Cerita Lebaran

Waha.. lama kali tidak update postingan di blog.. Selepas menulis tentang pengalaman selama 1432 H kemarin, tulisan malah mandeg bersamaan dengan mudik di Solo. Emang sih di rumah ada koneksi internet, tapi ingin memaksimalkan waktu liburan dan saat-saat perbaikan gizi. Hehe..

Nah, di bulan Syawal yang merupakan momen Lebaran ini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya mudik dari tempat rantau (Bandung) ke my home sweet home di Solo, lalu lanjut mudik di “tanah leluhur”, Klaten dan Gunungkidul. Mudik tentunya merupakan momen migrasi periodik besar-besaran penduduk Indonesia yang selalu dinanti. Masing-masing punya cerita unik tersendiri yang (kebanyaka) menyenangkan.. bukan begitu?

Yuph, masih dalam suasana saling memaafkan, sekali lagi mohon maaf lahir dan batin. Dan izinkanlah saya sekedar bercerita, semoga ada hal menarik yang bisa memberi nilai positif.

Cerita lebaran… ini ceritaku, mana ceritamu? Hoho… #Korbaniklan

Hari-H Lebaran

Setelah bangun saya segera menegakkan sholat subuh di masjid Baitul Qorib, masjid dekat rumah. Ba’da Subuh, baca Al-Matsurat sejenak, dilanjutkan dengan sarapan. Memang sudah menjadi sunnah untuk sarapan sebelum sholat sunnah Idul Fitri. Tak berselang lama, saya mandi. Badan semakin segar, plus memakai baju baru (alhamdulillah.. dipakai di hari raya), siaplah sudah untuk berangkat ke tempat sholat Ied.

Saya sekeluarga sholat Ied di jalan dekat rumah (Kuyudan, RT sebelah). Semenjak RT sebelah menggelar tempat sholat Ied, keluarga kami prefer sholat di sana, karena dekat cukup dengan jalan kaki sudah sampai. Tetangga-tetangga RT saya pun prefer sholat di sana dengan alasan yang kurang lebih sama.

Sholat dan khutbah Ied berlangsung lancar-lancar saja. Tapi ada satu hal unik yang saya alami tahun ini. Yakni, tempat sholat saya miring sekitar 5º! Wow, terasa banget kemiringannya karena kondisi jalan yang dipakai memang sebagian sudah rusak, dan karena saya harus menutup shof di depan, jadi kurang beruntung mendapat tempat yang miring. Well, sholat insya Allah tetap khusyuk. Dan sholat di tempat dan kondisi apapun seharusnya memang begitu bukan?

Setelah sholat Ied selesai dan pulang ke rumah dengan jalur yang berbeda, ’tradisi’ keluarga pun mulai berjalan. Tradisi pertama tentu saja sungkeman antaranggota keluarga. Ibu memulai dengan sungkem ke Bapak, lalu saya dan De’Fia sungkem ke Bapak dan Ibu. Suasana yang selalu membuat hati gerimis, benar-benar menyenangkan menikmati momen lebaran seperti ini.

Tradisi kedua adalah silaturahim keliling RT. Ya, dimulai dari keluarga-keluarga di gang rumah saya, kemudian keliling ke gang selanjutnya, saling bersalaman dan memaafkan. Pada lebaran kali ini yang belum mudik sebelum hari-H Idul Fitri ternyata cukup banyak sehingga tradisi kedua ini berlangsung ramai dan (tentu saja) menyenangkan juga.

Tradisi ketiga, setelah selesai silaturahim se-RT dan packaging sejenak, bernagkat mudik ke rumah simbah di desa Baran, kecamatan Cawas, Klaten. Sekeluarga naek mobil kijang coklat menyusuri jalan Solo-Jogja yang lengang, dengan penuh antusiasme bertemu dengan keluarga besar (dari Ibu) di Klaten.

