Jalan-Jalan Keluarga: Pantai Nampu

Setelah puas mengunjungi Museum Kars Indonesia, kami sekeluarga melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, pantai Nampu! Pantai ini merupakan surga yang tak dirindukan tersembunyi (hidden paradise) di ujung selatan kabupaten Wonogiri. Karena di Solo Raya hanya kabupaten inilah yang berbatasan dengan Samudera Hindia, maka bolehlah pantai Nampu ini kita sebut pantai paling indah se-Solo Raya (eks karesidenan Surakarta) :v

Perjalanan menuju Nampu itu gampang-gampang susah. Gampang karena saya baru saja dari Museum Kars di Pracimantoro, tinggal lanjut ke arah Paranggupito. Walau minim petunjuk jalan, tapi banyak warga yang ramah dan tau arah menuju Nampu, anak SD sekalipun. But yeah, jalannya naik turun, berkelak kelok, dan labil (ada yang aspal halus, ada yang ambyar). Sangat tidak direkomendasikan ke sana dengan mobil sedan atau motor ceper. Buat yang sering mabuk perjalanan, siap-siap ekstra effort. Diambil hikmahnya aja, semua yang berkaitan dengan “surga” itu selalu berkelak kelok dan butuh usaha ekstra, bukan? tapi bisa dinikmati.. 🙂

**

Setelah kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari Museum Kars Indonesia, tibalah kami di pantai Nampu. Tiket yang mesti dibayarkan murah habis, hanya 2500 rupiah! Mungkin karena belum dikelola Dinas Pariwisata ya, masih dijalankan oleh warga sekitar. Padahal begitu sampai di tempat parkir, keluar dari mobil, pemandangannya langsung WooW.. Baca Selengkapnya

One Day Bogor trip (4) : Kuliner Pangrango

Kota Bogor tak salah lagi identik dengan julukan kota hujan. Walaupun bukan daerah dengan intensitas hujan tertinggi di tanah air kita tercinta (tertinggi di Baturaden, Jawa Tengah) tapi ya saya setuju aja sih kalau predikat kita disematkan ke Bogor, bukan Baturaden. Sangat setuju. Loh, Why? Oke biar lebih menarik halah basa basi, saya pasang 3 alasan berikut:

Pertama, Baturaden itu merupakan “tempat wisata” bukan “kota” sebagaimana Bogor. Jadi kurang pas disebut “kota hujan”, bolehnya “tempat wisata hujan”. Karena sebutan terakhir juga ga enak didengar (terkesan wisata yang ditawarkan itu hujan-hujanan.. hehe) maka biarlah Baturaden dikenal sebagai objek wisata saja, “kota hujan” kita persembahkan untuk Bogor. Lanjut ke alasan kedua, sebagai penduduk Jakarta, setiap bencana alam paling akrab dengan ibukota (baca: banjir) terjadi, pasti nama kota Bogor tak kalah terasa gaungnya. “Lha wong di sini ga hujan kok bisa banjir, pasti Bogor hujan!”, “banjirnya ga pernah sebesar ini, pasti Jakarta dan Bogor sama-sama hujan!”. Nah kan, Bogor dengan hujannya itu populer banget di pusat negara, dikambinghitamkan walau sebenarnya ya salah orang Jakarta sendiri kalau daerahnya kena banjir (ya minim daerah resapan air lah, ya buang sampah sembarangan lah, ya ikut ngerusak lahan hijau Bogor buat bangun villa lah, banyak deh).

Sedangkan alasan ketiga, kali ini bersifat pribadi. Entah ya, kagak tau kenapa, walau jarang-jarang ke Bogor, tiap saya ke sana.. pasti hujan!! Di kunjungan sebelumnya, saya lebih banyak nebeng mobil jadi it’s okay lah mau hujan sederes apapun. Tapi karena saat dolan kali ini saya berjalan kaki, boleh donk ya sedikit berharap tidak turun hujan. Kali iniiii saja plisplisplis… Terkabulkah? Ngarev avaa.. Waktu baru sebentar berganti dari AM ke PM saat sang langit menaburkan titik-titik cintanya pada bumi. Hujan turun dengan deras. Haha.. well, this is Bogor.. Sang Kota Hujan 🙂

++

Sudah setujukah teman-teman kalau berlibur ke Bogor itu harus banget menikmati hujannya?

