Senandung Sebelum Subuh

Ketika akan mencari kosan, syarat pertama yang selalu diwanti-wanti oleh orang tua saya adalah dekat dengan masjid. Rumah saya (rumah ortu saya maksudnya) sendiri juga sangat dekat dengan masjid. Rumah kakek nenek saya di Klaten juga sangat dekat dengan masjid, rumah kakek nenek saya di Gunungkidul juga begitu. Praktis, dalam keluarga besar, sepertinya tidak ada yang jarak rumah dengan masjid lebih dari 100 meter (ini jarak yang dengan jalan kaki pun sangat tidak melelahkan). Alhamdulillah, saya dapat kosan pertama di Bandung berjarak hanya 2 meter dari masjid (hanya terpisah selebar gang tikus), sedang kos kedua –yang saya tempati sampai sekarang– berjarak 10 meter (terpisah 2 rumah).

Kenapa harus dekat masjid? Masjid adalah rumah Allah SWT. Masjid adalah tempat jamaah hamba Allah berbondong-bondong beribadah. Masjid yang makmur akan memancarkan energi positif yang besar ke lingkungannya sehingga insan-insan yang terkena lingkupnya bakal cenderung bertingkah laku positif. Insya Allah seperti itu. Dan salah satu manfaat yang paling terasa dari punya kosan/rumah dekat masjid jelas saat berada di masa sebelum cahaya. Masa sebelum cahaya, apakah itu? Baca Selengkapnya

Kultum Subuh 8- Masjid Salman ITB

8 Ramadhan 1432 H atau bertepatan dengan Senin 8 Agustus 2011. Hari pertama perkuliahan semester 7 di ITB. Semester baru, semangat baru. Tak terasa sudah jadi mahasiswa versi 4.0 (tingkat empat). Final year.. Harus bisa jadi produktif dan lebih produktif lagi,, dan pagi nan cukup hangat ini dimulai dengan sujud di Masjid Salman.

**

Kultum Subuh kali ini membahas mengenai doa yang merupakan salah satu cara komunikasi kita kepada Sang Pencipta, ALLAH SWT. Manusia, sebagaimana kita tahu, punya kelebihan dan batasan masing-masing. Karena itu semestinyalah tempat bergantung kita hanya Allah, bukan malah bergantung pada manusia yang jelas-jelas punya banyak batasan.

Caranya, ya komunikasi itu tadi : doa. Dibarengi dengan ikhtiar, insya Allah dimudahkan dalam berbagai hal di kehidupan ini. Manusia berikhtiar tanpa doa, itu sombong. Manusia berdoa tanpa ikhtiar, itu bohong.

Ada syarat agar doa kita makbul (dikabulkan oleh Allah SWT), yakni dengan sikap yang tepat dan waktu yang tepat. Dalam kultum ini, khotib memaparkan waktu-waktu doa makbul yakni: saat adzan, antara adzan dan iqomah, saat sujud, sesaat setelah sholat fardhu, sepertiga malam terakhir, saat khotib duduk di antara 2 khutbah Jum’at, saat buka puasa.

Waktu yang mustajab itu akan lebih berlipat kesempatannya saat bulan suci Ramadhan ini. Karena itu, bismillah, mari lebih banyak mendekatkan diri dengan Allah melalui doa. Memberi harapan dan melengkapi ikhtiar sungguh-sungguh yang kita lakukan dengan nama Allah, untuk mengharap ridho Allah.

Bismillahirrahmanirrahiim…

 

Kultum Subuh 5- Masjid Salman ITB

5 Ramadhan… kembali sholat dan ikut sholat Subuh di Masjid Salman. Berangkat ditemani embun dingin kota Bandung, menyisir jalan Tamansari dan Gelapnyawang. Dan parkiran Salman ternyata masih tutup, terpaksa parkir di dalam kampus. Tahfafa, alhamdulillah bisa segera sampai masjid. Lanjut tilawah di dalam Salman yang begitu hangat sebelum diteruskan sholat dan kuliah subuh

**

Kuliah atau khutbah Subuh kali ini membahas mengenai integritas. Masalah yang saat ini menjadi salah satu problem terbesar bangsa kita. Banyak kasus yang bermula dari kebohongan. Padahal jelas kebohongan membawa pada kejahatan, seperti dikutip dari hadits berikut:

Dari Abdullah bin Mas’ud ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang akan senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong)” (HR Mutafaqun ‘alaih)

Rasulullah SAW sebagai suri teladan kita, telah mencontohkan melalui beliau sendiri mengenai integritas. Rasulullah terkenal dengan sebutan Al-Amin karena beliau orang yang selalu bisa dipercaya, seorang yang punya integritas tinggi. Saat beliau meminta orang-orang untuk berkumpul maka semua berkenan, dan saat beliau mulai menyeru semua yang hadir akan membenarkan ucapan beliau, menjadi salah satu bukti integritas beliau. Beliau juga mempunyai sifat utama Shiddiq (Benar).

