, monggo teman-teman semua menyempatkan untuk mengunjungi situs resmi Widya Kelana:

www.widyakelana-itb.org

Karena saat ini saya masih diamanahi jadi kadiv kekeluargaan Widya Kelana, report acara dan motivasi agar paguyuban ini makin guyub di situs itu saya yang nulis. Bisa dibaca dari gayanya yang catchy (auwah..)

Selamat berkunjung ya! Semoga tulisan saya di sana juga bisa memberi inspirasi dan motivasi, sebagaimana yang saya harapkan lewat blog saya ini…!

Terima kasih

Kembali ke Rutinitas Praktikum

Praktikum telah menjadi “teman” kuliah sejak masa TPB (tahap persiapan bersama). Tapi saat itu masih santai, toh di hari praktikum, hanya itu saja, tak ada kuliah lain. Tugas pendahuluan, test awal, test akhir dan laporan pun relatif tidak ribet. Memasuki tahun kedua, setelah masuk area elektroteknik, intensitas meningkat. Tingkat disiplin dan keribetan pengerjaan tugas mulai terasa, apalagi jadwal praktikum dan deadline laporannya beriringan dengan jadwal kuliah pada hari itu. Mesti pintar-pintar membagi waktu, walau probabilitas mahasiswa “terpaksa” atau “memang mencari” pengalaman bolos satu kuliah untuk mengerjakan laporan praktikum lumayan juga.

Nah, di tahun ketiga, masuk nih yang namanya Praktikum Teknik Telekomunikasi (PTT 1). Praktikum yang bakal benar-benar mengasah skill sebagai telecommunication engineer. Tentulah dituntut meraih hasil semaksimal mungkin agar bisa menguasai teori dan praktik dari apa yang paling kami (mahasiswa jurusan telekomunikasi) cari di ITB. Untuk semester kemarin sih (PTT 1) berjalan cukup lancar. Tapi kondisi yang cukup membuat ribet terjadi di semester 6 ini, untuk PTT 2.

Entah karena alasan apa, jadwal PTT 2 ini baru dirilis setelah UTS 1, alias hanya punya waktu selang sedikit terhadap UAS. Imbasnya, 1 minggu bisa berkali-kali praktikum. Termasuk kelompok saya yang punya jadwal default paling freak (seminggu 4x dan berturut-turut, Senin sampai Kamis). Rutinitas praktikum pun dimulai lagi. Di balik rutinitas itu, ada hal-hal unik yang tercatat, hal yang menjadi umum ketika rutinitas itu melanda. Apakah itu? check this out!

1. Memakai kemeja ke kampus

Sudah bukan rahasia lagi kalau ITB dengan asyiknya memperbolehkan mahasiswa memakai kaos saat kuliah. Tapi untuk praktikum, memakai kemeja adalah suatu keharusan. So, yang biasa terlihat santai jadi terlihat rapi hari itu. Ya disyukuri saja untuk yang cakep, jadi cakep dan rapi saat itu (emang siapa yang cakep?)

2. Tukar jadwal praktikum

Karena jadwal praktikum yang rilis telat sehingga banyak yang bertabrakan dengan jadwal kuliah tertentu, maka banyak yang ingin tukar jadwal. Interaksi antarmahasiswa pun meningkat. Yah, harus berharap banyak pada kesediaan teman yang mau menggantikan, karena terkadang ada yang menolak tukar jadwal dengan alasan ini lah itu lah… Tapi pada dasarnya, tukar jadwal ga sebegitu ribet sih.

3. Lembur melapor

Laporan praktikum normalnya harus sudah terkumpul sehari selepas praktikum. Karena kemampuan analisis dan kelihaian menyampaika report adalah hal terpenting dari seorang engineer, maka mahasiswa pun sebisa mungkin membuat laporan terbaik. Imbasnya, sampai harus lembur karena analisis ya ga semudah membalik telapak tangan. Yah, nikmati saja karena lembur dan melapor memang bukan milik hansip semata.