Kalau sudah, saya mau merekomendasikan tempat berteduh dengan suasana paling menyenangkan di sana nih. Tempat berteduh itu tak lain tak bukan adalah tempat-tempat kuliner di Jalan Pangrango!

Bukan rahasia lagi kalau Jalan Pangrango di Kota Bogor penuh dengan tempat wisata kuliner dengan kelezatan level wahid. Bagaimana tidak, Baca Selengkapnya

Hey, Ibukota! (2)

Sudah bukan rahasia lagi kalau transportasi massal menjadi salah satu agenda utama Ibukota Jakarta. Sebagai kota metropolitan terbesar dan terpadat seantero Asia Tenggara, bukan pekerjaan yang mudah untuk mengatasi kesemrawutan di dalamnya. Proyek yang secara kajian dapat mengatasi, atau paling tidak menekan, masalah transportasi ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Termakan kompleksitas masalah dan menghadirkan gerutuan yang paling sering terdengar, “Sial! Macet!”

Saat mulai berpikir tentang itu, saya baru menikmati transportasi massa paling spesial di Ibukota, busway namanya. Kenapa spesial? ya, untuk melaju saja ada jalur tersendirinya. Bisa jalan lancar di jalur lengang sambil melambaikan tangan pada mobil-mobil jalur sebelah yang sedang mengutuki kemacetan. Terlebih saat itu saya cukup nyaman di dalam busway. Bisa duduk, tidak padat penumpang, dan AC yang menyala sungguh terasa menepiskan gerah udara Ibukota.

Saya menikmati dari dalam busway trafik metro-ethernet..eh, bukan, itu mah waktu KP… trafik metropolitan Jakarta. Sejenak saya melihat mobil dengan plat berhuruf belakang 3 (B xxxx ACE). Hmm.. sudah sebegitu banyaknya ya jumlah kendaraan roda empat, sampai huruf belakang ada 3 (normal 2 kan ya?). Dan saya yakin itu (dari 2 huruf di belakang jadi 3 huruf) sudah mulai diberlakukan beberapa tahun lalu. Tak terbayang berapa jumlah kendaraan di Jakarta sekarang. Hmm.. pada nyaman apa? Bukankah cenderung kena macet terus? Nih, saya di sini, naik transportasi massal, bisa duduk leha-leha dengan enaknya. Hidup transportasi massal!

Hari berganti

Dan ternyata semua pikiran saya tentang “kemenangan mutlak” transportasi publik dengan cepat menurun. Pagi itu saya berdiri berdempet-dempetan penuh sesak di dalam busway. Harus berpegang erat untuk menahan getaran dalam bus yang cukup kencang. Di sisi lain, entah karena saya masih merasa asing, ada mata-mata yang saya rasa mencurigakan. Dan sebentar sebentar saya harus mengecek keberadaan handphone dan dompet saya. Oke, mungkin tingkah saya agak lebay. Tapi realita Ibukota yang begitu keras, cenderung memunculkan banyak pula kriminalitas. Dan di area transportasi publik, saat penuh sesak berdesakan gini, kesempatan untuk para kriminal itu semakin besar.

Saya pun melihat barisan mobil pribadi yang terkena macet. Mereka, it’s okay terkena macet. Tapi soal keamanan dan kenyamanan, para pemakai mobil pribadi “menang”. Toh saat terjebak macet, mereka masih sempat menikmati AC, update status di jejaring sosial, atau bahkan nonton TV dulu. Harga mahal sebuah kenyamanan toh bisa bebas mereka beli, uang mengalir sangat kencang di metropolitan ini. Plus tidak adanya kebijakan untuk kendaraan pribadi berupa pembatasan jumlah atau penetapan pajak tinggi, membuat tau sendiri betapa banyaknya kendaraan yang menjejali Ibukota ini. Kalau saya memposisikan diri sebagai pemilik kendaraan pribadi, saya juga akan bilang “Gimana lagi, busway penuh sesak dan mungkin kecopetan di sana. Turun di halte juga belum tentu dekat kantor. Sebenarnya yang bikin macet bukan gw kok, tuh angkutan umum cem angkot, kopaja, metromini yang berhenti seenaknya…”

Nah lho… Kompleksitas itu pun semakin menjadi.

