Pengalaman Paralayang di Puncak

Experience unlocked. Rasa puas dan riang selalu mengiringi selepas menyelesaikan sebuah tantangan untuk mencoba pengalaman baru nan unik. Tak terkecuali pengalaman baru yang baru saya dapat seminggu yang lalu: terbang melayang  Paralayang!

Paralayang merupakan olahraga ekstrem seru dengan menggunakan parasut, lepas landas dari bukit lalu melayang di udara memanfaatkan angin. Beda dengan terjun payung (skydiving) yang berusaha untuk segera turun mendarat, paralayang (paragliding) ini justru mengupayakan untuk naik. Angin naik yang disebabkan oleh panas (thermal lift) menjadi  daya angkat yang cihuy untuk terbang tinggi dan menempuh jarak yang sangat jauh.

Alternatif terdekat bagi warga Jakarta untuk merasakan sensasi paralayang adalah di Puncak, Bogor. Letaknya ga jauh dari Masjid At Ta’awun, 700 meter naik setelah masjid, ketemu simpangan, belok kanan untuk memasuki area bukit paralayang.

ImageMasjid At Ta’awun dan view kebun teh Puncak dilihat dari bukit paralayang

Btw, aman ga sih sebenarnya paralayang itu? Denger-denger lumayan ekstrem ya?

Aih, itu pula yang sempat terpikir saat ajakan mencoba paralayang datang kepada saya. Tapi setelah datang dan mencoba, ini adalah tantangan yang sangat safe kok, kawan. Emang sih resiko cedera minimal patah tulang (lah!).. ahaha.. tapi berikut alasan yang bakal menenangkan :

1. terbangnya tandem. yuph, dalam wisata paralayang ini, kita tinggal duduk manis, take off dan landing sudah diatur ama pilotnya. kalau suruh terbang sendiri, ya kali, kemungkinan besar saya bakal nyangkut di pohon atau ketancep botol raksasa kecap ABC di bawah sono (aduh… ga kebayang malunya.. hehe)

2. Pilot certified. Ga sembarang orang bisa jadi pilot paralayang komersil. Butuh ujian lisensi khusus dan pengalaman terbang minimal 5 tahun. Sedikit saja menyebabkan kesalahan yang berujung cedera buat “penumpang”, lisensi langsung dicabut. Jadi terjamin lah standar skill pilotnya. Beliau-beliau masih bisa menjaga fokus sambil mengobrol santai dan foto-foto di udara lho 😀

3. Perlengkapan komplet. Helm dan baju terbang, jelas ada. GPS dan windmeter bawa (ga takut kesasar). Alat komunikasi/HT juga on (setidaknya kalau kebawa angin yg abnormal, masih bisa curhat lah.. haha). Dan kembali ke poin sebelumnya: skill pilotnya terjamin, kita tinggal menikmati terbang saja..  🙂

Dengan standar keamanan seperti, jadi ga ada uji adrenalinnya dong?

Hmm… Ya tetep ada donk. Apalagi waktu lepas landas, dengan ketinggian 1250 meter dari permukaan tanah, bawahnya langsung adalah kebun teh yang siap menghadirkan madesu (masa depan suram) bagi yang anggota tubuhnya tertancap di sana (wuii..). Beneran anginnya kuat ngangkat orang buncit superatletis kaya saya engga ya? Beneran pilotnya bisa ngatur parasut buat terbang atau kebawa nyungsep gara-gara kebuncitan kesuperatletisan saya ya? Jelas detik-detik take off merupakan sensasi adrenalin tersendiri.. Angin berasa lebih kencang menerpa tubuh. Tapi beberapa saat sebelum saya, orang Arab yang berperawakan jauh lebih besar dari saya aja terbang dengan fine, semestinya saya no problem juga..

ImageBismillah.. yu keep smile.. hap hap hap…

Imageterbaaaang…..

Selepas parasut benar-benar mendapatkan gaya angkat untuk terbang, semuanya jadi serba asyik. Liat pemandangan indah dari atas udara. Merasakan benar angin yang berhembus dengan kecepatan sedang. Asik parah. Nagih!

