Jejak Umroh: Raudhah, Taman Surga

Di dalam luar biasa indahnya Masjid Nabawi, terdapat tempat yang memiliki keutamaan lebih. Tempat yang sangat mulia itu merupakan tempat Rasulullah SAW beribadah, memimpin sholat, menerima wahyu, teriring pula tentunya ibadah para sahabat nan sholeh. Nama lokasi itu, yuph, sesuai yang sudah sering kita dengar: Raudhah.

Di antara rumahku dan mimbarku terletak sebuah raudhah (taman) dari taman-taman surga. Mimbarku ada di atas telagaku (HR Abu Hurairah RA)

Wii.. taman.. telaga…TAMAN SURGA lagi…

berarti di bawahnya ada sungai yang mengalir dari susu dan madu ya? Enggak, itu keadaan di akhirat ntar..

berarti di dalamnya banyak bidadari bidadari cantik? Sstt.. kepikirannya bidadari mulu sih. Jomblo ya? #eh

Kawanku, taman surga di sini bukan berarti sesuai deskripsi surga dalam AlQuran yang dijanjikan Allah sebagai balasan kebaikan di akhirat nanti. Tapi merupakan taman yang mulia, di mana beribadah di dalamnya menghadirkan rasa khusyu mendalam, tiap doa yang dipanjatkan di dalamnya sangat mudah diijabahi. Sebagaimana taman yang selalu memberi rasa tenang dan rasa segar, ketenangan dan kesegaran yang didapat di Raudhah ini pada level yang membuat kita tak banyak menunda untuk berkata, “ya, ini taman surga” 🙂 Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Cahaya Jiwa di Masjid Nabawi

Gerimis hampir tak pernah datang di tanah Saudi. Tapi di siang itu, suasana gerimis terasa sungguh. Bukan dari langit, melainkan apa yang dirasa di hati. Deskripsi indah yang disampaikan Ustad Salim A Fillah, pembimbing umroh ini,  benar-benar menyentuh dan tanpa terasa air mata mengalir di pipi. Karena gambaran itu terkait pusat kota Madinah yang baru saja kami lihat di seberang, ya kami baru saja sampai di pusat kota Madinah kala itu. Jikalau tersebut pusat kota Madinah maka semua orang pasti paham, yang dimaksud tak lain tak bukan masjid di seberang itu, Masjid Nabawi.

Tersebutlah di hari Rasulullah baru tiba selepas hijrah dari Mekkah dengan bijak membiarkan sang unta kesayangan, Al Qashwa, untuk berjalan sekehendaknya. Tempat sang unta berhenti akan dibangunkan masjid. Akhirnya sang unta berhenti dan lokasi itulah tempat berdiri Masjid Nabawi ini. Tak lebih dari 50 x 50 meter masjid itu dibangun. Tapi sekarang, masjid yang indah dan luas telah berdiri sedemikian megah. Area sholat mencapai 135.000 m2, bukankah itu perluasan yang sangat besar?

Tersebutlah bahwa Rasulullah dan para sahabat, sholat di masjid Nabawi yang alasnya pasir, atapnya adalah langit (alias tidak beratap), kalaupun sebagian sempat beratap, itu dari daun kurma. Tiangnya dari batang kurma. Listrik boro-boro ada di zaman itu, sehingga tanpa penerangan di malam hari. Sekarang, jangan tanya soal interior masjid. Kilauan tiang penyangga dan lampu berhiaskan marmer dan emas di dalam masjid serta lampu besar di pelataran masjid yang tak kalah terang membuat masjid ini secara fisik sangat-sangat bercahaya. Bukankah itu peningkatan yang sangat besar?

Tersebutlah bahwa Rasulullah memimpin sholat dengan jamaah umat muslim yang masih dalam bilangan ratusan. Sekarang, jutaan orang dari seantero dunia berbondong-bondong sholat di masjid ini setiap harinya. Bukankah itu peningkatan yang sangat besar?

