Arsip Tag: stasiun

Menikmati Kereta di Belanda 2 : Stasiun

Stasiun adalah tempat bersemayamnya kenangan. Tempat berucap selamat jalan. Antara menggapai harapan atau bersiap akan kehilangan. Toh apa pula makna perjalanan kalau tanpa kenangan, harapan dan kehilangan.

Sounds mellow?

Bahaha.. itu tadi sebenarnya mensarikan lirik lagu “Stasiun Balapan”nya Didi Kempot dari sudut pandang yang lain. Soalnya pas mau nulis tentang stasiun, pasti ingetnya lagu tentang stasiun di Solo Berseri itu.. 😀

**

Setelah kemarin berkenalan dengan jenis-jenis kereta di Belanda, yuk berikutnya kita lihat daftar station yang menarik di negeri kincir ini. Menurut on the spot, inilah 7 stasiun terbesar (based on passangers) dan cerita saya di sana :

1. Utrecht Centraal

taken from : wikipedia

taken from : wikipedia

Stasiun terbesar di negeri van Oranje dipegang oleh Utrecht Centraal. Hal yang wajar mengingat letak kota Utrecht benar-benar berada di center. Walau hanya berstatus kota terbesar keempat (setelah Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag), tapi karena di antara kota-kota tadi jadi ya yang melintas cenderung lebih banyak.

Di sini juga merupakan markas besar (HQ) dari NS, sang operator utama perkeretaapian Belanda. Udah gitu stasiunnya terintegrasi sama mall pulak, pertama ke sana bingung deh mana pintu keluarnya.. Saya mau jalan-jalan ke pusat kota wooy, bukan mau belanja!! 😀

Belum puas dengan status stasiun terbesar dan tergabung dengan mall, Utrecht Centraal on progress membangun tempat parkir sepeda terbesar di dunia.. Wohoo..

2. Amsterdam Centraal

amsterdam

Stasiun dengan arsitektur klasik yang menawan. Usut punya usut, arsiteknya merupakan orang yang juga mendesain Rijkmuseum Amsterdam (museum national art yang berada di dekat tulisan supermainstream, I Amsterdam). Nuansa klasiknya dapet deh..

Mengingat kunjungan turis yang bejibun di Amsterdam, stasiun ini selalu sangat padat dengan lalu lalang mereka. Saya sendiri kurang suka dengan suasana crowdednya. Bagaimanapun, stasiun ini selalu jadi first option kalau mau kumpul ketemu reunian. Boleh jadi karena dekat dengan objek wisata populer seperti Rijkmuseum, Dam Square, atau untuk yang telat puber, Red Light District 😀

3. Rotterdam Centraal

rotterdam centraal

Nah, salah satu stasiun dengan desain futuristik. Dibandingkan Amsterdam, saya  lebih suka stasiun modern nan caem ini. Beruntunglah Rotterdam yang luluh lantak karena Perang Dunia II (lah?!), berkat itu bangunan di kota ini mayoritas desainnya fresh, enak diliat. Hehe.. Mungkin itu bukti juga ya kalau rasa sakit dan cobaan itu, bisa jadi pijakan untuk step up jadi lebih baik, dan secara ga langsung terlihat makin fresh pula di mata orang lain (auwah sok bijak :v ) Baca Selengkapnya

Weekend Sejenak ke Cirebon

Weekend minggu ini lumayan nice day. Setelah berbulan-bulan hanya berkutat di Jakarta dan sekitarnya, kemarin menyempatkan untuk jalan-jalan ke tempat yang jauhin dikit. Ke ujung timur Jawa Barat, kota yang masyhur disebut “kota udang“, mana tuh? yuph, manalagi kalau bukan ke Cirebooon

Sebagai perantau Jakartans yang kampung halamannya di Jawa Tengah, tentu sudah berulang kali saya ke Cirebon, tiap perjalanan mudik. Tapi ya itu, cuma nuwun sewu numpang lewat doang. Ga pernah lebih. Karenanya, sekali waktu disempatkan lah maen-maen bentar 😀

Perjalanan dari Jakarta ke Cirebon opsi jalur daratnya melimpah ruah tinggal pilih. Saya sih, as usual, prefer naek kereta. Selain lebih nyaman (dibanding bus), waktu tempuhnya juga relatif tepat. Kalau naek bus atau kendaraan pribadi? Wah begitu sampai Sumedang selamat menikmati jalanan Sumedang-Cirebon yang aduhai malesinnya (berkelak kelok, jalan rusak parah, banyak truk, banyak pengendara ngasal pula).. -_-

Seperti barusan saya bilang, opsi naek kereta itu melimpah ruah. Ada KA Cirebon Ekspress yang hampir saban 3 jam available, belum lagi KA lain dari segala jenis gerbong (eksekutif/bisnis/ekonomi) mengingat Cirebon posisi kotanya strategis pisan, jalur darat utama di lintas utara Jawa. Sepasang tiket Cirebon Ekspress lah yang saya beli, siap untuk mengantar ke kota tujuan. Oya, saya berangkat bertiga dengan sahabat AJTC (apa itu AJTC? ah, saya cerita di lain waktu aja. terlalu panjang untuk ditulis. hehe). Jam 9 pagi, saya sudah tiba di Gambir, satu jam berikutnya sang kereta yang suka disingkat Cireks (entah kenapa saya jadi langsung inget Cireng.. Cirebon Engpress aci goreng nan enyak itu) mulai melaju.

