Posted in periodic diary

Cerita Kemah Pradana Smansa (1)


Pra-Event

Once upon a time. Sore hari. Siswa-siswi kelas X SMAN 1 Solo (biasa disingkat Smansa) dikumpulkan di lapangan tengah sekolahnya. Ada persiapan dan pelatihan kemah wajib tahunan. Namanya Pradana Manunggal. Semua murid wajib ikut. Kalau engga ikut, nilai ekstrakurikuler wajib Pramuka mereka bakal jadi E. Itu artinya ada kemungkinan naek kelasnya ditunda. Mengerikan engga sih? Kalau diliat dari muka serius nan sok antusias para junior (kelas X) yang memperhatikan senior (kelas XI) mengajari cara membangun tenda, sepertinya iya. Tapi engga kalau Anda waktu itu liatnya muka saya. Saya malah makan beng-beng. Nah.

Sesi belajar membangun tenda selesai. Sekarang saatnya pembagian kelompok. Setiap kelas dipisah cowo dan cewenya. Masing-masing dibagi 2 lagi. Jadi ada 4 sangga (istilah untuk regu dalam Pramuka) dari tiap kelas, 2 sangga cowo, 2 sangga cewe. Lupakan regu cewe kelas saya, karena fokus saat ini ada pada pemilihan 2 ketua sangga cowo.

Singkat cerita, 2 ketua terpilih. Bukan saya. Tapi saat saya ingin makan beng-beng lagi, eh 2 ketua itu malah berebut. Berebut memilih saya sebagai wakil ketua. Tentu sebagai orang bijak Anda akan berpikir bahwa saya adalah aktivis pramuka berskill tinggi sehingga kehadirannya akan sangat membantu sangga. Buang jauh-jauh ‘kebijakan’ Anda itu. Saya bisa menangkap dari senyum si 2 ketua, saya adalah orang yang paling sabar untuk dikorbankan saat di tengah-tengah acara ntar sifat lemah mereka mulai mengambil alih. Yah, bisa dipercaya untuk dikorbankan. Sesederhana itu.

Akhirnya setelah 2 ketua suit yang cukup alot, saya bergabung dengan salah satu sangga yang diketuai sahabat terbaik saya. Sebut saja Si Bego. Saya tidak menyebut begitu dikarenakan IQ lho ya.. Di film 3 idiots pun salah satu tokoh utamanya (si Rancho) cerdas luar biasa tapi tetep aja disebut idiot kan ya? Same here. Itu karena tingkah polahnya saat itu. Bahkan, sebutan Si Bego ini kiranya sudah yang paling sopan. Haha..

Menuju TKP

Hari-H tiba. Semua murid kelas X berkumpul di gerbang depan sekolah. Masing-masing membawa barang bawaan yang cukup berat sekedar memenuhi spek permintaan panitia (senior). Pun saya. Mau-maunya yah…

Tahun itu, kemah Pradana bertempat di Bumi Perkemahan Sekipan, Tawangmangu. Daerah lereng gunung Lawu nan sejuk. Patutnya sih tempat sebagus itu dinikmati untuk piknik, tapi kali ini kami malah harus angkat barang-barang berat dan bakal menginap di dalam tenda. Satu kelas diangkut dalam satu truk. Truk tentara pula. Tawanan militer? Untuk sementara, boleh deh disebut begitu.

Pembukaan

Sungguh, jika di mana saya merasakan beratnya jadi kuli pikul, tak lain tak bukan di hari pembukaan ini. Gimana tidak, panitia dengan semena-mena menurunkan peserta 1 km jauhnya dari lokasi bumi perkemahan! Berjalan membawa barang sendiri aja kepayahan, apalagi saat itu. Cewe-cewe mendapat hak eksklusif: titipkan barang-barang untuk dibawakan teman sekelas yang cowo. Enaknya jadi cewe ya.. *cowolemah!

Setelah pengalaman menjadi kuli panggul selesai, sesi berikutnya adalah pendirian tenda. Di sinilah fakta mengasyikkan terkuak. Fakta terbaik yang mungkin. Apakah itu?

Upacara pembukaan dimulai. Prosesinya cukup megah, ada pelepasan busur panah juga. Tapi kami tak begitu menghiraukan itu. Kami hanya saling berpandangan dan tersenyum cengengesan..

This game of survival begins, friends!! Brace yourself!

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

One thought on “Cerita Kemah Pradana Smansa (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s