Jalan-Jalan Keluarga: Pantai Nampu

Setelah puas mengunjungi Museum Kars Indonesia, kami sekeluarga melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, pantai Nampu! Pantai ini merupakan surga yang tak dirindukan tersembunyi (hidden paradise) di ujung selatan kabupaten Wonogiri. Karena di Solo Raya hanya kabupaten inilah yang berbatasan dengan Samudera Hindia, maka bolehlah pantai Nampu ini kita sebut pantai paling indah se-Solo Raya (eks karesidenan Surakarta) :v

Perjalanan menuju Nampu itu gampang-gampang susah. Gampang karena saya baru saja dari Museum Kars di Pracimantoro, tinggal lanjut ke arah Paranggupito. Walau minim petunjuk jalan, tapi banyak warga yang ramah dan tau arah menuju Nampu, anak SD sekalipun. But yeah, jalannya naik turun, berkelak kelok, dan labil (ada yang aspal halus, ada yang ambyar). Sangat tidak direkomendasikan ke sana dengan mobil sedan atau motor ceper. Buat yang sering mabuk perjalanan, siap-siap ekstra effort. Diambil hikmahnya aja, semua yang berkaitan dengan “surga” itu selalu berkelak kelok dan butuh usaha ekstra, bukan? tapi bisa dinikmati.. 🙂

**

Setelah kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari Museum Kars Indonesia, tibalah kami di pantai Nampu. Tiket yang mesti dibayarkan murah habis, hanya 2500 rupiah! Mungkin karena belum dikelola Dinas Pariwisata ya, masih dijalankan oleh warga sekitar. Padahal begitu sampai di tempat parkir, keluar dari mobil, pemandangannya langsung WooW.. Baca Selengkapnya

Jalan-jalan Sulawesi Selatan #1 : Makassar

1 September 2013

Waktu subuh masih lama menjelang saat saya sudah tiba di terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta. Adalah hal yang langka, walau cukup mudah dipahami, bahwa perjalanan dari kosan di Mampang Prapatan sampai bandara ini hanya butuh 30 menit saja. Ini hari Minggu, masih dini hari pula. Di jam normal, butuh waktu tak kurang dari 1,5 jam tuh.

Jam 03.30. Hmm.. keputusan saya untuk bangun jam 2 dan memesan taksi jam 3 jadi dipertanyakan nih. Bangun boro-boro di saat orang lain masih demen ama Wake Me Up When September Ends. Ini dini hari awal September aja udah terbangun lalu sekarang mesti menunggu lama karena jadwal take off masih jam 05.40! Emang bener kata orang, hanya ada pilihan di Jakarta: datang kepagian (terlalu awal) atau terlambat. Walau terlalu kepagian, tapi tetap bersyukur dong ya udah sampai di bandara. Sabar dan syukur, kunci pokok menjalani hidup di Jakarta (di semua kota juga sih..hehe). Alhamdulillah dengan itu saya masih begitu menikmati hidup di kerasnya ibukota 🙂

Singkat cerita, setelah masa menunggu masuk pesawat sambil asyik baca Qur’an selesai, bersiaplah saya terbang ke provinsi yang belum pernah saya jamah sama sekali. Ke daerah yang selama seminggu ke depan akan membawa saya kesan nan luar biasa. Bismillah. Dadah Jakarta!!

Bandara Sultan Hasanuddin

Image

Pesawat mendarat dengan mulus di landasan pacu bandara Sultan Hasanuddin. Tak kalah mulusnya saya melengang keluar dari bandara karena emang ga bawa barang di bagasi. Tapi waktu menunggu ternyata datang lagi. Mobil jemputan terlambat datang. Dalihnya.. kena macet! Waduh. Masa sih jauh-jauh meninggalkan Jakarta sang maharaja kemacetan untuk menemui kemacetan yang lain?