Tiga jam perjalanan, dan sampailah kitaa..

stasiun kejaksan cirebonStasiun Kejaksan Cirebon

Stasiun ini letaknya udah di tengah kota, mau ke mana-mana lumayan dekat. Tapi agenda utama saya bukanlah keliling kota. Melainkan, apa hayooo?

Baca Selengkapnya

Jejak Umroh: Welcome to Al Madinah

Perjalanan panjang 450 kilometer di jalan yang mulus lagi lapang segera berakhir. Dari titik kami berada, sudah terlihat dengan jelas papan petunjuk jalan bertuliskan “Al Madinatul Munawwaroh”. Yuph, sebentar lagi kami akan memasuki the city of lights tersebut.

Kemarin udah kita bahas bersama kan asal kata kota Jeddah, sekarang yuk bahas bentar mengenai gimana nama kota ini berasal. FYI, Madinah itu artinya “kota”, jadi sebenarnya cukup rekursif menggelitik jikalau kita berucap, “saya akan pergi ke kota Madinah” karena itu sama saja dengan bilang “saya akan pergi ke kota kota”. Ahaha.. weird? So, untuk membedakan dengan kata bahasa Arab “madinah” (kota), di tanah Saudi ini Madinah selalu disebut dengan Al Madinah. Dalam bahasa Inggris, bisa lah disebut the city, awalan ‘Al’ menunjukkan pengkhususan, dan yuph the city yang dimaksud ya kota yang baru kami masuki ini, Madinah..

Ni kota awalnya bernama Yasrib, salah satu kota tertua di dunia yang didirikan generasi keturunan kelima dari Nabi Nuh AS (yang dipimpin seorang bernama Yasrib). Kota ini berkembang dengan baik sampai akhirnya terjadi pertumpahan darah di internal mereka. Kabilah Aus dan Kabilah Khazraj, atas tipu daya Yahudi, berperang secara sporadik selama 6 dekade. Saat menyadari bahwa konflik internal itu merugikan dan konyol, mereka merasa butuh seseorang yang bisa mengharmoniskan kota mereka. Pucuk dicinta ulam tiba, karena seseorang yang sangat lembut hatinya dan mulia sikapnya sedang menghadapi banyak rintangan di Mekkah. Mereka pun bersedia dibai’at atas dasar kepercayaan pada lelaki mulia tersebut, tak lain Rasulullah Muhammad SAW.

Kawan, Terlepas dari kerekursifan unik tadi, ada hikmah yang indah lhoo dari pemberian nama Madinah. Baca Selengkapnya

Leles Trip: Busur Kereta Api

Bukan hal yang random sebenarnya saat saya memilih Leles sebagai tempat melepas penat..

Kalau teman-teman sudah pernah naek kereta api melewati jalur selatan Jawa Barat di saat sinar matahari masih ada, maka teman-teman bakal menikmati pemandangan tempat ini. Pegunungan dan sawah hijau permai, tentunya jauh lebih mengasyikkan dibanding saat masuk Jawa Tengah dan Jawa Timur yang monoton dengan sawah-sawah.

Nah, di Leles ini pengalaman menarik itu dibalik. Kalau biasanya liat pemandangan dari dalam kereta, sekarang saya mencoba menikmati dari lokasi pemandangan itu, pemandangan indahnya kereta api melintas.

Leles Curve atau Busur Leles, merupakan lengkungan yang berada persis sebelum kereta berbelok menaiki bukit/gunung. Kereta yang bergerak harmoni mengikuti busur itu jadi terlihat begitu gemulai.. Ngepot di spot yang indah antara hamparan persawahan dan megahnya pegunungan. Saya bukanlah seorang railfans atau penggila kereta api sejati. Tetapi karena moda transportasi ini deserved a high honor sebagai pengantar saya pulang pergi Bandung-Solo selama merantau, maka saya pun sangat menikmati gemulainya liukan kereta api itu.

Jadi bukan hanya desa yang permai untuk melepas penat.. yang mengingatkan kembali akan rasa syukur..

Bukan hanya perjuangan dihempas debu jalanan saat berdesakan di dalam elf angkutan umum menuju desa itu yang memunculkan hawa petualang..

Tapi juga busur itu.. liukan kereta api itu..

Jalan lurus rel sejauh 3 km yang harus dilalui dari Stasiun sampai Busur Leles Baca Selengkapnya

Jejak Lombok 1: Start!!

Gerak lurus berubah beraturan diperlambat, begitulah yang acap kita baca saat awal belajar fisika di SMP. Terdengar menjemukan di teori, tapi cukup menarik bila kita menemui prakteknya. Salah satunya dari peristiwa pengereman kereta api. Alih-alih terpikir kecepatan dan jarak berhenti, kita malah bisa menikmati getaran, suara berderit dan hembusan angin yang cukup kencang untuk mengibarkan rambut. Sayangnya itu tidak terjadi pada rambut saya yang kaku nan anti peluru, yang membuat saya tak pernah mungkin membintangi iklan sampo. Baiklah no problem, sekalipun rambut saya tak menikmati “efek” GLBB itu, tapi jiwa saya bisa menikmatinya. Saat itu perasaan saya sedang bergetar, berderit, dan menghembuskan damai angin karena akan melakoni perjalanan panjang yang sangat exciting dan unforgettable.
Baca lebih lanjut