Kapan??

Belakangan ini saya cukup sering galau. Terutama karena pada akhirnya terpaksa lulus dengan masih belum dapat pekerjaan. Beban negara deh.. Gaswat.

Setelah refleksi diri, saya mendapati kalau niat saya dalam mengejar target masa depan masih abu-abu, belum teteg alias belum punya kesungguhan yang mantap. Beneran pilihan pertama pengen ngelamar kerja? Tapi kok pikiran lamar beasiswa S2-nya juga dikedepankan? Atau justru mau melamar anak orang dulu? Hoho.. Pokoknya galau deh..

Eh iya, Lupakan pertanyaan ketiga! (menghindar sebelum diceng-cengin :p)

By the way,  adakah dari teman-teman yang saat ini sedang berada di fase awal umur 20an atau di tingkat akhir kuliah?

Kalau ada bersiaplah dengan sederet pertanyaan annoying yang bakal segera ditujukan kepada Anda.. kepada kita..

KAPAN lulus?? >> saat sedang puyeng ngerjain skripsi atau tugas akhir

KAPAN mulai kerja?? >> saat udah berhasil lulus tapi puyeng belum ketemu tempat kerja yang berjodoh

KAPAN nikah?? >> saat udah berhasil kerja tapi puyeng belum ketemu pendamping yang tepat

KAPAN punya anak?? >> saat udah nikah tapi puyeng mertua pengen segera nimang cucu

KAPAN?? KAPAN?? KAPAN??

Aarrghhh… Stress ga sih!

But that’s the point.. Baca Selengkapnya

Makna 100 Years.. Sebuah Ironi..

Dalam salah satu buku favorit saya, “7 Habits for Highly Effective Teens” karya Sean Covey, ada yang namanya langkah-langkah bayi. Yakni langkah-langkah kecil untuk membentuk suatu kebiasaan. Sebuah panduan yang sangat bagus untuk menjadi pribadi yang efektif. Oke, saya masih belum jadi pribadi efektif, masih terus berusaha ke arah sana,, tapi tak ada salahnya untuk share bukan? Biar kita sama-sama bisa jadi pribadi yang lebih baik.

Nah, yang ingin saya share kali ini adalah langkah bayi untuk Langkah 0-Paradigma dan Prinsip, step nomor delapan: “dengar lirik musik yang Anda senangi dan maknai terhadap prinsip-prinsip hidup”

Hmm.. dan apa musik yang paling saya senangi? Apa yah.. Hmm… Desir angin, gemerisik daun, gemericik air, nyanyian flora fauna yang berdzikir membentuk “simfoni alam” nan menyejukkan hati. Tapi lirik apa dong yang bisa saya share di situ kalau yang mendeskripsikan hanyalah hati?

Kalau sudah begitu, lirik yang bisa dikenali sama2 mungkin lirik yang sudah terkenal di dunia ini. Tak sedikit lagu yang liriknya sangat saya sukai, di antaranya “100 years” dari Five for Fighting, “Over the Rain”nya Flumpool (OST Bloody Monday) dan beberapa yang laen. Kali ini yang disebut pertama dulu ya.. Memaknai lirik 100 years… Sebuah lagu hits jadul tapi punya makna sangat dalam yang tak lekang oleh waktu, karena maknanya emang berhubungan dengan waktu itu sendiri sih..

Lagunya bisa didengar di sini atau didownload dari sini

Oke daripada berlama-lama yuk langsung ke penggalan liriknya:

I’m 15 for a moment   Caught in between 10 and 20
And I’m just dreaming   Counting the ways to where you are
Di sini, si someone (mewakili “manusia berumur 100 tahun” yang jadi tokoh utama di lirik lagu ini) sedang berusia 15 tahun (I’m 15 for a moment). Di umur segitu, yah sedang labil-labilnya lah ya.. makanya disebut “terperangkap antara umur 10 dan 20” (caught in between 10 and 20).. 10 untuk mewakili unsur kekanakan, 20 untuk usia dewasa. Intinya, masih mencari jati diri dah (I’m just dreaming, counting the ways to where you are)
I’m 22 for a moment  She feels better than ever
And we’re on fire   Making our way back from Mars
Si someone udah berusia 22 nih (I’m 22 for a moment). Nah, ini sedikit di atas umur saya saat per 2011 ini lah ya.. Udah mulai dewasa, mulai galau untuk cari pasangan hidup, diwakili dengan kata kias she (She feels better than ever). Si dia kok makin memukau aja ya (auwah..). Plus sedang semangat-semangatnya  merancang impian akan masa depan (We’re on fire, making our way back from Mars).
15 there’s still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live
** Nah, sudah masuk Reff untuk pertama kali,, dan karena ini inti pesannya.. jadi di loncat dulu.. kita bahas di akhir ya.. 😉 **
I’m 33 for a moment   Still the man, but you see I’m a they
A kid on the way   A family on my mind
Si someone udah masuk kepala 3 nih (I’m 33 for a moment). Masih seorang yang maskulin berjiwa matang dengan istilah man, tapi dengan tanggung jawab keluarga. Makanya disebut you see I’m a they. “They” kan kata untuk jamak tuh, maksudnya diliat sebagai seorang pemikul keluarga.. Sudah mulai mengurus anak (A kid on the way) dan pikiran mulai terfokus untuk kepentingan keluarga (A family on my mind).
I’m 45 for a moment    The sea is high
And I’m heading into a crisis   Chasing the years of my life
Then, si someone sudah berusia 45. Cobaan hidup mulai meninggi, terutama tingginya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan (the sea is high), mulai menghadapi yang namanya krisis (I’m heading into a crisis). Anak sudah beranjak dewasa, perlu biaya pendidikan dan uang saku yang tinggi. Sehingga setiap saat seperti dikejar waktu untuk menghadapi memuncaknya kebutuhan itu. Kalau dianalogikan, ya di sekitar umur seginilah orang tua saya sekarang.
Dan ketika saya mendengar lirik ini dengan sedikit mengubah sudut pandang dari sisi orang tua saya, wah.. tak terasa menitikkan air mata. Ibu dan Bapak memang sepertinya (atau mungkin normal untuk insan berusia kepala 4) sedang menghadapi kompleksitas masalah. Walaupun dari dulu saya tidak pernah meminta uang saku, tapi tetap saja orang tua akan selalu terpikir untuk memberi (tentu untuk memenuhi kebutuhan yang semakin besar). Pengen segera mandiri deh..
Half time goes by
Suddenly you’re wise
Another blink of an eye
67 is gone
The sun is getting high
We’re moving on…
Nah, si someone udah melewati setengah usianya (Half time goes by). Tiba-tiba sudah jadi orang bijak (suddenly you’re wise) yang sudah mengecap banyak asam garam kehidupan. Usia mulai beranjak, penglihatan (baik secara definitif kemampuan mata atau secara konotatif terhadap kehidupan) udah sedikit kabur (another blink of an eye). 67, jelas itu sudah masa pensiun. Si someone merasa pelita hidupnya (anak, cucu, keluarga lah) udah mulai menghadapi kompleksitas mereka masing-masing sehingga terkadang merasa kesepian, mereka kok berasa sangat jauuuh (The sun is getting high). Tapi waktu masih terus berjalan (We’re moving on)..
I’m 99 for a moment  Dying for just another moment
And I’m just dreaming  Counting the ways to where you are
Si someone sudah 99 tahun. Artinya? yah, tinggal 1 tahun lagi sisa hidupnya. Tinggal menanti datangnya ajal (dying for just another moment). Dan di saat seperti inilah, ingin rasanya mengulang lagi apa yang sudah diberikan oleh waktu,, menghitung jalan untuk bisa muda lagi, bisa menikmati hidup lebih baik lagi. Sudah hampir 100 tahun, tapi rasanya itu tak cukup. Ingin dan ingin rasanya hidup lagi.
Sedih banget ya kalau dalam kondisi seperti ini? 😦
Dan, kita bahas Reff dari lirik lagu yang jadi pesan utama tentang prinsip pemanfaatan waktu…
15 there’s still time for you
Time to buy and time to choose
Hey 15, there’s never a wish better than this
When you only got 100 years to live
Saat kita sedang terperangkap antara sifat kekanakan dan kedewasaan (digambarkan dengan umur 15), sebenarnya di situlah waktu krusial. Waktu di mana kita bisa memahami, mencoba dan memaksimalkan apa sih yang jadi potensi kita (Time to buy and time to choose), waktunya untuk memilih jalan hidup yang kita mesti jalani dengan penuh tanggung jawab. Agar tidak menyesal di kemudian hari, terlebih di hari tua. Bahkan ketika kita diberi umur 100 tahun sekalipun, kita akan sadar bahwa nikmat umur dan waktu sangatlah berharga… berapapun umur dan waktu yang diberikan Allah SWT…
Kita tak tahu apakah umur kita 100 tahun, 63 tahun, 22 tahun atau bahkan hanya 15 tahun. Semuanya akan sama saja jika kita tidak memanfaatkan umur kita, yap bisa jadi kita akan “terjebak oleh kebutuhan” atau “terjebak oleh waktu” seperti deskripsi di atas, kala begitu maka di akhir-akhir kita bakal menyesal. Menyesal. Akan menjadi sebuah ironi tentunya.
Detik ini adalah waktu terbaik… Hari ini adalah hari terbaik untuk memanfaatkan waktu… Prinsip yang semestinya kita pegang..
Bismillah.. Semoga kita bisa jadi insan yang senantiasa menghargai dan memanfaatkan waktu 🙂