4. Keluhan 1 SKS

Ya, inilah ketidakadilan yang sedikit banyak terasa dari nilai SKS praktikum di elektroteknik. Dengan urgensi, manfaat dan penggunaan waktu, tidaklah adil dan pas jika praktikum hanya berbobot 1 SKS!! Sederhananya begini, 1 SKS berarti 1 jam kuliah, 1 jam responsi dan 1 jam belajar mandiri. Anggap jam kuliah dan responsi sudah terwakili dalam 2 jam waktu praktik, sedangkan 1 jam belajar mandiri telah tuntas saat mengerjakan tugas pendahuluan dan mempelajari modul. Karena setelah itu masih harus ribet ria dengan laporan, ditempatkan di mana waktu pengerjaan laporan tsb? Yah, ada yang berpendapat seharusnya SKS ditambah, ada yang berpikiran berarti laporan praktikum sudah ga urgent lagi karena sudah di luar 1 SKS. Well, konon inilah ketidakadilan 1 SKS. Keluhan 1 SKS.

5. Surat-surat bertebaran

Oh, jangan dahulu membayangkan ini surat dengan amplop dan perangko yang tercecer bertebaran. Surat yang dimaksud di sini adalah surat elektronik (email) yang bertebaran di dunia maya, baik PM masing-masing mahasiswa atau di grup jejaring sosial. Apa yang diharapkan? Tentu saja jawaban tugas pendahuluan yang bejibun banyaknya dan (kalau bisa) master analisis praktikum. Hehe. Inilah yang memunculkan istilah “bursa transfer telekomunikasi”. Dan semua kan bersorak saat sudah ada post, “cek kulkas gan!”.

6. The Ashr Runner

Pelari di waktu Ashar, karena deadline laporan adalah jam 4 sore. Jadi, kalau ada yang buru-buru menuju lab telematika dan lab radar di jam-jam Ashar, yah kemungkinan besar mereka. Mengejar deadline! Yeah!

Apa lagi ya keunikan-keunikan dalam rutinitas praktikum telekom? Hmm… mungkin masih banyak. Yang jelas rutinitas ini harus dinikmati, dibuat seasyik mungkin.. untuk target semaksimal mungkin…

Come On!

#danmasihterusbelajar

Kuliah Pertama Semester Ini…

Ruangan bernomor 9012 Institut Teknologi Bandung, Senin 24 Januari 2011

Waha.. tiba juga di ruang pertama kuliah semester 6.. detik2 menjelang pukul 7 (jam awal kuliah), kali ini tidak bisa dibilang datang mepet karena pak dosen baru datang sekitar selusin menit kemudian (jiah, selusin menit..). Dosen pertama yang mengajar ini belum pernah mengajar saya di semester2 sebelumnya, jadi ya cukup asing. Pak Sugihartono nama beliau. Sebagai pembukaan, ambil nafas dulu sebelum masuk materi kuliah, pengumuman silabus dan sistem penilaian…

Oya, ini mata kuliah SISTEM KOMUNIKASI II,, hmm.. koq ada embel2nya II, kayak perang dunia saja? Yah, begitulah.. karena Sistem Komunikasi memang ada part awalnya, Sistem Komunikasi I.. Back to topic, sistem penilainannya 25% dari UTS 1 dan 25% pula dari UTS 2. Lalu bakal ada small test yang masing2 berbobot 5%, quiz 10% dan PR 20%. Lolos UTS 1 dan UTS 2, ga perlu ikut UAS. Yuph, UAS optional, dan kalau ikut UAS secara otomatis nilai UAS akan mengganti nilai UTS 1 & UTS 2 (tidak seenaknya milih diambil yang terbaik saja..). Oke, sebagai gambaran bahwa mata kuliah ini tidak maen2.. Cukup dapat nilai >55 di UTS untuk dapat A!! Nah lho,, tentu saja ini implikasinya bukan makulnya gampang banget, 55 dah dapat A.. tapi, soalnya bakal dipersulit bahkan untuk sekedar dapat nilai 55. Untuk menghadapi ujian bahkan dipersilakan bikin cheat sheet 1 lembar folio bolak-balik… Entah entar soalnya bakal sesulit apa, jauh lebih baik kalau berdoa saja semoga dimudahkan dalam menyerap ilmu dan mendapat nilai A..

