Tarawih 13- Masjid Al-Ukhuwwah Wastukencana

Malam 13 Ramadhan.. Untuk kedua kalinya dalam Ramadhan ini sholat tarawih di masjid agungnya Kota Bandung, yakni masjid Al-Ukhuwwah. Oya, khutbah di masjid berarsitektur indah ini biasanya 40% bahasa Indonesia dan 60% bahasa Sunda. Walaupun saya nyaris tidak bisa sama sekali berbahasa Sunda (padahal sudah 3 tahun di Bandung), tapi secara pasif masih bisa menangkap isi khutbah Sundanya. Kalau dalam kalimat yang panjang sekalian, bahasa yang “asing” pun lebih mudah dicerna ternyata. Anyway, asyik juga lho mendengarkan khutbah campur Indonesia-Sunda 😀

**

Dalam khutbah kali ini, khotib menyampaikan salah satu sabda Rasulullah yang berbunyi:

Kalaulah seandainya umatku tahu keutamaan bulan Ramadhan, tentu mereka akan meminta supaya satu tahun, semuanya dijadikan Ramadhan (HR Ibnu Mazah)

Kutipan hadits di atas menyebutkan mengenai begitu istimewanya bulan Ramadhan. Bulan yang penuh keistimewaan yang sangat sayang untuk dilewatkan tanpa menjalankan amal ibadah sebanyak mungkin. Karena dalam Ramadhan ini, ada “obral pahala”, kenikmatan dan ganjaran atas ibadah kita akan dilipatgandakan.

Mengingat keutamaan bulan Ramadhan tersebut, semestinyalah kita punya targetan dalam beribadah. Untuk merancang target, kita perlu tahu tujuan Allah SWT memerintahkan kita menjalankan ibadah tersebut.

Sholat, sesuai QS Al-Ankabut ayat 45, bertujuan untuk menjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar

Zakat, sesuai QS At-taubah:103,  untuk membersihkan harta dari segala noda keserakahan

Sedangkan SHAUM, maka sebagaimana sering kita dengar selama Ramadhan ini, QS Al-Baqoroh: 183, bertujuan untuk mencapai derajat takwa

Jadi, untuk bahasan utama shaum di bulan Ramadhan ini, target kita jelas: MENCAPAI KETAQWAAN.

Lalu, apa saja sih ciri-ciri Taqwa? Khotib menjelaskan dalam khutbahnya sebagai berikut:

Ciri pertama adalah Tawadhu’. Sifat ini mengandung makna selalu merasa bersalah di depan Allah, merasa amalan yang sudah diperbuat masih kecil, tidak ingin diistimewakan, sehingga selalu meningkatkan usaha atau amalan kepada Allah SWT dan bersegera menggapai ampunan Allah SWT.

Ciri kedua adalah Qonaah. Sifat ini mengandung makna menerima apa adanya. Merasa ikhlas dengan kondisi yang dialami, tapi tidak berhenti hanya sampai situ saja. Sikap qonaah menuntut kita untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, seberapakah kemampuan dirinya, sehingga ia hidup secara WAJAR dan tak melampaui batas.

Ciri ketiga adalah Waro’. Sifat ini mengandung makna berhati-hati. Berhati-hati terhadap sesuatu yang jelek akibatnya, sehingga selalu berusaha mengetahui dan memperdalam ilmu (dalam hal ini menyandarkan pada syariat Islam), serta senantiasa memohon perlindungan pada Sang Pemilik Segala Daya dan Kekuataan, Allah SWT.

Demikianlah semoga kita semua bisa mengambil hikmah. Semoga kita bisa meningkatkan ibadah kita di bulan suci Ramadhan ini dan menggapai ciri dan derajat Taqwa.

Bismillahirrahmanirrahiim…

 

Tarawih 11- Masjid Agung Bandung

Malam 11 Ramadhan… Kali ini agenda tarawih di Masjid Agung Bandung Provinsi Jawa Barat. Masjidnya benar-benar agung nih, ukurannya berkali-kali lipat jauh lebih besar dari Masjid Salman. Sayangnya, jumlah jamaah malam ini sama sekali ga sebanding dengan ukuran itu. Oke, itu masih bisa diterima. Yang aneh, cara membentuk shof jamaahnya. Belum juga shof depan terisi dua pertiganya, eh udah bikin shof baru di belakang. Begitu, sampai-sampai kalau diliat dari atas mungkin bentuk keseluruhannya seperti trapesium. Aneh kan? Untung saya bersama 3 teman saya, jadi masih bisa menjaga kerapatan dan kelurusan shof sebagai syarat sempurnanya jamaah. Kalau tidak, mungkin saya bakal terus bergumam tentang tipisnya beda “sholat jamaah” atau “sholat sendiri-sendiri tapi di masjid yang sama” di sini.

