Arsip Tag: travel

Niat ke Lake Como, Nyasar di Bergamo

Nyasar di tempat yang baru pertama kali dikunjungi adalah hal yang wajar. Berkesan bahkan. Hanya saja alasan di balik nyasarnya ini yang seringkali bikin kesel. Agenda yang udah direncanain bisa geser gara-gara tingkah konyol yang berujung pada ketersesatan. Di cerita ini, saya bakal cerita pengalaman unik nyasar di negeri orang. Lebih tepatnya waktu jalan-jalan di Italia. Gimana tuh nyasarnya?

**

Milano Centrale, 14.00 waktu setempat

Touchdown juga di stasiun utama kota Milan, selepas puas dari stadion San Siro, markas besar klub bola kebanggaan saya, AC Milan. Saking asyiknya menjelajahi stadion impian yang perjuangan ke sananya butuh seperempat abad usaha itu (wkwk lebaaay.. cem begitu lahir ceprot udah jadi Milanisti aja), saya sampai lupa kalau melewatkan jam makan siang dan jadwal ke Lake Como.

Jalan-jalan sendiri bikin jadwal jelas lebih fleksibel sih, tapi kondisi winter (matahari sebelum jam 5 sore udah tenggelam) membuat saya harusnya cukup strict dengan agenda. Biasaa banci foto hasil jepretan kamera bakal menurun drastis kalau udah temaram ga ada matahari. Lake Como sendiri saya agendakan karena tempting dengan taglinenya sebagai danau terindah di Italia, tempat refreshingnya pesohor cem George Clooney, Madonna, Ronaldinho dan Richard Branson, serta penampakannya di google yang seperti ini (gambar dicomot dari findyouritaly.com):

lake como

Menarik sekali bukan?

Liat sejenak jadwal keberangkatan kereta ke Lake Como. Di board terpampang: 14.10.

Beuh 10 menit lagi. Di saat bersamaan kriuk kriuk, perut meronta minta diisi karena dari pagi belum makan. Duh gimana nii.. Kalau makan dulu dan mesti nunggu jadwal kereta selanjutnya, bisa-bisa sampai Lake Como udah gelap ntar. Tapi kalau engga makan dulu, laper. Hmmmm..

Menit 1-2. Berkutat dengan hmmm

Menit 3-6. Ah lama! Impulsif langsung beli tiket dari vending machine. Saking buru-burunya bahkan tanpa mengubah bahasa dari Itali ke Inggris. Emang bisa? Yah, balada orang kepepet tiba-tiba jadi bisaa.. wkwk..

Menit 7-8. Lari menuju gerbang masuk peron, cek tiket sama petugas gerbang

Menit 9. Eh! keretanya di peron mana tadi? Liat di tiket. Aih, kereta regional ga ada tulisan peron. Inget tadi di board jam 14.10, ga pake lama langsung lari ke nomer peron yang terjadwal 14.10. Kalau bentuk keretanya bukan streamline khas kereta cepat antarkota, berarti udah bener.

Menit 10. Masuk kereta tepat sebelum jalan! Yeay! Hahaha *tawa penuh kemenangan*

Jukijakijukijakijuk.. Kereta berangkat…

**

Di dalam sebuah kereta regional. 14.45 waktu setempat

Tiga menit lagi sebelum sampai di Como San Giovanni, stasiun tujuan untuk ke Lake Como. Tapi ada yang aneh di sini. Hmm.. kok dari tadi belum ada tanda-tanda ada danau ya? Waduk Gajahmungkur di Wonogiri aja dari jauh udah keliatan, masa ini danau terbesar ketiga di Itali ga keliatan dari jauh?

Refleks segera aktifkan GPS untuk cek lokasi. Belum sempat berpikir lebih jauh, kereta sudah mulai menurunkan lajunya. GPS udah berhasil mendeteksi lokasi, papan stasiun sudah terlihat, dan jam menunjuk on time 14.48 saat saya menyadari bahwa posisi saya saat itu ternyata di..

BERGAMO!

For those who wonder:

milano bergamo

Jadi hampir satu jam lamanya saya sudah berada di kereta yang salah! Salah arah ga kira-kira. Warbyasa -__-

**

Bergamo, 15.00

bergamo

Apa yang teman-teman lakukan kalau sedang seorang diri nyasar di tempat antah berantah?