Bahwa Islam yang besar, yang luas, yang bercahaya, yang merupakan rahmat bagi semesta alam, mendapatkan titik balik menuju kejayaan diawali dari Masjid Nabawi ini. Masjid sederhana yang tiap harinya berkumandang adzan merdu Bilal bin Rabah, lantunan ayat Rasulullah memimpin sholat dan tentunya tilawah para sahabat. Di Masjid ini. Di masjid ini. Subhanallah

*menulis sambil membayangkan saat pertama banget saya melihat Nabawi langsung dengan mata kepala sendiri, air mata menetes kembali*

Kalau udah begini, saatnya mentadaburi AlQuran surat 110. surat apakah itu? Baca Selengkapnya

Tarawih 15- Masjid PUSDAI Bandung

Malam 15 Ramadhan.. Kali ini sholat di Masjid PUSDAI (Pusat Dakwah Islam) Bandung, yang berada di jalan Diponegoro, tak jauh dari Gedung Sate dan Lapangan Gasibu Bandung.  Masjid PUSDAI ini punya tampilan eksterior dan interior yang indah megah, membuatnya sangat sering menjadi tempat kajian, seminar, bahkan nikahan. Di bawah naungan Pemprov Jawa Barat, masjid ini ditujukan untuk pusat pengembangan syiar Islam di Jawa Barat.

   

**

Dalam khutbah malam ini, khotib bercerita di zaman Rasulullah SAW. Saat itu, Rasulullah sedang dalam majelis, lalu ada seseorang yang lewat. Rasulullah pun bertanya kepada para sahabat, “Menurut pandangan kalian bagaimana orang itu?”

Kemudian para sahabat pun berkata,” Ya Rasul, dia pasti orang yang terpandang, kaya, kalau bicara pasti semuanya akan mendengarkan, dan kalau melamar pasti akan diterima”

Sejenak kemudian lewatlah seorang yang lain. Rasulullah SAW melemparkan pertanyaan yang sama, “Menurut pandangan kalian bagaimana orang itu?”

Kali ini para sahabat menjawab,”Ya Rasul, dia itu pasti bukan orang terpandang, kalau bicara layak untuk tidak didengarkan, dan kalau melamar layaklah untuk ditolak.”

Ternyata, pada saat itu Rasulullah SAW sedang mengecek pandangan parameter para sahabat tentang kemuliaan seseorang. Lalu beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang kedua lewat tadi, yang menurut kalian bukan orang terpandang dan layak ditolak, di mata Allah SWT ia jauh lebih baik dibanding orang yang pertama lewat. Bahkan seperti Gunung Uhud bedanya”

**

Pada kesempatan yang lain, Rasulullah memberi perhatiannya kepada lelaki remaja yang biasa jadi tukang bersih-bersih masjid. Suatu hari Rasul tidak menjumpai remaja itu. Beliau pun bertanya pada para sahabat mengenai keberadaan sang remaja. Sahabat menjawab dengan enteng, “Oh, remaja itu sudah meninggal, Ya Rasul.” Rasulullah pun menegur para sahabat yang terlalu enteng menjawab hanya karena remaja itu tukang bersih-bersih. Rasulullah SAW lalu meminta sahabat untuk menunjukkan kuburan remaja itu dan mendoakannya.

Dari 2 cerita di atas, kita bisa lihat upaya Rasulullah untuk mengecek dan membenarkan parameter kemuliaan manusia. Bukanlah dari tampilan luar atau pekerjaannya. parameter kemuliaan manusia adalah satu: TAQWA. Sebagaimana potongan ayat QS Al-Hujurat : 13

…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa…

Semoga dalam Shaum Ramadhan ini, kita bisa terus mengupayakan untuk mencapai target, yang tak lain juga adalah ketaqwaan..

Bismillahirrahmanirrahiim…

 

Kultum Subuh 1- Masjid Salman ITB

1 Ramadhan… Alhamdulillah masih diberi kemudahan dalam sahur dan memulai shaum Ramadhan ini. Dan setelah sahur, menepikan dulu udara pagi dingin kota Bandung, mencari ‘kehangatan’ di masjid Salman lagi… 🙂

**

Dalam kultum pagi ini, khotib memulai dengan mengingatkan akan syukur pada Allah SWT. Alhamdulillah kita masih diberi kemudahan dalam sahur, masih diberi kemudahan untuk sholat Subuh, masih bisa menjalankan shaum Ramadhan dengan kondisi yang nyaman. Di saat saudara kita di Palestina, Ethiopia atau Somalia masih menjalani dengan penuh cobaan. Belum tentu kita sanggup jika berada dalam kondisi mereka.

