Arsip Tag: transportasi

Menikmati Kereta di Belanda 1 : Sepur

Di negeri Indonesia tercinta, sebagai negara yang sempat terjajah 350 tahun oleh Belanda, cukup wajar jika ada beberapa (atau banyak?) kata yang diserap dari bahasa Belanda. Lucunya, nyadar atau kagak, kata-kata serapan tersebut sering diadaptasi sesuai lidah lokal.. Ambil contoh kata ini deh…

“Atreet.. atreet..”

Kata andalan para kenek yang sering kita dengar di terminal. Dari kata apakah itu? Achteruit! Bahasa Belanda yang berarti “mundur/ke belakang”. Inget terminal jadi inget pantura, inget pantura jadi inget goyang oplosan (dari mana konklusi ini ya? ahaha). Oplosan pun berasal dari kata Belanda oplossen yang artinya “campuran”.

Well, dari kata-kata aseli Belanda itu, ada dua kata yang slenco karena lidah orang Jawa. Keduanya berkaitan dengan moda transportasi. Apa itu? Pertama, pit. Sepeda dalam bahasa Jawa yang diambil dari kata fiets. Cerita tentang sepeda sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya. Kalo yang kedua? Tak lain sesuai judul, sepur. Lidah jawa yang seenaknya mengucap kata belanda Spoor! Padahal.. artinya beda -_-

**

Moving on is easier said that done

Gagal move on. Itulah relationship antara saya dan sepur (cem ga ada relation yang lebih bagus aja, cah bagus). Semua terjadi jauh sebelum negara api menyerang. Di tanah kelahiran saya, di sebuah desa nan permai di pulau Jawa, “sepur” itu adalah kereta api. Itu diamini oleh semua orang Jawa lainnya loh, “sepur” itu ya.. kereta api.

Nah setibanya di sini, Belanda, spoor itu entah kenapa (udah jelas-jelas sih) mengacu pada jalur (track / platformnya), bukannya sang kereta. Misal kita mau pergi dari Leiden ke Den Haag, silakan menuju spoor 8 (jalur nomor delapan). Itu gampang dimengerti, tapi in my mind ga bisa diterima. Ga bisa gitu coy. Tetap saja itu artinya “naik kereta nomor delapan”. Pokoknya, sepur = kereta, titik. *jawa garis keras* 😀

Okey, kayaknya udah kepanjangan bahas relationship saya (enek kaaan..). Yuk, kita lihat satu per satu beragam sepur (kereta api) di Belanda 😉 Baca Selengkapnya

Paris Trip : Keliling Paris dengan Metro

Nasi sudah menjadi bubur. Karena bubur udah ga bisa jadi nasi lagi, yaudahlah tinggal ditaburin ayam, daun bawang dan bawang goreng. Nyam, nikmat tiada tara.

Duh, kenapa jadi bubur ayam (?)

Yuph, walau paragraf di atas terkesan menggambarkan diri saya yang kangen kuliner Indonesia, tapi intinya bukan itu. Tapi sebaris kiasan yang penuh hikmah (cieh, hikmah dari mananya). Maksudnya, sesuatu yang sudah telanjur terjadi dan ga bisa diulang lagi, yaudah ga usah disesali, tinggal cari cara untuk menikmati aja 😉

**

Well, ceritanya dimulai dari sini :

Saya yang baru tiba di Paris via Eurolines, sok aksi nanya petugas metro dengan bahasa Prancis yang ala kadarnya (maklum, dulu les ga tamat, sekarang udah lupa pula -_-). Sepatah dua patah kata masih terucap untuk menghormati negara yang ga suka ngomong English ini, meski setelah itu tetep terpaksa bilang “Vous parlez Anglais?” (lah! podo bae). Setidaknya, tiket metro sudah di tangan. Tinggal naek metro menuju ke penginapan, lalu istirahat dengan pulas deh setelah pegel 8 jam perjalanan Amsterdam-Paris.

Nah, di sinilah nasi berubah menjadi bubur. Karena terlalu antusias (sok-sokan) ngomong Francais lagi, saya lupa kalau yang dibeli barusan itu tiket harian!

Apa yang salah dengan tiket harian?