Oya, FYI di sini sholat tarawihnya 23 rakaat. Tapi selesainya cepet kok, bahkan relatif lebih cepat dibanding 11 rakaat di Salman. Saya sendiri, ya bisa ditebak lah ikut berapa rakaat. 🙂

    

**

Dalam khutbah tarawih kali ini, khotib mengingatkan akan kesadaran kita terhadap shaum dan hakekatnya. Mari kita nilai shaum kita sendiri, apakah hanya menahan lapar lalu riang saat buka puasa? Tentunya kita tidak ingin sekedar itu saja. Tapi dengan kepahaman dan kesadaran akan makna shaum Ramadhan, yakni untuk mencapai derajat taqwa.

Berlanjut penilaian kita tentang shaum kita, apakah kita sudah tahu doa Rasulullah SAW saat buka puasa?

(HR Abu Dawud, ad-Daruquthni, an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra, al-Baihaqi, dari hadits Ibnu Umar dan dihasankan oleh as-Syaikh al-Abani)

Lalu, bagaimana tilawah kita di bulan suci ini? Kita mesti memegang prinsip tiada hari tanpa Al-Qur’an di bulan Ramadhan ini. Shaum tanpa tilawah/tadarus AlQur’an, jangan harap nilainya akan sempurna. Karena itu, sudah semestinya kita terus membaca dan mendalami ayat suci Al-Qur’an. Belajar 1 huruf saja punya nilai kebaikan yang tinggi, apalagi kalau sampai khatam berkali-kali di bulan Ramadhan ini.

Amalan lain yang perlu dievaluasi oleh diri sendiri, sudah dijalankan dan dimaknai atau belum, adalah konsistensi dan kesinambungan dzikir kita pada Allah SWT serta keihklasan dalam beramal. Seberapa banyakkah kita mengingat Allah hari ini? Seberapa banyak kita telah beramal? dan apakah itu ikhlas? Diri kita sendiri yang mesti bisa mengevaluasi.

Semoga amal dan ibadah kita di bulan suci ini diterima oleh Allah SWT. Dan mari terus kita tingkatkan…

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tarawih 10- Masjid Daarut Tauhid Gegerkalong

Malam 10 Ramadhan… Setelah 3 hari berturut-turut sholat tarawih di Masjid Salman, saatnya “menjelajah”. Kali ini berkilo-kilo jauhnya dari ITB, menuju ke Gegerkalong untuk tarawih di masjid yang kondang karena didirikan da’i nasional Aa Gym, masjid Daarut Tauhid.

Sholat di masjid ini untuk kedua kalinya (yang pertama Ramadhan tahun lalu), ada sedikit perubahan dalam masjid ini. Tapi tetap saja nyaman senyamannya untuk sholat dan tilawah. Masih ada juga 2 TV flat bagian kanan dan kiri, mungkin sekalian khutbah tarawihnya dibroadcast MQTV. Saya sendiri bersama 3 teman kebetulan dapat shof kedua dari depan, tepat di hadapan mimbar jadi tak perlu melirik ke layar TV besar di samping. Anyway, khotib malam ini bukan Aa Gym, tapi tetap bagus kok materi dan cara penyampaiannya. 😀

     

**

Dalam khutbah tarawih ini, khotib membahas mengenai usaha pencapaian kita menuju ketakwaan, sebagaimana merupakan tujuan kita shaum di bulan Ramadhan ini. Dalam mencapainya, Allah telah memberi modal yang sangat banyak, salah satunya adalah otak.

Otak merupakan pusat indera kita. Bagian tubuh paling spesial untuk mengendalikan tubuh kita. Berhubungan dengan shaum ini, otak kita semestinyalah diprogram berdasar Al-Qur’an. Karena tiada keraguan dalam AlQur’an, di sanalah letak segala jawaban. Dengan memprogram otak dengan Al-Qur’an maka outputnya adalah pikiran yang cerdas dan solutif. Langkahnya jelas, lebih mendalami al-Qur’an. Rasulullah SAW saja sebulan terus belajar dari malaikat Jibril, apalagi kita yang kadar imannya masih naik turun.

Selain itu dijelaskan pula mengenai shaum, di mana tugas berat kita adalah mengendalikan nafsu. Bukan hanya menahan dari makan dan minum saja, tapi pengendalian syahwat yang merupakan tempat bermain setan. Tentunya kita tidak mau dikendalikan oleh setan. Nauzubillahi min dzalik…

Tarawih 9- Masjid Salman ITB

Malam 9 Ramadhan.. Terdorong untuk sholat di masjid Salman lagi.. hehee..

Khotib untuk tarawih malam hari ini tak kalah dengan khotib-khotib terdahulu, yakni Bapak KH Athian Ali, beliau adalah ketua FUUI (Forum Ulama Umat Islam). Walau beliau masih dalam kondisi kurang fit karena baru 2 hari lalu operasi, tapi beliau masih bisa membawakan khutbah dengan sangat bagus. Materi yang disampaikan agak sensitif tapi dengan penyampaian seperti beliau, jamaah jadi sangat antusias. Dan memang jamaah perlu belajar banyak dari beliau, yang bisa terus berdakwah dengan baik dalam kondisi sakit sekalipun. Subhanallah

**

Khotib dalam khutbah tarawih ini membahas mengenai iman dan kafir yang saat ini perbedaannya tampak makin kabur, terutama di negeri kita Indonesia. Klo tentang urusan hati memang semua orang juga tidak tahu, tapi kondisi sekarang, tampak luar pun susah untuk membedakan apakah seseorang beriman atau sebenarnya kafir.

