Berlelah-lelah berjuang

Orang Berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

Jika di dalam hutan

(Imam Syafi’i)

**

Syair dari ulama besar nan luar biasa. Membacanya dapat membuat semangat ini meletup-letup. Terlebih sebagai anak rantau di tanah rantau ini. Sudah masuk tahun keempat. Ya, ternyata sudah cukup lama saya merantau.

Tapi yang harus dicetak tebal dari syair di atas, merantau bukanlah poin tunggal untuk meningkatkan ilmu dan adab. Tapi: Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Sungguh, poin inilah yang utama. BERLELAH-LELAH BERJUANG. Merantau niscaya hanya salah satu bentuk perjuangan. Dalam prosesnya masih banyak hal-hal yang mesti gigih diperjuangkan untuk merasakan manisnya hidup.

Tahun keempat perkuliahan, banyak pelajaran yang mesti diingat dan diserap lagi. Pun penelitian yang bukan sekedar lewat demi sebuah gelar. Perjuangan. Harus siap berlelah-lelah.

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Bismillahirrahmanirrahiim…

 

(credit to: A.Fuadi, penulis buku best seller “Negeri 5 Menara” yang telah banyak menginspirasi)

 

Jelang Mudik

Mudik… adalah hal yang sangat dinanti-nantikan oleh mahasiswa rantau, entah seberapa jauh daerah tempat merantau dengan daerah asal. Hanya selisih satu kota, sampai selisih satu hari perjalanan, rasa rindu akan kampung halaman benar-benar memuncak. Di satu sisi itu menyenangkan. Sangat menggembirakan menikmati momen ini. Tapi di sisi lain, ini tak kalah menyiksanya. Dan itu pun terjadi pada saya.

Saya sangat rindu bertemu keluarga di Solo, dan nantinya keluarga besar di Klaten dan GK waktu lebaran,, “cepatlah Jumat malam.. cepatlah jumat malam”, itulah yang ada di dalam hati saya.. Ya, memang rencana mudik saya pada jumat malam 3 September 2010,, Cayo.. (sangat semangat!)

Tapi setelah coba me-list apa saja yang harus saya lakukan di H-1 mudik, wah ternyata sangat banyak.. Sangat padat..  “melambatlah sang waktu,, melambatlah..”, itulah yang ada di dalam pikiran saya. Karena waktu luang liburan adalah waktu yang sangat membunuh jika tidak dimanfaatkan. Dan plan untuk menaklukkan waktu ternyata ribet juga. Urgh… (kaluut..T_T)

Ah, ini pasti virus jelang mudik…

Lewatilah, mahasiswa rantau…