Hmmm… Matahari sudah terbenam. Saat itu sudah hampir jam 18 (tinggal tersisa 6 jam tiketnya, itu juga kalau mau nekat jalan sampe jam 24). Habis perjalanan 8 jam yang tentu butuh istirahat. Plus sedang malam natal, which means banyak toko akan tutup lebih awal dari jadwal normal. Jelas, ide nan “brilian” untuk membeli tiket harian di saat butuhnya cuma tiket one-way (single use).

Opsi Tiket Metro Paris

Ada beragam pilihan untuk membeli tiket Metro Paris, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan jadwal jalan-jalan. Secara lebih detail, teman-teman bisa buka link metro berikut. Tapi kalau mau ringkas, saya coba runut untuk jadi pertimbangan mana yang cocok :

  • Single Use

Pas untuk traveller yang tiba di Paris saat malam tiba dan kurang bijak untuk melakukan perjalanan lain selain menuju penginapan. Atau untuk mencapai site kepulangan (bandara/stasiun/terminal) pagi hari dari tempat akomodasi.

Harga tiket sebesar €1.70. Bisa jadi lebih murah jika beli 10 sekaligus (jatuhnya jadi €1.37 per tiket, tapi kayaknya untuk opsi ini ga sampai butuh 10 sih)

  • Mobilis / Day Ticket

IMHO, Most recommended option for travellers.  Dengan tiket jenis ini, kita bisa naik metro sepuasnya sepanjang hari, termasuk untuk naik funiculaire (cable car) di Montmartre. Jadi bisa explore Paris dari pagi sampai malam, yeay 🙂

Ada keuntungan lain khusus hari Sabtu dan Minggu, atau hari libur cem Maulid Nabi Hari Raya Imlek Hari Natal kemarin. Harga yang normalnya €6.80 (weekday) turun jadi hanya €3.75! Dengan korting segitu, keribetan kecil berupa tiap hari mesti beli tiket (ga ribet juga sih) ga berasa deh.. Hehe.. Baca Selengkapnya

Saya dan Kereta Api

Ketika memulai tulisan ini, sebenarnya saya ingin mengulas “Transformasi Kereta Api” mulai 1 Oktober 2011 kemarin. Tapi di tengah menulis, tiba-tiba saya terpikir membuat semacam prolog dulu. Mengenai kesan mendalam saya akan kereta api.

Slow aja ya ceritanya.. Alasan mengapa saya tertarik untuk menulis tentang kereta api..

Masa Kecil Saya dan Kereta Api

Saat saya masih kecil, mungkin hanya 3 alat transportasi yang cocok dengan saya: sepeda, sepeda motor dan kereta api.

Dua alat transportasi yang disebut lebih awal, pastinya lah ya karena normalnya itu yang biasa kita naiki. Bisa bercengkerama dengan angin, bisa nyelip-nyelip bebas, simpel, fleksibel, minim polusi dan tentunya ekonomis. Pokoknya semua yang ada di rumah saya anggap sebagai barang-barang terbaik. Pada akhirnya sih saya juga suka kendaraan roda empat, tapi hanya berlaku untuk mobil. Bus, sungguh saya membencinya. Sumber ‘keonaran’. Memaksaku menghirup asap kotor polusinya saat lewat jalan raya, serta suka berhenti mendadak tanpa sopan santun. Apalagi waktu itu saya kan hampir selalu mabuk jika naik bus. Hoho.. Pandangan saya terhadap bus mulai netral saat SMP, saat saya sudah ga mabukan lagi kalau naik bus. Tapi tetap saja sampai saat ini saya ga begitu suka (bukan berarti anti) naek bus.

Nah, untuk kereta api: saya selalu menyukai dentuman suaranya dan prototype besinya nan gagah, plus gara-gara lokomotif tunggal nan lucu ini:

Loko jadul yang jalannya lambat sehingga saya menyebutnya “unul-unul”. Emang asyik waktu berhenti karena palang kereta api ditutup, dan yang lewat ternyata si “unul-unul” ini. Hahaha.. Saya juga menikmati di kala balita, kereta api sudah mengantar saya ke Jakarta untuk acara nikahan om saya, serta mengantar ke Wonogiri untuk piknik TK. Menyenangkan. Lanjut waktu SD, saat Mushofi kecil mulai terlihat ketampanan dan keisengannya (hehe), rel kereta menjadi arena bermain yang asyik. Tentu bukan maen lari-lari atau petak umpet di rel (mau mati muda apa), melainkan “membuat pedang”. Bawa paku, letakkan di rel, tunggu kereta api lewat dan melindas paku itu, dan jadilah pedang mini. Keren!