Dalam QS Al-Baqoroh ayat 185 dijelaskan salah satu fungsi Al-Qur’an adalah sebagai pembeda, pembeda antara haq dan bathil. Jadi dari Al-Qur’anlah semestinya kita bisa membedakan mana perkara yang baik dan buruk.

Khotib secara khusu menyoroti QS Al-Hujurat ayat 14-15 berikut

Dari ayat tersebut, Allah SWT pernah mengingatkan Rasulullah SAW untuk mengatakan pada orang Arab Badui bahwa telah Islam/tunduk, belum tentu telah mukmin karena iman belum tentu sudah masuk dalam hati mereka. Sedangkan iman yang sesungguhnya adalah yang disebutkan dalam QS Al-Hujurat: 15 itu.

Nah, di Indonesia tercinta ini, banyak kasus yang membuat miris karena banyak yang belum mukmin tadi. Dan mungkin juga lho kita ini sudah Islam, tapi ternyata belum benar-benar mukmin. Padahal ga ada yang namanya “rada mukmin” atau “agak kafir”. Kalau ga mukmin, ya berarti kafir. Naudzubillahi min dzalik.

Dalam candaannya, khotib berkata kalau Iblis itu, mungkin paling sebel di Indonesia. Kenapa? Coz, dia (iblis) aja hanya sekali mengkufuri (tidak mau sujud pada Adam A.S. dengan alasan api lebih mulia dari tanah) hukumannya diturunkan dari surga dan dilaknat sampai akhir zaman. Sedangkan di Indonesia, orang yang kufur berkali-kali banyak yang menyebutnya Kiai Haji. Contoh juga yang mengatakan Al-Qur’an sebagai kitab suci paling porno tuh…

Masih dalam nada candaan, khotib berkata kalau Iblis mungkin lebih beriman dari manusia. Kenapa? Kan dia (iblis) melihat langsung Allah, ia sadar kalau Allah Sang Pencipta, tidak beranak dan diperanakkan. Eh manusia malah masih banyak yang ragu akan Allah SWT, berkata Allah itu punya putra, de-el-el. Hmm…

Bahwa beda antara mukmin dan kafir makin kabur di negeri ini adalah pendapat mengenai hukum waris. Ada yang beranggapan (padahal yang beranggapan wawasan Islamnya cukup luas), jatah warisan laki:perempuan 2:1 seperti tercantum dalam Al-Qur’an itu tidak adil, karena kondisinya perempuan sekarang banyak yang bekerja. Kalau perbandingan 2:1 kan cocoknya di Arab tempo dulu, ga cocok di kondisi seperti Indonesia sekarang. Jadi ada pendapat untuk bikin “fiqih versi Indonesia”. Nauzubillah.

Al-Qur’an sebagai kitab suci pedoman hidup manusia itu tidak ada keraguan di dalamnya, tidak ada sama sekali. Kalau dinalar sederhana, itu seperti kita memilih kopiah untuk kepala. Bukan kepalanya yang harus menyesuaikan dengan kopiah, tapi kopiah yang dipilihlah yang harus menyesuaikan dengan kepala. Dan kepala dalam analogi ini adalah induk ilmu, tak lain kitab suci Al-Qur’an. al-Qur’an mesti kita pelajari dan pahami benar karena fungsinya juga sebagai Al-Furqon, pembeda antara haq dan bathil.

Semoga kita bisa lebih mendalami Al-Qur’an dan Islam. Beriman dengan sebenar-benarnya iman. Dan kita terbimbing dalam menghadapi batas mukmin dan kafir yang makin kabur.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tarawih 8- Masjid Salman ITB

Malam 8 Ramadhan.. Salman dan Salman… 😀

Kalau biasanya jamaah tarawih penuh, malam ini lebih penuh lagi karena khotib yang mengisi merupakan seorang menteri. Seorang yang juga cukup identik dengan ITB. Beliaulah ketua Ikatan Alumni ITB, yang sekarang juga diamanahi jabatan tak main-main, Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia. Ya, khotib malam ini adalah bapak Ir.H. Hatta Radjasa..

**

Dalam khutbah tarawih malam ini, Pak Hatta mengawali dengan menceritakan banyaknya peristiwa penting dalam sejarah, terutama tarikh Islam, yang terjadi di bulan Ramadhan. Kemenangan pasukan Rasulullah SAW di Perang Badr, penaklukan Andalusia (Spanyol) oleh Tariq bin Ziyad, perebutan Palestina oleh Sholahuddin Al-Ayubi adalah contohnya.