Common sense pertama adalah jangan panik. Stay cool. Yang kedua, ya udah sih ditinggal makan aja, ga usah dipikirin. Lha wong emang lapaar. Ingatlah kata orang bijak: Kalau lapar, makan! Perut dibiarin kosong jadi nyasar kaan.. hehe. Ketiga, rada bunglon. Sok cool sama orang sekitar (jangan keliatan seperti orang bingung dan panik, diincer pencopet ntar), tapi berlagak naif kalau sama petugas (misal tadi sampai dicek kondektur kereta, bilang aja waah salah kereta ya pak, baru tau, mohon maklum dong saya turis *pasang muka melas biar ga didenda*). Wkwk..

Setelah perut terisi, fisik sudah pulang. Saatnya untuk pulang lagi ke Milan. Di sinilah sisi impulsif saya kembali mengusik. Ga kapok udah nyasar, belum sampai Milan saya impulsif lagi turun dari kereta di stasiun Monza. Masi kepikiran Lake Comooo..  Hmm tanpa tahu sebelumnya ada engga kereta dari stasiun ini ke Lake Como dari Monza 😀

**

Lake Como, 17.10

lake como

DSCN4097

Ternyata kalau udah punya tujuan, saya akan tetap ke sana. Walau harus dengan nyasar dulu. Hehe. Salaaam dari Lake Como dalam temaram 🙂

 

Iklan

Jalan jalan San Marino

Bercerita jalan-jalan lagiii.. Hidup udah sepaneng (kaku/bosan dalam bahasa Jawa -red) nih berkutat sama tesis mulu. So, kita lanjutkan saja ya cerita jalan-jalan solo travelling tiga negara yang sempat tertunda.

Negara yang saya kunjungi kali ini adalah San Marino, sebuah negara mungil yang luas wilayah dan jumlah penduduknya ga lebih banyak dari kecamatan di kota Bandung (dengan luas hanya 61 km2 dan penduduk 30ribuan, negara ini termini ketiga di Eropa dan kelima di dunia). Saking mininya, konon jumlah kendaraan di sini lebih banyak dibanding populasi manusianya. Hehe..

Untuk mencapai San Marino, kita mesti menuju kota Rimini (baru denger kota kecil di pinggiran Italia ini? toss samaa!) secara negara ini ga punya bandara dan stasiun. Jalur jalan raya menjadi opsi satu-satunya, antara ditempuh dengan mobil (buat yang punya, atau yang mampu sewa), vespa (aih kendaraan khas Itali satu ini! kembali buat yang mampu sewa), atau duduk anteng di dalam bus (jelas opsi yang diambil oleh mahasiswa gemar menabung kantong cekak cem saya.. wkwk).

Bus Rimini-San Marino

Halte bus menuju San Marino terletak pas di sebarang stasiun kereta Rimini. Haltenya ga catchy sama sekali, cuma papan doang yang ga keliatan dari jauh. Yang bisa jadi patokan: kalau kita keluar lewat pintu utama stasiun Rimini dan menjumpai Burger King di seberang, berarti udah di arah yang benar. Tinggal tunggu saja menjelang jam berangkat karena selain halte yang gitu doang, kota Rimini yang supersepi (sesepi hatiku yang jalan2 seorang diri #gubrak), tiket juga bisa dibelinya langsung ke pak sopir bus. Lima euro untuk one way. Pastikan tidak ketinggalan bus, karena frekuensi transport yang cukup jarang di sini (1 jam sekali – cek jadwal di sini). Bisa mati gaya ntaar kalo ketinggalan transport..

san marino bus

Perjalanan Rimini ke San Marino ditempuh dalam 30 menit saja. Oya, negara kecil San Marino ini terletak di atas gunung (Mount Titano) jadi pemandangan selalu perjalanan lumayaan, apalagi saat dari jauh mulai tampak tower-tower  San Marino yang diselimuti kabut. Misty mountain feel!

