Arsip Tag: usaha

“Seninya Di Situ!”

Judul di atas merupakan kata-kata trademark teman SMA saya yang selalu ternginang dalam benak kala saya mencoba untuk menghasilkan sebuah karya yang berhubungan dengan seni. Sebenarnya frase judul tersebut adalah lelucon kami pas kurang bisa membuat hal identik dengan keindahan. Alih-alih menangkis pertanyaan “Ini karya apaan sih? Kok ga berasa ada unsur seninya?”, kami pun (lebih spesialnya, kawan saya lah yang akan memandu jawaban kompak, “Ya seninya di situ!”

Seni untuk tidak menghadirkan seni 😀

**

Oh wait, sebelum pembahasan jadi panjang lebar, definisi seni yang saya maksud di sini terbatas dalam “hal-hal yang indah untuk dinikmati” plus berhubungan dengan apa yang kita dapat di bangku sekolah (seni musik, seni tari, seni lukis, seni sastra, seni audio visual). Kalau ternyata definisi seni ternyata jauh lebih sakral dan bermakna, ya maaf di luar konteks tulisan ini untuk membahas itu.

Well, entah kenapa dari dulu saya tidak pernah berkarib dengan yang namanya SENI. Baik minat maupun bakat. Saat mencoba berkarya selalu aja ga semangat (ga tertarik sih), dan begitu hasilnya jadi.. wow…

kurang bagus ya? (aih, frase sopan)

jelek? (hmmm…)

jelek banget pasti ya? (buset, frontal)

Apa yaa.. kalau istilah saya sih, level karya seni saya itu “close to nothingness”. Hahahahaha…

Dan berikut saya ungkap aib fakta track record superabsurdnya saya dalam membuat hal yang konon berseni:

Seni Lukis/ Rupa/ Gambar

  • Semasa SD tiap jam kesenian dan commandnya “menggambar bebas” maka saya akan menggambar mainstream: dua gunung, tengahnya ada matahari, di atas ada awan dan burung berbentuk M, di samping ada pohon kelapa, dan di bawah ada rumah dan jalan melengkung (kurang mainstream apa coba?). Itu pun maksimal dapat nilai 7
  • Masih di ranah SD, kalau commandnya “menggambar bebas kecuali pemandangan/gunung” (damn, I hate this command!), saya bakal bingung selama 30 menit lalu mulai menggambar logo AC Milan! Ya, happened everytime. Kayaknya belum pernah logo AC Milan saya dapat nilai 😀
  • Saat SMA, saya kena remidi menggambar! Hello, menggambar aja remidi? Iya, ga usah surprised juga kali. Ane gitu. Karena pesimis gambar selanjutnya pasti ga jauh beda, desperately saya minta teman saya yang jago gambar untuk membantu, saya tinggal bubuhin nama (paraaah…)

Baca Selengkapnya

Menjadi 100%

Tahukah Anda bahwa untuk bisa lepas landas, pesawat butuh lintasan sepanjang minimal 2,2 km?

Jarak tersebut digunakan untuk mencapai kecepatan minimal 200 knot sehingga punya daya angkat yang cukup.

Sekarang, bila pesawat itu kurang 1 knot saja kecepatannya, atau kurang 1/200 (0,05%) saja, apa yang terjadi?

Ya, pesawat kurang daya angkat, tak bisa lepas landas, dan kecelakaanlah yang dialami.

Berapa usaha yang sudah dilakukan pesawat? 99,95% dan GAGAL…

 

Ambil contoh satu lagi, kali ini dalam hal ibadah…

Bagi umat muslim, ada kewajiban shaum. Saat shaum dalam dari Subuh sampai Maghrib,,

Sudah berpuasa selama sekitar 14 jam, tapi satu menit sebelum waktu adzan (atau hanya kurang 0,04%) kita sudah sengaja makan/minum..

Tetap saja BATAL, bukan?

Berapa usaha yang sudah dilakukan? 99,96% dan GAGAL…

**

 

Apa yang bisa diambil hikmah?