Bismillahirrahmanirrahiim…

Dan dimulailah kuliah Sistem Komunikasi II… Jreng jreng jreng…

materi awal, review mengenai sistem linear. Sinyal masukan x(t) di respon impuls h(t) menjadi sinyal keluaran y(t). Perkalian konvolusi. Lupa-lupa ingat. Ingat-ingat lupa. Nah lho…

Sambil mengingat, dimulailah analisis pada domain waktu dan analisis pada domain frekuensi. Berjumpa lagi dengan operasi Fourier (Foye.. Foye.. emang ga ada abisnya). Terus maenan geser-menggeser, senggol-menyenggol untuk mendapatkan hasil konvolusi. Yah, masih seperti yang ada di awal mata kuliah sinyal sistem (sinsis) dan sistem komunikasi (siskom) 1.

Singkat cerita, latihan soal berlanjut menjadi PR alias kuliah dicukupkan sebelum waktu normal selesai. Bukan karena ulah Bobotoh tentu saja, tapi karena memang baru pertemuan pertama. 🙂

Semangat untuk kuliah2 berikutnya!!

Long Trip to Surabaya

Gerbang Sipil ITB, Senin 4 Oktober 2010 15.15 WIB

Kembali saya memasuki area kampus. Kebiasaan hari Senin kalau berangkat pagi parkir di parkiran SR, setelah rehat siang hari parkir di parkiran Sipil. Kalau dirunut sesuai kebiasaan, seharusnya saya sudah sampai di gerbang sipil ini 1 jam 15 menit sebelumnya untuk kuliah Rekayasa Perangkat Lunak. Tapi sudah terlambat. Payah? Tidak juga. Untuk sementara kuliah kulupakan. Semakin terdengar payah? Yah, just continue reading friends, :-).

Tidak seperti biasa juga, di mana saya hanya membawa tas cangklong berisi dua buku, selembar HVS dan seperangkat alat tulis tunai (halah.. kayak mahar saja..), sore itu saya membawa 2 tas yang isinya lumayan banyak. Satu tas berisi laptop dan kawannya-kawannya (charger, mouse, dll). Kesan payahnya sudah berkurang kan? Hoho.. Satu tas berisi sejumlah pakaian (baju formal, kaos, pakaian dalam). Hmm.. mau ada apakah?

Sebelum jadwal keberangkatan ‘yang tertulis di jarkom’, yakni jam 15.30 WIB, saya sudah sampai di tempat berkumpul, Campus Centre (CC) Barat. Mau berangkat ke mana? Yah, sesuai dengan judul tulisan ini: ke Surabaya. Ada acara apa? Acara ini nih, final Gemastik (Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi Komunikasi) 2010. Kebetulan nama saya tertulis di daftar finalis. Dari ITB, ada 31 mahasiswa/i yang jadi finalis, tapi untuk keberangkatan ke Surabaya yang ikut rombongan ini hanya sekitar 16 orang.

Di CC Barat, sambil menunggu anggota rombongan yang belum datang, saya mengobrol dengan rekan2 baru (ya memang sebelumnya saya belum saling kenal dengan sesama finalis dari ITB.. paling baru Karol dan Gogo, teman sekelas waktu TPB). Entah karena mau lomba TIK, bahasa default yang digunakan dalam percakapan kami juga yang berbau TIK yakni bahasa Java. Banyak orang Jawa sih.. haha.. Setelah itu ada sambutan/pelepasan dari Pak Brian Yuliarto, kepala Lembaga Kemahasiswaan ITB. Btw, walau saya cukup sering mengajukan tanda tangan proposal untuk HME dan Gamais, yang otomatis harus ditandatangani Pak Brian, tapi baru saat itu lho saya tahu yang mana pak Brian.. hoho..

Setelah persiapan dinilai cukup dan seluruh anggota rombongan sudah hadir, kami bergegas ke parkir Sabuga karena bus yang akan dipakai diparkir di sana. Mulai berjalan meninggalkan kampus yang kegiatan kuliahnya akan sejenak kulupakan selama 3 hari mendatang. Surat izin tidak kuliah sudah dititipkan sang ketua angkatan elektroteknik 08 nan baik hati, Ijul. Absen sudah ga usah khawatir lah ya. Saatnya berjuang untuk 3 hari ke depan.

