Wisata Gunungkidul: Kalisuci

H+1 Lebaran, bisa dipastikan di hari itu saya berada di Gunungkidul. Yah, di sanalah “tanah leluhur” saya yang kedua. Rumah eyang dan tempat berkumpulnya keluarga besar dari ayah saya. Tak terkecuali untuk H+1 Lebaran tahun ini.

Mengunjungi Gunungkidul bukan berarti mengunjungi daerah minim air lho ya.. Seperti juga pernah saya ceritakan di cerita terdahulu, mengunjungi Gunungkidul sama artinya dengan berwisata. Banyak sekali objek wisata di daerah ini, walau emang sih masih belum tergarap maksimal, tapi bagusnya kebanyakan objek wisata masih pure.

Setelah cerita tentang Pantai Baron dkk, Gua Bribin serta Hutan Wanagama, kali ini saya mengunjungi Kalisuci. Seperti namanya, kali berarti sungai. Anda pernah menikmati indahnya pantai Baron? Ada sungai kecil yang bermuara di pantai itu, bukan? Nah, sungai itu bermula di Kalisuci ini. Berawal dari mata air yang terlindungi pegunungan, aliran jernih Kalisuci menyusuri celah-celah megah gua, keluar lagi mencari jatuh sinaran sang surya, lalu kembali menembus bebatuan. Terus mencari jalannya menuju luasnya samudera. Elok.

Keelokan perjalanan Kalisuci menuju laut ini sekarang mulai digarap sebagai objek wisata potensial. Oleh masyarakat karang taruna lokal berpadu dengan mahasiswa pecinta alam. Bentuk wisatanya adalah menyusuri sungai dengan model semacam rafting tapi dengan sebuah ban untuk masing-masing orang. Menikmati lekukan indah Kalisuci, masuk dalam gua, menemui sinar matahari lagi, dan kembali masuk celah megah gua. Tak kurang dari 3 gua dimasuki bersama aliran sungai, dengan waktu sekitar 1,5-2 jam. Dihempas oleh sungai nan jernih dengan sensasi masuk dan keluar gua. Pengalaman menjelajah kawasan karst nan asyik bukan?

Paket jasa wisata yang bisa dinikmati tiap weekend (Sabtu-Ahad), hari libur, momen libur semesteran sekolah dan momen lebaran (bisa sampai 2 minggu). Harga yang dipatok cukup terjangkau, @Rp 65.000 (min. 5 orang). Perangkat penjelajahan sungai (pelampung, dekker, helm pengaman) sudah komplit, keamanan pun terjamin karena banyak guide dan tim medis di sana.  Tinggal datang sekeluarga atau rame-rame bareng teman dan nikmati pengalaman menyenangkan di Kalisuci.

Saya sendiri untuk libur Lebaran kali ini belum sempat mencoba paket wisata tersebut. Datangnya sudah kesorean sih. Hehe.. Tapi tentu akan saya agendakan untuk liburan semester mendatang.

Adakah yang tertarik? Ada yang mau bareng?

Hidangan Lebaran nan Lezat

Di malam hari menjelang lebaran di Indonesia tercinta ini, ketika para ikhwan sibuk dengan pesta takbiran yang acapkali bergeser niat syiarnya, para akhwat atau kaum hawa punya kebiasaan umum yang menarik. Kebiasaan ini positif, tak lain yaitu menyiapkan hidangan lebaran untuk keluarga besar.

Paling umum di momen Lebaran tentunya ketupat, dengan lauk pendampingnya yang biasa berupa opor ayam. Banyak macam hidangan Lebaran untuk keluarga besar masing-masing di seantero Nusantara yang mayoritas muslim ini. Apapun jenis hidangan Lebaran itu, memasak dan menyiapkannya telah menjadi tradisi tersendiri untuk ibu-ibu di malam Lebaran.

Hidangan lebaran, tanpa kita sadari telah menjadi semacam “alat silaturahim” tersendiri. Ketika keluarga besar berkumpul dan menikmati bersama hidangan lebaran,, hmm.. rasanya luar biasa mantap! Mak nyuss kalau kata Pak Bondan mah. Momen ngobrol bareng saat makan selalu menyenangkan, dan kelezatan makanan telah menjadi magnet kuat untuk mudik bagi orang rantau. Bukan saja ingin bertemu orang tua dan sanak kerabat, melainkan juga kangen akan lezatnya rasa dan kenikmatan makan bersama hidangan lebaran.

Nah, berbicara tentang hidangan lebaran, yang khas di keluarga besar saya di Klaten adalah masakan daging entog dan jangan lombok. Kedua masakan benar-benar  “Simply The Best”, lezatnya best banget dah.

