Arsip Tag: telekomunikasi

Maraknya Kasus Pencurian/Penyedotan Pulsa

Siang tadi, saya barusan mengikuti kuliah Regulasi Telekomunikasi. Di mata kuliah yang dibawakan dengan sangat menarik oleh dosen saya itu, kami membahas mengenai kasus paling aktual terkait telekomunikasi. Yah, sebagai civitas academica yang bergelut di bidang telekomunikasi, kami memang mesti diajarkan sense untuk mengikuti tren dan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Then, apa topik hangat yang bergulir tadi? Of course, yang sedang hangat-hangatnya dibahas,, tak lain tak bukan KASUS PENCURIAN/ PENYEDOTAN PULSA. Belakangan masyarakat memang sangat diresahkan dengan kasus ini. Dari yang kecewa tersedot Rp 2000/sms tapi cenderung pasrah aja karena nilai itu dirasa tak cukup besar untuk effort melapor ke pihak berwenang, sampai yang terang-terang memidanakan kasus ini (menuntut provider telekomunikasi) karena dianggap melakukan kebohongan publik, merugikan konsumen dan hal-hal yang bertentangan dengan UU ITE.

Hmm.. case yang menuntun saya –dari semula cuek– menjadi gencar browsing info terkait masalah ini. Dan setelah mengumpulkan berbagai sumber khususnya dari Liputan6, Detikinet, Teknojurnal dan Republika.. berikut sedikit yang bisa saya ambil dan rangkum:

Deskripsi Kasus

Inti dari kasus ini adalah Pengguna tanpa sadar masuk/register ke layanan konten yang menyedot pulsa secara signifikan, di mana sangat minim informasi untuk unregister (UNREG) sehingga pulsa terus menerus tersedot.

Umumnya kalau kita akan mengakses layanan konten tertentu (RBT, NSP atau konten lain) kita diperkenankan ketik REG (spasi), kita mendapat info/layanan tersebut, dan pulsa berkurang dengan nominal yang jelas. Tapi, entah apakah karena masyarakat mulai aware sehingga jumlah yang register dengan cara ini berkurang, penyedia konten atau content provider (CP) mulai menggunakan trik yang lebih jitu, dan pastinya menjengkelkan. Sejenak lupakan “SMS mama”, cek contoh kasus pencurian/penyedotan pulsa berikut:

  1. Anda dapat sms menang hadiah jutaan rupiah dan dipersilakan sms ke *XXX*X# (contoh: *123*2#). Waspadalah karena inilah bentuk baru registrasi layanan tanpa harus menggunakan REG (biasa disebut UMB). Nah, sebagai pengguna awam pasti kita akan mencobanya (karena sekilas nomor tersebut seperti nomor yang kita gunakan untuk mengecek sisa pulsa), namun jika kita menekan tombol tersebut maka secara langsung akan mengirimkan perintah untuk melakukan pendaftaran nomor kita ke layanan yang terpilih, kita teregistrasi ke layanan itu, dan well.. mulai tersedotlah pulsa kita.SMS dari 4 digit nomor (contoh: 9338) , tibatiba tersedot pulsanya 2000/sms hanya dengan membuka sms tersebut, tanpa membalasnya!
  2. SMS dari 4 digit nomor (contoh: 9338) , tiba-tiba tersedot pulsanya 2000/sms hanya dengan membuka SMS tersebut!! Biasanya sih kalau membalas SMS tersebut baru pulsa tersedot. Tapi case di Surabaya ini terbukti hanya dengan membuka SMS saja, pulsa sudah tersedot. Hmm….
  3. Pengguna layanan khusus semacam Ring Back Tone (RBT), ia akan diberi secara gratis selama beberapa hari dan jika masa gratisnya tersebut telah selesai maka pengguna akan dipotong pulsanya sejumlah harga RBT yang berlaku. Kasus ini sangat jarang terdeteksi karena kita baru akan tahu ketika orang lain akan bilang ke kita “Kamu pasang RBT lagu X ya?” dan kita akan kaget mendengar pertanyaan tersebut, karena kita merasa tidak suka dan tidak pernah berlangganan RBT. Kasus yang mirip adalah layanan tambahan Opera Mini. Pengacara David Tobing bahkan sampai memidanakan kasus ini karena merasa CP melakukan “negative option“, jika pelanggan tidak membalas konfirmasi maka dianggap sudah menyetujui.

Melihat contoh kasus di atas, cara-cara curangnya begitu ‘canggih’ dan sangat meresahkan, bukan??

