Tour “55” Lombok (2)

Tidak mengherankan Lombok acap disebut Pulau Seribu Masjid.. Warganya sangat bersemangat membangun masjid. Sebelum ke Lombok, saya kerap membanggakan kelurahan tempat saya tinggal di mana tiap RT punya masjid besar. Tapi, semenjak tiba, memandang dan berinteraksi dengan Lombok, saya menyadari bahwa kelurahan di KTP saya itu “terkalahkan”. Tiap RT di sana bisa punya 2 masjid besar, dengan letak berdekatan tapi tetap ada jamaah yang memakmurkan. Kalaupun hanya punya satu, masjidnya juga lebih besar dibanding masjid di kampung saya, atau masjid di dekat kosan di Bandung.

Then, kita lanjut lagi meneruskan QS 55.. Baca Selengkapnya

Tour De Jogjakarta-2

Esok harinya (Jogja, 23 Desember 2010)

Bangun subuh. Segera saling membangunkan dan jamaah sholat subuh. Terus seperti sudah diagendakan sebelumnya, bersiap menyaksikan sunrise di pantai. Jam 5 tepat kami berangkat. Sampai di Pantai Depok (kami memilih pantai ini daripada Pantai Parangtritis karena lebih bersih), yang berjarak 10 km dari basecamp, sekitar jam 5.20. Tapi, suasana saat itu sudah cerah! Sebenarnya matahari terbit jam berapa sih? Sejenak kami juga berpikir, kenapa mau lihat matahari terbit di pantai? Tanpa banyak teori, matahari itu terbit dari balik gunung dan tenggelamnya baru di laut. Gimana sih! Anak TK saja tau itu… Nah lho…

Di pantai, kami sudah tidak begitu peduli dengan sunrise. Matahari sudah muncul cukup tinggi, tanda sudah terbit melewati balik gunung. Yaudah, langsung saja bermain air! Eits, tunggu dulu. Anak cowo harus berolahraga dulu: Sepakbola pantai. Di pasir pantai yang berkemiringan beberapa derajat, cukup untuk melatih betis karena ada pemberat alami saat menendang dan menggiring bola.

Capek sepakbola, saatnya pulang! Eh, ga mungkin. Jauh-jauh ke sini cuma mau maen bola. Oke, main2 air dan pasir pantai dulu lah.. Seperti anak kecil. Terkadang memang kita harus memainkan lagi permainan masa kecil. It brings back beautiful memories. Menyenangkan..

Setelah sekitar 2 jam, puas sudah maen di pantai. Saatnya cari sarapan. Di sini makanan yang enak apa ya? Waktu perjalanan balik ke base camp sempat tebersit untuk mampir di Pasar Treteg yang murah meriah itu. Pecel desa nikmatnya tiada tara. Tapi pada akhirnya memilih opsi makanan lezat lainnya: Soto! Soto di desa rasanya sangat nikmat, tak seperti di Bandung yang banyak santan. Sarapan soto.. sedap..

Setelah sarapan, kembal base camp. Leyeh-leyeh (bersantai ria). Kebetulan hujan rintik mulai turun, plan keliling Jogja ditunda dulu. Nah, setelah tidur sementara waktu dan sholat Dhuhur, baru mulai jalan-jalan. Tujuannya: menemui kawan-kawan SMA yang berkuliah di kampus Bulaksumur.

Dari jalan Parangtritis ke Bulaksumur dekat saja, apalagi jalanan Jogja relatif lurus, tidak njlimet, mudah dihafal dan tidak macet. Sampai di kampus itu, ternyata kawan-kawan masih pada kuliah. Inilah ga enaknya kalau jadwal akademik antaruniversitas beda. Saat di kampusku sudah libur lama, di sini baru mulai ujian. Saat mereka mulai liburan, tempatku sudah mulai masuk. Tlisipan.