Shiddiq menurut para ulama didefinisikan sebagai:

1. Menyempurnakan amal dan perbuatan hanya karena Allah SWT

2. Kesesuaian antara apa yang diucapkan dengan apa yang diperbuat

3. Ucapan dan sikap yang benar sekalipun dalam posisi yang sempit/sulit

Adapun dasar pijakan dari shiddiq adalah keimanan yang kokoh dan selalu yakin akan kehadiran Allah SWT. Karena hanya iman yang kokohlah yang dapat menjadikan seseorang memiliki integritas yang tinggi, kejujuran dan amanah. Karena shiddiq merupakan gabungan antara mengharap keridhaan Allah, selalu merasa akan pengawasan Allah, dan istiqamah terhadap nilai kebenaran.

Demikian materi kuliah Subuh hari ini. Mari sama-sama mengambil hikmah dan semoga kita semua bisa menjadi insan yang jujur penuh integritas sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Kultum Subuh 3- Masjid Al-Hidayah Kebonkembang

3 Ramadhan… Alhamdulillah sahur hari ini terasa lebih tasty karena sahurnya di kantin Jamboe, salah satu kantin terenak dan termurah yang pernah saya temukan di Bandung.. Hoho..

Sama seperti hari sebelumnya, sholat dan kuliah Subuh hari ini, saya di masjid dekat kosan, Al-Hidayah.

**

Dalam khutbah Subuh ini, terasa sedikit deja vu. Khotib membacakan hadits HR Ibnu Khuzaimah yang pernah dibacakan pula pada Tarawih 1 di Masjid Salman serta HR At-Tabrani saat Tarawih 3, juga di Masjid Salman.

Selanjutnya adalah keistimewaan bulan Ramadhan yang sangat banyak. Di antaranya adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, bulan maghfiroh, bulan yang ada Lailatul Qadr, dan banyak keistimewaan lainnya.

Akan sangat merugi jika bulan suci nan istimewa ini tidak dapat kita manfaatkan untuk beramal sebaik-baiknya. Semoga kita semua dapat mencapai ketakwaan sesuai tujuan shaum Ramadhan.

Bismillahirrahmanirrahiim…

Kultum Subuh 2- Masjid Al-Hidayah Kebonkembang

2 Ramadhan.. alhamdulillah kembali dapat terbangun dan menikmati kemudahan dalam sahur…

Lanjut untuk hari ini, sholat dan kuliah Subuh di masjid dekat kosan, yakni masjid Al-Hidayah di jalan Kebonkembang. Imam dan khotibnya Pak Asep Rodhi, ulama dan tokoh masyarakat yang terkenal di sini. 🙂

**

Dalam khutbah Subuh, khotib (Pak Asep Rodhi) menyampaikan analogi puasa berdasar teknologi yang sering kita pakai sehari-hari, yakni seperti mencharge handphone (HP) atau seperti mengisi bahan bakar di POM bensin.

Analogi tersebut berarti bahwa kita punya pilihan untuk mengisi full, mengisi hanya setengah-setengah, atau bahkan tidak mengisi. Mengisi baterai full atau mengisi full tangki bensin, serupa dengan pencapaian ketaqwaan. Ingat bahwa saat kita mengisi full, maka baterai/bensin yang kita pakai terasa (dan memang) lebih awet. Lebih tahan lama. Sementara jika kita mengisi hanya setengah-setengah, maka besar kemungkinan di bulan berikutnya (selepas Ramadhan), cepat pula habis kesadaran kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Terlebih kalau memilih tidak mengisi (yang benar saja!). Hal yang tentunya tidak kita harapkan karena kita berharap dengan shaum Ramadhan kita bisa benar-benar berubah jadi insan yang bertaqwa.

Demikian isi khutbah yang singkat tapi mengena tersebut. Semoga kita dapat mengisi Ramadhan semaksimal mungkin menuju ketaqwaan.. Bismillahirrahmanirrahiim..

