Diposkan pada islami, jalan-jalan

Jejak Umroh: Ketika Hawa Gurun Mendekap


Angin bertiup lembut mengelus wajah saya di bawah langit Madinah. Biasanya angin yang berhembus membawa kesejukan yang memanjakan, tapi di negeri berhawa gurun ini, anginnya justru bikin tambah panas. Rasanya normal jika mengharapkan hotel (yang ber-AC) dan masjid Nabawi  (yang lebih ber-AC lagi) itu ga berjarak, biar segeer ga terlingkupi hawa yang bahkan jauh lebih panas dari panas kemacetan dan polusi Jakarta. Karena sampai di Jeddah di pagi hari, lalu segera masuk bus ber-AC, hawa gurun sebenarnya baru saya nikmati di kota Al Madinah ini.

Tapi kali ini, saya justru lebih bahagia ada cukup jarak (sekitar 100 meter) antara hotel dan masjid. Karena setiap langkah kanan menambah pahala, tiap langkah kaki kiri menghapus dosa? Bukan bukan, bukan itu. Bukankah jauh atau dekat, pahala atau dosa, yang terpenting adalah ridho Allah? 😉

Lalu kenapa donk hawa gurun yang mendekap ini pantas dinikmati? Kenapa hayo?

Sederhana saja, saya ingin keliling dunia! Maka dari itu, saya harus siap dengan cuaca tipe apapun. Dimulai dari cuaca tropis nan hangat di tanah air tercinta, semoga ntar bisa menikmati cuaca 4 musim di Eropa, Asia Timur, dan Australia. Hawa dingin nan menusuk tulang khas negeri sebelah kutub cem Rusia. Pun hawa gurun nan panas khas Timur Tengah dan Afrika. Harus siap dengan semua itu. Nah, inilah “tantangan” pertama saya di luar cuaca tropis kita: hawa gurun.

Okee, hirup udara AC hotel sejenak lalu bersiap melangkah. 5 meter pertama masih terteduhi bagian bangunan hotel. Baru setelah itu sinar matahari mengelus bebas ke kepala, mengingat saya tidak memakai helm peci. Satu langkah lagi, hap.

Slentheeng… Wew. Wew.

Di sekitar orang-orang masih beraktivitas biasa, menjalankan rutinitas niaganya.

Aww. Panaaasss…

Saat pertama proses adaptasi tubuh saya terhadap hawa gurun yang mendekap berlangsung cukup dramatis. Kalau saja, kalau saja, orang-orang tidak bersikap tenang menjalani aktivitasnya, saya sudah lari njranthal secepat-cepatnya biar sampai ke Masjid Nabawi. Tapi jaim donk berlarian sendiri pas yang laen santai, dikira maling ntar. Yawda, percepat langkah saja. Hap. Hap. Hap.

Sesampai di pelataran Masjid Nabawi, ada kipas angin besar yang mengembuskan angin berair. Rasanya super segaar… Terlebih saat masuk Nabawi, seger luar biasa. Udah full AC siih. Alhamdulillah.

Setelah proses adaptasi di hari pertama, hari berikutnya tubuh saya sudah tidak merespon secara lebay. Dari level “jauh lebih panas dari Jakarta” turun lah jadi “sedikit lebih panas dibanding Jakarta”. Saya pun bisa menikmati megah dan indahnya biru langit di atas Madinah. Tak terhalang awan sama sekali. Yuph, mungkin itu salah satu penyebab daerah gurun hawanya begitu gerah. Tapi kawan, sensasi gerahnya beda lho dengan gerah di Indonesia. Di sini lebih ke hawa yang mendekap, saat matahari tidak terlihat pun rasa gerah akan tetap melanda, angin yang berhembus pun kering menambah kegerahan, cuma ga bikin keringat bercucuran (itu sebabnya, orang Arab jarang mandi juga.. hihi). Sedangkan di Indonesia, gerahnya itu bikin keringat dengan mudahnya bercucuran. Namun saat angin berhembus, anginnya ga kering, pure kesejukan yang terasa.

Karena tubuh udah okee, mari menikmati jalanan menuju Masjid Nabawi!

DSC_0760

Banyak banget merpati yaa.. Kirain baru di Eropa dengan latar belakang kastil, saya bakal menemui begitu banyak merpati beterbangan bebas. Ternyata, di Arab Saudi juga ada banyak! Baik di Jeddah, Madinah maupun Mekkah, burung simbol perdamaian itu terbang dengan riangnya tanpa rasa takut pada lalu lalang manusia. Sinergi unyu antara burung-burung yang berlomba mencari jagung dengan para hamba Allah yang berlomba mencari pahala dalam keutamaan Masjid Nabawi.

kota madinah

Tuh bangunan di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi rapi-rapi yaa.. Tingginya aja kompak gitu. Sstt.. Ada alasannya kenapa building itu kompak. Itulah batas tinggi maksimal sebuah bangunan boleh berdiri di Madinah, setinggi menara Masjid Nabawi. Ga boleh satu pun yang bertinggi melebihi itu! Yawda deh, kompakan pake tinggi maksimal sesuai aturan. Haha.. Tapi emang terlihat rapi sih, sekaligus keagungan Masjid Nabawi jadi lebih terasa.

Masih banyak cerita lagi mengenai jejak saya dalam dekapan hawa gurun. Perjalanan spiritual nan indah dan menyenangkan. Ditunggu cerita berikutnya ya… 🙂

Iklan

Penulis:

Simple, Humble, Gentle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s