Dalam hidup, dalam menjalankan aktivitas dan ibadah kita memang dituntut untuk berusaha 100%…

Memang terkadang ada toleransi tertentu sehingga usaha kita yang tak maksimal pun bisa mendatangkan hasil..

Tapi, kebanyakan, usaha yang tak 100% akan mendatangkan kecelakaan atau hilangnya kesempatan…

So, Be 100%..!! serasa iklan ya.. 🙂

Mari lebih giat berusaha!!

 

*sebuah renungan, terutama sebagai refleksi diri sendiri..

Belajar dari Dekan Termuda

Tidak banyak orang yang bisa menduduki posisi akademis strategis dalam waktu sangat singkat. Terlebih di perguruan tinggi negeri, dan perguruan tinggi tersebut merupakan salah satu dari trio best Indonesia. Itulah mengapa ketika seorang menjadi dekan, menjadi guru besar, dan mungkin merintis jadi rektor, dalam usia muda, patutlah apresiasi tinggi kita berikan. Dan kita bisa belajar dari seorang Dekan Termuda, yang akan saya ceritakan ini.

Yah, mengingat “belajar” pasti Sabtu malam (malam Minggu) merupakan waktu yang dianggap paling tidak cocok untuk melakukannya. Konon begitulah yang banyak diamini oleh orang-orang. Tak terkecuali saya, terlebih di weekend selepas UTS.  Sambil bersiap bersantap malam, posisi sudah di depan TV untuk menikmati hiburannya. Kali ini ditemani sahabat yang juga guru besar saya saat SMA, Arif Prasetiya. Tentu di sini dia pure sebagai teman ngobrol, bukan teman belajar. Haha..

Channel TV yang kami tonton waktu itu adalah TVO*e, TV yang belakangan banyak yang sensi karena terlalu mendukung si NH (tau sendiri lah). Untung acaranya bukan dukungan terhadap NH, melainkan acara yang dipandu Alfito Deannova (orang news yang saya kagumi selain Andy F. Noya dan Azrul Ananda). Lupa judul acaranya, yang jelas mengenai tokoh-tokoh yang bisa dijadikan teladan. Dan tokoh yang jadi narasumber kali ini adalah Prof Firmanzah, Ph.D. , dekan termuda di Universitas Indonesia. Wow!

Pada wawancara santai bersetting FE UI tersebut, ada beberapa hal unik yang saya tangkap:

– Pak Firmanzah (biasa dipanggil Fiz) ini saat mau lulus kuliah, dibingungkan oleh pilihan ambil kuliah yang sesuai jurusannya, IPA (suka fisika matematika) atau ke IPS (manajemen). Akhirnya diputuskan “membelot” ke IPS saja, dan ternyata Pak Fiz memang menemukan jalan hidup terbaiknya di sana.

– Saat kuliah di UI, sang Ibu sebenarnya kurang setuju (prefer Pak Fiz kuliah di daerah asalnya, di Surabaya sana). Alhasil, kirimin uang pun diminimalkan biar ga kerasan. Toh, Pak Fiz nyatanya masih kerasan-kerasan juga dan survive.

– Waktu awal kerja ga siap dengan suasananya (hidup sangat teratur dan diatur-atur), beda dengan apa yang ia rasakan selama aktif di organisasi kemahasiswaan. So, ia memilih jadi asisten dosen saja sambil melanjutkan S2 di UI.

– Jalan sekolah di luar negeri dirintis justru bukan oleh usaha beliau sendiri, tapi dari ngikut teman. Temannya yang mendaftarkan dan mengurus, pak Fiz sebenarnya ragu tapi tetap ikut wawancara. Eh, malah diterima. Hmm.. entah mengapa saya sering mendengar kasus seperti ini. Apa ntar kalau cari kerja atau beasiswa nitip teman aja ya? haha..