Bulan Ramadhan merupakan syahrul jihad. Bulan untuk berjuang. Bulan untuk berjihad melawan berbagai permasalahan yang menimpa diri, bangsa dan agama. Sebagai seorang menteri ekonomi, Pak Hatta akan membahas mengenai perjuangan yang mesti dilakukan bangsa Indonesia, terutama terkait ekonomi. Mengenai ekonomi, Indonesia sering dilanda krisis, saat krisis itu muncul energi untuk bersatu, dan motor utamanya adalah umat Islam. Karena itu, sudah selayaknya  kita sebagai muslim Indonesia juga turut memikirkan permasalahan bangsa.

Indonesia, kata Pak Hatta, butuh waktu 65 tahun untuk mencapai kemajuan ekonomi gelombang pertama. Tapi, apakah perlu 65 tahun lagi untuk kemajuan ekonomi kedua? Tentu semua akan sepakat untuk berkata “Tidak!”. Kita butuh percepatan pembangunan, dan itu mesti diupayakan sebaik mungkin.

Mengenai pembangunan, Indonesia jelas punya potensi besar. Di antaranya adalah kondisi generasi sekarang yang merupakan transisi usia produktif (double bonus generation). Di saat kebanyakan negara Barat serta Jepang mulai aging (banyak yang berumur tua), Indonesia justru punya piramida penduduk yang produktif. Sayang jika kondisi ini tidak bisa dimanfaatkan. Potensi utama lainnya adalah kekayaan SDA (Sumber Daya Alam) yang belum terolah dengan benar walau rata-rata merupakan sumber melimpah 5 besar dunia.

Dalam program nasional, Pak Hatta menjelaskan langkah strategis yang diambil untuk percepatan pembangunan ekonomi:

1. Pembangunan pusat-pusat ekonomi baru yang tersusun dalam 6 koridor ekonomi nasional. Kawasan ekonomi khusus untuk memacu pertumbuhan ekonomi terus disiapkan

2. Membangun konektivitas dan infrastuktur (locally integrated, globally connected)

3. Memacu SDM dan IPTEK nasional. Jadi landasan pembangunan ekonomi sekarang ditumpukan pada teknologi. Negara butuh entrepreneur-entrepreneur kreatif dalam jumlah banyak. Juga teknokrat yang mau memikirkan dan mampu memajukan bangsa.

Itulah rencana pembangunan ekonomi nasional di mana kita diharapkan untuk sama-sama menyokong. Dimulai dari membangun diri sendiri. Quote dari pak Hatta: Good is not good enough, why not the best?

Yuph, mari berusaha sebaik mungkin…

Bismillahirrahmanirrahiim….

Kultum Subuh 5- Masjid Salman ITB

5 Ramadhan… kembali sholat dan ikut sholat Subuh di Masjid Salman. Berangkat ditemani embun dingin kota Bandung, menyisir jalan Tamansari dan Gelapnyawang. Dan parkiran Salman ternyata masih tutup, terpaksa parkir di dalam kampus. Tahfafa, alhamdulillah bisa segera sampai masjid. Lanjut tilawah di dalam Salman yang begitu hangat sebelum diteruskan sholat dan kuliah subuh

**

Kuliah atau khutbah Subuh kali ini membahas mengenai integritas. Masalah yang saat ini menjadi salah satu problem terbesar bangsa kita. Banyak kasus yang bermula dari kebohongan. Padahal jelas kebohongan membawa pada kejahatan, seperti dikutip dari hadits berikut:

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang akan senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong)” (HR Mutafaqun ‘alaih)

Rasulullah SAW sebagai suri teladan kita, telah mencontohkan melalui beliau sendiri mengenai integritas. Rasulullah terkenal dengan sebutan Al-Amin karena beliau orang yang selalu bisa dipercaya, seorang yang punya integritas tinggi. Saat beliau meminta orang-orang untuk berkumpul maka semua berkenan, dan saat beliau mulai menyeru semua yang hadir akan membenarkan ucapan beliau, menjadi salah satu bukti integritas beliau. Beliau juga mempunyai sifat utama Shiddiq (Benar).

Shiddiq menurut para ulama didefinisikan sebagai:

1. Menyempurnakan amal dan perbuatan hanya karena Allah SWT

2. Kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang diperbuat

3. Ucapan dan sikap yang benar sekalipun dalam posisi yang sempit/sulit

Adapun dasar pijakan dari shiddiq adalah keimanan yang kokoh dan selalu yakin akan kehadiran Allah SWT. Karena hanya iman yang kokohlah yang dapat menjadikan seseorang memiliki integritas yang tinggi, kejujuran dan amanah. Karena shiddiq merupakan gabungan antara mengharap keridhaan Allah, selalu merasa akan pengawasan Allah, dan istiqamah terhadap nilai kebenaran.