Kultum Subuh 1- Masjid Salman ITB

1 Ramadhan… Alhamdulillah masih diberi kemudahan dalam sahur dan memulai shaum Ramadhan ini. Dan setelah sahur, menepikan dulu udara pagi dingin kota Bandung, mencari ‘kehangatan’ di masjid Salman lagi… 🙂

**

Dalam kultum pagi ini, khotib memulai dengan mengingatkan akan syukur pada Allah SWT. Alhamdulillah kita masih diberi kemudahan dalam sahur, masih diberi kemudahan untuk sholat Subuh, masih bisa menjalankan shaum Ramadhan dengan kondisi yang nyaman. Di saat saudara kita di Palestina, Ethiopia atau Somalia masih menjalani dengan penuh cobaan. Belum tentu kita sanggup jika berada dalam kondisi mereka.

Khotib lalu melanjutkan dengan membacakan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi:

Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada. Dan ikutilah keburukan dengan kebaikan, mudah-mudahan yang baik itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak terpuji

Ada 3 poin utama dalam hadits tersebut

1. Bertaqwa di mana pun berada

Sebagaimana tujuan utama puasa Ramadhan sesuai dengan QS Al-Baqoroh: 183: “agar kamu bertakwa”.

Definisi dari kata taqwa dapat dilihat dari percakapan antara sahabat Rasulullah SAW, Umar (bin Khattab r.a.) dan Ubay (bin Ka’ab r.a).  Suatu ketika  Umar bertanya kepada Ubay, “Apakah taqwa itu?

Beliau (Ubay) bertanya balik, “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?”

Umar menjawab, “Pernah!” dan Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?”

Umar menjawab, “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.”

Maka Ubay pun berkata, “Maka demikian pulalah taqwa!”

Taqwa bisa didefinisikan seperti itu, hati-hati, waspada dan penuh keseriusan untuk menghindari apa yang dilarang Allah SWT. Sedang definisi lain menurut Sayyid Qutub dalam tafsirnya—Fi Zhilal al-Qur`an—taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri atau halangan dalam kehidupan.

2. Kebaikan yang menghapus kesalahan

Tidak dapat dipungkiri bahwa hari ini kita mungkin telah berbuat beberapa (atau mungkin juga sudah banyak) kesalahan. Maka dari itu, kita harus berusaha menutupnya dengan kebaikan. Kebaikan, sekecil apapun, pasti ada balasan dari Allah SWT. Kebaikan tersebut dapat menghapuskan kesalahan yang telah dilakukan.

Untuk dosa yang merugikan diri sendiri, maka salah satu cara untuk menghapusnya adalah dengan bersedekah. Rasulullah SAW bersabda “sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api”. Maka ada orang yang ketika dia sakit maka dia akan memberikan sedekah agar penyakitnya segera sembuh. Hal ini dikarenakan segala penyakit yang kita miliki itu adalah karena kesalahan yang kita pernah lakukan.

Sedang dosa yang dilakukan terhadap orang lain maka yang perlu dilakukan adalah memohon maaf yang bagi beberapa orang sangat sulit untuk dilakukan. Padahal Rasulullah SAW tak malu, dan selalu minta maaf ketika bersalah. Pernah beliau melakukan kesalahan terhadap Ibnu Ummi Maktum beliau minta maaf dan memeluknya dengan hangat seraya berkata “Inilah orangnya, yang membuat aku ditegur oleh Allah… (QS. Abasa)”. Setelah minta maaf kemudian bawalah sesuatu hadiah atau makanan kepada orang tersebut, maka kesalahan tersebut Insya Allah akan dihapuskan.

3. Berakhlak terpuji

Akhlaq terpuji adalah keharusan dari setiap muslim. Tidak memiliki akhlaq tersebut akan dapat mendekatkan seseorang dalam siksaan api neraka. Sangat besar kesempatan kita untuk berakhlak terpuji maupun tercela. Tapi kita mesti mengupayakan perbaikan dan pengembangan akhlak terpuji. Dari beberapa jenis akhlaq kita terhadap orang lain, yang perlu diperhatikan adalah akhlaq terhadap tetangga.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Dari Abu Syuraih ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman, Demi Allah seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya: “Siapa itu Ya Rasulullah?” Jawab Nabi: “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut, peringatan Allah sangat keras sampai diulangi tiga kali yaitu tidak termasuk golongan orang beriman bagi tetangganya yang tidak aman dari gangguannya. Maka terkadang kita perlu instropeksi dengan menanyakan kepada tetangga apakah kita mengganggu mereka.

Demikianlah 3 poin penting yang semestinya kita punyai dan terus kita upayakan di bulan suci Ramadhan ini. Akan sangat merugi bagi kita jika tidak bisa memanfaatkan momen Ramadhan padahal kita menjalaninya dalam kondisi yang dimudahkan.

Bismillahirrahmanirrahim..