– Pada studi lanjutnya di Prancis, S2 yang sudah beliau jalani ternyata ga cocok untuk ambil S3 di sana. Diharuskan mengambil S2 ulang yang sesuai. Padahal dari promotor waktu beasiswa di Prancis hanya 3 tahun. Mau kuliah S2 lagi Ok tetap dibayarin, tapi tetap harus lulus S3 pada 3 tahun itu. So, S2 dan S3 WAJIB selesai dalam 3 tahun. Puyeng ga tuh!

– Menghadapi kewajiban harus lulus S2 dan S3 hanya dalam 3 tahun saja, dan akhirnya berhasil, bukan berarti Pak Fiz adalah anak ajaib yang super jenius. Tapi, beliau benar-benar mengusahakan. Sampai harus menginap di perpus, bahkan sampai muntah-muntah di perpus menghadapi banyaknya tes dan tugas!!!

Ini bagian yang paling menggugah saya dari acara ini, USAHAKAN SUNGGUH-SUNGGUH dan BERKORBANLAH SEMAKSIMAL MUNGKIN UNTUK MENCAPAI HASIL.. Tidak ada keajaiban tanpa usaha!

– Selepas lulus S2 dan S3, dapat tawaran menggiurkan berkarir di Prancis. Tapi mendengar pengalaman dari para profesor yang berasal dari negara lain (Maroko, Mesir, dll) bahwa pada akhirnya apa yang diusahakan ntar bakal mentok, tidak ada yang diabdikan untuk negara. Beda kalau pulang dan bisa berkontribusi untuk negara. So, beliau sesaat itu langsung memutuskan untuk pulang saja dan berkarir di nusantara tercinta.

– Saat mau maju jadi dekan, pikir panjang juga mengingat usia yang sangat muda dan harus bersaing dengan para senior dengan reputasi tinggi. Tapi seperti beliau katakan, Singkirkan ketakutan diri, rasa sungkan, minder, pesimis untuk mencapai target. BISAA!! Poin ini juga yang jadi pembelajaran besar untuk saya yang masih sering sungkan dan minder. Memang harus berpikir positif dan mengusahakan untuk BISA. Think you can, yes you can!

Nah, begitulah tadi yang saya dapat dari hasil “belajar” dari dekan termuda. Lah, malam minggu kok malah belajar? ga tau nih, apa karena nonton TVnya bareng si guru besar.. haha.. whatever…

#danmasihterusbelajar

Tiada yang Tak Mungkin (1): Rhenald Kasali

Bagian pertama dari show Kick Andy yang saya lihat kemarin. Oya, Kick andy kemarin berjudul “Tiada yang Tak Mungkin”. Kenapa judulnya dipilih seperti terjemahan slogan Adidas itu? Ya, Kick Andy ingin mematahkan paradigma bahwa orang miskin dilarang sekolah atau biaya pendidikan nasional yang mahal membuat persentase kalangan tak mampu untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tinggi sangat mustahil. Narasumber yang diundang saat itu membuktikan bahwa biaya pendidikan di tingkat manapun bisa disiasati dan dikumpulkan dengan berbagai cara, asal tekun, bertekad kuat dan sanggup bekerja keras.

Bagi yang sudah lihat mungkin sudah punya inspirasi tersendiri. Bagi yang belum lihat sebenarnya juga bisa lihat di sini.Tapi kalau ingin membaca lebih lanjut tulisan ini, berarti Anda membaca inspirasi yang coba disampaikan itu VERSI SAYA :-). Oke, mari sejenak mengambil inspirasi!

Narasumber pertama itu adalah PROF. RHENALD KASALI,Ph.D. Tidak begitu akrab dengan nama beliau dan prestasinya yang luar biasa? Coba kenali foto ini

Belum jadi tahu prestasi-prestasinya juga? Oke silakan berwiki-wiki ria dulu di sini.

Dengan penampilan yang rapi dan badan yang besar, serta prestasi yang sudah Anda baca tadi, sangat tidak bisa dipercaya kan kalau pak Rhenald dulunya miskin? Bagaimana kisah masa lalunya? Ini dia..