Mengaji Ba’da Maghrib

Memiliki kebiasaan baik itu sangat menyenangkan. Walau terkadang kebiasaan yang baik dalam aktivitas harian justru kalah kuantitasnya dengan kebiasaan buruk. Nah, sambil koreksi kebiasaan masing-masing, saya mau menceritakan satu kebiasaan baik yang mungkin bisa sama-sama dibudayakan.

Kebiasaan itu tak lain membaca Al-Qur’an (mengaji) ba’da maghrib

Membaca Al-Qu’ran tentu saja memiliki banyak sekali keutamaan mengingat Al-Qur’an adalah petunjuk hidup manusia di dunia nan fana ini. Mengenai waktu membacanya, kapanpun takkan mengurangi keutamaan. Nah, kalau saya menyebutkan kebiasaan ba’da Maghrib, itu karena di waktu itulah saya selalu dibiasakan oleh Ibu saya. Kebiasaan yang sudah dimulai sejak kecil, atau mungkin juga sejak dalam kandungan Ibu.

Berikut ayat yang mengandung salah satu keutamaan mambaca Al-Qur’an (mengaji) :

Nah, tertulis jelas di situ bahwa Al-Qur’an sebagai PENJELAS, PETUNJUK, RAHMAT dan KABAR GEMBIRA sekaligus. Menarik sekali bukan?

Berhubungan dengan waktu Maghrib, waktu ini merupakan transisi dari waktu ada dan tidaknya matahari. Waktu ini menjadi krusial karena selepas Maghrib sampai kita terlelap tidur merupakan waktu yang sangat potensial untuk melakukan hal produktif (utamanya belajar). Mengaji di saat ini bakal merefresh pikiran dan keletihan, plus tambahan luar biasa tadi: Penjelas, Petunjuk, Rahmat, Kabar Gembira, sehingga kita bisa menikmati belajar kita. Tentunya dengan bismillah, atas nama Allah.. 🙂

So, ba’da Maghrib adalah waktu yang sangat recommended untuk kebiasaan baik membaca Al-Qur’an. Then, why not? yuk sama-sama dibiasakan..