Singkat cerita, kami semua sudah di dalam bus carteran. Busnya cukup eksklusif dan nyaman, apalagi untuk keberangkatan ini kapasitas 40 orang hanya diisi sekitar 20 orang (16 finalis, Pak Caska dan 1 lagi pendamping dari kampus, plus kru bus). Two in one.. Oya, kenapa naek bus? Karena kalau Bandung-Surabaya naek kereta api entar dikira plagiat lirik lagu anak-anak dunkz.. haha, engga dink, ada alasan yang tidak perlu dikemukakan. Yang penting, dinikmati saja perjalanan penjang menggunakan bus ini. Saat bus mulai melaju meninggalkan Sabuga, waktu sudah menjelang jam 5 sore. Entah berapa jam perjalanan, kapan sampai Surabaya, sampainya masih pas jadwal check in atau nggak,.. Hmm.. pokoknya dinikmati..

Bus melaju cukup cepat melewati fly over Pasopati, lalu Pasteur dan masuk tol. Keluar tol di daerah Jatinangor. Lewat di depan kampus Unpad. Dan seperti kebanyakan sikap anak kampus mayoritas cowok kalo melihat kampus yang mayoritas cewe, muncullah candaan “Mampir cari pendamping dulu yo.. Buat suporter di sana..”.. Haha.. Kidding.. Kemudian menyusuri jalan raya Bandung-Cirebon nan berkelak-kelok. Saat mampir ishoma (istirahat sholat makan), kalau ga salah sudah sampai Majalengka. Makan malam prasmanan. Oya, selain melupakan sejenak perkuliahan, ini saatnya melupakan sejenak biaya makan anak kos. Selama perjalanan Bandung Surabaya, makan dibayar oleh kampus. Asyikk… Dan makanan pun terasa lebih maknyus karena memang rasa makanan yang paling enak adalah ra sa bayar (ga usah bayar).

Perjalanan lanjut lagi dan kebanyakan waktu diisi dengan tidur. Waktu berhenti sholat Subuh, sudah sampai di Pati (lumayan cepat kan..). Sarapan jam 6 pagi berhenti lagi, kali ini sudah sampai Tuban. Soto di sini benar-benar menggoyang lidah. Maknyuz. Saya menyesal tidak mengambil cukup banyak. Sembari makan istirahat dulu nonton Tom and Jerry yang kebetulan disetel di rumah makan itu. Perjalanan masih berapa jam lagi ya? Kalau agenda check in yang dijadwalkan untuk para finalis sih jam 7-12. Sekarang jam 6 pagi baru sampai Tuban. Sudah sampai Jawa Timur sih. Tapi bisa sampai di Surabaya di jam yang masih ada jeda istirahat cukup untuk memulihkan jetlag engga ya?

Bus rombongan kembali melaju. Melewati jalur utara Jawa Timur, dekat banget dengan laut. Lewat di depan Wisata Bahari Lamongan, yang konon Ancol-nya Jawa Timur. Tapi sekejap langsung terdengar tidak menarik karena mas Wahyu, ketua ARC ITB yang juga ikut rombongan ini, berkata taman wisata bahari itu jelek dan cukup sekali saja ia ke sana waktu libur lebaran kemarin. Waduh2, ini testimoni yang jelek atau emang objek wisatanya yang jelek? Hmm.. saya belum pernah ke sana. Belum bisa menilai.

Well, pada akhirnya sampai juga di Surabaya menjelang jam 10 siang. Udara Surabaya yang sangat panas itu menyambut. Untung ada AC di bus jadi rasa gerah sedikit berkurang. Menyusuri jalanan Surabaya, lewat di depan kampus KU UNAIR (dan keluar candaan lagi lah: “Neng, aa’ ITB lho..”), SMAN 5 SBY (yang katanya paling favorit di Surabaya itu), Museum Kapal Selam, Tugu Sura-Baya, dll sebelum akhirnya sampai di Asrama Haji Sukolilo, tempat kami menginap selama di Surabaya. Tempat itu dekat dengan ITS, kampus tempat diselenggarakannya acara final. Jam 10.30 kami sampai dan check in. Sudah check in, periksa kamar, taruh barang bawaan, dan istirahat sebentar sebelum mandi dan mulai berangkat acara technical meeting..