Porta San Francesco – Palazzo Publico

Turun dari pemberhentian bus, kita bisa naik lift atau tangga menuju gerbang kota tua San Marino, Porta San Francesco. Sebenarnya ada juga pilihan mengakses sini dengan kereta gantung (funivia), tapi males mesti turun bus di tengah perjalanan dan nunggu giliran naik udaah bilang aja males ngeluarin duit lagi. Selepas Porta San Francesco, mulailah kita naik-naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali… Hehe, lokasi objek wisata San Marino yang berada di atas bukit memang mengharuskan kita menyusuri jalanan menanjak. Tapi no worries, emang pada dasarnya saya lumayan suka trekking. Buat yang agak males dengan tanjakan, ya ga perlu buru-buru karena di sini kiri kanan sepanjang jalan berjejer toko yang tax free (yang hobi shopping), toko pizza yang menggoda selera (yang doyan kuliner), atau ya dikit-dikit ambil foto yang instagrammable (yang demen foto). Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Palazzo Publico, plaza utama tempat orang San Marino kumpul untuk upacara kenegaraan.

porta san francesco

palazzo publico

Ini nampilin fotonya kok berasa sok-sokan ke sana pakai mobil mewah yaa.. wkwk

The Three Towers 

Nah objek wisata utama yang juga jadi simbol di bendera San Marino adalah tiga tower utama: Guaita (tower tertua dan paling dikenal), Cesta de la Fratta (tower tertinggi) dan Montale (tower terkecil)

Untuk masuk tower Guaita, sang tower utama, kita perlu bayar 4.5 euro. Harga yang sama untuk tower kedua (atau ada paket combo ya? lupa deh, ga masuk tower kedua soalnya). Dari atas tower kita bisa melihat pemandangan  negara San Marino dari ketinggian. Walau ga keliatan jelas karena kabut di mana-mana. Kayaknya dua kata: “tower” dan “kabut” itu merangkum banget deh tentang negara ini. Walau untuk kata yang kedua agak debatable sih karena saya ke sana waktu winter. Musim panas mungkin bakal terang benderang dan foto tower yang didapat pun lebih caem *foto tower berkabut suasana misty mountain juga bagus ding (menghibur dirii) 😀

Guaita Fortress

Guaita

Cesta de la Fratta

della frata

Montale

montale

Asik lho, teman-teman, menyusuri jalanan antar tiga tower itu. Guaita dan de la Fratta dapat disusuri dalam jalan berundak dengan jurang menganga di sebelah kiri, sambil menikmati dinginnya kabut. Sedangkan antara de la Fratta dan Montale jalan setapaknya berasa di dalam hutan. Ga banyak yang jalan ke Montale karena memang tower ketiga ini satu-satunya yang ga dibuka untuk publik. Untung saja saya tidak melewatkan trekking ke Montale karena suasana sejuk jalanannya yang mendamaikan hati (auwah) plus hadiah kecil ujung jalan, kebetulan sekali tower mungil itu kena sorot matahari, dapet juga foto yang backgroundnya langit biru. Hehe…

Perjalanan berikutnya dihabiskan dengan turun anak tangga menuju tempat mangkal bus. Berasa cukup singkat kunjungan kali ini mengingat bus hanya ada sampai sore dan saya mesti melanjutkan perjalanan ke kota air Venezia. Cerita di kota nan cantik itu sudah saya tulis di postingan sebelumnya. Monggo kalau mau baca..

Sampai jumpa di cerita selanjutnyaa… 🙂

 

 

 

Keliling Belanda dengan Dagkaart : Belanda Selatan

Di postingan sebelumnya, kita udah kenalan dengan yang namanya Dagkaart. Nah, tulisan ini akan membahas opsi kota-kota yang bisa di-explore dengan Dagkaart.

Pertanyaan pertama, bisa ga sih keliling dari ujung ke ujung muterin Belanda selama satu hari? Secara teoritis hitungan awam sih, itu peluangnya sangat minim bisa terjadi. Kenapa?