Yawda, sambil menunggu kawan-kawan selesai kuliah, kami makan di warung yang sangat terkenal di situ. Warung yang sudah ada sejak bapak saya masih studi S1 dan kos dekat sana, yakni SGPC. SeGoPeCel. Seperti namanya, menu spesialnya memang nasi pecel. Nyamm.. benar-benar legendaris.. lezat sekali… Wisata kuliner nih! Dan karena sudah biasa wisata kuliner di Bandung, harga nasi pecel yang cukup mahal untuk ukuran mahasiswa Jogja, terasa terjangkau-terjangkau saja. Efek samping yang positif dari ‘ketersiksaan’ akan mahalnya harga makanan di Bandung.

Selesai makan siang di SGPC, kembali bertemu si tour guide Arab sohib saya itu. Kembali bersama penunjuk jalan yang membingungkan, tapi tetap dalam suasana menyenangkan karena kekocakannya. Memang selalu gayenk (seru) jika bertemu dengannya. Satu lagi teman SMA yang bisa menemui walau hanya sebentar. Setelahnya keliling kampus, mulai dari Lembah Kampus, Lapangan Bola, Gedung Fakultas, Rektorat, Perpustakaan, sampai berakhir di seberang gedung Fakultas Kedokteran. Ah, karena anggota rombongan cukup normal, tidak ada celetukan “Neng, Aa’ ITB..” (apa sih!). Yawda, Tour de Jogja berakhir di sini. Arloji sudah menunjuk jam 5 sore. Saatnya kembali lagi ke Solo tercinta…

Tour De Jogjakarta-1

(Solo-Jogja, 22 Desember 2010)

Angin bertiup kencang mengiringi laju sepeda motor yang kutumpangi. Hambatan udara besar yang selalu kurasakan di jalanan ini, karena begitu nyamannya digunakan untuk melaju kencang. Ya, orang-orang mengenalnya dengan jalan raya Solo-Jogja. Jalan yang menurutku semi tol, maksudnya dapat melaju kencang dengan nyaman, hanya saja ada selingan bangjo (lampu merah). Walaupun kali ini tidak seperti biasanya, aku duduk di belakang membonceng kawanku, tapi aliran udara kencang yang kurasakan masih sama saja.

Motor melaju semakin kencang. Ada 3 motor dalam rombongan kami. Kami, karena aku menuju Jogja bersama 4 orang kawanku plus satu adiknya. Berenam. Akibat miskomunikasi yang terjadi saat antara POM bensin dan beli gethuk Tegalgondo nan lezat, kami tidak lagi berjalan beriringan. Bahkan aku sekarang berada paling belakang, so harus ngebut sekencang-kencangnya.

Dalam hitungan menit (lebih dari 30 menit sih..hehe), kami sudah tiba di depan area Candi Prambanan, perbatasan Klaten dengan Jogja. Checkpoint untuk istirahat makan terlebih dahulu. Malangnya warung yang ingin dituju ternyata tutup, oke dah cari di dekat Kalasan. Nyatanya, tidak ada yang cocok dan rombongan malah kembali tercecer, bahkan saat sudah sampai pertigaan Janti, di saat harus diputuskan mau terus makan-makan dulu ke arah kota Jogja, atau belok kiri menyusuri ring road selatan langsung menuju base camp.

Tampaknya perjalanan berangkat ini memang kami bernasib cukup sial. Tidak bisa beriringan, tak jadi makan siang, bingung arah jalan, dan roda sepeda motor bocor! Well.. mungkin inilah sensasi awal sebuah touring. Ga enak kalau dilalui dengan datar-datar saja. Oya Kawan, asal tahu saja baru pagi tadi aku tiba di Solo dari Bandung, dan siang ini sudah melaju ke Jogja. Hmm…

Basecamp kami ada di sebuah perumahan di jalan Parangtritis, Jogja. Sebelum sampai basecamp, menuntaskan hasrat makan yang tertunda dahulu. Jadilah makan sore di mie ayam dekat simpangan jalan Parangtritis- ring road selatan. Akhirnya perut terisi, dan sekarang waktunya ke base camp.