ImageDi udara, paralayang ini sangat stabil. Bahkan saya aman-aman aja ambil hape dari dalam saku lalu foto-foto. Padahal tuh hape ga ada pengait seperti kalau bawa kamera (ngasal emang.. 😀 )

Jatah terbang selama 15-20 menit berasa bentar banget. Wah, pengen dah keliling lebih lama dan lebih tinggi lagi. Huhu.. Berasa cuma 2 menit lalu udah aja mendarat.. Di dekat lokasi pendaratan, sudah disiapkan angkot untuk kembali ke bukit paralayang lagi.

Jika teman-teman berminat mencoba paralayang, bisa datang ke sini sebelum jam 9. Normalnya para pilot dan perlengkapan baru datang jam 9. Setelah itu masih mengantri dengan wisatawan lokal lain dan orang Arab. Yuph, banyak banget orang Arab yang antri paragliding. Bukit paralayang sendiri dibangun dengan donasi Arab Saudi, mereka yang biasa dengan padang tandus minim pohon pasti sangat betah di Puncak, berasa surga yak. Harga sekali terbang yang mencapai Rp 300.000,- tidak mengurangi banyaknya peminat. Jadwal terbang sampai jam 17 (so, jam 9-17 setiap hari), tapi perkirakan baik-baik jadwal pulang ke Jakarta. Bisa jadi kita terjebak dalam kemacetan superpanjang khas arus balik Puncak.

Kalau menurut saya, daripada menunggu antrian serta kalau mau dapat potongan harga (minimal rombongan 5 orang), lebih baik menghubungi langsung Opa David (081288528755). Beliaulah sang Bapak Paralayang Indonesia.

ImageRombongan ET’08 dan Opa David

Asik lho mendengar cerita beliau memulai paralayang dari nol di Indonesia. Keren dan patut diacungi jempol banget di mana beliau bertahan dalam passionnya, menanggalkan statusnya sebagai pegawai PN Timah untuk merintis komunitas paralayang. Hal yang membuat banyak orang pasti mengernyitkan dahi. Tapi sebaliknya, inilah kekuatan passion yang selalu membalikkan pandangan dan justru bikin iri.

Lakukan apa yang jadi passion, ga pedulikan omongan bahwa bidang tsb most likely kurang bisa menghasilkan uang.  Karena selalu benar-benar menikmati tiap langkahnya, bisa menikmati gagalnya (toh melakoni hobi), sedikit demi sedikit jadi master paralayang. Orang paling master di Indonesia. Lalu komunitas paralayang sudah terbentuk, tahu sumber dana atau investor untuk mendapat fasilitas, tau bagaimana mengkomersilkan. Walhasil sekarang, sambil tiap hari melakoni hobi (yang ribuan kali diulangi pun akan selalu menyenangkan), dapat banyak uang pula dari situ (kebayang kan, per orang mau-mau aja bayar 300ribu bro). Luar biasa… Luar biasa bikin iriii… Hahaha

**

Itulah sekelumit cerita dari asyiknya pengalaman saya paralayang di Puncak. Buat teman-teman, setidaknya sekali seumur hidup cobain deh paralayang.. tapi ati-ati..  Nagih soalnya! 😉

Hey Edelweis

Hey edelweis, seindah apakah engkau?

Orang-orang membicarakan segala kelebihanmu. Kata mereka, engkau bunga cantik nan abadi. Aku sendiri jarang mendengarkan kata-kata orang. Tapi entah mengapa kali ini hati kecilnya justru menggumamkan bahwa engkau lebih indah dari yang mereka bicarakan. Aneh.

Hey edelweis, apakah engkau di puncak sana?

Ah, megahnya gunung ini.. Rasa lelah sudah melandaku bahkan saat ini aku baru sampai lerengnya. Ingin rasanya aku berhenti saja mendakinya.. Ya, aku akan berhenti kalau saja pertanyaan tentangmu hey edelweis, dan juga bayangan indah matahari di puncak sana tak merasuki lagi pikiranku. Baca Selengkapnya