  • Belanda itu kecil-kecil tapi pemandangannya biasa-biasa aja. Lah! Alasan macam apa ini. Ahaha, sesekali mainstream “merendah untuk meninggi” (cuh. ampuun). Mending bro, sis, dicek aja link kenapa Belanda is the worst place on earth
  • Bisa keliling Belanda seharian hanya bisa dicapai dengan perencanaan yang presisi (tanpa ada acara telat bangun, ketinggalan kereta atau perbaikan jalur) dan hanya mengunjungi stasiun doang.
  • Menyambung poin kedua: Kalau sowan ke stasiun doang terus foto selfie di depan tulisan kota mah ngapain. Kurang menghayati makna travelling untuk refreshing (e tapi bisa jadi bagi sebagian orang, hal tsb cukup fresh ya.. maapkan kecenderungan generalizing saya.. hehe)
  • Jarak tempuh dua kota ‘ujung dunia’ di Belanda, ya sebut saja Groningen dan Maastricht itu mencapai 4,5 jam. Pulang pergi bisa 9 jam, itu kalau hanya 2 kota. Kalau mau banyak kota? Susaah..

Berdasar alasan di atas, cukup beralasan kan ya kalau saya membagi perjalanan asik keliling Belanda Dagkaart menjadi tiga bagian. Bagian pertama ini membahas opsi untuk kota-kota di Belanda bagian selatan dulu. Tentu saja tidak ada pembagian formal Belanda menjadi utara, tengah ataupun selatan. Itu mah sekehendak hati saya aja, toh gampang membagi wilayah gini, ga kaya membagi hati *aih, ngelantur*

Kota mana aja yang cukup asik untuk masuk list itinerary Dagkaart?

1. ‘s-Hertogenbosch

Ini nama kota nyleneh amat ya.. Dimulai dengan tanda petik, terus satu huruf konsonan terjepit petik dan strip (karepe opoo.. -_-). Yawda lah ya kalau lidah jawa saya mem-pronounce sederhana: Serto khenbos :v

Gini gini ibukota provinsi loh (North Brabant). Stasiunnya juga cukup besar dan landmarknya berada ga jauh (cuma selemparan sandal, kalo yang nglempar jago) dari stasiun. Baca Selengkapnya

Menikmati Kereta di Belanda 3 : Dagkaart

Lanjut lagi postingan tentang kereta di Belanda. Bagi kantong mahasiswa, harga kereta di Belanda itu bisa dibilang mahal (walaupun harus diakui cukup sebanding sih dengan tingkat kenyamanannya). Sekali jalan naik kereta Leiden-Den Haag yang berjarak tempuh 15 menit saja, 3,4 euro (sekitar 50ribu rupiah). Mahal kaan?

Emang sih kalau bagi yang menetap di sini bisa dapat korting 40% (paket Dal Vordeel) ataupun voucher gratis kala weekend (paket Weekendvrij). Kedua paket itu akan saya bahas di postingan tersendiri, untuk sementara diinfokan sekilas bahwa keduanya punya kelemahan masing-masing. Korting 40% kalau mau menjangkau jarak jauh, tetap bakal bikin kantong mahasiswa (cem saya) berkabung dukacita. Sedangkan paket weekend, rekening kita otomatis terpotong 29 euro per bulannya (bakal untung kalau tiap weekend jalan-jalan, tapi kalau weekendnya cuaca galau dan banyak tugas begimane?)

Nah, ada solusi keliling Belanda yang lumayan murah buat traveller yang tipenya kurang lebih seperti ini:

  • Mahasiswa gemar menabung kantong cekak, budget tipis
  • Frekuensi jalan-jalan bulanan ga sering-sering amat
  • Tetep pengen refresh keliling Belanda dengan harga terjangkau
  • Alokasi waktu travelling ga banyak, atau emang terpaksa jadi limited gara-gara tugas kuliah nan bejibun
  • Lebih menikmati jalan-jalan sendiri atau dalam kelompok kecil, dengan sobat-sobat terdekat sehingga males menginisiasi NS Groupticket

Nama solusinya tak lain sesuai di judul: Dagkaart (arti : Tiket Harian). Jadi, ini tiket yang bisa digunakan untuk naik kereta ke mana aja di Belanda, asal dalam hari yang sama. Dagkaart dijual di toko-toko tertentu dan dalam jangka waktu tertentu juga, jadi mesti update info. Tapi buat mahasiswa, update info cem gini mah basic instinct, cepat tanggap pokoknya. Berikut penyedia dagkaart berdasar tren bulanan : Baca Selengkapnya

Menikmati Kereta di Belanda 2 : Stasiun

Stasiun adalah tempat bersemayamnya kenangan. Tempat berucap selamat jalan. Antara menggapai harapan atau bersiap akan kehilangan. Toh apa pula makna perjalanan kalau tanpa kenangan, harapan dan kehilangan.