Eyang kan emang melihara banyak entog di belakang rumah beliau, nah tiap momen lebaran pasti ada yang dipotong dan dimasakkan untuk anak cucu (keluarga besar saya).  Rasa daging dan keempukannya benar-benar memanjakan lidah. Ditambah jangan lombok — ‘jangan’ (bhs Jawa) berarti sayur, bukan berarti jangan dimakan lho yaa—wew, sempurna.. Saking enak dan selalu difavoritkan keluarga besar, yah saat saya akan makan, udah tinggal segini nih…

Hikz.. gapapa lah,, tetap terasa lezzzaat…

Inilah hidangan lebaran khas keluarga besar saya di Klaten. Bagaimana dengan hidangan lebaran di keluarga besar atau di daerah kalian, Kawan? Lezat juga kan? 😀

Cerita Lebaran

Waha.. lama kali tidak update postingan di blog.. Selepas menulis tentang pengalaman selama 1432 H kemarin, tulisan malah mandeg bersamaan dengan mudik di Solo. Emang sih di rumah ada koneksi internet, tapi ingin memaksimalkan waktu liburan dan saat-saat perbaikan gizi. Hehe..

Nah, di bulan Syawal yang merupakan momen Lebaran ini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya mudik dari tempat rantau (Bandung) ke my home sweet home di Solo, lalu lanjut mudik di “tanah leluhur”, Klaten dan Gunungkidul. Mudik tentunya merupakan momen migrasi periodik besar-besaran penduduk Indonesia yang selalu dinanti. Masing-masing punya cerita unik tersendiri yang (kebanyaka) menyenangkan.. bukan begitu?

Yuph, masih dalam suasana saling memaafkan, sekali lagi mohon maaf lahir dan batin. Dan izinkanlah saya sekedar bercerita, semoga ada hal menarik yang bisa memberi nilai positif.

Cerita lebaran… ini ceritaku, mana ceritamu? Hoho… #Korbaniklan

Hari H+1 Lebaran

Bulan Syawal sudah memasuki hari kedua atau H+1 Lebaran. Sudah boleh berpuasa nih buat umat muslim yang mau memulai puasa Syawal. Kalau keluarga saya, ntar dulu deh, Melanjutkan acara silaturahim keluarga yang banyak makan-makannya dulu. Hehe..

Hari ini, kami bertolak menuju daerahnya orang Turki. Istanbulkah? Atau Ankara? Haha, bukan.. itu mah negara lain. Turki yang dimaksud di sini adalah keTURunan gunungKIdul. Yuph, ke kabupaten yang sering dibilang kurang air walau aliran sungai paling masyhur setanah air, Bengawan Solo, berhulu di sini. Gunung Kidul yang indah. (baca link ini).

Di Gunung Kidul (keluarga dari Bapak), acara sungkeman ke mbah kakung dan mbah setri tidak ada karena keduanya sudah meninggal dunia. Siangnya ada acara trah, kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah simbah. Seluruh keluarga besar ngumpul di acara trah sehingga bisa sungkem di sana. Acara trah selesai dan kami pun bisa bersantai ria.

Nah, saat santai bersama keluarga besar adalah saat yang paling menyenangkan. Bercanda, jalan-jalan, nyewa PS, nonton TV, pokoknya hal-hal sepele kalau dilakukan ramai-ramai jadi seru deh. Apalagi bareng adik sepupu yang imut, polos, dan lucu-lucu. J.

Oya, makanan di sini ada satu yang unik dan saya baru makan kali ini, yakni belalang. Tentu saja bukan belalang hasil tangkapan terus dimasak sendiri, tapi yang sudah dalam bentuk kemasan. Rasanya? Hmm.. cukup maknyuzz. Gurih dan renyah.

Acara di Gunung Kidul ditutup dengan ziarah ke makam simbah di pagi hari berikutnya. Selesailah acara mudik. Back home, dan saatnya mengerjakan tugas-tugas yang belum terselesaikan… Dengan hati yang lebih bersih.. dengan pikiran yang lebih jernih.. dengan semangat baru yang lebih menyala..

Go on!!

Selamat Lebaran

Taqobalallahu minna wa minkum.. Shiyamana wa shiyamakum

Minal aidin wal faidzin.. Mohon maaf lahir batin..

Mohon maaf jika selama ini banyak khilaf ya, teman-teman..

Mari sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik

Bismillah

Mudik Bareng Widyakelana 2010

Alhamdulillah libur Lebaran telah tiba.. Momen mudik pun menjadi momen yang sangat dinanti dan dinikmati. Tak terkecuali pada libur Lebaran tahun ini, tak kalah menyenangkan. Saya mudik bersama rombongan Widyakelana (Paguyuban Alumni SMA Solo di ITB) naek bus langsung di hari terakhir kuliah (Jumat 3 September 2010), tentu saja bukan paginya, tapi malam sehabis tarawih.

Seperti biasa, dari tahun ke tahun, kalau mudik lebaran Widyakelana menyewa bus. Yang berbeda, untuk kali ini ada 2 bus yang disewa karena banyaknya angkatan 2010 (angkatan terbanyak sepanjang sejarah Wika) yang ikut. Busnya kalo ga salah City Trans menggunakan jasa Smart17Tour. Harga tiket 160ribu (sudah termasuk makan sahur). Agak mahal karena harga Lebaran, tapi sebanding lah. Busnya bagus, baru dan sangat nyaman.