Yuph, sampai di sini dulu cerita Long Trip to Surabaya, karena emang sudah sampai di lokasi tujuan. Cerita selama di Surabaya akan segera menyusul.. 🙂

Khotbah Jum’at Pak Agung

Yuhui.. nulis blog lagi. Setelah sekian waktu terbengkalai karena mengejar deadline lomba (dasar deadliner!).

Nah, jeda tanpa update blog kemarin dapat sedikit pencerahan, pencerahan hati. Yuph, hari Jum’at 30 Juli 2010 kemarin (setelah sekian lama juga) sholat Jum’at di masjid Salman lagi. Yah, sedang liburan sih jadi sholat Jum’atnya lebih sering di masjid dekat kos, Al-Hidayah. Keadaan berbeda pada hari itu karena jam 9-11 ada tes ELPT (semacam tes TOEFL) di kampus.

Setelah selesai tes ELPT dan makan siang, segera bergegas ke Salman. Masih 40 menit sebelum waktu adzan tapi masjid sudah ramai. Subhanallah. Saya langsung mengambil air wudhu, segarnya wudhu di Salman (pada dasarnya air di Bandung memang segar sepanjang hari, apalagi jika dipakainya untuk wudhu). Lalu ke ruang utama masjid, mencari shof yang kosong (walaupun sudah cukup penuh, tapi ada slot di shof kedua yang kosong.. alhamdulillah dapat shof depan), dan sholat rowatib. Membaca Al-Qur’an selanjutnya, sampai menjelang adzan di mana diumumkan jumlah infaq Jumat sebelumnya (seperti biasa selalu mendekati 2digit juta) dan khotib Jum’at ini. Dan ternyata khotibnya, Pak Agung Harsoyo!

Pak Agung Harsoyo adalah dosen saya di STEI, tepatnya dosen Medan Elektromagnet. Salah satu dosen yang membentuk mimpi saya karena dosen ini membuat saya tertarik melanjutkan studi di Prancis, di institut telekomunikasi yang katanya nomor satu di Eropa. Kebetulan sekali, beliau menjadi khotib Jum’at ini.

Pak Agung naek ke atas mimbar dan mengucapkan salam. Adzan pun berkumandang. Adzan masjid Salman yang selalu terlantun indah. Sangat indah untuk dinikmati. Menyejukkan hati.

Dalam khotbahnya, Pak Agung membahas permasalahan bangsa yang faktor terbesarnya adalah karakter. Bangsa Indonesia sedang dilanda krisis karakter, krisis kepribadian, krisis moral. Karena karakter terbentuk dari kepribadian, berarti banyak yang punya kebiasaan yang salah. Padahal dalam Islam sebenarnya telah diajarkan 3 hal untuk membentuk kepribadian/karakter yang baik: fikir, dzikir, dan amal sholeh.

Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Hendaklah seseorang selalu melakukan kebenaran karena kebenaran membawa pada kebaikan dan kebaikan membawa pada surga. Dan jangan melakukan kebohongan karena kebohongan membawa pada kedurhakaan dan kedurhakaan membawa pada neraka.” (HR Bukhori)

Di dalam OSKM (ospek mahasiswa baru) ITB yang akan diselenggarakan besok, dari pihak ITB mengusung misi “membangun insan Indonesia dengan IPK tinggi”. Eits, IPK? Ternyata singkatan IPK di sini bukanlah Indeks Prestasi Kumulatif yang sering dikhawatirkan mahasiswa, melainkan Integritas, Prestasi dan Komitmen. Jadi, mahasiswa ber-IPK tinggi adalah insan yang punya integritas (kejujuran) tinggi, berprestasi unggul dan terus memiliki komitmen untuk maju. Hal yang memenuhi pesan yang disampaikan Rasulullah (HR Bukhori) seperti dikutip di atas.

Demikianlah bahwa melakukan kebenaran (membangun integritas) dapat membawa pada kebaikan (prestasi) yang pada akhirnya memenuhi (komitmen) tujuan hidup kita, beribadah pada Allah dan akhirnya masuk surga.

Astaghfirullah. Saya merasa tertampar dengan khotbah Jumat ini, sebagaimana belum punya IPK tinggi.

Subhanallah. Saya mendapat inspirasi baru dari khotbah Jumat ini.

Semoga bisa terus menjadi lebih baik…