2 Puluh 2

Ilang Tahun.

Ya, hari ini menurut hemat sipil saya “resmi” bertambah angka usia atau sebaliknya berkurang masa hidup di dunia. Mesti senang atau mesti sedih nih? Kata temen-temen sih mesti seneng. Tapi kata pak ustadz mesti sedih. Atau mesti datar-datar aja?

Tak bisa dipungkiri saya senang dengan hari ulang tahun. Terkesan kekanak-kanakan. Tapi bagaimana lagi? Dimulai dari keluarga. Kalau di hari biasa terlelap di kamar masing-masing, di waktu seperti ini bisa-bisanya pada bangun di pergantian hari untuk mengucapkan selamat. Baik selamat malam, selamat hari Jum’at maupun selamat tidur lagi. Ya, walau sudah saban hari keluarga saling mendoakan yang terbaik, terkadang kita lupa betapa luar biasannya support mereka. Dan momen sederhana ini mengingatkan lagi, we’re happy family.. 🙂

Lalu dapat banyak pesan dan ucapan dari teman-teman baik lewat alat komunikasi maupun jejaring sosial. Padahal kalo di hari biasa, dikit banget kan yang sms.. (*jadi terkesan kesepian gini. haha). Kalau sebelumnya isi sms selow aja, kali ini berganti ucapan selamat dan doa yang baik-baik. Baik semoga panjang umur, semoga tambah baik maupun semoga dapat banyak rezeki biar mau mentraktir secara ikhlas ga pake tarik nafas panjang saat bayar. Hehe.. Tapi itulah luar biasanya teman-teman. Mereka selalu berhasil membuat kita merasa bisa menjadi someone yang baik.

Yuph, bahagianya mesti dibatasin. Mesti balanced kan ya. Yang paling utama tetap merenung, mencoba mengambil hikmah, dan mulai menyusun rencana ke depan agar benar-benar bisa jadi pribadi yang baik. Baca Selengkapnya

Tarawih 4- Masjid Al-Ukhuwwah Wastukencana

Malam 4 Ramadhan, agenda tarawih keliling berlanjut di Masjid Al-Ukhuwwah di jalan Wastukencana, seberang balaikota Bandung. Masjid megah ini arsitekturnya termasuk yang paling bagus di Bandung. Jajaran top untuk keindahan dan kenyamanan beribadah. Ini kedua kalinya saya sholat di masjid ini, sebelumnya saat tarling di Ramadhan tahun lalu. 🙂

Khotib untuk tarawih malam 4 Ramadhan ini adalah Pak Mu’alim, dari kementrian agama. Gaya berkhutbahnya asyik, lucu,  tapi tetap materi intinya tersampaikan. Tak jarang beliau menggunakan bahasa Sunda yang saya sendiri teuing, ga tahu artinya. Tak apalah, ikut tersenyum saja saat jamaah lain yang tahu bahasa Sunda (mayoritas tahu tentunya) tertawa. Anyway, emang bagus kok isi materinya dan bagusnya lagi semua jamaah terlihat antusias mendengarkan.

**

Materi pokok dalam khutbah malam ini adalah QS: 108. Ketika khotib menyebutkan dengan “Al-Qur’an surat 108”, jamaah membatin penuh tanya, itu surat apa ya? Sejenak khotib menenangkan dan memberi deskripsi surat tersebut dengan “ga perlu buka Al-Qur’an. ga perlu hafal toh surat ini termasuk paling banyak dibacakan. Pendek, hanya 3 ayat.”

Oh, ternyata Al-Kautsar toh.. yuph, itulah surat yang dibahas dalam khutbah kali ini..

Al-Kautsar berarti Nikmat yang banyak. Dan sesuai materi malam ini, ada 3 poin penting:

Pertama, adalah syukur terhadap nikmat Allah. Telah disebutkan dalam ayat satu bahwa Allah telah memberi kita nikmat yang banyak, yang tak terhingga jumlahnya dan alhamdulillah masih kita rasakan sampai saat ini.

Tentunya wujud rasa syukur tersebut tidak hanya berupa ucapan saja, tetapi juga tindakan. Dan hal pokok yang mesti ditindakkan tertulis dalam ayat dua. Dan ini membawa pada bahasan kedua, yakni mendirikan sholat. Tidak sekedar menjalankan sholat sebagai rutinitas saja, tapi benar-benar menjalankan dengan penuh kesadaran dan keutamaan.

Khotib bercerita bahwa terkadang ada yang lucu saat sholat tarawih seperti ini. Saat surat yang dibacakan Al-Ikhlas, Al-Kautsar dan surat-surat pendek lainnya.. wah, senang… Dan kalau imam baca awalnya “Yaasiin..” wah langsung yang baru wudhu menunda dulu, ikut sholatnya menjelang takbir ruku’ saja. Kebayang panjangnya surat Yasiin, walaupun boleh jadi sang imam membaca ayat pertama Yasiin itu terus langsung ruku’. Haha.. emang ada-ada saja kejadian seperti itu. Saya tersenyum, dulu waktu kecil (saat tarawih masih harus minta tanda tangan sama imam dan khotib) agak membatin juga kalau bacaan sholatnya panjang. 😀

Well, kita mesti meningkatkan kualitas sholat kita. Sebagaimana sholat itu merupakan tiangnya agama, merupakan pembatas utama yang memisahkan dari syirik, ciri seorang muslim, mencegah dari kemungkaran, kunci pintu surga, dan banyak lagi keutamaan lainnya sehingga kita mesti mendirikan dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya seprti juga tertulis dalam Al-Kautsar ayat 2, yakni berkurbanlah. Berkurban secara umum diasosiasikan dengan menyembelih hewan kurban sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. Tetapi ada wujud yang lebih kecil tapi tetap utama, yakni bersedekah.

Khotib juga menceritakan hal lucu mengenai ibadah sedekah. Suatu saat beliau diundang Pak Habibie (BJ Habibie, insinyur pesawat dan eks presiden termasyur Indonesia –red) di IPTN. Sholat di masjid sana, saat itu belum ada masjid Habiburrahman. Nah, ternyata di sana saking canggihnya, kencleng atau kotak infaqnya pake remote. Jadi kotak infaq itu akan bergerak dan bergetar-getar sampai ada yang memasukkan (uang) infaq. Yang sebelumnya belum ikhlas memberi infaq pun terpaksa memasukkan uang infaq karena “diganggu” kotak infaq yang terus bergerak-gerak “meminta”. Hahha… ada-ada saja… Tapi itu mungkin jadi sindiran tersendiri juga. Keikhlasan untuk berinfaq atau bersedekah mestinya muncul lewat kesadaran diri, jangan sampai harus buat alat/teknologi yang memaksa untuk sadar.

Demikian, semoga kita bisa terus meningkatkan amalan kita, sebagai wujud syukur atas nikmat Allah yang sangat banyak (Al-Kautsar)

Bismillahiirahmanirrahiim…