Singkat cerita, sampailah di desa Baran yang hijau lestari menentramkan hati itu.  Sebuah desa permai yang terletak di kecamatan yang juga asal dari Kapolda Jawa Barat. Keluarga besar berkumpul lengkap, kecuali kakak sepupu yang sedang menempuh studi S-2 di Wageningen, Belanda. (Wah, pengen juga nih segera studi di Eropa..). Seperti biasa, mbah kakung (kakek) memberikan wejangan kepada putra dan cucunya, dilnajutkan sungkeman. Kalimat kebiasaan saya waktu sungkem, ”Ngaturaken sugeng riyadi, Mbah. Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan. Kaliyan nyuwun pangestu mugi-mugi saged dados anak ingkang sholeh, pinter, bermanfaat kagem kaluwarga, bangsa, agama” (apa artinya hayo?)

Setelah sungkeman selesai, sekeluarga foto bareng dan ber-Skype ria dengan kakak sepupu yang S2 di Wageningen itu. Wah, di sini sudah selesai sungkeman, di Belanda malah baru jam 5. Masih belum sholat Ied. Next, acara yang paling ditunggu, makan bareng sekeluarga besar!! Yuhui.. dan makanan yang selalu menggoyang lidah dan selalu dirindukan, masakan entog mbah setri (nenek), sambel lombok yang penuh cecek, plus tempe yang benar-benar maknyuzz. Jangan berhenti makan sebelum kenyang lah (Upzz..). Hehe..

Setelah makan bareng selesai, lalu sungkeman ke keluarga (kakak/ adik dari simbah) yang masih satu desa. Sungkeman sampai sekitar jam 11.30 WIB, lalu yang laki-laki segera ke masjid untuk sholat Jum’at. Hmm.. jarang-jarang ya Lebaran jatuh pada hari Jum’at. Ramai dibicarakan apakah masih perlu sholat Jum’at atau tidak. Kalau menurut pikiran saya sih, masa karena ibadah sunnah (sholat Ied) lalu menggugurkan ibadah wajib (sholat Jum’at bagi laki-laki). Wallahu a’lam bisshowab.

Selesai sholat Jum’at, agenda apa ya? Yuhu, sungkeman lagi. Kali ini ke keluarga yang beda desa. Dengan diselingi istirahat mandi sore, sungkeman lagi dan selesailah ’acara’ sungkeman keluarga (dari Ibu) tepat menjelang adzan Maghrib. Saat itu, hujan sudah turun dengan derasnya di desaku. Udara pun terasa lebih sejuk. Seperti hati ini yang menjadi lebih sejuk menikmati suasana Lebaran kali ini.

Buka Puasa di Rumah Lagi..

Kalau momen yang sangat ditunggu dan dinanti sebagai mahasiswa rantau adalah mudik Lebaran, momen umum yang paling ditunggu dan dinanti oleh orang yang shaum adalah saat berbuka puasa. Kenikmatan berbuka benar-benar menyenangkan, terlebih jika dapat makanan dan minuman yang gratis dan enak (benar bukan?)

Kalau selama menjalan Ramadhan 1431 H ini di kampus, saya biasa mencari takjil di masjid dekat kosan, atau di Salman. Karena dua syarat terpenuhi (gratis dan enak), maka sejauh ini saya sudah sangat bersyukur atas kenikmatan itu. Tapi, dari semua takjil atau makanan berbuka di seantero dunia ini (wah, lebay), tidak ada makanan dan minuman yang terasa selezat buatan ibu saya (tentu saja versi lidah saya).

Di hari pertama buka puasa di rumah lagi (Sabtu 4 Desember 2010 atau 25 Ramadhan 1431 H), Ibu saya membuatkan cocktail sepanci penuh. Cocktail yang penuh dengan buah-buahan ( melon, pepaya, nanas)  + janggelan, rumput laut + sirup cocopandan buatan sendiri. Sepanci? Yuph. Porsi jumbo. Memang kalau makan nasi, lauk atau sayur, saya hanya habis sedikit, tapi kalau buah.. wah, jangan ditanya..