Kereta Api dan Kisah Persahabatan

Singkatnya, saya sudah jadi ABG (Anak Baik n Ganteng…eh), sudah memasuki dunia putih abu-abu (SMA). Dunia yang saya akui sangat indah mengasyikkan. Saya masuk di SMA nomor wahid di Solo, saat persahabatan hebat dan mimpi-mimpi gila itu mulai terangkai. Salah satu kisah yang saya ingat waktu itu berhubungan pula dengan kereta api.

Awal kelas 1 SMA, pada hari Minggu. Biasanya sih naik delman istimewa ikut ayah ke kota, tapi tidak dengan Minggu itu. Tanpa direncanakan sebelumnya, di pagi hari kami kepikiran dolan ke Jogja coba naik kereta api Prambanan Ekspress (Prameks). Tapi namanya juga persahabatan, yah take it easy, apa yang terlintas langsung dijalani pun oke-oke aja. Maka tanpa persiapan kami langsung saja ke Stasiun Balapan, stasiun utama kota Solo.

Di stasiun inilah, untuk pertama kalinya aku melihat dia. Ia masih menunduk sekian detik, saat kemudian menghadap depan lagi dan tersenyum. Kami bertatapan. Daun di belakang stasiun berguguran menyambutnya berkata,

“Pesan tiket kereta apa, mas?”

Oh iya, aku belum bilang mau pesan tiket Prameks tadi. Maklum pertama kali beli tiket di stasiun. Semuanya jadi serba pertama, termasuk berurusan dengan penjaga loket tadi.

Then, saya masuk peron dan menunggu datangnya kereta api. Konon, kereta Prameks selalu penuh. Banyak sekali kuantitas orang yang bepergian Solo-Jogja, dua kota induk budaya Jawa ini. Jadi harus menyiapkan langkah seribu untuk menyerbu masuk dan mendapatkan tempat duduk nyaman di dalam kereta. Kami pun bersiap. Peregangan dan pemanasan sudah dilakukan (lebay). Dan kereta pun datang. Serbu! Semangat 45 kami masuk berdesak-desakan dengan banyaknya penumpang yang lain. Deretan kursi sebelah kiri sudah penuh, langsung menoleh ke kanan. Kondisi acak-acakan ini hanya berlangsung 1 menit. Setelahnya penumpang sudah menempati nasib posisinya masing-masing dengan tertib. Suasana tenang dan kereta mulai berjalan.

Kami mulai menyamankan diri di posisi duduk. Di manakah posisi kami? Di tengah-tengah. Lah? Iya, kami tak dapat tempat duduk. Deretan kiri dan kanan penuh dalam waktu sangat instan. Yawda lah ya, duduk di tengah aja. Tanpa alas tak masalah. Dan mulai dengan cueknya kami maen tebak-tebakan dan sompyo di saat orang-orang yang berdiri masih dipenuhi kekecewaan ga dapat tempat duduk. Di sini saya belajar lagi tentang persahabatan, mau menjalani di tempat nongkrong yang nyaman atau di tempat penuh hiruk pikuk seperti ini, tetap saja mengasyikkan.

Kereta Api dan Tanah Rantau

Masa SMA berlalu dan Allah SWT memberi saya kesempatan menuntut ilmu di tanah rantau. Tepatnya di Kota Bandung. Kesempatan merantau inilah yang membuat saya menjadi biasa naik kereta api. Dimulai dengan malam keberangkatan menuju Bandung dengan kereta Lodaya Malam Solo-Bandung bersama teman-teman seperjuangan yang sekarang tergabung dalam Widyakelana.

Rasanya baru kemarin saya merasakan antusiasme yang begitu tinggi menuju petualangan baru di tanah rantau. Rasanya baru kemarin ibu dan ayah saya melepas dengan doa restu dan harapan yang begitu besar. Dan tak terasa sudah 3 tahun lebih saya berangkat dan mudik berkereta api. Lodaya dan Malabar Ekspress seolah sudah jadi teman sendiri.