Seperti diberitakan, YLKI (Yayasan Layanan Konsumen Indonesia) memastikan setiap bulan sekitar Rp 100 miliar pulsa milik konsumen tersedot para pencuri pulsa. Wew!! Jumlah kerugian yang sangat besar…

(under construction.. to be continued.. 🙂 )


Mengenal IPTV

Cerita KP berlanjut nih. Setelah dari tanggal 1-8 Juni saya menempati kantor Netre Jabar di Jalan Supratman, mulai hari Kamis 9 Juni saya bergabung dengan teman-teman di Telkom Lembong. Yeah. Pengalaman baru pun dimulai.

Dengan berpindah ke Lembong, ada beberapa keuntungan nih. Pertama, dapat ID Card Telkom, walaupun bertuliskan “PKL” tapi gapapa lah, jadi terlihat resmi. Secara kebetulan nomor kartunya 156 (hmm.. emang apa maksud nomor tersebut? Ada dweh..). Kemudian keuntungan kedua, masuknya jam 9. Hoho.. jadi masuknya lebih siang nih, kalau di Supratman kan saya sudah stand by semenjak jam 8.  Ketiga, ruangannya kalau di Lembong tuh di NGN (New Generation Networks) Competence Centre. Di ruang tersebut, Wifinya dapat diakses bebas dengan kecepatan luar biasa (jauh lebih cepat dari speedy, youtube-an tanpa buffering), dan bisa mengamati langsung teknologi canggih terbaru yang dimiliki Telkom cem softswitch, teleconference, sampai IPTV. Jadi di ruang sini saya bisa kerja sambil ngenet dan nonton TV (hoho.. asyik ga tuh). Nah, kali ini mari kita mengenal sedikit dulu mengenai IPTV.

Apa sih IPTV?

IPTV adalah layanan pay TV yang dideliver-kan dengan media IP (Internet Protocol). Jadi tau kan singkatan IPTV, tak lain tak bukan ya Internet Protocol Television. Dalam mengembangkan layanan True Broadband, TELKOM menggunakan Home Gateway yang dihubungkan melalui Speedy, dalam men-deliver layanan IPTV. Kabarnya nih, keberadaan IPTV bakal jadi saingan utama atau bahkan menggeser para pelakon bisnis TV berlangganan (TV kabel maupun satelit). Melalui teknologi berbasis internet ini, satu kabel bisa untuk layanan pengiriman data berbentuk suara maupun video. Terlebih lagi, teknologi itu memanfaatkan jaringan kebel telepon yang sudah banyak tersambung di rumah-rumah konsumen. So, operator ngga perlu lagi membuat jaringan baru yang memakan biaya besar.

Mengapa dikembangin IPTV?

Yah, ini karena kebutuhan layanan telekomunikasi customer  cenderung berubah dari hanya sekedar untuk berkomunikasi menjadi komunikasi dan hiburan (entertaintment), bahkan kini dan di masa yang akan datang komunikasi tidak hanya sekedar untuk berkomunikasi dan hiburan, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup (life style). Emang yang namanya telekomunikasi itu ga ada matinya ya! Nah, perubahan ini juga menuntut perkembangan kapasitas bandwidth baik up-stream maupun down-stream. Juga perubahan layanan dari penyedia jasa layanan telekomunikasi dari telecommunication provider menjadi integrated Service Provider.

Apa sih kelebihannya IPTV?

Kalau saya pribadi, untuk sementara kelebihannya ya bisa nonton TV di tempat kerja. Hehe.. Itu sangat umum yah. Oke, IPTV sebenarnya punya banyak kelebihan. Telkom aja investnya antara 50-100 Miliar, masak cuma untuk bikin layanan copo.

Then, Kita bisa liat kelebihannya dari fasilitas yang ditawarkan. Pertama, Video on Demand (VoD) Service. Layanan ini memberikan penyewaan konten video secara spesifik sesuai dengan pemesanan pelanggan. Kedua, Network Personal Video Recorder (NPVR). Layanan ini memungkinkan perekaman tayangan IPTV dan dapat di-schedule pada periode tertentu. Jadi kita bisa pause rewind dan bahkan record. Ga perlu khawatir kalau dini hari kelewatan menonton liukan Lionel Messi meluluhlantakkan tim lawan, ga sempat nonton Sule memimpin lawakan Opera Van Java, atau ketinggalan acara Kick Andy. Ga sabar nunggu highlight atau malah emang ga ada siaran replaynya, bisa langsung liat tuh. Apapun program acara favoritnya, bisa direkam dengan scheduling tertentu. Ketiga, Interactivity . Merupakan layanan yang memungkinkan pelanggan untuk mendapatkan konten interaktif IPTV. Dengan tambahan perangkat untuk layanan IPTV yang namanya Set Top Box (STB), yang berfungsi seperti decoder TV parabola, maka tayangan TV dapat dinikmati dari jarak jauh. Bisa diakses secara mobile tanpa harus berada di dalam rumah.