Demikian materi kuliah Subuh hari ini. Mari sama-sama mengambil hikmah dan semoga kita semua bisa menjadi insan yang jujur penuh integritas sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Tarawih 5- Masjid Salman ITB

Malam 5 Ramadhan, agenda tarawih keliling kembali ke Masjid Salman. Jamaah masih penuh seperti biasanya. Jamaah yang rapat dan bacaan yang merdu enak didengar, masih ideal seperti biasanya. Untuk khutbah malam ini, khotibnya adalah Pak Syarif Basyir, ketua Al-Irsyad Purwokerto yang juga alumni TI ITB’75. Khutbahnya panjang lebar, jauh lebih lama dari waktu yang dipesankan di awal (20 menit), tapi tetap sampai akhir jamaah antusias mendengarkan. Tentu karena isi dan penyampaiannya khutbahnya bagus sekali. 😀

              

**

Khotib memulai khotbah dengan mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur, alhamdulillahirabbil’alamiin karena nikmat Allah yang teramat banyak, terutama kita sudah terlahir di keluarga dan lingkungan muslim. Mungkin kalau tidak begitu, bisa jadi saat ini, di bulan yang mulia ini, kita justru membenci Islam.

Dalam salah satu ayat suci Al-Qur’an berikut disebutkan:

Hai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik yang kami berikan kepadamu. Dan bersyukurlah kepada Allah jika memang hanya dia saja yang kamu sembah. (Al-Baqarah: 172)

Yang patut dicermati dari ayat tersebut adalah kita, sebagai seorang muslim dan mukmin, harus punya sesuatu sebagai wujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Dalam setiap tindakan yang dilakukan hendaknya juga dipikirkan bahwa setiapnya ada pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Wujud syukur yang konkret adalah dengan beramal sebanyak-banyaknya dan menjadi manfaat bagi banyak orang.

Dalam kehidupan manusia di dunia ini, tidak perintah untuk mendahulukan diri sendiri dibanding orang lain, kecuali dalam 1 hal. Hal apa itu? Ya, hablum minallah. Dalam hal hubungan dengan Allah SWT (ibadah), kita mesti mendahulukan dalam rangka fastabiqul khoirat. Tetapi jika sudah masuk lingkup hablum minannas, maka anjurannya adalah kita lebih peduli, punya empati, punya kemanfaatan dan tidak mendahulukan diri sendiri. Inilah yang masih kurang di negeri kita, mengenai memberi manfaat dan tidak mendahulukan kepentingan pribadi dulu. Kiai Zainuddin MZ pernah mengatakan, masalah utama bangsa (penyakit masyarakat) Indonesia pada dasarnya adalah: “yang mau tidak mampu, yang mampu tidak mau”.  Hmm… benar juga ya… yang punya niat malah banyak yang kurang mampu, sedangkan yang mampu malah banyak mngkritik tidak solutif, tidak mau menjadi solusi.

Untuk menjadi manusia unggul, untuk menjadi manusia yang bisa memberi banyak manfaat, maka yang terpenting dilakukan adalah mewujudkan akhlaqul karimah. Kita mesti punya karakter dan akhlak yang baik. Sedangkan dalam sistem pendidikan di Indonesia, sebagaimana disorot oleh khotib, justru terlupa akan salah satu tujuan utamanya yakni membentuk karakter. Selama ini, banyak yang sekolah dan melulu mengejar nilai dengan segala cara. Tidak mengedepankan karakter keinginan kuat untuk belajar dan faktor integritas (kejujuran). Tak heran negara ini penuh dengan koruptor. Di ITB sendiri, tiap tahun ada sambutan dengan embel-embel “Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa”, tapi kalau keluar jadinya koruptor..wah lebih dari sekedar malu-maluin..

Selama ini kebanyakan dari kita justru melupakan tugas kita dan “mengerjakan tugas Allah SWT”. Maksudnya? Ya kita sering terlupa untuk menjadikan diri kita sebaik mungkin dengan akhlakul karimah. Kurang menjaga hubungan dengan saudara/teman padahal sikap Allah SWT kepada kita cenderung sesuai sikap kita terhadap sekitar. Dan bagaimana bisa kita justru disibukkan dengan wewenang Allah, yakni menentukan takdir. Acapkali kita terlalu banyak berandai seolah kita yang punya wewenang menentukan takdir, tanpa usaha yang cukup. Naudzubillahi min dzalik.