Es Shanghai simpang Dago? Wah, lewat.. Es Degan Tamansari? Ga ada apa-apanya.. Es Alpukat Timun Suri Gelap Nyawang? Tidak dapat menyaingi. Pokoknya nikmat banget cocktail saat buka puasa di rumah (lagi) ini. Karena porsinya sepanci, tentu saja saya tidak brutal dalam makannya. Tetap ada jeda untuk sholat maghrib, ngaji, makan nasi, dan sholat tarawih. Dan habis atau tidak sepanci cocktail itu? Tentu saja, habis. Alhamdulillah.. Memang nikmat buka puasa di rumah dengan makanan minuman buatan Ibu..

Mudik Bareng Widyakelana 2010

Alhamdulillah libur Lebaran telah tiba.. Momen mudik pun menjadi momen yang sangat dinanti dan dinikmati. Tak terkecuali pada libur Lebaran tahun ini, tak kalah menyenangkan. Saya mudik bersama rombongan Widyakelana (Paguyuban Alumni SMA Solo di ITB) naek bus langsung di hari terakhir kuliah (Jumat 3 September 2010), tentu saja bukan paginya, tapi malam sehabis tarawih.

Seperti biasa, dari tahun ke tahun, kalau mudik lebaran Widyakelana menyewa bus. Yang berbeda, untuk kali ini ada 2 bus yang disewa karena banyaknya angkatan 2010 (angkatan terbanyak sepanjang sejarah Wika) yang ikut. Busnya kalo ga salah City Trans menggunakan jasa Smart17Tour. Harga tiket 160ribu (sudah termasuk makan sahur). Agak mahal karena harga Lebaran, tapi sebanding lah. Busnya bagus, baru dan sangat nyaman.

Kami (widyakelana) berkumpul di gerbang depan kampus di jalan Ganesha selepas sholat tarawih. Saat saya sampai di sana diantar mas Bro EP’07, sudah banyak anggota rombongan yang datang. Saya pun segera menaekkan barang ke bus, memilih kursi yang masih tersedia. Dan saya dapat kursi ketiga dari depan, di bus 2. Alhamdulillah masih dapat kursi di barisan depan, walau idealnya kursi bus (menurut saya) kalau ga yang paling depan ya paling belakang. Well, saya kan tidak mabukan lagi sejak SMP, jadi kursi manapun okelah.

Setelah semua anggota telah berada di dalam bus, diabsen ulang dan siap berangkat, bus pun mulai bergerak. Itu sekitar jam 21.20 WIB. Yuhuy, perjalanan mudik pun dimulai.

Bus melaju lancar melewati Jalan Layang Pasopati, dan tanpa terhambat macet yang berarti sudah tiba di gerbang tol Pasteur. Masuk tol, kami mengelilingi batas kota Bandung untuk menuju ke Bandung Timur, dan setelah keluar tol mulai lanjut ke Nagreg. Selama awal perjalanan ini, suasana ramai terjadi karena cas-cis-cusnya Mbak Ratih Farmasi’07, di-counter dengan respon silih berganti anggota Wika yang laen. Seru lah. Mulai masalah jurusan sampai pacar, mulai bagian kapal yang lancip sampai kemampuan berbahasa Sunda (nah lho, ukur sendiri seberapa jauh melencengnya). Jalur Nagreg yang berliku pun dilalui dengan riang, walau semua sadar habis ini pasti pada mulai tertidur satu per satu. Alhamdulillah Nagreg lancar, tidak macet dan saya pun tertidur pulas. Hehe..

Bangun dari tidur pulas, bus sudah berhenti. Ternyata waktunya makan sahur. Wah, lama juga ya saya tertidur. Bahkan saya tidak menyadari busnya tadi sempat berhenti 1 jam untuk pak sopirnya istirahat. Ah, yang penting tidak tertidur waktu jatah makan sahur. Saya segera turun dari bus bersama anggota Wika yang laen. Hmm.. Jatilawang Resto, sama seperti waktu mudik tahun lalu berarti. Well, di sini cukup lengkap sih. Selain resto ada juga Pom bensin dan mushola dengan ukuran cukup besar.