Yuhu, ternyata makan sore kami ‘ditakdirkan’ untuk langsung dimanfaatkan. Kondisi basecamp yang merupakan rumah milik kawanku ternyata sudah lama tidak dipakai. Kanopinya hancur. Rumah kotor. Dan kami pun harus langsung bekerja bakti. Tak apa. Cukup menyenangkan. Paling tidak ‘bakat’ bersih-bersih yang kurang tersalurkan di kosan (karena malas) jadi ‘terpaksa’ tersalurkan di sini. Haha…

Good job. Rumah sudah cukup bersih! Suatu kenyataan yang patut diberi apresiasi mengingat anggota rombongan semuanya cowo. Hehe.. Bisa mandi dan merebahkan diri dengan nyaman. Badan masih letih, tapi sudah jauh berkurang keletihannya. Agenda menikmati cahaya malam Jogja segera dibuat. Sayang kalau melewatkan gemerlap indah cahaya lembut kota Jogja.

Malam hari di Jogja. Mana yang jadi tujuan pertama? Yah, cukup monoton, seperti kebanyakan orang: MALIOBORO! Ramai sekali di sini. Tapi tak mengganggu kenyamanan berjalan kaki menyusuri jalan paling terkenal di DIY ini. Masuk sejenak di Mall Malioboro tanpa tujuan yang jelas. Naik eskalator sampai lantai empat, terus turun lagi dan keluar. Garing. Kegaringan yang sebenarnya disebabkan kami menunggu sohib kami yang dari wajahnya kelihatan ia dari tempat garing (baca: face Arab/padang pasir..). oke ini jayus.

Sohib kami yang berkuliah di kampus kondang kota gudeg ini akhirnya datang juga. Siip, ada tour guide yang siap memandu keliling kota. Karena dari tadi belum makan malam, so agendanya cari tempat makan yang enak dan kalau bisa murah (jiwa anak kosan) J

Aih, tour guidenya! Ada apakah? Ga beres nih cari tempat makannya. Pertama mau di dekat Taman Pintar, eh bersih pedangang. Katanya sih ada razia. Lalu menuju kampusnya di Bulaksumur, dan lagi-lagi sudah bersih dari pedagang. Akhirnya makan malam di deretan angkringan (ga tau daerah mana, yang jelas dekat sungai, cukup ramai tempatnya). Alih-alih sedikit menjajakan kawannya ini, sohibku itu malah bilang, “Ati-ati, biasanya di sini BANYAK BANCI!!”.. What the….

Pulang dari makan malam, sampai di base camp sekitar jam 23.00. Langsung deh pada tepar semua. Selain karena capek, ada targetan besok bisa menyaksikan keindahan sunrise di Pantai Depok atau Pantai Parangtritis. So, segera tidur!

Tour de Purwakarta-1 : The Trip

Sabtu, 30 Oktober 2010

Setelah menjalani UTS yang penat selama dua minggu, badan ini sudah seharusnya di-refresh. Banyak sih cara untuk refreshing. Salah satunya yang ditawarkan oleh prodi saya, yakni: mengerjakan Tugas Pendahuluan Praktikum Siskom 1 & 2, deadline Senin 1 November jam 11.15. Nah lho.. refreshing ga tuh? Ya engga lah…

Mengerjakan TP merupakan kewajiban, tapi sayangnya kurang bisa dinikmati sebagai ajang refreshing, justru terasa menambah beban tuh. Fortunately, ada teman seprodi yang telah merancang ajang refreshing yang menyenangkan (yang alhamdulillah plan itu bukan ‘iktikaf lembur ngerjain TP’.. haha) yakni Tour de Purwakarta. Rencana berangkat ba’da dhuhur ini, menyusuri jalanan Lembang menuju kabupaten Purwakarta dan untuk sesaat ‘berhedon’ di sana melupakan TP. Sounds interesting?