Salah satu wujud rasa syukur dan memberi kemanfaatan adalah memberi shodaqoh atau memenuhi kewajiban zakat. Janji Allah niscaya akan terpenuhi manakala kita telah menjalankan tuntunan-Nya. Dalam kasus shodaqoh/zakat, sering kita terlalu berhitung-hitung dalam mengeluarkan uang (baca: pelit) padahal janji Allah adalah melipatgandakan rezeki kita. Tidak pernah harta kita terkurangi karena kita membagikan harta untuk shodaqoh/zakat. Justru sebenarnya “kepemilikan” kita terhadap suatu materi baru didapat selepas kita membagikannya (shodaqoh/zakat). Mengenai keutamaan zakat ini, khotib bercerita bahwa beliau pernah menemui satu petani, yang sebelumnya tidak tahu kalau pertanian itu ada zakatnya. Selepas ia tahu, ia bernazar akan berzakat 10% (ketentuan dasar sebenarnya 5%). Hasil pertanian rata-rata di daerah itu sekali panen adalah 28 kuintal. Zakat 10% berarti si petani keluar 2,8 kuintal dan masih mendapat 25,2 kuintal. Eh tak dinyana, setelah niat mulia itu, hasil panennya justru melimpah, sebanyak 35 kuintal. Dengan zakat 10%, petani masih 31,5 kuintal. Hasil yang didapat tidak berkurang tapi justru lebih besar kan? Hikmahnya: ketika kita mau berbagi (dalam hal ini zakat), Allah akan melimpahkan, akan melipatgandakan rezeki-Nya pada kita. Subhanallah…

Satu hal penting dalam khutbah ini adalah: JADILAH MUSLIM YANG SEBENARNYA. Muslim yang sukses, yang bisa memberi suatu kemanfaatan untuk orang banyak sebagai wujud syukur pada banyaknya nikmat Allah SWT. Muslim yang memiliki karakter, akhlak karimah. Muslim yang bisa menolong agama Allah.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dan terus mengupayakan menjadi muslim yang sebenarnya.

Bismillahirrahmanirrahiim….

Tarawih 3- Masjid Salman ITB

Malam 3 Ramadhan, agenda tarawih keliling kembali di masjid Salman ITB. Sebelumnya memang berencana sholat tarawih di masjid yang berbeda-beda selama Ramadhan 1432 H ini, tapi pikiran itu berubah. Jadi siklusnya: sehari di masjid Salman, sehari di masjid Bandung lainnya. Sudah sangat enchanted sama Salman 🙂

      

Kebetulan, khotib tarawih di Salman untuk malam 3 Ramadhan ini adalah Pak Agung Harsoyo. Salah satu dosen favorit saya, dosen yang sudah menghidupkan mimpi-mimpi saya untuk melanjutkan studi di Prancis. Hoho.. Mantap!

**

Dalam khutbah kali ini, seperti biasa, ada “kutipan ilmiah” khas khutbah Pak Agung. Kutipan yang pertama dari pakar positive psychology (psikologi positif), Martin Seligman, yang menyatakan bahwa ada 5 elemen kebahagiaan yang biasa disingkat dengan PERMA.

P (Positive emotion) — menyangkut hal yang menimbulkan pleasure

E (Engagement) — menyangkut kegiatan yang menantang dan kesenangan menggunakan potensi besar diri kita

R (Relationship) — menyangkut hubungan baik dengan sesama manusia

M (Meaning) — menyangkut penemuan makna (makna hidup/ makna tindakan)

A (Achievement) — menyangkut pencapaian terhadap sesuatu yang terukur/ditargetkan

Ahli psikologi meneliti bahwa setiap manusia dapat improve (meningkatkan) kebahagiaan yang ada dalam dirinya. Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita punya kebiasaan berbahagia, dan terus meningkatkan kebahagiaan diri.

Dalam khutbah ini dibahas terutama mengenai elemen M (Meaning). Sebagai contoh kasus, diceritakan bangsawan yang mencari makna hidup agar dirinya dihormati lagi. Saat akhirnya bertemu seorang guru, guru itu mengatakan “Sebelum kamu mendapat pencerahan, ada pertanyaan yang harus kamu jawab”. Tentu si bangsawan penasaran ingin tahu pertanyaan itu. Sang guru melanjutkan dengan pertanyaan, “Di mana kamu menaruh payung yang kamu bawa? Di sebelah kiri atau kanan tangga?”. Si bangsawan segera keluar dan mengecek di mana ia meletakkan payung. Setelah itu ia segera kembali, belum sempat mengatakan jawabannya, sang guru bertanya lagi, “berapa jumlah anak tangga itu?”. Kembali bangsawan tergopoh-gopoh keluar menghitung anak tangga. Ketemu jawaban dan mau mengatakan, eh sudah ditanya lagi, “Berapa anak tangga yang rusak dan berapa yang utuh?”. Hah, lagi-lagi tergopoh-gopoh.. dan capek juga… Akhirnya ada pelajaran dari sini: Bagaimana kita mendapat pencerahan, kalau apa yang mau kita cari saja kita tidak tahu.

Masih dalam lingkup psikologi positif/psikologi motivasi, ada pakar bernama Carl Rogers, yang berkata bahwa manusia agar dapat menghidupkan hidup, maka ia mesti sadar akan pengalaman hidup, tahu kini dan tahu di sini. Pengalaman hidup akan memberi hikmah dan kebijaksanaan. Dan makin sadar, maka kualitas hidup akan meningkat.