Makan sahur di Jatilawang Resto cukup nikmat, ada daging rendang, sayur, krupuk dan minumnya Frestea dingin. Alhamdulillah kenyang dan siap untuk shaum maksimal. Selesai sahur, masih jam 04.05 WIB jadi masih harus menunggu sekitar 20 menit untuk sholat Subuh. Sambil menunggu sempat melihat highlight kualifikasi Euro 2012 di mana Inggris menggasak Belarusia 4-0. Oya, waktu menjelang subuh ini saya gunakan juga untuk menghabiskan minuman dan snack di kursi bus saya. Ntar ga sadar malah minum pas melanjutkan perjalanan. Bisa berabe kan..

Singkat cerita, sudah sholat subuh dan perjalanan pun berlanjut. Menyusuri jalanan lurus Jawa Tengah dengan sawah nan hijau di kiri kanan, sebentar saja sang surya sudah terbit dengan warna oranyenya yang memberi nuansa indahnya pagi. Praktis dalam perjalanan lanjutan ini saya 90% melek. Suasana ramai lagi karena radio yang disetel menyiarkan lagu Jawatimuran aneh berjudul “tikus” (kocak parah liriknya).

Purworejo, Jogja, Klaten.. satu per satu terlalui. Dan selepas Tegalgondo, mulai ada anggota yang turun dari bus. Yang pertama adalah Singgih TM’08, rekan yang dari awal duduk di samping saya pas. Di situ saja sudah turun, berarti yang dapat disimpulkan adalah, rumah Singgih sangat jauh dari kota. Berada hampir di batas pojok 3 kabupaten: Sukoharjo, Boyolali, dan Klaten.

Sebentar saja sudah sampai di Kartasura, salah satu kecamatan paling modern dan strategis di Indonesia (klaim dari saya sih karena kecamatan ini ada di KTP saya.. hehe). Sadis (nama orang, bukan lagunya Afgan!) turun. Di perempatan Kartasura, belok ke kiri ke arah Colomadu. Jalur berbeda dengan biasanya, tidak dilewatkan di depan Patung Batik Kleco (gerbang utama Solo dari barat), karena gantian mengakomodir teman-teman yang rumahnya di Colomadu. Saya sendiri yang biasanya turun di dekat Patung Batik Kleco, kali ini turun di depan PDAM Jajar. Tak apa, tidak begitu jauh. Toh saya dijemput adik saya yang memang mulai hari Sabtu 4 September 2010 sudah libur.

Setelah menunggu sebentar selama 5 menit (harusnya tidak menunggu, tapi adik saya ternyata lupa jalan tembus dari Kleco ke PDAM jajar.. ya sudahlah), adik saya datang menjemput. Nice. Saya pun bisa merasakan lagi udara kota Solo ini. Jam 11 tepat, saya sampai di rumah. Alhamdulillah…

Jelang Mudik

Mudik… adalah hal yang sangat dinanti-nantikan oleh mahasiswa rantau, entah seberapa jauh daerah tempat merantau dengan daerah asal. Hanya selisih satu kota, sampai selisih satu hari perjalanan, rasa rindu akan kampung halaman benar-benar memuncak. Di satu sisi itu menyenangkan. Sangat menggembirakan menikmati momen ini. Tapi di sisi lain, ini tak kalah menyiksanya. Dan itu pun terjadi pada saya.

Saya sangat rindu bertemu keluarga di Solo, dan nantinya keluarga besar di Klaten dan GK waktu lebaran,, “cepatlah Jumat malam.. cepatlah jumat malam”, itulah yang ada di dalam hati saya.. Ya, memang rencana mudik saya pada jumat malam 3 September 2010,, Cayo.. (sangat semangat!)

Tapi setelah coba me-list apa saja yang harus saya lakukan di H-1 mudik, wah ternyata sangat banyak.. Sangat padat..  “melambatlah sang waktu,, melambatlah..”, itulah yang ada di dalam pikiran saya. Karena waktu luang liburan adalah waktu yang sangat membunuh jika tidak dimanfaatkan. Dan plan untuk menaklukkan waktu ternyata ribet juga. Urgh… (kaluut..T_T)

Ah, ini pasti virus jelang mudik…

Lewatilah, mahasiswa rantau…