Saat ini, dunia sedang trending satu kejadian heboh yang cukup mengguncang rantai perekonomian. Bukan covid ya, karena kalau yang ini sudah setahun lebih dan kita belum tau kapan hilangnya. Kejadian yang saya maksud adalah tersangkutnya kapal kargo Ever Given, salah satu kapal terbesar di dunia (1,5x besar kapal Titanic yang tersohor itu), di Terusan Suez.

Mengingat Terusan Suez merupakan kanal yang sangat penting untuk jalur kargo, dengan 10% lebih pengangkutan kargo melalui jalur tsb, maka diprediksi menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 126 Triliun rupiah sehari! Wow, jumlah kerugian harian yang sangat besar ya. Tempat kerja saya aja butuh hampir setahun untuk mencapai angka segitu.

Nah, yang menarik dari cerita kapal Ever Given ini adalah, bagaimana bisa kapal sebesar itu nyangkut. Apalagi di era modern seperti ini, dan di kanal yang sudah beroperasi seratus tahun lebih. Ternyata faktornya adalah badai pasir dan angin berkecepatan 50-70 km/jam yang datang tiba-tiba. Kecepatan tersebut sebenarnya bukan kategori “wow” karena banyak badai berkecapatan ratusan km/jam di penjuru dunia, tapi ternyata dengan kedatangannya yang tiba-tiba membuat navigasi kapal jadi buruk, walhasil kapal kargo seberat 220.000 ton (ya, seberat itu!) “sukses” melintang diagonal, menutup penuh lebar Terusan Suez.

See? Pasir dan angin yang datang tiba-tiba membuat kapal superbesar dan superberat bergeser dan membuat rantai perekonomian terguncang seketika.

Kapal kargo lain jadi harus menunggu penuh ketidakpastian kapan kanal Suez bisa kembali dilewati. Opsi memutar pun sangat jauh, karena berarti harus mengelilingi penuh benua Afrika. Barang kargo banyak yang terdelay. Bahkan harga minyak dunia pun sampai naik karena pasokannya jadi susah.

Sepertinya begitulah ihwal manusia ya. Terlalu kecil dibanding alam dan kehendak Sang Pencipta. Peristiwa ini juga mengingatkan saya kenapa kita selalu bersyukur alhamdulillah selesai bersin.

Karena saat kena debu kecil atau sebab lainnya, kita bersin, pada dasarnya jantung juga berhenti sekejap. Untungnya cukup cepat sebelum ke fase fatal dan jantung kita operasional lagi. Alhamdulillah. Tentunya nikmat sehari-hari yang terkesan sepele ini jadi mesti disyukuri berkali-kali.

Bisa jadi, pasir dan angin kecil yang membuat kita bersin, ternyata menghentikan laju jantung kita. Seperti kapal Ever Given tersangkut di Terusan Suez. Naudzubillahi min dzalik.

Semoga kita terus diberi kesehatan dan menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur. Amiin.

Bekasi, 27 Maret 2021

Ditulis sebagai tulisan kedelapan untuk belajar ikhlas dan berpikir positif. Untuk Ibunda tercinta.

2 pemikiran pada “Pasir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s