Jika bagian di atas dirangkum dalam 1 kata, maka 1 kata padanan kebahagiaan itu adalah KESADARAN. Termasuk dalam bulan Ramadhan ini, kita juga mesti menjalani dengan penuh kesadaran untuk mencapai kebahagiaan sejati  jadi insan yang bertaqwa.

Rasulullah juga mengajarkan kecerdasan dan kebahagiaan, termasuk di bulan Ramadhan. Dalam hadits yang diriwayatkan At-Tabrani

Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkatan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini  dan Dia membangga-banggakan kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di  bulan ini.

Karena itu, seharusnyalah kita menyambut Ramadhan dengan semangat dan bahagia.

Kemudian, khotib juga mengingatkan untuk mencermati sama-sama mencermati shaum/puasa kita. Puasa tidak hanya menahan untuk tidak makan, melainkan menahan dari sisi nafsu dan kebutuhan. Sayangnya, di Indonesia masih banyak manusia (dan ironisnya kebanyakan petinggi) yang banyak “makan”, tidak ada habis-habisnya padahal sudah kenyang lebih dari kebutuhan.  Dengan shaum, kita semestinya bisa menjaga nafsu dan mengerti batas kebutuhan kita. Analoginya, seperti kita sebagai pemakan nasi, makan terlebih dulu membeli beras. Nasi sebenarnya juga beras, tapi telah melalui proses. Beras sebenarnya sama juga dengan padi, tapi telah melalui proses. Kita makan nasi bukan memakan beras, ya kan? Nah, seperti juga mengenai kebutuhan dunia. Pengabdi Allah tidaklah antidunia, ia bisa mengumpulkan nikmat dunia (seperti membeli beras dalam case ini) dan terlebih lagi bisa mematangkan/mentransformasikan sehingga bermakna akhirat.

Wow, sudah dapat banyak dari khutbah yang singkat ini kan?

Semoga kita bisa dapat lebih banyak lagi, juga terus mengusahakan yang lebih banyak untuk kebahagiaan menjadi insan yang bertaqwa.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tarawih 2- Masjid Raya Cipaganti

Malam 2 Ramadhan, kali ini agenda tarawih keliling di Masjid Raya Cipaganti. Masjid raya yang konon sudah berdiri sejak 1930an, dibangun dengan arsitektur Belanda dan menjadi saksi bisu perkembangan Islam di kota Bandung. Untuk pertama kalinya semenjak di Bandung, saya sholat di masjid ini.

Masjid yang megah dengan arsitektur unik, untuk yang ikhwan hanya terdiri dari –kalau ga salah– 10 shof (jumlah yang sedikit kan untuk ukuran masjid raya?), tapi.. 1 shofnya panjang banget, bisa sampai 100 jamaah. Karena ini masih awal Ramadhan jadi masjid raya masih penuh (dan semoga masih penuh juga sampai akhir Ramadhan yaa..).  Ada sisi unik dari penyelenggaraan sholat tarawih di masjid ini, yakni kita bisa ikut 11 rakaat atau 23 rakaat. Jadi 8 rakaat tarawih dulu, terus 3 rakaat witir (saat witir ini yang mau ikut 23 rakaat dipersilakan istirahat dulu), setelahnya baru lanjut 12 rakaat tarawih plus 3 rakaat witir  untuk yang sholat 23 rakaat.

**

Untuk khutbah malam 2 Ramadhan ini, khotib membuka dengan membacakan ayat yang paling sering kita dengar saat Ramadhan ini, yakni QS Al-Baqoroh: 183

Ada 3 poin penting dalam ayat tersebut;

Pertama, bahwa perintah shaum merupakan kewajiban untuk orang mukmin. Jadi, untuk mukmin yang sudah baligh tidak ada alasan untuk tidak shaum.

Kedua, bahwa perintah shaum merupakan kewajiban pula dan telah dilakukan oleh umat terdahulu. Jadi, tidak perlu ada kesombongan bahwa umat masa ini kuat berpuasa, karena toh kaum sebelumnya juga sudah menjalankan.

Ketiga, shaum untuk mencapai ketaqwaan.

Kalau kita menjalankan shaum berdasar poin 1-3 tadi tanpa kaitan (maksudnya: sebagai syarat orang mukmin saja, tanpa berusaha mencapai ketaqwaan), niscaya shaum kita hanyalah lapar dan haus saja.

Bulan Ramadhan ini juga merupakan bulan yang unik. Di bulan ini aktivitas duniawi bisa dikatakan berkurang atau berhenti sejenak. Dari yang sebelumnya siang malam mungkin susah untuk ibadah, di bulan suci ini kita mendapat kesempatan dan dorongan untuk bisa terus mendekatkan diri pada Allah SWT. Jangankan siang atau malam, dini hari pun digunakan untuk ibadah. Bisa bersadaqah lebih ikhlas dan lebih banyak, bisa baca Quran lebih sering, dan lebih banyak menundukkan diri (sujud). Merupakan tantangan untuk kita apakah setelah bulan suci berakhir, pendekatan diri pada Allah ini terus berlanjut (insan yang bertaqwa) atau kembali hangus lagi.