Lalu kelemahannya?

Sebagai layanan baru, so pasti berbagai kelemahan muncul. Yang pertama, dan sebenarnya untuk teknologi baru bisa tertebak sih masalahnya itu-itu aja, yakni masalah harga. Groovia TV, nama untuk IPTVnya Telkom, punya tarif yang bisa dibilang sasarannya untuk kelas menengah ke atas. Menurut info yang saya baca, biaya langganan paling murah paketnya Rp695.000 per bulan untuk 1 Mbps, lalu Rp1.045.000 untuk 2 Mbps, dan Rp1.745.000 untuk 3 Mbps. Mahal ga tuh? Tapi katanya sih bagi pelanggan speedy 1 Mbps cukup menambah Rp50.000 sudah bisa mendapatkan pelayanan Groovia TV dan menikmati 40 channel TV Hiburan. hmm.. sebenarnya bisa dipahami juga kalau background pengembangan teknologi ini untuk lifestyle, jadi emang ada unsur eksklusif. But, kalau Telkom menargetkan jutaan pelanggan dalam tahun-tahun mendatang, harusnya tarifnya lebih flat yah..

Kelemahan kedua, baru Jakarta yang bisa menikmati layanan ini. Setau saya malah baru Jakarta Selatan, entah sekarang sudah berkembang di seluruh Jakarta atau belum. Emang perlu kecermatan marketing dan teknis sih untuk teknologi baru gini. Oya, Bandung juga sudah bisa menikmati. Nih, saya nonton di kantor Telkom.. hehe.. Tentu saja ga bisa digeneralisir untuk kota Bandung ya.

**

Begitulah report kecil saya mengenai IPTV. Ditulis dengan sumber artikel Kompas dan Antara, artikel dari Netre Jabar, dan juga sempat liat barangnya langsung. Semoga saja teknologi baru ini terus berkembang, dan ke depannya bisa memberi kemanfaatan berarti bagi Indonesia tercinta. Maju terus teknologi telekomunikasi Indonesia!

Cerita KP: Start to Analyze

Kembali bercerita tentang Kerja Praktek (KP). Setelah rehat 4 hari, masuklah kerja praktek (KP) di hari kedua. Senin, 6 Juni 2011. Seperti sebelumnya, jam 8 pagi sudah sampai di kantor di Jalan Supratman. Apakah yang mesti dikerjakan hari ini? Ilmu dan Pengalaman baru apa yang bakal didapat? Atau justru bakal gabut? Hmm…let’s see

Di hari pertama masuk KP, Pak Agus Fikri selaku pembimbing KP sudah memberikan gambaran besar agenda dan target selama masa KP. Saatnya untuk mulai take action sesegera mungkin. Dimulai dengan memahami lagi tools management system seperti kemarin. Tapi untuk hari ini berbeda, tak lagi menggunakan SiPete (mungkin karena pembacaannya lebih ribet kali ya…). Dan hari ini kita beralih  menggunakan ITMS. Yaha…memulai lagi dari awal donk? Bisa dikatakan begitu. Bukannya jadi lebih ribet? Engga juga,, kali ini ternyata lebih menyenangkan…

Data ITMS bisa dibilang jauh lebih mudah dipahami dan dianalisis dibanding SiPete. Dari sumber ini, dapat dilihat data masing-masing sentral dengan lebih sistematis. Gangguan dalam sentral terbagi menjadi loss incoming dan loss transit. Di sini saya mempelajari konsep terjadinya loss tersebut. Ada no dial (ada pendudukan/seizure tapi digit tidak terkirim), ada incomplete dial (pengiriman digit tidak komplet) dan technical irregular (gagal secara teknis) untuk loss incoming. Sedangkan pada loss transit, terdapat SN-Busy (Switching network busy), TgrBy (trunkgroup busy), Technical Irregular dan Incomplete Dial.

Setelah mempelajari data tadi, trafficability (TA) yang menjadi targetan pertama, bisa didapat dengan rumus TA = 1- [∑(loss incoming + loss transit) / effective bit]. Nah dari pembacaan data ITMS, ntar bisa memberikan rekomendasi untuk perbaikan demi tercapainya tingkat TA yang diharapkan. Bisa dibilang hari ini saya sudah one step ahead, analisis untuk memberikan rekomendasi. Yeah, start to analyze!!