Cobaan berupa kekurangmampuan materi mulai saat ayahnya kena PHK dari pelayaran. Kurangnya skill ditambah sempitnya lapangan pekerjaan saat itu membuat sang ayah tidak punya penghasilan tetap dan cukup. Ibunya sejak awal tidak bekerja. Jadilah Rhenald kecil hidup nelangsa. Makan pake nasi garam. Masuk sekolah pakai sepatu yang dibeli dari pasar loakan, kalau untuk berlari kalau engga kakinya kena paku (karena sepatu tambal-tambalan) ya bagian alas sepatunya membuka. Baju seragam pun hanya punya satu, ibunya setiap hari mencucinya lalu dikeringkan di dekat lampu. Lampu bisa dibilang ‘tanda kehidupan’ keluarganya waktu itu. Kalau lampu mati, pasti sedang tidak ada makanan dan untunglah ada tetangga yang iba sehingga memberi nasi sekedarnya.

Di sekolah (kelas 5 SD), Rhenald pernah sekali tinggal kelas. Saat ditanya bung Andy apa mata pelajaran yang membuat ga lulus, ternyata: bahasa Indonesia! Rhenald kecil tak bisa menjawab lawan kata seperti seharusnya. Ia punya alasan lucu. Begini, kalau ditanya lawan kata ‘kenyang’ ya ‘belum kenyang’, lawan kata ‘cinta’ ya ‘tidak cinta’.. kan kalau orang ditanya ‘apakah kamu cinta?’ dan hati mengatakan tidak, pasti jawabnya bukan ‘aku benci kamu’ melainkan ‘aku tidak cinta kamu’. Ada ada saja..

Berlanjut ke masa menjelang kuliah. Kenapa beliau memilih ekonomi padahal dari jurusan IPA? Alasannya,karena IPA biaya lebih mahal, ia hanya punya 10ribu untuk beli formulir . Singkat kata, ia diterima di ekonomi UI. Kekurangan biaya ditutupnya dengan memberi les ke anak SD. Mengajar apa? Ya, bukan bahasa Indonesia, melainkan matematika. Buku semuanya ia pinjam teman atau kakak kelas.

Terus tahun kedua dapat beasiswa. Saat ditanya apakah paling pintar atau indeks prestasinya gimana, ternyata Pak Rhenald mengatakan IPKnya 2,49. Bung Andy pun sedikit menyindir yang disambut tawa penonton, IPK segitu aja koq dapat beasiswa ya? Pak Rhenald pun tertawa, nasib baik. Setelah lulus dan mengajar (dosen), ia lama-lama ‘ditinggalkan’ karena promosi dsb mengutamakan yang lulusannya lebih tinggi. Akhirnya ia pun bertekad harus bisa sekolah di luar negeri.

Berbagai percobaan gagal, akhirnya dapat juga beasiswa, tapi hanya internship 3 bulan, bukan biaya untuk sekolah. Di saat teman-temannya bisa melanjutkan S2, ia harus pulang karena tidak ada sponsor sekolah. Pada akhirnya ia memberanikan diri untuk menemui bagian yang biasa menyeleksi, mengatakan semuanya sejujurnya, dan ‘minta tolong’ diberi surat tanda diterima dan ia pun bakal pulang untuk mencari sponsor (dengan mengantongi surat diterima, mungkin jadi lebih dipercaya kali ya). Well, pada akhirnya pak Rhenald dapat sponsor juga, usaha keras yang membuat beliau bisa sekolah S2 dan S3 di Illinouis, dan jadilah seperti sekarang.

Hal yang paling menggugah dari Pak Rhenald: seburuk apapun kondisinya, berusalah menghadapi. Cara ampuh yang bisa dilakukan dengan frekuensi interaksi intens yang dimulai dengan datang bersama senyuman. Banyak bantuan dan keberuntungan dari sana!

***