Khotib lalu melanjutkan dengan membacakan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:

Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, mudah-mudahan yang baik itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji

Ada 3 poin utama dalam hadits tersebut

1. Bertaqwa di mana pun berada

Sebagaimana tujuan utama puasa Ramadhan sesuai dengan QS Al-Baqoroh: 183: “agar kamu bertakwa”.

Definisi dari kata taqwa dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Rasulullah SAW, Umar (bin Khattab r.a.) dan Ubay (bin Ka’ab r.a).  Suatu ketika  Umar bertanya kepada Ubay, “Apakah taqwa itu?

Beliau (Ubay) bertanya balik, “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?”

Umar menjawab, “Pernah!” dan Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?”

Umar menjawab, “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.”

Maka Ubay pun berkata, “Maka demikian pulalah taqwa!”

Taqwa bisa didefinisikan seperti itu, hati-hati, waspada dan penuh keseriusan untuk menghindari apa yang dilarang Allah SWT. Sedang definisi lain menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri atau halangan dalam kehidupan.

2. Kebaikan yang menghapus kesalahan

Tidak dapat dipungkiri bahwa hari ini kita mungkin telah berbuat beberapa (atau mungkin juga sudah banyak) kesalahan. Maka dari itu, kita harus berusaha menutupnya dengan kebaikan. Kebaikan, sekecil apapun, pasti ada balasan dari Allah SWT. Kebaikan tersebut dapat menghapuskan kesalahan yang telah dilakukan.

Untuk dosa yang merugikan diri sendiri, maka salah satu cara untuk menghapusnya adalah dengan bersedekah. Rasulullah SAW bersabda “sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api”. Maka ada orang yang ketika dia sakit maka dia akan memberikan sedekah agar penyakitnya segera sembuh. Hal ini dikarenakan segala penyakit yang kita miliki itu adalah karena kesalahan yang kita pernah lakukan.

Sedang dosa yang dilakukan terhadap orang lain maka yang perlu dilakukan adalah memohon maaf yang bagi beberapa orang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal Rasulullah SAW tak malu, dan selalu minta maaf ketika bersalah. Pernah beliau melakukan kesalahan terhadap Ibnu Ummi Maktum beliau minta maaf dan memeluknya dengan hangat seraya berkata “Inilah orangnya, yang membuat aku ditegur oleh Allah… (QS. Abasa)”. Setelah minta maaf kemudian bawalah sesuatu hadiah atau makanan kepada orang tersebut, maka kesalahan tersebut Insya Allah akan dihapuskan.

3. Berakhlak terpuji

Akhlaq terpuji adalah keharusan dari setiap muslim. Tidak memiliki akhlaq tersebut akan dapat mendekatkan seseorang dalam siksaan api neraka. Sangat besar kesempatan kita untuk berakhlak terpuji maupun tercela. Tapi kita mesti mengupayakan perbaikan dan pengembangan akhlak terpuji. Dari beberapa jenis akhlaq kita terhadap orang lain, yang perlu diperhatikan adalah akhlaq terhadap tetangga.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Dari Abu Syuraih ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya: “Siapa itu Ya Rasulullah?” Jawab Nabi: “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut, peringatan Allah sangat keras sampai diulangi tiga kali yaitu tidak termasuk golongan orang beriman bagi tetangganya yang tidak aman dari gangguannya. Maka terkadang kita perlu instropeksi dengan menanyakan kepada tetangga apakah kita mengganggu mereka.

Demikianlah 3 poin penting yang semestinya kita punyai dan terus kita upayakan di bulan suci Ramadhan ini. Akan sangat merugi bagi kita jika tidak bisa memanfaatkan momen Ramadhan padahal kita menjalaninya dalam kondisi yang dimudahkan.

Bismillahirrahmanirrahim..