Sayang beribu sayang, ternyata keefektifan jam kerja saya hari ini hanya sebentar. Bapak-bapak di ruang kantor kemudian ada agenda di Telkom Lembong. Nah lho… tidak ada yang bisa ditanya-tanya lagi untuk hari ini. Bingung kan… Saya pun hanya melanjutkan dengan save as page web untuk mendapat data yang diperlukan. Tapi muncul masalah di sini, flashdisk saya tidak bisa terdetect di computer! Dicoba berulang kali, tetap tidak bisa. Sepertinya computer ini memang diprotect agar tidak ada pengambilan data tanpa izin. Hmm.. tak ada yang bisa ditanyai… gimana nih…

Di balik kebingungan saya yang tak bisa segera menyimpan data penting untuk dianalisis tersebut, ternyata muncullah hikmah. Hikmah yang nantinya cukup menguntungkan. Tidak seperti yang dikatakan oleh pembimbing KP, ternyata bisa buka situs eksternal (di luar web Netre Telkom). Waha… email saya pun bisa difungsikan, data bisa terpindahkan. Dan pemikiran panjang selanjutnya tentunya berkah kalau-kalau di hari-hari mendatang “gabut”, bisa memanfaatkan fasilitas internet tersebut. Walau browser yang tersedia hanya IE (Internet Explorer; entah ni masih diingat sebagai browser atau engga saking tenggelamnya oleh Firefox, Chrome maupun Opera), tahfafa lah…

Khusus hari ini (dan mungkin boleh dicoba di hari lain.. hehe), karena pak Agus masih di Lembong sampai entah jam berapa, saya pun izin pulang lebih dulu. Ashar saya sudah pulang. Hari yang pendek.. Yah, esok hari harus lebih produktif…

**

Berikutnya, Selasa 7 Juni 2011. Hari ini mungkin salah satu yang paling menyenangkan sepanjang 2 bulan KP ntar. Kenapa? karena: AGGER. Ada apa dengan Daniel Agger? Oh, bukan bek Liverpool yang barusan saya transfer di master league PES itu. AGGER di sini adalah AnalyzinG and GivE Recommendation. Terus?

Hmm.. gini, kemarin kan sudah mulai analisis dengan ITMS tuh.. Nah hari ini analisis itu sudah cukup lengkap, dan sudah bisa memberikan rekomendasi. Data tiap sentral sudah didapat, problem-problem masing-masing sentral sudah teridentifikasi, kemudian ditentukan tindakan apa yang mesti dilakukan untuk menjaga ketercapaian trafficability. Di sini saya mendiskusikan hasil analisis saya dengan pembimbing KP. Nah, ntah Pak Pembimbing KP sedang coba-coba (iseng), sedang bercanda, atau memang sudah percaya, analisis newbie saya tadi langsung dibuatkan nota dinas! Langsung disampaikan ke sentral terkait sebagai perintah dinas manajer switching Jawa Barat. Entahlah “nota dinas” tadi beneran atau hanya bercanda, yang jelas itu mengobarkan semangat saya. Syukur kalo analisis awam saya tadi hanya dibaca, nah gimana kalo benar-benar jadi rujukan perbaikan suatu sentral? Mataang… Susaah kan.. Makanya saya bertekad untuk lebih baik lagi (hoho…) menganalisisnya untuk rekomendasi di hari depan. Gabut boleh gabut, tapi hasil kerja ga boleh asal kan ya…

tambahan dikit mengenai kesenangan di hari Selasa ini, saya ditraktir lagi oleh pembimbing KP. Hehe…

**

Setelah tempo yang sempat naik karena “kasus nota dinas” tadi, hari ini, Rabu 8 Juni 2011, tempo turun lagi. Tak lain tak bukan karena para petinggi di ruang kerja (tentunya termasuk pembimbing saya) sedang rapat. Rapat yang cukup lama yang membuat saya sempat mencicil laporan KP dari cover sampai bab 2 (dan tentunya sempat facebookan :P). Tercatat baru menjelang waktu Dhuhur saya bisa memulai diskusi dengan pembimbing KP. Masih tentang rekomendasi perbaikan link sentral seperti kemarin, ditambah pekerjaan untuk bikin konfigurasi data potensi sentral lokal. Untuk itu, saya butuh Microsoft Visio

Tak ada installer di kantor, googling untuk free download juga ga ketemu-ketemu, Kaskus Indowebster tak membantu…

Please give me Visio…

***

[to be continued]

KP-First Day

Liburan semester enam di sini identik dengan Kerja Praktek (KP). Begitu pula dengan saya yang berkesempatan untuk KP di Telkom Bandung. Awalnya sih mau di Telkomsel Jakarta, tapi karena beberapa kendala teknis, maka tidak jadi dan akhirnya di dekat-dekat saja, Telkom Supratman Bandung. Lumayan, malah ga usah cari kos lagi (hanya 10 menit dari kos) dan jatah speedy kosan tetap terjaga. Hehe..