Sounds mellow?

Bahaha.. itu tadi sebenarnya mensarikan lirik lagu “Stasiun Balapan”nya Didi Kempot dari sudut pandang yang lain. Soalnya pas mau nulis tentang stasiun, pasti ingetnya lagu tentang stasiun di Solo Berseri itu.. 😀

**

Setelah kemarin berkenalan dengan jenis-jenis kereta di Belanda, yuk berikutnya kita lihat daftar station yang menarik di negeri kincir ini. Menurut on the spot, inilah 7 stasiun terbesar (based on passangers) dan cerita saya di sana :

1. Utrecht Centraal

taken from : wikipedia

taken from : wikipedia

Stasiun terbesar di negeri van Oranje dipegang oleh Utrecht Centraal. Hal yang wajar mengingat letak kota Utrecht benar-benar berada di center. Walau hanya berstatus kota terbesar keempat (setelah Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag), tapi karena di antara kota-kota tadi jadi ya yang melintas cenderung lebih banyak.

Di sini juga merupakan markas besar (HQ) dari NS, sang operator utama perkeretaapian Belanda. Udah gitu stasiunnya terintegrasi sama mall pulak, pertama ke sana bingung deh mana pintu keluarnya.. Saya mau jalan-jalan ke pusat kota wooy, bukan mau belanja!! 😀

Belum puas dengan status stasiun terbesar dan tergabung dengan mall, Utrecht Centraal on progress membangun tempat parkir sepeda terbesar di dunia.. Wohoo..

2. Amsterdam Centraal

amsterdam

Stasiun dengan arsitektur klasik yang menawan. Usut punya usut, arsiteknya merupakan orang yang juga mendesain Rijkmuseum Amsterdam (museum national art yang berada di dekat tulisan supermainstream, I Amsterdam). Nuansa klasiknya dapet deh..

Mengingat kunjungan turis yang bejibun di Amsterdam, stasiun ini selalu sangat padat dengan lalu lalang mereka. Saya sendiri kurang suka dengan suasana crowdednya. Bagaimanapun, stasiun ini selalu jadi first option kalau mau kumpul ketemu reunian. Boleh jadi karena dekat dengan objek wisata populer seperti Rijkmuseum, Dam Square, atau untuk yang telat puber, Red Light District 😀

3. Rotterdam Centraal

rotterdam centraal

Nah, salah satu stasiun dengan desain futuristik. Dibandingkan Amsterdam, saya  lebih suka stasiun modern nan caem ini. Beruntunglah Rotterdam yang luluh lantak karena Perang Dunia II (lah?!), berkat itu bangunan di kota ini mayoritas desainnya fresh, enak diliat. Hehe.. Mungkin itu bukti juga ya kalau rasa sakit dan cobaan itu, bisa jadi pijakan untuk step up jadi lebih baik, dan secara ga langsung terlihat makin fresh pula di mata orang lain (auwah sok bijak :v ) Baca Selengkapnya

Menikmati Kereta di Belanda 1 : Sepur

Di negeri Indonesia tercinta, sebagai negara yang sempat terjajah 350 tahun oleh Belanda, cukup wajar jika ada beberapa (atau banyak?) kata yang diserap dari bahasa Belanda. Lucunya, nyadar atau kagak, kata-kata serapan tersebut sering diadaptasi sesuai lidah lokal.. Ambil contoh kata ini deh…

“Atreet.. atreet..”

Kata andalan para kenek yang sering kita dengar di terminal. Dari kata apakah itu? Achteruit! Bahasa Belanda yang berarti “mundur/ke belakang”. Inget terminal jadi inget pantura, inget pantura jadi inget goyang oplosan (dari mana konklusi ini ya? ahaha). Oplosan pun berasal dari kata Belanda oplossen yang artinya “campuran”.