Hey, Ibukota ! (1)

Waktu isya baru saja menjelang saat perutku mulai meminta untuk diisi. Ternyata sebotol minuman isotonik belum cukup untuk mengalihkan rasa lapar. Dan keadaan di sekitarku mengatakan bahwa tak kan lebih cepat dari 30 menit untuk sekedar mampir di warung dan membeli makanan ala kadarnya untuk mengganjal perut. Di luar kendaraan berpacu dengan kencangnya. Hanya cap orang gila yang akan kuterima jika minta turun mencari warung. Ya, ini di jalan tol dan aku sedang di dalam sebuah mobil travel yang akan menghantarkanku ke sebuah kota, kota spesial yang telah mengandung dan melahirkan kota-kota yang lain (iya gitu?), makanya disebut Daerah Khusus Ibukota (DKI). Haha

Sesaat kemudian secara konstan mobil melambat. Baru ku sadar malam saat itu tidak menampakkan gemerlap bintangnya. Gelap. Dan sekarang mobil berhenti tanpa komando. Kulihat ke belakang para penumpang travel masih tertidur. Begitu juga penumpang yang di sebelahku. Berarti hanya aku dan pak sopir yang merasakan momen ini. Secara nyata, kulihat tangan seorang cewe di seberang kaca cendela pak sopir. Pak Sopir tahu keberadaan tangan itu, tapi ia berusaha tetap tenang sambil mengambil sesuatu di sakunya. Aku sendiri hanya melihat sejenak lalu memalingkan muka ke depan.  Bukankah ini bukan di Cipularang km sekian yang penuh misteri itu? Aku ingin mobil travel ini segera melaju saja. Melaju sekencang mungkin…!

Oke, tenang, paragraf di atas bukan bagian cerita misteri. Mobil melambat dan berhenti karena akan bayar tol, tangan cewe itu adalah petugas tolnya, pak sopir mengambil uang di sakunya, kupalingkan muka ke depan karena cuek (perhatian amat dengan bayar tol). Dan kuingin mobil segera melaju sekencang mungkin, karena seperti sudah kukatakan tadi, aku lapaaar!!

Entah mulai dari mana travel ini memasuki Ibukota, tapi yang jelas aku sudah menyadari bahwa aku sudah sampai di kota yang baru saja merayakan ultahnya 22 Juni yang lalu itu. Jakarta. Gedung-gedung menjulang, jumlah bangunan pencakar langit yang jelas terbanyak di Indonesia. Kepadatan dan kemacetan mulai terasa. Tapi kata pak sopir, ini sudah jauh lebih mending dari biasanya. Oya, Pak? Sepertinya iya sih, walau aku tak tahu kondisi macet biasanya, yang jelas mobil ini bisa melaju cukup lancar. Selang beberapa waktu kemudian, kulihat gedung Transcorp, perusahaan 2 channel asyik yang konstan mengeksplor Indonesia dan di Bandung baru saja menyelesaikan indoor park-nya yang diklaim  terbesar di dunia. Melihat Transcorp berarti tujuan pemberhentian tinggal bentar. Begitulah kata sahabatku yang telah lebih dulu di Ibukota untuk kerja praktek. Well, naek jalan layang Mampang bentar, dan berhenti di seberang kantor pos Mampang. Makasih pak sopir! Dan saya pun turun.