Khotib juga memberi materi sesuai dengan QS Al Fath:4, di mana dari ayat tersebut disebutkan Allah akan memberi ketenangan hati dalam hati orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan (yang sudah ada). Jadi jika ibadah kita selama bulan Ramadhan ini belum membuat hati kita tenang, belum memunculkan kenikmatan, dan masih saja ada unsur terpaksa atau formalitas, maka harus introspeksi diri. Dalam bulan Ramadhan yang merupakan bulan Tarbiyah, bulan belajar ini kita mesti terus belajar, baik belajar introspeksi diri dan belajar meningkatkan amalan.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Tarawih 1- Masjid Salman ITB

Bulan Ramadhan 1432 H telah tiba. Dalam kalender Masehi, 1 Ramadhan jatuh pada hari Senin tanggal 1 Agustus 2011. So, hari sebelumnya selepas Isya  telah diadakan sholat tarawih. Untuk membuka agenda tarawih keliling Ramadhan kali ini, saya sholat di masjid Salman ITB.

     

Masjid megah nan penuh keindahan. Indah dalam semangad fastabiqul khoirat, indah dalam jamaah (lurus dan rapat), indah dalam bacaan ayat suci Al-Qur’an, indah dalam materi khutbah, dan keindahan-keindahan yang lain. Suasana yang sangat pas, didukung malam hari yang terang, menyambut Ramadhan yang lebih baik. Dan terus berupaya menjadi lebih baik menuju taqwa. Bismillah..

**

Imam pada tarawih pertama ini adalah Ustadz Sunardi. Khotibnya Bapak Syarief Hidayat, Ketua YPM Salman (insya Allah dalam blog ini akan diceritakan isi khutbah tarawih harian, hasil tarawih keliling Ramadhan 1432 H). Adapun isi khutbah tarawih 1 ini..

Pak Syarief membuka dengan renungan bahwa tak terasa satu tahun telah berlalu. Di masa itu, kita berjanji akan menjadikan hari selepas Ramadhan menjadi hari-hari yang lebih baik. Dan waktu satu tahun berlalu. Umur semakin pendek, alhamdulillah kita masih diberi kesempatan menghirup udara Ramadhan lagi. Tapi apakah kita sudah jadi lebih baik? Atau kita masih seperti dulu, terus berjanji lebih baik tapi masih saja hanya janji sampai setahun berlalu…

Beliau kemudian membacakan khutbah Rasulullah SAW menyambut bulan Ramadhan sebagai berikut:

Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh suatu bulan yang agung
lagi penuh berkah; bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik
daripada seribu bulan. Pada bulan tersebut Allah SWT menjadikan puasa sebagai
kewajiban dan shalat malamnya sebagai ibadah sunnah yang sangat
dianjurkan.

Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan amalan sunnah,
ia diberi pahala sama seperti menunaikan kewajiban (fardhu) di bulan yang lain.

Siapa yang menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan, ia diberi pahala sama dengan
orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban di bulan yang lain.

Ramadhan adalah bulan sabar, sedang sabar itu tiada lain balasannya selain surga
(al-jannah).

Ramadhan adalah bulan berbagi simpati (memberikan pertolongan) dan bulan dimana
Allah menambah rizki orang-orang mukmin. Siapa saja yang pada bulan itu
memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi
pengampunan atas dosa-dosanya, kemerdekaan dirinya dari api neraka, dan ia
mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan
berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.

Para sahabat berkata,Ya Rasululullah, tidak semua dari kami memiliki makanan
untuk dapat diberikan kepada orang-orang yang berpuasa.

Rasulullah Saw kemudian menjawab, Allah memberikan pahala tersebut (seperti
yang telah disebutkan) kepada siapapun orang yang memberikan buka puasa walau
hanya sebutir korma atau sekedar seteguk air atau sehirup susu.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya
adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Siapa yang
meringankan beban orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya), niscaya
Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka.

Perbanyaklah oleh kalian empat perkara di bulan Ramadhan ini; dua perkara
diantaranya membuat Tuhan ridha terhadap kalian dan dua perkara lainnya sangat
kalian butuhkan. Dua perkara yang membuat Tuhan ridha dengan kalian adalah
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disembah selain Allah dan kalian memohon
ampunan-Nya (istigfar). Adapun dua perkara yang kalian sangat butuhkan adalah
memohon surgaNya dan memohon lindungan dari api neraka. Siapa saja yang memberi
minum kepada orang yang berpuasa niscaya Allah akan memberinya minum dari air
kolamku yang dengannya dia tidak akan merasa haus setelah meminumnya hingga
ia masuk surga. (HR. Ibn Khuzaimah)

Demikian khutbah tarawih satu kemarin. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Dan mari sambut Ramadhan dengan lebih baik, dengan bahagia dan semangat untuk perbaikan diri!

Bismillah..