Hari pertama KP Rabu, 1 Juni 2011. Ga tau kenapa dipilih tanggal yang nyempil gitu (FYI, tanggal 2-5 langsung libur lagi). Mungkin karena saya apply untuk bulan Juni-Juli tanpa menyantumkan tanggal (asal 2 bulan utuh saja), eh diapprove Telkom apa adanya, tanggal 1 Juni-31 Juli. Nice yah.. haha

Hari pertama, first impression harus bagus donk.. Saya mengusahakan dengan berpakaian serapi mungkin. Kemeja, celana bahan, sepatu, wah sudah benar-benar sepeti pegawai resmi. Karena saya sudah tau tempat dan ruang KPnya, no problemo untuk datang tepat waktu (jam 8 pas saya sampai di Telkom Supratman). Oya, Telkom Supratman ini merupakan bagian Netre (Network Regional) Jawa Barat. Saya single fighter di bagian STS (Switching Technical Support). Ga milih yang Telkom Pusat Japati, karena selain cerita KP gabut, pingin belajar trafik secara lebih spesifik. Yuph, di sini saya bakal belajar trafik spesifik di regional Jabar saja, dibimbing langsung oleh Pak Agus Fikri, yang notabene manager switching Jawa Barat.

Agenda pertama: kenalan dan merumuskan tujuan KP dulu bersama pembimbing. Oya, Pak Agus Fikri ini manager yang ramah banget. Langsung berasa nyaman, apalagi ruang kantornya emang nyaman sih. Saya dipersilakan mendaftar di web Telkom sebagai peserta KP, dan mempelajari apa yang ada di web netre-jabar.telkom.co.id. Setelah itu langsung deh bicara target. Sebenarnya saya lebih suka kalau hari pertama ya kenalan dan kegiatan informal dulu. Tapi okay lah..namanya juga kerja di tempat orang, ga bisa menentukan sekehendak hati sendiri. Toh, KP saya jadi cukup jelas untuk hari itu. Dan apakah target yang ditetapkan untuk saya? jreng jreng…

Pertama, mengamankan TRAFFICABILITY pada angka 98,5%. Jadi tingkat kesuksesan pelayanan trafik harus minimal di angka itu waktu akhir bulan. Busyet, sekarang saja trafficability masih di angka 98,3%.. Tugas saya berarti menaikkan yah, bukan menjaga.. Tahfafa, namanya juga tantangan. Trus kedua, mengawal MIGRASI TDM ke NGN. Weleh, apa tuh? Pake istilah “mengawal” pula.. Saya juga belum begitu paham sih untuk tugas kedua ini, yang jelas teknologi di Telkom kan sudah mau di-upgrade dari TDM (Time Divison Multiplexing) jadi NGN (New Generation Networks) yang berbasis internet itu. Bagaimana implementasinya, ya ntar dipelajari bersama pembimbing KP.

Sudah jelas targetan yang kudu dicapai, saatnya untuk kerja! Kerja di bagian trafik ini, saya seperti Praktikum Rektraf (teman-teman ET’08 pasti tak asing lagi) tapi dengan jangka waktu yang lebih panjang. Pengolahan data cukup dengan excel seperti biasa, tapi ini datanya banyak banget. Saya harus mencari tahu satu per satu singkatannya dulu apa, terus angka-angka yang tertampil maksudnya gimana, faktor yang mempengaruhi trafficability yang mana saja, dsb. Lebih ribet deh, tapi Pak Agus Fikri terus memberi wejangan agar santai dan dinikmati saja pekerjaannya. Ntar juga tercapai kok targetannya. Amin. Sip, I will enjoy it, Pak.