Kami (widyakelana) berkumpul di gerbang depan kampus di jalan Ganesha selepas sholat tarawih. Saat saya sampai di sana diantar mas Bro EP’07, sudah banyak anggota rombongan yang datang. Saya pun segera menaekkan barang ke bus, memilih kursi yang masih tersedia. Dan saya dapat kursi ketiga dari depan, di bus 2. Alhamdulillah masih dapat kursi di barisan depan, walau idealnya kursi bus (menurut saya) kalau ga yang paling depan ya paling belakang. Well, saya kan tidak mabukan lagi sejak SMP, jadi kursi manapun okelah.

Setelah semua anggota telah berada di dalam bus, diabsen ulang dan siap berangkat, bus pun mulai bergerak. Itu sekitar jam 21.20 WIB. Yuhuy, perjalanan mudik pun dimulai.

Bus melaju lancar melewati Jalan Layang Pasopati, dan tanpa terhambat macet yang berarti sudah tiba di gerbang tol Pasteur. Masuk tol, kami mengelilingi batas kota Bandung untuk menuju ke Bandung Timur, dan setelah keluar tol mulai lanjut ke Nagreg. Selama awal perjalanan ini, suasana ramai terjadi karena cas-cis-cusnya Mbak Ratih Farmasi’07, di-counter dengan respon silih berganti anggota Wika yang laen. Seru lah. Mulai masalah jurusan sampai pacar, mulai bagian kapal yang lancip sampai kemampuan berbahasa Sunda (nah lho, ukur sendiri seberapa jauh melencengnya). Jalur Nagreg yang berliku pun dilalui dengan riang, walau semua sadar habis ini pasti pada mulai tertidur satu per satu. Alhamdulillah Nagreg lancar, tidak macet dan saya pun tertidur pulas. Hehe..

Bangun dari tidur pulas, bus sudah berhenti. Ternyata waktunya makan sahur. Wah, lama juga ya saya tertidur. Bahkan saya tidak menyadari busnya tadi sempat berhenti 1 jam untuk pak sopirnya istirahat. Ah, yang penting tidak tertidur waktu jatah makan sahur. Saya segera turun dari bus bersama anggota Wika yang laen. Hmm.. Jatilawang Resto, sama seperti waktu mudik tahun lalu berarti. Well, di sini cukup lengkap sih. Selain resto ada juga Pom bensin dan mushola dengan ukuran cukup besar.

Makan sahur di Jatilawang Resto cukup nikmat, ada daging rendang, sayur, krupuk dan minumnya Frestea dingin. Alhamdulillah kenyang dan siap untuk shaum maksimal. Selesai sahur, masih jam 04.05 WIB jadi masih harus menunggu sekitar 20 menit untuk sholat Subuh. Sambil menunggu sempat melihat highlight kualifikasi Euro 2012 di mana Inggris menggasak Belarusia 4-0. Oya, waktu menjelang subuh ini saya gunakan juga untuk menghabiskan minuman dan snack di kursi bus saya. Ntar ga sadar malah minum pas melanjutkan perjalanan. Bisa berabe kan..

Singkat cerita, sudah sholat subuh dan perjalanan pun berlanjut. Menyusuri jalanan lurus Jawa Tengah dengan sawah nan hijau di kiri kanan, sebentar saja sang surya sudah terbit dengan warna oranyenya yang memberi nuansa indahnya pagi. Praktis dalam perjalanan lanjutan ini saya 90% melek. Suasana ramai lagi karena radio yang disetel menyiarkan lagu Jawatimuran aneh berjudul “tikus” (kocak parah liriknya).

Purworejo, Jogja, Klaten.. satu per satu terlalui. Dan selepas Tegalgondo, mulai ada anggota yang turun dari bus. Yang pertama adalah Singgih TM’08, rekan yang dari awal duduk di samping saya pas. Di situ saja sudah turun, berarti yang dapat disimpulkan adalah, rumah Singgih sangat jauh dari kota. Berada hampir di batas pojok 3 kabupaten: Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten.

Sebentar saja sudah sampai di Kartasura, salah satu kecamatan paling modern dan strategis di Indonesia (klaim dari saya sih karena kecamatan ini ada di KTP saya.. hehe). Sadis (nama orang, bukan lagunya Afgan!) turun. Di perempatan Kartasura, belok ke kiri ke arah Colomadu. Jalur berbeda dengan biasanya, tidak dilewatkan di depan Patung Batik Kleco (gerbang utama Solo dari barat), karena gantian mengakomodir teman-teman yang rumahnya di Colomadu. Saya sendiri yang biasanya turun di dekat Patung Batik Kleco, kali ini turun di depan PDAM Jajar. Tak apa, tidak begitu jauh. Toh saya dijemput adik saya yang memang mulai hari Sabtu 4 September 2010 sudah libur.

Setelah menunggu sebentar selama 5 menit (harusnya tidak menunggu, tapi adik saya ternyata lupa jalan tembus dari Kleco ke PDAM jajar.. ya sudahlah), adik saya datang menjemput. Nice. Saya pun bisa merasakan lagi udara kota Solo ini. Jam 11 tepat, saya sampai di rumah. Alhamdulillah…