Well, dari kata-kata aseli Belanda itu, ada dua kata yang slenco karena lidah orang Jawa. Keduanya berkaitan dengan moda transportasi. Apa itu? Pertama, pit. Sepeda dalam bahasa Jawa yang diambil dari kata fiets. Cerita tentang sepeda sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya. Kalo yang kedua? Tak lain sesuai judul, sepur. Lidah jawa yang seenaknya mengucap kata belanda Spoor! Padahal.. artinya beda -_-

**

Moving on is easier said that done

Gagal move on. Itulah relationship antara saya dan sepur (cem ga ada relation yang lebih bagus aja, cah bagus). Semua terjadi jauh sebelum negara api menyerang. Di tanah kelahiran saya, di sebuah desa nan permai di pulau Jawa, “sepur” itu adalah kereta api. Itu diamini oleh semua orang Jawa lainnya loh, “sepur” itu ya.. kereta api.

Nah setibanya di sini, Belanda, spoor itu entah kenapa (udah jelas-jelas sih) mengacu pada jalur (track / platformnya), bukannya sang kereta. Misal kita mau pergi dari Leiden ke Den Haag, silakan menuju spoor 8 (jalur nomor delapan). Itu gampang dimengerti, tapi in my mind ga bisa diterima. Ga bisa gitu coy. Tetap saja itu artinya “naik kereta nomor delapan”. Pokoknya, sepur = kereta, titik. *jawa garis keras* 😀

Okey, kayaknya udah kepanjangan bahas relationship saya (enek kaaan..). Yuk, kita lihat satu per satu beragam sepur (kereta api) di Belanda 😉 Baca Selengkapnya

Paris Trip : Arc de Triomphe sampai Louvre

All Good Stories Deserve Embellishment

Merasa familiar dengan quote di atas? Bagi yang suka nonton movie The Hobbit mestinya ngeh dengan kata bijak yang diucapkan mbah Gandalf the Grey saat Bilbo Baggins ‘protes’ tentang cerita beliau yang terkesan dimodif lebih baik dari aslinya.

Tapi memang, tiap cerita yang baik (yang mengandung hikmah dan inspirasi) memang pantas untuk di-embellish. Dibubuhi sedemikian rupa jadi makin cantik dan pantas diceritakan.

Pun demikian yang dilakukan Napoleon Bonaparte, jenderal perang terbesar Perancis (arguably salah satu yang terbaik di Eropa), pada ibukota negaranya, Paris. Dibangunlah sumbu historis yang terdiri dari bangunan-bangunan penting nan cantik, untuk merayakan kemenangannya.

Sumbu yang disebut Axe Historique untuk membentang lurus tak kurang dari 5 km, dan sampai saat ini masih saja membuat warga lokal maupun para pendatang terkagum-kagum. Bagaimana tidak, sumbu itu tersusun oleh La Defense (sentra bisnis Paris), Ar de Triomphe de L’Etoile (gapura kemenangan utama), Champs Elysses (salah satu jalan paling glamour di dunia), Obelisk Luxor (didatangkan langsung dari Mesir), Arc de Triomphe du Carrousel, sampai si beken Pyramide du Louvre.

Menyusuri Axe Historique merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan di Paris selain berkunjung ke Eiffel. Saya tak mau ketinggalan menyusuri tempat-tempat itu selama di Paris. Walaupun ga semua, tapi setidaknya udah liat mayoritas. Hehe.

Gimana suasana di sana dan apa WoW effectnya? Yuk ikutan jalan-jalan 🙂

Arc de Triomphe de L’Etoile

Biasa disebut “Arc de Triomphe” aja mengingat Arc yang satunya (Carrousel, yang deket Louvre) lebih kecil dan ramping, ga semegah Arc L’Etoile. Gapura kemenangan ini dibangun Napoleon untuk mengenang jasa para tentaranya. Ga heran banyak relief tentang perang-perang yang dihadapinya. Nama tempat terjadinya perang dan para pimpinan militer terukir pula di situ.

arc triomphe 1b

Saya mengunjungi Arc de Triomphe pas malam hari, saat sang gapura disoroti dengan lampu yang membuat makin gagah dan cakep klop lah sama saya. Simply karena ‘kesalahan teknis’ salah beli tiket metro yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Kebetulan pemberhentian metro dekat Arc de Triomphe  (stasiun metro Charles de Gaulle) se-line dengan penginapan saya, alhamdulillah jadi lancar deh jalan-jalan malamnya. Baca Selengkapnya