Ba’da dhuhur pun tiba. Kami pun bersiap berangkat. Kami? Ya, ada 6 orang yang ikut Tour de Purwakarta ini. Saya, Sandy, Aul, Ihsan, Irsyad dan Eca. Sebenarnya cukup banyak lagi yang tertarik untuk ikut, tetapi sebagian (anehnya) lebih memilih TP sebagai media refreshing dan sebagian pulang kampung. Hmm.. berangkat sekarang? Nanti dulu. Sementara perjalanan tertunda karena hujan turun dengan derasnya, dan kami pun makan siang dulu di Kabita Gelap Nyawang.Selesai makan, siap untuk berangkat. 3 motor, 6 orang dalam rombongan. Gerbang SR menjadi tempat start, tapi karena Sandy pulang dulu mengambil teropong di kosan, tempat startnya jadi POM bensin Cipaganti. Oke, berangkat.

Jalanan Setiabudi mulai dilalui dalam kondisi hujan walau tidak deras lagi. Naik lagi sampai depan Terminal Ledeng dan berhenti sejenak karena Sandy sang tuan rumah (yang asli Purwakarta, jadi yang tahu jalan) ironisnya malah berada paling belakang. Halah, kalimatnya sedikit lebay. Setelah pertigaan Sersan Bajuri ini baru Sandy ‘diberi kesempatan’ untuk melaju paling depan. Yaeyalah yang tau jalan…

Lembang dengan segala keindahan panoramanya terlalui. Semakin naek, kabut mulai terlihat dan semakin lama di kiri dan kanan jalan yang terlihat hanya kabut. Ya, hujan plus kabut, begitulah kondisi Lembang-Ciater saat itu. Dan karena dinginnya, berhenti sejenak di masjid nan indah (Masjid Assada’ah) Ciater. Bukan untuk sholat karena belum masuk waktu Ashar, melainkan untuk ke kamar mandi. Hiirr.. dinginnya… bikin kebelet… Dan ini masih sepertiga jarak perjalanan…

Perjalanan lanjut lagi, kali ini kabut sudah mereda sehingga pemandangan kebun teh antara Ciater-Subang terlihat dengan indahnya. Pemandangan hijau permai selalu memberi aura kesejukan. Dan setelah ada pertigaan, ambil kiri ke Purwakarta. Pemandangan kebun teh berganti dengan persawahan. Jalanan yang halus pun berganti dengan jalan bergelombang. Jalan berkelak-kelok, dinikmati saja. Sampai pada suatu ketika (halah!) di kanan-kiri jalan yang kami lewati ada perkebunan kelapa sawit. Pertamax saya melihat perkebunan kelapa sawit di pulau Jawa. Lalu sekian waktu kemudian ada danau kecil Situ Wanayasa. Hmm.. perjalanan yang menarik…

Dan bagian paling menyenangkan dari perjalanan Bandung-Purwakarta ini adalah saat kami berhenti di sebuah tempat makan untuk mencicipi makanan khas Purwakarta: Sate Maranggi. Maknyuss.. Tempat makan apik, ada pemancingan, dan suasananya sejuk karena dekat dengan sawah. Sambil menunggu sate datang, kami memulai sesi narsis ria yang pertama. Camera.. action!!

Sate maranggi plus kelapa muda sudah tersaji. Saatnya makan! Pedas, lezat, semriwing.. begitulah sate maranggi. Enak tenan.. Dan lebih enak lagi karena semua yang tersedia ini dibayari oleh Sandy sang tuan rumah. Makasih banyak, San..

Makan sudah, sekarang sholat ashar dulu. Di situ juga, sholat bersahabat dengan alam. Baru perjalanan dilanjutkan. Sekitar 30 menit menuju Purwakarta bagian kotanya.. Kondisi badan sudah fresh lagi karena sate maranggi. Lanjut….

(to be continued)