Jam istirahat siang pun tiba. Saatnya untuk sholat Dhuhur dulu. Masjidnya nyaman. Then, makan siang. Saya sempat mengira bakal tidak mendapat jatah makan siang dari kantor, dan berencana untuk izin pulang dulu saja cari makan siang di luar. Tapi ternyata, di dalam ruang, Pak Agus Fikri memberikan jatah makan siang. Asyik! Nasi ayam goreng taliwang plus ice cream mengobati rasa lapar karena pagi hari cuma sarapan setangkep roti. Selanjutnya saya tetap izin pulang sih, ambil laptop. Begitulah enaknya, jadwal di sini cukup fleksibel. Saya pun diperbolehkan pulang sampai jam 14.. bisa istirahat bentar di kosan…

Saatnya bekerja kembali. Tapi jam setelah makan siang ini jadi agak gabut. Soalnya, pak Agus Fikri dan bapak2 yang dikenalin di awal sebagai rekan kerja saya 2 bulan ini (pak Syamsul, pak Irawan, pak Agus, pak Bernard) baru keluar ruangan. Saya mengutak-atik data excel sendiri ga begitu jelas. Untunglah selepas Ashar, pak Syamsul datang dan saya pun bisa bertanya dan sedikit demi sedikit memahami data trafik tersebut. Oya, dalam mencapai targetan saya bisa mempelajari berbagai tools, utamanya terbagi jadi 2 yakni management office tools dan network management tools. Untuk management office, ada SiPete, Monslip, ITMS, InfraCnR, CDS, dll. Khusus hari ini (dan mungkin selanjutnya) pake SiPete dulu. Ntar bakal mempelajari management office tools yang lain atau engga, data trafiknya bakal (cenderung) sama sih. Untuk network management, ntar bisa belajar AT&T, EWSD dan softswitch.

Well, agenda hari pertama sampai jam 17.00. Harusnya jam 5 sore tepat itu sudah bisa cabut, tapi karena pembimbing saya seorang manager yang workaholic, jadi harus menunggu dulu untuk pamit pulang. Hmm.. tapi lama juga ya.. 30 menit kemudian (jam 17.30) baru saya bisa pamit pulang. Wuih, berasa full banget ya hari pertama ini, sampai jam 17.30! Walau agak gabut sih.. hehe… Yang jelas, hari pertama ini cukup menyenangkan. Semoga begitu untuk hari-hari berikutnya sampai selesai KP dan tuntas semua targetan. Saatnya menikmati liburan dulu selama 4 hari sebelum kerja lagi..

Kembali ke Rutinitas Praktikum

Praktikum telah menjadi “teman” kuliah sejak masa TPB (tahap persiapan bersama). Tapi saat itu masih santai, toh di hari praktikum, hanya itu saja, tak ada kuliah lain. Tugas pendahuluan, test awal, test akhir dan laporan pun relatif tidak ribet. Memasuki tahun kedua, setelah masuk area elektroteknik, intensitas meningkat. Tingkat disiplin dan keribetan pengerjaan tugas mulai terasa, apalagi jadwal praktikum dan deadline laporannya beriringan dengan jadwal kuliah pada hari itu. Mesti pintar-pintar membagi waktu, walau probabilitas mahasiswa “terpaksa” atau “memang mencari” pengalaman bolos satu kuliah untuk mengerjakan laporan praktikum lumayan juga.

Nah, di tahun ketiga, masuk nih yang namanya Praktikum Teknik Telekomunikasi (PTT 1). Praktikum yang bakal benar-benar mengasah skill sebagai telecommunication engineer. Tentulah dituntut meraih hasil semaksimal mungkin agar bisa menguasai teori dan praktik dari apa yang paling kami (mahasiswa jurusan telekomunikasi) cari di ITB. Untuk semester kemarin sih (PTT 1) berjalan cukup lancar. Tapi kondisi yang cukup membuat ribet terjadi di semester 6 ini, untuk PTT 2.

Entah karena alasan apa, jadwal PTT 2 ini baru dirilis setelah UTS 1, alias hanya punya waktu selang sedikit terhadap UAS. Imbasnya, 1 minggu bisa berkali-kali praktikum. Termasuk kelompok saya yang punya jadwal default paling freak (seminggu 4x dan berturut-turut, Senin sampai Kamis). Rutinitas praktikum pun dimulai lagi. Di balik rutinitas itu, ada hal-hal unik yang tercatat, hal yang menjadi umum ketika rutinitas itu melanda. Apakah itu? check this out!

1. Memakai kemeja ke kampus

Sudah bukan rahasia lagi kalau ITB dengan asyiknya memperbolehkan mahasiswa memakai kaos saat kuliah. Tapi untuk praktikum, memakai kemeja adalah suatu keharusan. So, yang biasa terlihat santai jadi terlihat rapi hari itu. Ya disyukuri saja untuk yang cakep, jadi cakep dan rapi saat itu (emang siapa yang cakep?)

2. Tukar jadwal praktikum

Karena jadwal praktikum yang rilis telat sehingga banyak yang bertabrakan dengan jadwal kuliah tertentu, maka banyak yang ingin tukar jadwal. Interaksi antarmahasiswa pun meningkat. Yah, harus berharap banyak pada kesediaan teman yang mau menggantikan, karena terkadang ada yang menolak tukar jadwal dengan alasan ini lah itu lah… Tapi pada dasarnya, tukar jadwal ga sebegitu ribet sih.