Well, ternyata ga lama kok menunggunya. Mobil jemputan datang dan segera membawa keluar dari bandara yang berada di kabupaten Maros ini, masih sekitar 30 km dari Makassar. Mirip dengan bandara CGK di Jakarta lah ya. Kami melintasi patung sang Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin, yang berdiri dengan megah. Ia berdiri gagah dengan senyum terpahat di wajah, walau saya menerka senyum itu akan hilang seketika jika beliau melihat keadaan negeri yang diperjuangkannya dengan gagah berani ini telah berubah jadi ayam sayur. Maaf sultan, jangan marah ya. Doakan anak-anak muda negeri ini punya semangad kuat sehingga mampu menjadikan tanah air ini jadi ayam jago yang disegani lagi ya! 😀

Masuk kota Makassar, atribut kampanye terlihat di mana-mana. Sepanjang mata memandang dibosankan dengan banyaknya spanduk. Usut punya usut, ternyata ihwal kampanye calon walikota pula yang membuat jalanan tadi pagi macet. Sepuluh calon!! Gila, saya ga habis pikir dengan banyaknya calon di sini. Motifnya apa sih. Selalu loh tiap kampanye dengan calon begitu banyak, ada 2-3 yang punya suara cuma nol koma sekian persen. Terus ngapain ikut? Numpang beken?

Haha. Obrolan tentang politik emang selalu ga mutu. Yuk lanjut aja membahas jalan-jalan nan asyik karena baru sebentar (tanpa mesti lewat tol), saya sudah berada di kawasan ikon kota nan masyhur itu, Pantai Losariii..

Sejenak booking hotel dan..

markijal, mari kita jalan-jalan.. markikul, mari kita kulineran 🙂

Coto Gagak

Kuliner pertama dari serangkaian kuliner-kuliner superlezat yang saya icip di Makassar. Untuk urusan kulineran, saya udah menyiapkan draft, terutama untuk menu yang sudah di-review oleh sahabat saya yang jago masak (dan makan.. :p )Image

Masakan khas dari daging sapi yang lembut (udah melalui perebusan lama) dan kuah yang sedapnya ga ketulungan. Dimakan saat masih panas mengepul bareng buras (ketupat). Nyaaam… Mak nyuss tenan.. Baca Selengkapnya

Jejak Lombok 5: Beauty of Lombok Beach

Pagi yang antusias menyambut. Mengapa begitu antusias? Pertama, gara-gara misinterpretasi jam sholat (Subuh di sini saya kira jam 03.45 WITA, ternyata 04.45 WITA), subhanallah saya malah bisa sholat lail dan sholat Subuh tepat waktu. Walau sayang belum bisa sholat subuh di salah satu masjid Pulau 1000 Masjid ini karena hujan turun dengan derasnya. Kedua, hari ini kami akan menikmati pantai-pantai yang sangat cantik di bumi Lombok. Seindah apakah pantainya ntar? Pertanyaan yang terus membuat antusias.

Hujan deras reda dan persiapan berangkat selesai menjelang jam 9 WITA. Mobil Innova yang kami sewa sudah siap di depan inapan, siap untuk dipakai menjelajahi Lombok seharian ini. Mari berdoa lagi untuk hari yang indah, perjalanan tanpa tersesat (maklum belum hafal jalanan Lombok) dan cuaca yang baik. Tujuan pertama: Pantai Kuta! Baca lebih lanjut

Tour De Jogjakarta-2

Esok harinya (Jogja, 23 Desember 2010)

Bangun subuh. Segera saling membangunkan dan jamaah sholat subuh. Terus seperti sudah diagendakan sebelumnya, bersiap menyaksikan sunrise di pantai. Jam 5 tepat kami berangkat. Sampai di Pantai Depok (kami memilih pantai ini daripada Pantai Parangtritis karena lebih bersih), yang berjarak 10 km dari basecamp, sekitar jam 5.20. Tapi, suasana saat itu sudah cerah! Sebenarnya matahari terbit jam berapa sih? Sejenak kami juga berpikir, kenapa mau lihat matahari terbit di pantai? Tanpa banyak teori, matahari itu terbit dari balik gunung dan tenggelamnya baru di laut. Gimana sih! Anak TK saja tau itu… Nah lho…