Tentu banyak asam garam yang sudah saya nikmati selama berkereta api. Kereta sudah menjadi tempat refleksi diri untuk saya. Refleksi apa yang sudah saya lakukan selama di Bandung saat perjalanan mudik ke Solo. Juga refleksi karena saya pernah kehilangan barang berharga dan kepercayaan saat di kereta ini, bahwa kita harus senantiasa waspada dan jaga diri. Terlebih saat saya pulang tanpa membawa prestasi, deru roda besi kereta api seakan jadi musik sendu yang mengiringi. Sebaliknya, deru itu pula yang mengiringi semangat meletup-letup saat balik lagi ke tanah rantau. Semangat untuk jadi lebih baik.

Mungkin masih akan ada banyak waktu lagi saya berkereta api.

Masih ada lagi momen di mana deru untuk jadi lebih baik itu beriringan, SAYA dan KERETA API…

Hey, Ibukota! (2)

Sudah bukan rahasia lagi kalau transportasi massal menjadi salah satu agenda utama Ibukota Jakarta. Sebagai kota metropolitan terbesar dan terpadat seantero Asia Tenggara, bukan pekerjaan yang mudah untuk mengatasi kesemrawutan di dalamnya. Proyek yang secara kajian dapat mengatasi, atau paling tidak menekan, masalah transportasi ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Termakan kompleksitas masalah dan menghadirkan gerutuan yang paling sering terdengar, “Sial! Macet!”

Saat mulai berpikir tentang itu, saya baru menikmati transportasi massa paling spesial di Ibukota, busway namanya. Kenapa spesial? ya, untuk melaju saja ada jalur tersendirinya. Bisa jalan lancar di jalur lengang sambil melambaikan tangan pada mobil-mobil jalur sebelah yang sedang mengutuki kemacetan. Terlebih saat itu saya cukup nyaman di dalam busway. Bisa duduk, tidak padat penumpang, dan AC yang menyala sungguh terasa menepiskan gerah udara Ibukota.

Saya menikmati dari dalam busway trafik metro-ethernet..eh, bukan, itu mah waktu KP… trafik metropolitan Jakarta. Sejenak saya melihat mobil dengan plat berhuruf belakang 3 (B xxxx ACE). Hmm.. sudah sebegitu banyaknya ya jumlah kendaraan roda empat, sampai huruf belakang ada 3 (normal 2 kan ya?). Dan saya yakin itu (dari 2 huruf di belakang jadi 3 huruf) sudah mulai diberlakukan beberapa tahun lalu. Tak terbayang berapa jumlah kendaraan di Jakarta sekarang. Hmm.. pada nyaman apa? Bukankah cenderung kena macet terus? Nih, saya di sini, naik transportasi massal, bisa duduk leha-leha dengan enaknya. Hidup transportasi massal!

Hari berganti

Dan ternyata semua pikiran saya tentang “kemenangan mutlak” transportasi publik dengan cepat menurun. Pagi itu saya berdiri berdempet-dempetan penuh sesak di dalam busway. Harus berpegang erat untuk menahan getaran dalam bus yang cukup kencang. Di sisi lain, entah karena saya masih merasa asing, ada mata-mata yang saya rasa mencurigakan. Dan sebentar sebentar saya harus mengecek keberadaan handphone dan dompet saya. Oke, mungkin tingkah saya agak lebay. Tapi realita Ibukota yang begitu keras, cenderung memunculkan banyak pula kriminalitas. Dan di area transportasi publik, saat penuh sesak berdesakan gini, kesempatan untuk para kriminal itu semakin besar.

Saya pun melihat barisan mobil pribadi yang terkena macet. Mereka, it’s okay terkena macet. Tapi soal keamanan dan kenyamanan, para pemakai mobil pribadi “menang”. Toh saat terjebak macet, mereka masih sempat menikmati AC, update status di jejaring sosial, atau bahkan nonton TV dulu. Harga mahal sebuah kenyamanan toh bisa bebas mereka beli, uang mengalir sangat kencang di metropolitan ini. Plus tidak adanya kebijakan untuk kendaraan pribadi berupa pembatasan jumlah atau penetapan pajak tinggi, membuat tau sendiri betapa banyaknya kendaraan yang menjejali Ibukota ini. Kalau saya memposisikan diri sebagai pemilik kendaraan pribadi, saya juga akan bilang “Gimana lagi, busway penuh sesak dan mungkin kecopetan di sana. Turun di halte juga belum tentu dekat kantor. Sebenarnya yang bikin macet bukan gw kok, tuh angkutan umum cem angkot, kopaja, metromini yang berhenti seenaknya…”

Nah lho… Kompleksitas itu pun semakin menjadi.