3. Lembur melapor

Laporan praktikum normalnya harus sudah terkumpul sehari selepas praktikum. Karena kemampuan analisis dan kelihaian menyampaika report adalah hal terpenting dari seorang engineer, maka mahasiswa pun sebisa mungkin membuat laporan terbaik. Imbasnya, sampai harus lembur karena analisis ya ga semudah membalik telapak tangan. Yah, nikmati saja karena lembur dan melapor memang bukan milik hansip semata.

4. Keluhan 1 SKS

Ya, inilah ketidakadilan yang sedikit banyak terasa dari nilai SKS praktikum di elektroteknik. Dengan urgensi, manfaat dan penggunaan waktu, tidaklah adil dan pas jika praktikum hanya berbobot 1 SKS!! Sederhananya begini, 1 SKS berarti 1 jam kuliah, 1 jam responsi dan 1 jam belajar mandiri. Anggap jam kuliah dan responsi sudah terwakili dalam 2 jam waktu praktik, sedangkan 1 jam belajar mandiri telah tuntas saat mengerjakan tugas pendahuluan dan mempelajari modul. Karena setelah itu masih harus ribet ria dengan laporan, ditempatkan di mana waktu pengerjaan laporan tsb? Yah, ada yang berpendapat seharusnya SKS ditambah, ada yang berpikiran berarti laporan praktikum sudah ga urgent lagi karena sudah di luar 1 SKS. Well, konon inilah ketidakadilan 1 SKS. Keluhan 1 SKS.

5. Surat-surat bertebaran

Oh, jangan dahulu membayangkan ini surat dengan amplop dan perangko yang tercecer bertebaran. Surat yang dimaksud di sini adalah surat elektronik (email) yang bertebaran di dunia maya, baik PM masing-masing mahasiswa atau di grup jejaring sosial. Apa yang diharapkan? Tentu saja jawaban tugas pendahuluan yang bejibun banyaknya dan (kalau bisa) master analisis praktikum. Hehe. Inilah yang memunculkan istilah “bursa transfer telekomunikasi”. Dan semua kan bersorak saat sudah ada post, “cek kulkas gan!”.

6. The Ashr Runner

Pelari di waktu Ashar, karena deadline laporan adalah jam 4 sore. Jadi, kalau ada yang buru-buru menuju lab telematika dan lab radar di jam-jam Ashar, yah kemungkinan besar mereka. Mengejar deadline! Yeah!

Apa lagi ya keunikan-keunikan dalam rutinitas praktikum telekom? Hmm… mungkin masih banyak. Yang jelas rutinitas ini harus dinikmati, dibuat seasyik mungkin.. untuk target semaksimal mungkin…

Come On!

#danmasihterusbelajar

Belajar jadi ahli trafik-2

Setelah ada pengantar mengenai trafik telekomunikasi di tulisan sebelumnya,, kira-kira apa saja ya yang dipelajari di rekayasa trafik?

Nih, ada gambaran dikit, dari soal UTS kemarin beberapa hari kemarin. Bahasa soalnya asyik kok, ga langsung bikin tegang seperti mata kuliah lain,, coba cek seberapa asyik… hoho…

Bantulah suatu operator telekomunikasi (wow, unik kan, prakata soalnya aja pake “bantulah operator telekomunikasi”) yang mempunyai 350.000 pelanggan untuk memperkirakan pendapatan perusahaan dari layanan teleponnya (konkret kan,, seperti sudah menghitung di kehidupan sehari-hari). Tarif rata-rata telepon= Rp 2,5 tiap detik. Calling rate pada 15 menit waktu pengukuran adalah 36.000 call. Maximum busy hour-switching traffic intensity= 2000 erlang.

Gimana hitungnya?

Nah, walaupun ada rumus simple untuk mengerjakan itu, tapi ternyata ga dangkal juga cara ngerjainnya. Harus dicermati dulu antara intensitas dan volume trafik. Kalau hubungannya dengan kapasitas jaringan (jumlah server, buffer, jumlah kanal) maka dipakailah intensitas seperti tercantum dalam soal. Sedangkan bila berhubungan dengan revenue (pendapatan) perusahaan, maka dipakailah volume trafik. Intensitas 2000 erlang dikalikan detik dulu untuk jadi volume trafik. Simple, tapi kalau terkecoh, jawabannya bisa benar-benar berbeda.