Mampang, Jakarta Selatan. Sepertinya ini belum kompleks utama bisnis dan perkantoran utama di Ibukota, tapi tetap saja jarak pandang sangat terbatas karena gedung-gedung raksasa yang tinggi menjulang. Di pinggir jalan terlihat bagaimana realita hidup berjalan. Belasan tukang ojek menunggu penumpang, bus Kopaja yang penuh, pasar tumpah nan ramai, dan lainnya. Bagaimana mereka berusaha mencari rezeki, mencari sebuah kehidupan yang layak di Ibukota.

Aha, akhirnya. Sahabatku sudah datang menjemput. Kembali jabat tangan dan senyum persahabatan itu lagi. Teman sebangku, eh salah semeja (bangkunya sendiri-sendiri) waktu SMA, di Bandung pun sekamar, eh salah sekosan (dengan kamar yang bersebelahan, bisa ngobrol tanpa harus keluar kamar masing2), dan sekarang kami bertemu lagi di Ibukota. Kalau ini menjadi semacam roda berkelanjutan, aku ingin dan selalu berdoa agar Allah SWT mengizinkan itu kembali terjadi, mungkin saling menjemput/bertemu di Frankfurt Airport, Rotterdam Port atau di Avron Station, untuk mengejar kehausan kita akan intelektualitas. Bukannya “tak perlulah aku keliling dunia, karena kau di sini” seperti di lirik salah satu lagu Laskar Pelangi, tapi “kutahu kubisa keliling dunia, karena kau di sini”. Dan mari mengusahakan lebih (terutama untuk memotivasi diriku sendiri) untuk membuktikan betapa hebat persahabatan kita.

Kami pun berjalan menuju kosan. Melewati pasar tumpah malam hari nan ramai, membelikan mie ayam titipan teman dulu, mengantarkannya, lalu melakukan sesuatu yang sudah kutunggu sedari tadi: makan malam! yeah! Dan sepiring ketoprak mengisi perutku. Sudah lama ga makan ketoprak nih. Alhamdulillah. Enak dan murah! Ternyata tak semua mahal di Ibukota.

Sebentar saja untuk sampai di kosan sahabatku itu. Wah, pintar juga ia memilih kos di sendiri. Rumahnya bagus, tapi harganya terjangkau juga, dan ternyata pemiliknya orang Wonosari, ibukota kabupaten tempat kelahiran ayahandaku. Satu kekurangan, walau itu normal, tidak bisa mencegah udara Ibukota ini yang masih saja membuat gerah walau sudah malam hari. Duduk-duduk di sofa bentar, ngobrol sebelum mau ke destination berikutnya.

Waktu sudah menunjuk pukul 22 saat kami tiba di halte busway Mampang Prapatan. Emang masih ada busway ya jam segini? Yoha, ternyata masih. Dan mengasyikkan sekali karena saat naek, di dalam cukup sepi. Bisa duduk nyaman dan menghirup udara dengan nikmat, kondisi yang tidak kutemui saat naek busway di kesempatan selanjutnya. Hanya 3 halte (sebenarnya rugi juga sih karena bayarnya 3500, harusnya lebih jauh lagi ya). Tahfafa dah. Turun di halte GOR Sumantri. Terlihat di sebelah kanan, GOR Sumantri, Universitas Bakrie, dan tentu saja Bakrie Tower. Tapi tujuan kami bukan di situ, tapi di arah seberangnya. Berjalan kaki sebentar untuk menuju kosan teman yang kerja praktek di Bakrie Telecom.

Tak butuh waktu lama untuk menemui kosan itu. Dan di kosan ini, cukup wah, karena di dalam ada alat untuk menepis rasa gerah (yah, sebut saja AC). Malam hari dilalui dengan ngobrol dan nonton TV bareng. Sometimes untuk masalah yang cukup serius, tapi tetap terasa santai. Hingga tak sadar sudah masuk midnight. Sudah tak lagi Jumat 24 Juni 2011 malah, ini sudah jam 1 dini hari. Oke, istirahat dulu. Capek gan. Semoga energi segera kembali untuk jalan-jalan di Ibukota. Lampu dimatikan, goodnight.

[bersambung]