Tarawih 1- Masjid Salman ITB

Bulan Ramadhan 1432 H telah tiba. Dalam kalender Masehi, 1 Ramadhan jatuh pada hari Senin tanggal 1 Agustus 2011. So, hari sebelumnya selepas Isya  telah diadakan sholat tarawih. Untuk membuka agenda tarawih keliling Ramadhan kali ini, saya sholat di masjid Salman ITB.

     

Masjid megah nan penuh keindahan. Indah dalam semangad fastabiqul khoirat, indah dalam jamaah (lurus dan rapat), indah dalam bacaan ayat suci Al-Qur’an, indah dalam materi khutbah, dan keindahan-keindahan yang lain. Suasana yang sangat pas, didukung malam hari yang terang, menyambut Ramadhan yang lebih baik. Dan terus berupaya menjadi lebih baik menuju taqwa. Bismillah..

**

Imam pada tarawih pertama ini adalah Ustadz Sunardi. Khotibnya Bapak Syarief Hidayat, Ketua YPM Salman (insya Allah dalam blog ini akan diceritakan isi khutbah tarawih harian, hasil tarawih keliling Ramadhan 1432 H). Adapun isi khutbah tarawih 1 ini..

Pak Syarief membuka dengan renungan bahwa tak terasa satu tahun telah berlalu. Di masa itu, kita berjanji akan menjadikan hari selepas Ramadhan menjadi hari-hari yang lebih baik. Dan waktu satu tahun berlalu. Umur semakin pendek, alhamdulillah kita masih diberi kesempatan menghirup udara Ramadhan lagi. Tapi apakah kita sudah jadi lebih baik? Atau kita masih seperti dulu, terus berjanji lebih baik tapi masih saja hanya janji sampai setahun berlalu…

Beliau kemudian membacakan khutbah Rasulullah SAW menyambut bulan Ramadhan sebagai berikut:

Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh suatu bulan yang agung
lagi penuh berkah; bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik
daripada seribu bulan. Pada bulan tersebut Allah SWT menjadikan puasa sebagai
kewajiban dan shalat malamnya sebagai ibadah sunnah yang sangat
dianjurkan.

Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan amalan sunnah,
ia diberi pahala sama seperti menunaikan kewajiban (fardhu) di bulan yang lain.

Siapa yang menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan, ia diberi pahala sama dengan
orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban di bulan yang lain.

Ramadhan adalah bulan sabar, sedang sabar itu tiada lain balasannya selain surga
(al-jannah).

Ramadhan adalah bulan berbagi simpati (memberikan pertolongan) dan bulan dimana
Allah menambah rizki orang-orang mukmin. Siapa saja yang pada bulan itu
memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi
pengampunan atas dosa-dosanya, kemerdekaan dirinya dari api neraka, dan ia
mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan
berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.

Para sahabat berkata,Ya Rasululullah, tidak semua dari kami memiliki makanan
untuk dapat diberikan kepada orang-orang yang berpuasa.

Rasulullah Saw kemudian menjawab, Allah memberikan pahala tersebut (seperti
yang telah disebutkan) kepada siapapun orang yang memberikan buka puasa walau
hanya sebutir korma atau sekedar seteguk air atau sehirup susu.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya
adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Siapa yang
meringankan beban orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya), niscaya
Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka.

Perbanyaklah oleh kalian empat perkara di bulan Ramadhan ini; dua perkara
diantaranya membuat Tuhan ridha terhadap kalian dan dua perkara lainnya sangat
kalian butuhkan. Dua perkara yang membuat Tuhan ridha dengan kalian adalah
bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disembah selain Allah dan kalian memohon
ampunan-Nya (istigfar). Adapun dua perkara yang kalian sangat butuhkan adalah
memohon surgaNya dan memohon lindungan dari api neraka. Siapa saja yang memberi
minum kepada orang yang berpuasa niscaya Allah akan memberinya minum dari air
kolamku yang dengannya dia tidak akan merasa haus setelah meminumnya hingga
ia masuk surga. (HR. Ibn Khuzaimah)

Demikian khutbah tarawih satu kemarin. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Dan mari sambut Ramadhan dengan lebih baik, dengan bahagia dan semangat untuk perbaikan diri!

Bismillah..