Nah, karena yang ditanya dalam soal adalah tentang pendapatan perusahaan, maka yang dibutuhkan adalah volume trafik. Volume trafik pada 1 jam sibuk = 2000 erlang x 60 x 60 detik = 7.200.000 detik. Bisa dicari penghasilan dalam 1 jam sibuk = 7.200.000 detik x Rp 2,5/detik = Rp 18.000.000,00. Wow, 18 juta dalam 1 jam. Nah, berapa penghasilan sebulan atau setahun? Tinggal dikali 30 atau dikali 365-kah? Ternyata tidak. Karena di sini tidak diketahui volume trafik pada jam yang tidak sibuk, jadi tak bisa dihitung total untuk sebulan atau setahun. Perlu data lebih banyak lagi.

Yeah, begitulah sepintas belajar rekayasa trafik telekomunikasi. Terlihat sederhana, tapi bisa mengecoh. Gapapa terkecoh dikit saat belajar, asal ntar waktu kerja udah benar-benar expert. Oya, angka yang dihasilkan juga cukup besar kan… Itu hanya dari telpon dengan sampel waktu dan pelanggan seuprit lho, belum juga dari layanan sms dan internet. Itulah mengapa perusahaan telekomunikasi jaya. And that’s why telecommunication traffic engineering enjoyable.. It’s concrete.. 🙂

Belajar jadi Ahli Trafik yuk..

Semester keenam belajar di kampus Ganesha ini, dapat satu mata kuliah yang asyik dan banyak faedahnya nih.. Oke, sebenarnya banyak mata kuliah yang asyik dan penting sih, tapi mata kuliah ini selalu dinanti oleh para mahasiswa yang mengambilnya. Tak lain tak bukan adalah Rekayasa Trafik Telekomunikasi..

Rekayasa Trafik,, waduh gimana tuh? Hmm.. kesan-kesan awal nan ribet cenderung muncul kalo ada kata “Rekayasa”. Tapi itulah letak kehidupan anak teknik, hal-hal mengenai rekayasa. Dan rekayasa yang dilakukan di sini mengenai trafik, tentu saja bukan trafik lalu lintas (iyalah, emang polisi dan DLLAJ), melainkan trafik telekomunikasi. Walau dalam konteks yang berbeda trafiknya, tapi trafik telekomunikasi (mencakup call dan data) tetap bisa dipahami laiknya trafik lalu lintas. Kalau lancar, berarti kualitasnya bagus, otomatis banyak pengguna yang puas. Sebaliknya jika macet, siap-siap saja dengan gerutu dan komplain. Nah, di rekayasa trafik telekomunikasi, adanya trafik (macet/lancar), gimana kapasitas sistem (gampangnya kalau di lalu lintas, jalannya lebar/sempit, kondisinya bagus/jelek) dan kualitas layanan (oke/bikin bete), dihubungkan dan dibuat gimana caranya biar bisa merencanakan jaringan secara optimal.

Then, mengapa jadi ahli trafik itu penting? Jawabannya, karena ilmu ini dekat/ berhubungan langsung dengan pengguna/pelanggan, dan hubungan itu bukanlah dalam hal teknis tapi dari sisi kepuasan. Nah, tau sendiri kan kalo di era yang sering disebut “globalisasi” (weleh, apaan tuh) ini, makin banyak pengguna telepon seluler dan internet. Makin sibuk tu trafik data dan call. Nah, kalau tidak termanage dengan baik, bisa banyak komplain dari para pelanggan. Ga masalah kalau si pelanggan kalem-kalem aja. Lah kalau pelanggannya galau? Eh, maksudnya kalau pelanggannya kritis? Kalau Anda bekerja di perusahaan telekomunikasi yang kompetisinya sangat ketat, pelanggan tersebut sangat mungkin meninggalkan jasa perusahaan Anda. Profit terancam berkurang kan. Sangat berkurang bahkan kalau pelanggan yang out banyak. Padahal katanya kan 2 orientasi terpenting perusahaan adalah 2 ini: PROFIT UANG dan KEPUASAN PELANGGAN.

Untuk masalah karir, jadi ahli trafik bisa bikin perusahaan Anda cenderung tak memindah-mindah tempat kerja, lho. Misal jago ahli trafik dan daerah analisis Jadebotabek, hampir pasti Anda akan terus menikmati suasana ibukota Jakarta, tidak khawatir pindah tugas ke luar kota, luar provinsi, apalagi luar pulau Jawa. Terlebih emang masih sedikit jumlah ahli trafik di Indonesia. Begitu kata dosen saya.

So, jadi ahli trafik,, kenapa tidak?