Di pantai, kami sudah tidak begitu peduli dengan sunrise. Matahari sudah muncul cukup tinggi, tanda sudah terbit melewati balik gunung. Yaudah, langsung saja bermain air! Eits, tunggu dulu. Anak cowo harus berolahraga dulu: Sepakbola pantai. Di pasir pantai yang berkemiringan beberapa derajat, cukup untuk melatih betis karena ada pemberat alami saat menendang dan menggiring bola.

Capek sepakbola, saatnya pulang! Eh, ga mungkin. Jauh-jauh ke sini cuma mau maen bola. Oke, main2 air dan pasir pantai dulu lah.. Seperti anak kecil. Terkadang memang kita harus memainkan lagi permainan masa kecil. It brings back beautiful memories. Menyenangkan..

Setelah sekitar 2 jam, puas sudah maen di pantai. Saatnya cari sarapan. Di sini makanan yang enak apa ya? Waktu perjalanan balik ke base camp sempat tebersit untuk mampir di Pasar Treteg yang murah meriah itu. Pecel desa nikmatnya tiada tara. Tapi pada akhirnya memilih opsi makanan lezat lainnya: Soto! Soto di desa rasanya sangat nikmat, tak seperti di Bandung yang banyak santan. Sarapan soto.. sedap..

Setelah sarapan, kembal base camp. Leyeh-leyeh (bersantai ria). Kebetulan hujan rintik mulai turun, plan keliling Jogja ditunda dulu. Nah, setelah tidur sementara waktu dan sholat Dhuhur, baru mulai jalan-jalan. Tujuannya: menemui kawan-kawan SMA yang berkuliah di kampus Bulaksumur.

Dari jalan Parangtritis ke Bulaksumur dekat saja, apalagi jalanan Jogja relatif lurus, tidak njlimet, mudah dihafal dan tidak macet. Sampai di kampus itu, ternyata kawan-kawan masih pada kuliah. Inilah ga enaknya kalau jadwal akademik antaruniversitas beda. Saat di kampusku sudah libur lama, di sini baru mulai ujian. Saat mereka mulai liburan, tempatku sudah mulai masuk. Tlisipan.

Yawda, sambil menunggu kawan-kawan selesai kuliah, kami makan di warung yang sangat terkenal di situ. Warung yang sudah ada sejak bapak saya masih studi S1 dan kos dekat sana, yakni SGPC. SeGoPeCel. Seperti namanya, menu spesialnya memang nasi pecel. Nyamm.. benar-benar legendaris.. lezat sekali… Wisata kuliner nih! Dan karena sudah biasa wisata kuliner di Bandung, harga nasi pecel yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa Jogja, terasa terjangkau-terjangkau saja. Efek samping yang positif dari ‘ketersiksaan’ akan mahalnya harga makanan di Bandung.

Selesai makan siang di SGPC, kembali bertemu si tour guide Arab sohib saya itu. Kembali bersama penunjuk jalan yang membingungkan, tapi tetap dalam suasana menyenangkan karena kekocakannya. Memang selalu gayenk (seru) jika bertemu dengannya. Satu lagi teman SMA yang bisa menemui walau hanya sebentar. Setelahnya keliling kampus, mulai dari Lembah Kampus, Lapangan Bola, Gedung Fakultas, Rektorat, Perpustakaan, sampai berakhir di seberang gedung Fakultas Kedokteran. Ah, karena anggota rombongan cukup normal, tidak ada celetukan “Neng, Aa’ ITB..” (apa sih!). Yawda, Tour de Jogja berakhir di sini. Arloji sudah menunjuk jam 5 sore. Saatnya kembali lagi ke Solo tercinta…